
Blitz mulai melacak para kuda dari tempat yang tinggi.
“Aku menemukannya!” kata Blitz melalui De Ordernya.
“Lokasinya?” tanya Harunio.
“Mereka berkumpul di dekat semak-semak sekitar 100 meter dari posisiku.” Kata Blitz.
“Baiklah! Falco, tangkap mereka. Sarapanmu sudah menunggu.” Kata Harunio.
“Whoah! Tentu saja!” kata Falco dengan semangat.
Falco mengeluarkan kedua sayapnya dan terbang di dekat Blitz.
“Insting berkelompok mereka membuat ini menjadi lebih mudah!” kata Falco
“Kau bisa menangkapnya dari jarak sejauh ini?” tanya Blitz.
“Aku tidak ingin menakuti mereka.” Jawab Falco.
“Baiklah, terserah kau saja.” Kata Blitz.
“Hmph! Lihat saja! [Earth Wall]!” Falco menggunakan Skillnya.
Perlahan-lahan tanah mulai bergetar dan menjulang ke atas, para kuda menjadi panik lalu melompati Earth Wall dan pergi ke tempat yang lebih aman.
“Uhh ... kau mengacaukannya, hanya satu ekor yang tertangkap.” Kata Blitz.
“B-benar juga ...” kata Falco.
“Falco berhasil menangkap satu ekor, ada satu yang berlari ke arah kalian dan yang satunya menjauh.” Kata
Blitz melalui De Ordernya.
“Baiklah, Kuronia tangkap yang mengarah ke sini. Akan aku kejar yang satunya. Setelah yang di sini diamankan
segera jemput kuda selanjutnya.” Kata Harunio.
“Baik.” Kata Kuronia dan para perampok.
Harunio mengeluarkan kedua sayapnya dan terbang mengejar kuda terakhir.
“Dia datang!” kata salah satu perampok.
“Kalian bersiaplah, akan aku tangkap dia sekarang!” kata Kuronia.
Para perampok menjauh dari Kuronia untuk memberinya ruang, Kuronia menyebarkan beberapa Feather Knife untuk menandai titik tertentu.
“Datanglah lebih dekat lagi ...!” Kuda itu semakin dekat namun sedikit mengubah arahnya.
“Sekarang!” Kuronia mengaktifkan Skillnya.
Feather Knife yang ia sebarkan berubah menjadi tiang dan saling menghubungkan dengan tiang lain membentuk
sebuah pagar sehingga kuda itu berhasil ditangkap.
“Kalian bisa mulai sekarang, sisanya pergi ke tempat yang lain.” Kata Kuronia.
“Y-ya, baiklah.” Salah satu perampok segera memasuki kandang.
“Di sini sudah teratasi, perampok lain sudah bergerak menuju titik selanjutnya.” Kata Kuronia melalui De Ordernya.
“Baiklah.” Kata Blitz.
“Aku akan menunjukkan jalannya.” Kata Falco.
“Ya, tolong, ya.” Kata Blitz.
Sementara itu, Harunio masih mengejar kuda terakhir.
“Sial ...! Sampai kapan dia akan berlari?!” kata Harunio.
“Gunakan saja Skillmu.” Kata Kokuryuu dalam diri Harunio.
“Tidak akan, masalah akan bertambah jika dia terluka.” Kata Harunio.
“Kalau begitu akan aku beri sedikit bantuan.” Kata Leviathan.
“E-eh ...? Kau bisa?” tanya Harunio.
“Hmph, lihat saja. BERHENTI!” kata Leviathan.
Tiba-tiba kuda itu langsung berhenti.
“Whoah! Hebat!” Harunio kagum dengan Leviathan.
“Terlalu cepat untuk kagum.” kata Leviathan.
“Bagaimana kau melakukannya?” tanya Harunio.
“Telepati, jika dia mengerti dengan apa yang kau katakan maka dia akan mengikutinya.” Kata Leviathan.
