Dimension - Y

Dimension - Y
Arc 1 - Fragile Hope



Blues dan Finyx mengerahkan seluruh tenaganya dan berhasil menyelesaikan segel Full Close.


“Sepertinya mereka berhasil ...” kata Blitz.


“Hhh ... akhirnya ...!” Falco bisa bernafas lega.


“Perangkapnya ... tiba-tiba menghilang ...” kata Aprilia.


“Sepertinya mereka sudah berhasil menyegel Dragrest.” Kata Kuronia.


“Harunio, lihat! Mereka berhasil!” kata Miho.


“Ya ...! Saatnya mengakhiri pertarungan ini ...!” Harunio langsung pergi mengincar tanduk Dragrest.


“T-tunggu aku, Harunio ...!” Miho langsung mengejarnya meski tidak tahu apa yang akan Harunio lakukan.


Blues dan Finyx langsung terjatuh karena tenaga mereka sudah terkuras habis.


“...! Hhh ... Hhh ... Sial ... aku ... tidak bisa ... bangun ...! Lelah ... sekali ...!” kata Blues.


“Hmph ...! Kau seperti sudah siap mati saja ...!” kata Finyx.


“Aku ... sudah bilang ... kan ...” kata Blues.


“Kerja bagus, Blues, Nee-san!” kata Phinyx.


“Siapa pun ... tolong gunakan ... Healling Skill ...” kata Blues.


“Oh, itu Harunio-san ...?” kata Phinyx yang melihat Harunio datang dari kejauhan.


“Dia bisa ... menggunakan Healling Skill ...?” tanya Blues.


“Tidak, bukan itu! Dia kemari dengan cepat ... kira-kira apa yang akan –” Phinyx terkejut saat mendengar suara retakan dari segel Full Close.


“Dragrest masih belum menyerah ...!” Phinyx langsung mempertahankan Crimson Chain dari perlawanan Dragrest.


“Tahan dia sebentar lagi!” kata Harunio.


“...! B-baik ...!” Phinyx berusaha sekuat tenaganya.


Harunio menggunakan Sword’s Spirit pada Dragon Blade Leviathan.


“Berakhir sudah!” Harunio bersiap menebas tanduk Dragrest.


Namun segel Full Close langsung hancur.


“...! A-apa ...?!” Blues langsung terkejut.


“...! T-tidak mungkin ... padahal saat itu segel ini bisa menahannya!” Finyx tidak peraya dengan apa yang ia lihat.


Dragrest membuka mulutnya dan membuat Mark Seal ke arah Harunio.


“Hmph! Tidak akan berhasil!” kata Harunio yang menghindarinya.


“Kau lengah.” Kata Dragrest.


Dragrest langsung menggigit Dragon Blade Leviathan, Mark Seal itu hanya sebuah trik untuk mengalihkan perhatian Harunio.


“A-apa ...?! Dia tidak menyerang ...?!” Harunio terkecoh oleh tipuan murahan.


Dragrest langsung mengayunkan lehernya beberapa kali dan membuat Harunio melepaskan genggamannya dari Dragon Blade tersebut.


“Harunio! Kau tidak apa-apa?” tanya Miho.


“Ya ... hanya saja, kunci kemenangan kita sudah direbut ...” kata Harunio mendarat di dekat Blues dan Finyx.


Dragrest mengamankan Dragon Blade Leviathan di dalam mulutnya.


“Pertarungan ini belum berakhir!” Dragrest menciptakan Mark Seal dengan ukuran 50 meter di bawahnya.


Dragrest berkonsentrasi untuk mengaktifkan Skillnya, bahkan Mark Seal itu sudah mengeluarkan hawa panas sebelum dilepaskan.


“Ini buruk ...! Semuanya, cepat berkumpul di luar jangkauan Mark Seal!” kata Harunio.


“Baik!” jawab Kuronia, Aprilia, Blitz, dan Falco.


