
Sebuah ledakan menyita perhatian mereka, dan ternyata Harunio yang menjadi penyebabnya.
“...! Siapa Emylier itu?!” Blues terkejut.
“Bukankah dia yang bertarung dengan beberapa perampok tadi?” kata Finyx.
“Dia mengalahkan mereka sendiri?!” kata Phinyx.
Harunio langsung menyerang para perampok dengan Feather Swordnya.
“...! Cepat sekali ...!” kata pemimpin perampok.
Hanya dengan sekali serangan para perampok dikalahkan Harunio dengan mudah.
"Apa ini?! Aku merasakan lebih dari satu Shard saat dia menyerang?!" kata Finyx dalam fikirannya.
Pemimpin perampok itu masih bisa bergerak meski sudah terkena serangan Harunio.
“Sial ...! Beraninya –” Harunio langsung menendangnya sehingga berbalik tanpa memberikan kesempatan
untuk berbicara.
Harunio menatapnya dengan penuh amarah dan bersiap menghunuskan Feather Swordnya.
“Hei, hei ...! Dia serius ingin membunuhnya!” kata Blues.
“Hentikan!” kata Finyx.
“Haah ...?! Kalian juga bagian dari mereka?!” Harunio menatap mereka bertiga dengan tajam.
“Hah?! Jangan bercanda!” kata Blues.
“Kalau begitu jangan mengganggu!” kata Harunio.
“Sudah cukup, kan? Para perampok itu sudah tidak bisa melawanmu lagi! Gadis itu juga baik-baik saja!” kata Finyx.
“Ini bukan urusanmu ... pergilah.” Kata Harunio.
“Bagaimana ini, Nee-san?” tanya Phinyx.
“Ya ampun ... dasar Emylier yang keras kepala.” Finyx mencoba memikirkan cara untuk menyelesaikan masalah ini, “Blues, kita harus segera mengalahkannya dan pergi dari sini.” Kata Finyx.
“Tetapi bagaimana?! Dia seperti monster yang mengamuk! Sekarang adalah waktu yang tepat untuk pergi!” kata Blues.
“Tetapi kita tidak bisa membiarkannya mengamuk di sini!” kata Finyx.
“Yang benar saja ...” Kata Blues.
“Phinyx, tolong jaga gadis itu.” Kata Finyx.
“Baik.” Phinyx langsung pergi mendekati Miho.
Tetapi Harunio langsung menyerang Phinyx.
“Awas!” kata Blues.
“Jauhkan tanganmu darinya!” kata Harunio dengan kesal.
Serangan Harunio dapat Phinyx tahan namun dia terlempar cukup jauh.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Finyx.
“I-iya ...! Dia benar-benar kuat ...!” kata Phinyx.
“Dia semakin liar jika kita mendekati gadis itu, seharusnya kita pergi dari tadi!” kata Blues.
"Bertarung melawannya memang terlalu beresiko, tetapi sekarang sudah tidak ada pilihan lain!" kata Finyx dalam fikirannya, “Blues, berapa lama kau bisa bertahan melawannya?” tanya Finyx.
“Kau tidak dengar apa yang aku katakan?!” kata Blues dengan panik.
“Jika dia membunuh para perampok, Agen Conqueron akan menyelidiki setiap Emylier yang melewati tempat ini!” kata Finyx.
“Kau ingin kita bertarung melawan monster itu?!” kata Blues.
“Tenanglah, aku punya rencana. Phinyx, pergilah ke Ruton untuk mencari bantuan dari Guardo yang bertugas di sana selama kami akan menahannya di sini. Dia pasti tidak akan membiarkanmu memanggil Mount, kami mengandalkanmu!” kata Finyx.
“Hei, hei ...! Ini tidak lucu sama sekali ...!” Blues hanya bisa pasrah.
“A-apakah tidak apa-apa ...?” Phinyx sedikit ragu.
“Kami akan berusaha semaksimal mungkin.” Kata Finyx.
“Hhh ... baiklah. Jika terjadi sesuatu sebelum aku kembali, aku tidak akan memaafkan kalian bertiga!” kata Phinyx.
“Baik, baik.” Finyx menanggapinya dengan santai.
“Siapa yang ke tiga ...?” tanya Blues.