“Itu tadi tidak seperti bahasa kuda ...” kata Harunio.
“Yang penting sekarang dia bisa ditangkap.” Kata Leviathan.
“Benar juga.” Lalu Harunio membuat pagar di sekitar kuda itu.
- - -
Beberapa saat kemudian.
“Fwaaah ...! Mereka lama sekali ...” kata Blues.
“Kalau begitu bantu saja mereka.” Kata Finyx.
“Aku hanya akan menghambat mereka.” Kata Blues.
“Kalau begitu jangan banyak mengeluh! Harunio-san membiarkanmu tinggal karena tahu jika kau hanya akan menghambat pencarian!” kata Phinyx.
“...! Kalian ini memang kompak jika disuruh untuk menjatuhkanku ...” Blues hanya bisa mengalah.
“Sudah, sudah. Tidak perlu bertengkar.” Kata Aprilia.
“Oh, ya. Bagaimana dengan keadaanmu?” tanya Blues kepada Aprilia.
“Ya, masih belum pulih sepenuhnya ... Tetapi aku sudah bisa bertarung.” Kata Aprilia.
“Lebih baik jangan, jika sesuatu terjadi kau keadaanmu bisa lebih parah.” Kata Blues.
“Apa? Dia berhak tahu kondisi yang sebenarnya.” Kata Blues.
“Terima kasih untuk saran dan perawatannya.” Kata Aprilia dengan senang.
“...! T-tidak perlu difikirkan, ini sudah tugasku. Lagi pula, Miho yang merawatmu semalaman.” Kata Blues.
“Tetapi kau juga ikut membantu.” Kata Miho.
“Aku hanya memberi sedikit saran.” Kata Blues.
“Kalian cukup akrab, ya.” Kata Aprilia.
“T-tidak juga ...” Miho sedikit ragu.
“Kami hanya te –”
“Lihat! Mereka kembali!” kata Phinyx.
Harunio dan yang lainnya telah kembali bersama dengan para perampok yang menunggangi kuda yang lepas.
“Akhirnya sampai juga.” Kata Harunio.
“Kerja bagus, kerja bagus.” Kata Darkos sambil memberikan tepuk tangan.
“Itu saja ...?” kata Harunio.
“Aku lapar ...” kata Falco.
“Beristirahatlah, biar kami yang mengurus kudanya.” Kata pemimpin perampok.
“Baiklah, aku serahkan pada kalian.” Kata Harunio.
“Ayo cepat berdiri!” Blitz mencoba membangunkan partnernya yang tumbang.
“Menggunakan kulit kayu sebagai pelana ... bagus juga.” Kata Darkos.
“Aku tidak suka ini, tetapi mereka benar-benar pandai dalam mencuri barang.” kata Kuronia.
“Heheh, sepertinya begitu.” Kata Darkos.
“Ayo, Kuronia.” Kata Harunio.
“Baik.” Kata Kuronia.
Lalu mereka berempat beristirahat sambil menyantap sarapannya sementara Darkos dan para perampok memperbaiki kereta kudanya. Setelah kereta tersebut bisa berfungsi kembali, Darkos dan para perampok melanjutkan perjalanan mereka ke kota Sorumeth. Darkos juga memerintahkan tim Harunio untuk kembali ke Conqueron setelah sarapan.
“Ini misi gabungan teraneh yang pernah aku jalankan ...” kata Blues.
“Sudahlah, apa kau tidak bosan selalu saja mengeluh?” kata Finyx.
“Dasar Blues payah ...” kata Phinyx.
“Misi kita mengambil kembali persediaan makanan, tetapi kita bertarung melawan Dragrest ...! Setelah menemukan barang yang dicuri ternyata informasi kita salah!” kata Blues.
“Tetapi kalian menang.” Kata Dragrest yang terbang membawa Miho, Kuronia dan Aprilia.