“Ahh ... sial ...! Aku tidak bisa bergerak sedikit pun ...!” kata Blues.


“Jangan ...! Menyerah ...!” Finyx masih mencoba bangkit namun tubuhnya sudah tidak kuat lagi.


“Apa yang kalian lakukan?! Cepat pergi dari sini!” kata Harunio.


“Dia berisik sekali ...!” kata Blues.


“Nee-san dan Blues sudah tidak punya tenaga untuk bergerak, aku akan menahannya selama mungkin ... jadi tolong gunakan kesempatan ini untuk pergi!” Kata Phinyx.


“Apa yang kau bicarakan ...?! Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi ...!” kata Finyx.


“Sudahlah, Nee-san. Sebagai Summonernya ... aku harus bertanggung jawab atas kekacauan ini ...” Phinyx sedikit bersedih.


“Ya ampun ...! Ini semakin buruk saja!” kata Harunio.


“Sekarang bagaimana, Harunio?” tanya Miho.


“Miho, pergilah dari sini. Biar aku sendiri yang mengurusi mereka bertiga.” Jawab Harunio.


“T-tetapi bagaimana jika –”


“Miho! Ini perintah.” Harunio menatap Miho dengan serius.


Miho sedikit takut dengan Harunio.


“Skill Dragrest dapat membakar Shard Emylier di sekitarnya, saat ini kita harus menghemat setiap Shard yang masih tersisa.” Kata Harunio.


“Baik ... aku mengerti.” Kata Miho.


“Baguslah, sekarang pergi!” kata Harunio.


Miho langsung pergi ke luar dari jangkauan Mark Seal dan berkumpul dengan anggota lain, sementara Harunio pergi ke arah Blues dan Finyx.


“Phinyx! Sudah cukup!” kata Harunio.


“T-tetapi jika aku lepaskan ...” kata Phinyx.


“Sudahlah, lepaskan saja! Meskipun kau menahannya, itu tidak akan menghentikan serangannya!” kata Harunio.


Phinyx tidak punya pilihan lain kecuali melepaskan control manual Crimson Chain dan berkumpul bersama kakaknya.


“Bagus.” kata Harunio.


“Nee-san ...!” Phinyx langsung memeluk kakaknya.


“Sudah, sudah ... tidak apa-apa. Kau telah berjuang sekuat tenaga.” Kata Finyx sambil membelai kepala Phinyx.


Mark Seal Dragrest mulai bersinar dan menandakan persiapannya hampir selesai.


“Sekarang apa?” tanya Blues.


“[Metal Bunker]!” Harunio membuat bunker dari besi seperti Kuronia.


“A-apa ini saja cukup ...?” tanya Phinyx.


“[Holly Shield]!” Harunio melapisi pertahanan mereka dengan Skill dari Light Shard.


Perlindungan ganda sudah siap melindungi mereka berempat.


“Apa?! Harunio melindungi mereka bertiga sendirian?!” Kuronia terkejut dengan informasi dari Miho.


“I-iya ...” kata Miho.


“Sial ...! Aku akan segera kembali!” Kuronia ingin pergi membantu Harunio.


Blitz bergerak dengan cepat dan menjegal kaki Kuronia dan membuatnya terjatuh.


“Kau mau pergi ke mana?” tanya Blitz.


“Tentu saja ...!” kata Kuronia.


“Saat kau tiba di sana, kau hanya akan terbakar hidup-hidup. Diam dan amati saja situasinya.” Kata Blitz.


“Blitz ada benarnya, tolong jangan pergi.” Aprilia mencoba meyakinkan partnernya.


“Aku sudah memberitahumu untuk menenangkan diri kan? Dia pasti masih punya rencana.” Kata Blitz.


“Baiklah ...” Kuronia terpaksa mengikuti Blitz.


“Itu benar! Kita harus percaya pada Harunio!” kata Miho.


Persiapan Dragrest sudah selesai.