“Oh, ya. Saat menahan serangannya tadi, aku merasakan sesuatu yang tidak asing. Pastikan aku bisa berbicara dengannya nanti!” lalu Phinyx mengeluarkan kedua sayapnya dan terbang menuju Ruton.
“Akan kami usahakan. Sekarang ... saatnya serius!” kata Finyx sambil membuat satu Feather Sword.
“Aku punya firasat buruk ...” kata Blues dengan pasrah.
“Tenanglah, kita hanya perlu menghindari serangannya saja. Ya, meski kadang-kadang kita harus menahannya.” Kata Finyx.
“Kita lakukan saja seperti biasa!” Kata Blues.
“Hmph! Menyerahkan pertahanan kepada seorang perempuan, kau benar-benar payah!” Finyx semakin bersemangat.
“Apa yang kau bicarakan? Justru aku yang melindungimu!” Blues juga kembali bersemangat lalu membuat sebuah Feather Sword.
“Terserah kau saja, kita mulai!” Finyx langsung memulai serangan.
“Dasar penggang –” saat Harunio hendak menyerang, Blues menggagalkan serangannya dengan sedikit dorongan pada Feather Swordnya sehingga serangannya meleset.
“Sialan ...!” Harunio semakin marah dan mengincar Blues.
“Bagus! Lanjutkan!” kata Finyx.
“Hwaaahh!! Tolong aku!” Blues menghindari semua serangan Harunio dengan panik.
“[Wind of Refuse]!” Finyx membuat hembusan angin yang kuat hanya dengan mengepakkan kedua Sayapnya dan membuat Harunio terhempas.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Finyx.
“Setidaknya untuk saat ini ...” kata Blues.
Harunio langsung mengeluarkan Extensinya yaitu sepasang sayap hitam dan sembilan ekor putih dengan sedikit warna oranye pada ujungnya.
“...! Emylier Hanbi?!” Blues terkejut.
“Sepertinya nasib kita bergantung pada serangan ini ... kau sudah siap?” tanya Finyx.
Saat mereka berdua melawan Harunio, mereka juga menyebarkan Feather Knife sebagai penanda Skill yang akan
digunakan.
“Kalian akan menerima konsekuensinya ...!” perlahan-lahan Harunio berjalan mendekati Blues dan Finyx.
“Kena kau!” kata Blues dengan pelan.
Harunio memasuki jangkauan perangkap milik Blues.
Air keluar dari setiap titik dimana Feather Knife milik Blues dan berkumpul sehinga Harunio terperangkap didalamnya. Namun dia masih melawan meski sudah terperangkap di dalam gelembung air tersebut.
“Dia benar-benar keras kepala!” Finyx langsung menyerang dengan cepat.
Namun serangan itu dapat Harunio tangkis, sekarang Finyx berada di sisi lain perangkap gelembung air Blues.
“Kita lakukan!” Finyx mengaktifkan perangkapnya yang berada di sekitar Feather Knife Blues, dengan begitu Finyx dapat memanipulasi ruang dalam jangkauan tertentu.
“Kita habisi dia!” kata Blues.
Mereka mengangkat gelembung air itu dan menjatuhkannya, Finyx memanipulasi temperatur dan mengubah perangkap itu menjadi Es menyisakan tubuh bagian atas Harunio tepat di bawahnya. Dengan memanfaatkan gravitasi dan berat dari perangkap yang bertambah, mereka membenturkan Harunio ke tanah dengan keras.
"Apakah berhasil ...?" kata Finyx dalam fikirannya.
Lalu sebuah cahaya berwarna ungu dan biru terlihat dibalik debu yang berterbangan.
“A-apa itu ...?” kata Finyx.
“Hei ...” Harunio masih bisa bertahan.
“ ...! Dia benar-benar monster ...!” kata Blues.
“… Itu serangan terbaik kalian ...?” Harunio mengepakkan kedua Sayapnya dan menghapus semua debu yang berterbangan.
“...! I-itu ...?!” Finyx tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
“E-extensinya berubah ...?!” Blues juga terkejut.
Sayap Harunio berubah menjadi padat tanpa bulu dengan motif berwarna ungu, lalu Ekornya berubah menjadi Ekor burung berjumlah tujuhbuah dengan gradasi ungu dan biru, selain itu pada ujung Ekornya berubah seperti kobaran
api.
