
Setelah sampai di taman Luvana,Teo langsung mencari Miho.
"Sial ...! Aku tidak bisa membuatnya menunggu lebih lama lagi!" kata Teo yang mengelilingi taman.
Tiba-tiba ia mendengar suara perempuan.
“Miho ...? Suaranya tidak jauh!” Teo langsung mencari sumber suaranya.
Tetapi ia tiba, Harunio dan Miho tengah tenggelam dalam suasana romantis mereka.
“...! A-apa ini ...?” Teo tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
Dia berharap apa yang ia lihat adalah ilusi, tetapi sayang sekali apa yang terjadi di depannya adalah kenyataan.
“Oh, Teo! Lihat, aku berhasil!” kata Harunio.
“I-ini ... tidak mungkin ... ini tidak mungkin terjadi ...!” Teo tidak ingin percaya dengan kenyataan pahit ini.
“Hei, kau kenapa?” tanya Harunio.
“Diamlah ...” kata Teo dengan pelan.
“Ayolah, bersemangatlah seperti biasa. Akan aku traktir lain kali, aku sedang tidak punya uang.” kata Harunio.
“Diamlah ...!” Teo mulai terbakar amarah.
Lalu Miho mendekati Teo.
“Teo-kun, apa yang ingin kau bicarakan denganku?” tanya Miho.
“Eh? T-tunggu dulu ...” kata Harunio.
“Oh, ya. Aku lupa memberitahumu jika Teo-kun ingin menemuiku di sini, ternyata kalian saling kenal?” kata Miho.
“H-hei ... jangan-jangan ...?!” Harunio mulai panik.
“Begitu, ya ... Haha ...! Hahaha! Oh, ya ... Benar juga, aku ingin mengatakan sesuatu ... KURANG AJAR!!” lalu Teo mengeluarkan Extensinya yaitu sepasang sayap.
Tubuh Teo mulai mengeluarkan api seakan-akan luapan emosinya yang menjadi nyata.
“Miho, mundur!” Harunio langsung menarik tangan Miho dan membuat dinding es didepannya.
Teo melepaskan kekuatannya seperti sebuah bom bunuh diri, mereka berdua tidak terkena serangan itu berkat dinding es yang dibuat Harunio.
“Ha-Harunio ... bagaimana kau bisa ...?” Miho sedikit tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
“Penjelasannya nanti saja!” kata Harunio.
“Kau adalah Emylier terburuk yang pernah aku temui, Harunio ...! Kedisiplinan yang rendah, bertindak sesuka hati, mengabaikan peraturan ... bahkan kau juga meniru semua agendaku hari ini! Kau benar-benar menyedihkan!!” Teo benar-benar marah kepada Harunio.
“Tenanglah, Teo! Aku tahu jika aku memang sepayah yang kau katakan! Tetapi ..." Harunio benar-benar panik sehingga tidak bisa berfikir dengan jernih.
"Sial! Aku harus bagaimana?!” kata Harunio dalam fikirannya.
“Tetapi apa?!” teriak Teo.
“Tetapi ... aku tahu kau adalah senior yang hebat!” kata Harunio dengan senang.
“Kau masih berani tersenyum di depanku?!” Teo langsung menembakkan kobaran api yang kuat ke arah mereka berdua.
Harunio hanya bisa bertahan dibalik dinding es yang terus ia buat setelah setiap lapisan mencair.
“Sial ...! Sepertinya dia tidak bisa diajak bicara dengan damai!” kata Harunio dalam fikirannya.
“Kau adalah sampah terburuk yang menikamku dari belakang! Kau baru muncul dalam waktu yang singkat dan kau
menghancurkan kehidupan yang telah lama aku bangun! Kau benar-benar membuatku kesal!” Teo memperkuat kobaran apinya.
“HENTIKAN!!!” teriak Miho.
“Dasar berisik ...!” kata Teo dengan kesal.