“Jika kau sekuat ini, berarti dulu kau hanya mengalah ...” kata Blues.
“Hahaha! Pertarungan kemarin benar-benar menyenangkan.” Kata Dragrest.
“Terima kasih karena mau mengantar kami lagi, Dragrest-san!” Kata Miho.
“Tidak masalah, kalian yang tidak bisa terbang juga kesulitan, bukan?” kata Dragrest.
“B-benar juga, ya.” kata Miho.
“Ini pertama kalinya aku menunggangi naga!” kata Aprilia dengan senang.
“Berhati-hatilah, Aprilia! Jika kau jatuh aku tidak bisa berbuat apa-apa!” kata Kuronia yang berada di telapak tangan Dragrest.
“Iya! Baiklah!” kata Aprilia.
“Yudai sialan ...! Tidak aku sangka dia menjebakku dengan informasi palsu lagi ...!” Harunio terbang lebih cepat karena ingin segera sampai di Conqueron untuk protes.
“Hei, pelan-pelan saja! Kenapa terburu-buru?” kata Falco.
“Biarkan saja dia, jangan ikut campur urusannya jika sudah seperti ini.” Kata Blitz.
“Y-ya, itu tidak bagus juga untukku ...” kata Falco.
- - -
Sementara itu, rombongan Darkos sudah hampir sampai di kota Sorumeth.
“Tidak aku sangka dia adalah orangnya ...” kata pemimpin perampok.
“Ya, mau percaya atau tidak anak itu memang reinkarnasi sang pahlawan.” Kata Darkos.
“Kemarin ... dia berhasil mengalahkan Dragrest, kemampuannya pasti sudah meningkat.” Kata pemimpin perampok.
“Ya, itu yang Yudai katakan. Terakhir kali aku bertemu dengannya dia masih lepas kendali saat mengaktifkan kekuatan Perfect Core.” Kata Darkos.
“Begitu rupanya ... kalau begitu tidak salah lagi.” Kata pemimpin perampok.
Mereka berbicara dengan santai seperti sudah saling kenal.
“Ngomong-ngomong, apa kau tidak terlalu berlebihan?” tanya pemimpin perampok.
“Apa maksudmu?” Darkos berbalik tanya.
“Kau membuatnya mengurus masalah kuda tadi.” Kata pemimpin perampok.
“Jika tidak seperti itu, dia tidak akan bergerak. Dari dulu dia selalu mengkhawatirkan masalah yang terjadi akibat ulahnya sendiri, karena itu dia akan berfikir keras agar masalah itu cepat selesai.” Kata Darkos.
“Tetapi kita juga bisa menggagalkan penyergapannya sebelum terjadi, kau bahkan mengarang cerita tentang keterlambatan padahal kita masih punya waktu sampai besok untuk mengirim persediaan ini. Bagaimana jika dia mengamuk setelah kau pukul?” Kata pemimpin perampok.
“Awalnya aku ingin keluar dan mengejutkannya, tetapi aku juga ingin melihat apa yang dia rencanakan untuk merebut muatan ini. Dan sebenarnya aku penasaran bagaimana rasanya menghajar anak itu tanpa membuatnya mengamuk! Aku benar-benar lega setelah mengetahuinya.” Kata Darkos.
“Kau ini nekat sekali, yang kau permainkan itu adalah sang pahlawan.” kata pemimpin perampok.
“Heheh! Lagi pula ini lebih menarik dari pada menganggur di Darko Tera, kan?” kata Darkos.
“Hmph ... benar juga.” Kata pemimpin perampok.
Ternyata sekumpulan perampok itu adalah teman-teman Darkos dari Darko Tera, mereka terlahir sebagai Emylier cacat atau Esper. Mereka sengaja menyamarkan identitas mereka sebagai pasukan khusus Darko Tera dan berpura-pura menjadi perampok sesuai dengan skenario yang telah direncanakan.