“Lari!!” teriak Finyx.
Harunio langsung bergerak dengan cepat menuju Finyx dan bersiap mengayunkan Feather Swordnya.
"Cepat sekali ...!" Finyx tidak sempat menghindar ataumenahan serangannya.
Tiba-tiba sebuah rantai merah muncul dan langsung mengikat Harunio.
“Syukurlah aku tepat waktu!” kata Phinyx yang telah kembali.
“Sial ...! Sampai kapan kalian ingin menghalangiku ...?!” Harunio berusaha melawan.
“...! Jangan sakiti kakakku ...!” kata Phinyx yangmenahan Harunio dengan susah payah.
Harunio membuat Mark Seal di bawahnya.
“Mengakses sistem kesadaran internal ...! Mengaktifkan Core hingga 10% ...! Phase 1 diaktifkan ... [Code : Black-Beast]!” Mark Seal Harunio mengeluarkan ledakan energy setelah Harunio mengaktifkan kekuatan Perfect Core.
“Apa yang –?!” perlawanan Harunio semakin kuat hingga Phinyx ikut tertarik.
Tiba-tiba dua orang Guardo menyerang Harunio menggunakan Feather Sword mereka, namun pedang tersebut langsung hancur setelah menebas Harunio.
“Sial! Phase 1 sudah sekuat ini ...?!” kata Guardo pertama.
“Tidak ada pilihan lain, kami akan menetralkan Shardnya! Bantu kami!” kata Guardo kedua.
“...! Baik ...!” Phinyx mengaktifkan Skillnya dan membakar apapun yang tertangkap oleh rantai merah itu.
Harunio berteriak kesakitan, namun masih mencoba untuk melawan. Mark Seal kedua Guardo muncul di bawah dan di atas Harunio untuk menetralkan Shardnya.
- - -
Beberapa saat kemudian pertempuran telah selesai, Harunio langsung pingsan setelah Shardnya dinetralkan.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Guardo pertama.
“Y-ya, begitulah.” Kata Finyx.
“Sial ...! Sebenarnya dia itu siapa ...?!” kata Blues dengan kesal.
“Kerja bagus, kau benar-benar hebat seperti yang mereka dibicarakan.” Kata Guardo kedua.
“Ehehe! Tidak juga!” Phinyx merendah.
“Bagaimana dengan gadis itu?” tanya Finyx.
“Biar aku periksa.” Blues langsung pergi memeriksa kondisi Miho.
“Bagaimana, Blues?” tanya Finyx.
“Ya ... sepertinya para perampok menggunakan racun yang melumpuhkan korbannya, sepertinya efeknya sudah mulai hilang. Aku sudah menggunakan Healling Skill untuk menyembuhkan lukanya, tetapi dia masih harus mendapat perawatan.” Kata Blues.
“Syukurlah!” Finyx merasa lega.
“Terima kasih atas bantuan kalian, sebenarnya mereka berdua sedang menjalankan misi untuk mengantarkan persediaan logistik dari Ruton dan bertemu dengan para perampok yang baru-baru ini terlihat di sekitar sini. Karena kondisi mereka saat ini, terpaksa mereka harus mengundurkan diri.” Kata Guardo pertama.
“Kami akan kembali ke Ruton untuk meminta bantuan dan transportasi. Tolong awasi mereka sebentar.” Kata Guardo kedua.
“Oh, terima kasih banyak!” Blues berfikir jika itu untuk mereka bertiga.
“Baiklah, kami pergi terlebih dahulu.” Kata Guardo kedua.
Lalu para Guardo kembali ke Ruton.
“Saatnya istirahat.”kata Blues dengan santai.
“Kau pasti berfikir jika mereka akan memberi kita tumpangan?” kata Finyx.
“Bukankah begitu seharusnya?” kata Blues.
“Tentu saja tidak, mereka mencari bantuan untuk mereka berdua.” kata Finyx.
“Apa?! Bahkan disaat seperti ini dia masih bisa membuat masalah?!” Blues semakin membenci Harunio.
“Kenapa kau marah?” tanya Finyx.
“Mereka lebih membutuhkannya dari pada dirimu.” Kata Phinyx.
“Aahhh ... menyebalkan ...!” Blues langsung berbaring dan mengistirahatkan tubuhnya.