“Jangan mengatakan hal yang buruk tentang Harunio lagi!” kata Miho.
“Miho ...?” kata Harunio dengan pelan.
“Hah ...?! Dasar pengganggu!” Teo menembakkan kobaran api yang lebih kuat.
“[Wind of Refuse]!” Harunio menggunakan Skillnya untuk membuat hembusan angin yang kuat dari kepakan sayapnya.
Kobaran api yang dibuat Teo dapat diatasi dengan satu serangan.
“Akhirnya kau melawan. Element ganda ...? Tidak, ini pasti tipuannya!” Kata Teo dalam fikirannya.
“Ayolah, kita selesaikan masalah ini dengan damai.” Kata Harunio.
“Aku tidak butuh tawaranmu!” kata Teo.
“Kau baru saja membuat kesalahan yang sangat fatal, tetapi aku masih memberimu kesempatan karena kau adalah
temanku.” Kata Harunio.
“Satu-satunya pembuat masalah disini adalah kau sendiri!” kata Teo.
“Hhh ... lihatlah kenyataannya. Kau sendiri yang pertama kali menyerang, bahkan kau berani menyerang Miho yang sebenarnya kau sukai!” kata Harunio.
“Aku tidak perduli.” Kata Teo dengan spontan.
“Ah, begitu rupanya. Kalau begitu jangan salahkan aku jika aku terlalu serius!” kata Harunio.
“Hmph! Jangan terlalu percaya diri! Aku tidak perduli jika kau adalah Yoruhane atau rekan Kuronia, akan aku hajar kau ...!” Teo langsung membuat Feather Sword.
“Dasar ... seharusnya itu yang aku katakan!” kata Harunio.
“Jangan, Harunio! Jangan melawannya!” kata Miho.
“Tidak perlu khawatir, aku hanya perlu menahan setiap serangannnya. Itu adalah hal yang pantas aku dapatkan karena merebut sesuatu yang berharga baginya.” Kata Harunio.
“Sesuatu yang berharga ...?” kata Miho.
“Tenang saja, kau hanya perlu menyerangku sekuat tenaga!” kata Harunio lalu membuat sebuah Feather Sword.
“Dengan senang hati!” Teo langsung memulai serangan.
Harunio menahan tebasannya dengan mudah, lalu Teo menjaga jarak dan menembakkan kobaran api lagi.
“Serangannya tidak terlalu cepat, namun tenaganya hebat juga. Skill dengan area dan efek kerusakan yang cukup luas, masalah akan terus berdatangan jika membiarkannya mengamuk lebih lama ...” Kata Harunio dalam fikirannya.
Tidak hanya bertahan dari serangan Teo, Harunio juga mengamati gaya bertarung lawannya.
“Fire Geyser!” Teo menancapkan Feather Swordnya ke tanah sebagai perantara Shard.
Lalu semburan api keluar dari dalam tanah, Harunio hanya bisa menghindari semburan api tersebut satu persatu.
“Sial ...! Di sini benar-benar panas!” kata Harunio sambil menghindar.
Teo meninggalkan beberapa Feather Knife saat melawan Harunio dari jarak dekat, dengan menggunakan Fire Geyser Teo mengarahkan Harunio ke area jebakannya.
“A-apa?!” Harunio langsung melingkup dirinya dengan kedua sayapnya.
Feather Knife itu langsung meledak, sementara Harunio bertahan dibalik kedua sayapnya.
Teo mencabut Feather Swordnya dan bersiap untuk menyerang.
“Crescent ...” Teo mengumpulkan Flame Shard pada Feather Swordnya.
Harunio membuka kedua sayap yang melindunginya dari perangkap Teo, area di sekitarnya penuh dengan bekas ledakan.
“Sepertinya aku tepat waktu ...” kata Harunio.
“... Flame!” Teo langsung menebaskan Feather Swordnya dan menciptakan gelombang api yang kuat.