“Sekarang ... hancurkan semuanya! [Hell Storm]!” Dragrest mengaktifkan Skillnya.


Mark Seal tersebut mengeluarkan pusaran api yang berkobar hebat seperti badai yang membakar apapun yang ada dalam jangkauannya.


“...! Sial ...! Rasanya tanganku ikut terbakar ...!” Harunio merasakan efek panas karena terhubung dengan Skillnya.


“Aku mohon berjuanglah, Harunio-san!” kata Phinyx.


“Hah?! Aku tidak bisa mendengarmu karena gemuruh ini!” teriak Harunio.


“Tolong berjuanglah ...” kata Phinyx melalui De Ordernya.


Harunio merasakan efek dari Heavently Lock secara spontan.


“...! Sial ...! Dia seperti berbisik di telingaku ...!” kata Harunio dalam fikirannya.


Untuk sesaat ia mendapat gangguan dari efek Heavently Lock, namun itu membuat beban yang dialaminya menjadi lebih ringan.


Beberapa saat kemudian Hell Storm berhenti berkobar meninggalkan tanah dan bebatuan yang berwarna merah menyala seperti bara api kecuali area di dalam bunker yang dibuat Harunio. Crimson Chain yang menahan Dragrest telah lenyap terbakar oleh Hell Storm dan membuatnya bisa terbang dengan bebas lagi.


“Sepertinya sudah selesai ...” Harunio membuka bunkernya.


Mereka terkejut melihat area di sekitar mereka yang terlihat seperti tumpukan bara api sejauh mata memandang.


“Benar-benar mengerikan ...” kata Finyx yang membantu Blues berdiri.


“Kita pasti sudah tamat jika tidak berlindung ...” kata Blues.


“Jujur saja, aku terkejut jika kau adalah Summonernya.” Kata Harunio kepada Phinyx.


“A-aku juga tidak tahu jika Dragrest sekuat ini ...” kata Phinyx.


“Harunio!!” kata Miho dari jauh.


Kelima anggota lain berkumpul di tempat Harunio.


“Kau tidak apa-apa, Harunio?!” Kuronia mengkhawatirkannya.


“Ya, begitulah.” Jawab Harunio dengan malas.


Sebenarnya Harunio ingin Miho yang lebih menghawatirkannya.


“Syukurlah.” Kata Miho.


“Kekuatan seekor naga benar-benar hebat ...” kata Aprilia.


“Aku tidak habis fikir kau masih bisa bertahan ...” kata Falco.


“Sekarang bagaimana? Anggota yang tersisa sudah di ambang batas kemampuan mereka.” Kata Blitz.


“Hhh ... benar juga ...” Harunio menghela nafas sejenak untuk menangkan fikirannya.


“Dia masih bisa bertahan setelah terpapar langsung oleh Skillku ... seingatku dia baru mengaktifkan 10% kekuatan


Perfect Core ... Sejauh mana kau bisa bertarung ...” kata Dragrest dalam fikirannya.


Dragrest membuka mulut dan membuat Mark Seal di depannya.


“H-hei ... hei ... dia akan menyerang lagi!” kata Blues.


“Sial ...! Dia tidak memberikan banyak waktu ...! Yang terpenting pulihkan dulu kondisi mereka bertiga setelah


itu bersiap!” kata Harunio.


“Baik!” kata mereka berlima.


“Aku sendiri yang akan melawan Dragrest!” Harunio langsung terbang ke arah Dragrest.


“[Comet Rain]!” Dragrest mengeluarkan hembusan api yang kuat pada Mark Seal itu sehinga menciptakan purwarupa meteor yang jatuh.


Harunio membuat beberapa Feather Knife beraura hijau yang melayang mengikutinya.


“[Cluster Storm]!” Harunio mengaktifkan Skillnya sehingga semua Feather Knife itu langsung berpencar dan berubah menjadi tornado yang menghancurkan Comet Rain dengan sekejap.


Sementara itu, Miho bertugas untuk memulihkan kondisi Blues, Finyx, dan Phinyx yang sudah lemah.


“[Cold Healling]!” Miho membuat Mark Seal dengan diameter 5 meter dan menggunakan Healling Skillnya.


“Maaf merepotkan ...” kata Finyx.


“T-tidak apa-apa ...! Justru aku merasa senang karena bisa berguna bagi tim!” kata Miho.


“Harunio-san benar-benar hebat ...” kata Phinyx yang melihat Harunio melawan Dragrest sendirian.


“Aku benci mengakuinya, tetapi dia benar-benar hebat ...” kata Blues.


“Iya ... itu benar. Harunio adalah Emylier terhebat yang pernah aku temui ...” kata Miho.


“Dan dia mendapat Partner terbaik di Conqueron.” Finyx sedikit menggoda Miho.


“...! F-Finyx-san ...!” Miho langsung tersipu malu setelah mendengarnya.


“Uhuhu! Tetapi itu yang mereka bicarakan, dia adalah orang yang terpilih untuk menjadi partner idola Conqueron.” Kata Finyx.


“S-sudahlah ...” Miho mencoba menahan rasa malunya.


“Uhuhu! Maaf jika itu menggangumu!” kata Finyx.


Kembali ke panggung utama, Harunio dan Dragrest bertarung habis-habisan dengan seluruh kemampuan yang mereka miliki.


“[Inferno Shooter]!” Harunio menggunakan Skill jarah jauhnya ke arah kepala Dragrest.


Dragrest menahan Inferno Shooter dengan tangan kosong dan bersiap menggunakan Skill.


“[Red Blast]!” Dragrest membuka mulutnya dan langsung menciptakan Mark Seal.


Namun tidak ada yang terjadi.


“Hmph! Kehabisan Shard?” Harunio meremehkan Dragrest.


Tiba-tiba Mark Seal itu langsung menembakkan ledakan energy yang sangat kuat ke arah Harunio.


“...! Gawat ...!” Harunio tidak sempat menghindarinya.


Ledakan energy itu menenai Harunio tanpa bisa bertahan atau menghindar.


“...! T-tidak mungkin ...!” kata Finyx.


“H-hei ... hei ...! Jangan bercanda ...!” kata Blues.


“...! Ha-Harunio-san ... kalah ...?!” Phinyx tidak percaya dengan apa yang ia lihat.


“Tidak mungkin ... Harunio tidak akan kalah ... tidak akan! Harunio pasti akan menang!” kata Miho.


Red Blast perlahan-lahan menghilang menyisakan kawah yang besar.


“Harus aku akui, kau benar-benar tangguh ...!” kata Dragrest.


“Haha, andai saja Perfect Core bisa bicara.” Perisai Perfect Core Skin telah melindungi Harunio dari serangan itu.


“Aku tahu dia tidak akan dikalahkan oleh Dragrest!” kata Blues.


“Sekarang kau mendukungnya ...” kata Finyx dengan pelan.


Wujud Harunio yang disembunyikan Masked Mask terlihat, namun anggota tim Harunio tidak mengetahuinya.


“Sekarang ...” Harunio mengambil cadangan Masked Mask dari De Order dan memakainya.


“... Giliranku!” kata Harunio.


“Hmph! Coba saja!” Dragrest menantang Harunio.


Harunio tersenyum karena Dragrest tidak menyadarinya, ia telah membuat sembilan Shadow Clone yang bersembunyi di sekitar Dragrest.


“[Dark Chain]!” beberapa Shadow Clone menggunakan skill mereka secara bersamaan.


Mereka membuat rantai ungu dan mengikat Dragrest seperti Crimson Chain.


“Sekarang!” kata Harunio.


“Baik!” jawab Blitz, Falco, Kuronia, dan Aprilia.


Di sisi lain, mereka berempat telah bersiap dengan selongsong meriam yang dibuat oleh kedua Chrusade.