“...! Gawat ...! Wind Cuter!” Harunio langsung menebaskan Feather Swordnya dan menciptakan gelombang angin.
Crescent Flame Teo terbelah oleh Wind Cuter Harunio dan membakar area sekitar termasuk beberapa pepohonan.
“Yang tadi hampir saja ...!” Harunio sedikit panik.
“Ada apa? Kau hanya menahan semua seranganku, kau tidak bisa menyerang tanpa Kuronia di sampingmu? Dasar payah, aku tidak tahu kenapa Kuronia mau bersama Emylier yang tidak berguna sepertimu!” kata Teo.
“Kau ini berisik sekali! Aku sudah muak mendengar Kuronia-Kuronia dari tadi!” kata Harunio.
“Hmph! Aku tidak peduli!” Teo langsung maju untuk menyerang.
Harunio juga tidak tinggal diam dan maju menyerang Teo. Suara pedang mereka berdemtum dengan keras, Harunio hanya mengincar Feather Sword Teo sehingga pedang tersebut lepas dari genggamannya.
“Sudahlah, sampai kapan kau akan seperti ini?” tanya Harunio.
“Berisik ...! Sikapmu itu semakin membuatku kesal! Tidak peduli seberapa berat ... seberapa menyakitkan ... berapapun harga yang harus aku bayar ... aku akan terus melanjutkan pertarungan hingga jiwaku berhenti berkobar!” kedua sayap Teo mengeluarkan aura yang kuat.
Sekarang Teo telah membangkitkan Extensi sempurnanya, kedua Sayapnya sedikit berubah dan Teo juga memiliki Ekor burung yang berbentuk bulu biasa berjumlah tujuh buah.
“Ya ampun ... Transcendence. Situasinya semakin buruk saja ...” Kata Harunio dengan santai.
“Dengan semua kekuatan ini ... akan aku luapkan semua amarahku!” Teo mulai mengumpulkan Flame Shard pada tangan kanannya.
“Yah ... dia sendiri tidak bisa diajak berdamai, apa boleh buat.” lalu Harunio mengeluarkan Extensi sempurnanya.
“Tidak ... jangan lakukan itu, Harunio!” teriak Miho yang berada di belakangnya.
“Tenang saja, Miho. Tubuhnya sudah mencapai batas, ini pasti serangan terakhirnya!” kata Harunio yang bersiap menahan serangannya.
“Infernal ...” kumpulan Shard itu menjadi semakin kuat.
“Percuma saja.” Kata Harunio.
“... Strike!” Teo mulai menyerang dengan cepat.
Harunio melingkup dirinya dengan kedua sayap untuk menahan serangannya, namun Teo melewati Harunio begitu saja.
“Jika aku tidak bisa memilikinya ...”
“A-apa?!” Harunio terkejut.
“ ... Kau juga tidak bisa memilikinya!” kata Teo.
Target serangan Teo yang sebenarnya adalah Miho.
“Gawat!” Harunio telah membuat langkah yang salah.
“Matilah!” serangan Teo sudah didepan mata.
Miho yang panik hanya diam tanpa bisa berbuat apa-apa.
“Dark Gravity!” Harunio menggunakan Skillnya untuk membuat area khusus yang ditandai oleh Mark Sealnya.
Teo langsung terjatuh oleh tekanan gravitasi yang kuat, area tersebut juga menyerap Flame Shard dari Infernal Strike Teo.
“...! Sial ...!” kata Teo dengan kesal.
“Mengakses sistem kesadaran internal ...!”
Lalu terdapat aktifitas asing dari danau.
“Jangan gunakan itu, Harunio!” kata Miho.
“Mengaktifkan Core hingga 10% ...!”
“Apa yang dia lakukan ...?!” kata Teo dalam fikirannya.
“Phase 1 diaktifkan ...”
Gelembung udara keluar di ujung jalan batu.
“[Code : Black-Beast]!” Harunio mengaktifkan kekuatan Perfect Core.