
Harunio terkejut saat melihat potongan tanduk Dragrest tiba-tiba berubah menjadi Dragon Blade yang menancap di tanah. Ia langsung memeriksa Dragon Blade itu dari dekat.
“Kau juga si ksatria?!” kata Harunio.
“Ya, itu benar. Sebelum aku dipanggil oleh Phinyx, aku menerima kabar jika tuanku telah kembali. Awalnya aku memang sedikit terkejut. Tetapi saat kau menunjukkan Dragon Blade Leviathan, aku semakin percaya dengan berita itu. Dan akhirnya aku memintamu menunjukkan hargamu.” Kata Dragrest menjelaskan.
“Harga ...? Maksudmu pertarungan kita tadi?!” Harunio masih saja dibuat terkejut.
“Ya, benar.” Kata Dragrest.
“Itu lebih mirip dengan tes ...” kata Harunio.
“Kau bisa menyebutnya seperti itu.” Kata Dragrest.
“Jadi sejak awal kau tidak mengkhianati Summonermu, ya ... Tetapi kenapa kau mencoba membunuh kami semua?!” kata Harunio.
“Aku sudah menahan diri, aku hanya mengujimu saja menggunakan mereka sebagai bahan pertimbangan.” Kata Dragrest.
“Astaga ... merepotkan sekali ...” kata Harunio sambil membuat Mark Seal ukuran kecil untuk menyimpan Dragon Blade Kokuryuu.
Namun pedang itu tidak bisa disimpan melalui Mark Seal dan hanya menembusnya.
“Apa ini ...?! Hei, Kokuryuu. Ada apa ini?!” kata Harunio.
“Kau tidak bisa menyarungkan pedangku menggunakan Mark Sealmu, pedang itu masih milikku.” kata Kokuryuu
dari dalam diri Harunio.
“Lalu apa yang harus aku lakukan?” tanya Harunio.
“Kembalikan ke tempat di mana kau mencabutnya.” Jawab Kokuryuu.
“...! Kau ingin membunuhku?!” karena Harunio mencabutnya dari tubuh bagian kiri, kurang lebih dari jantungnya.
“Jika bisa sudah aku lakukan sejak dulu.” Kata Kokuryuu.
“...! Kau benar-benar tidak bisa dipercaya ...” kata Harunio.
“Sudahlah, lakukan saja.” Kata Kokuryuu.
Harunio masih ragu.
“Lakukan saja pelan-pelan.” Kata Dragrest.
“B-bagaimana jika itu benar-benar membunuhku ...?!” Harunio takut jika pedang itu akan melukainya.
“Dia lebih tahu dari pada kita berdua, bertiga jika Leviathan dihitung.” Kata Dragrest.
“Aku masih saja terlibat meski hanya diam.” Leviathan menggunakan telepati.
“Jika menaruhnya kembali pedang itu sama dengan membunuhmu, maka kau seharusnya sudah mati saat mencabutnya, atau bahkan jauh-jauh hari sebelum itu.” Kata Dragrest.
“B-benar juga ...” Harunio mencoba memberanikan diri.
Perlahan-lahan ia mendekatkan mata pedang itu ke tubuhnya, lalu menusuk dirinya dengan pedang itu.
“Aaargh ...! Tidak sakit ...” kata Harunio melanjutkannya hingga pedang itu hilang.
“Sudah aku bilang.” Kata Kokuryuu.
“Ternyata kau penyebab Heavently Lock yang aku rasakan selama ini ...!” kata Harunio.
“Jangan seenaknya bicara!” kata Kokuryuu dengan spontan.
“Sudah jelas kan?! Buktinya pedangmu bersarang di jantungku!” kata Harunio.
“Jika aku memang ingin membuatmu menderita, aku tidak akan setengah-setengah mengutuk hidupmu!” kata Kuroyuu.
“Jika bukan kau lalu siapa ...?” kata Harunio.
“Aku tidak peduli.” Kata Kokuryuu.
“Aaahh! Sial! Masalahku selalu saja bertambah!” kata Harunio dengan kesal.
Lalu Harunio menghela nafas sejenak untuk menenangkan fikirannya, ia mencabut Dragon Blade Leviathan menyimpan menggunakan Mark Seal. Lalu ia membuat Mark Seal dan meneteskan darahnya untuk membuat kontrak Senketsu no Chikai dengan Dragon Blade Dragrest.
"Oh, ternyata kau sudah bisa membuat kontraknya." kata Dragrest.
"Ya, Leviathan sudah memberitahuku caranya." kata Harunio.
“Jika dilihat-lihat, caramu memperlakukan Dragon Bladeku dan Leviathan terlihat sama. Tetapi kenapa milik Kokuryuu berbeda, bahkan kau mencabutnya dari tubuhmu bukan mengambilnya dari Mark Seal.” Kata Dragrest.
“Soal itu ....” Kata Harunio.
Kembali pada saat Harunio yang dihadapkan dengan persiapan Hell Storm, ia masuk ke alam bawah sadarnya untuk mencari informasi.
“Sekarang bagaimana, Leviathan?” tanya Harunio dalam dirinya.
“Dia sudah tidak ada di sini.” Kata Kokuryuu.
“A-apa ...?! Jangan bercanda!” kata Harunio.
“Dragon Blade yang menghubungkanmu dengan jiwanya sudah tidak ada, tentu saja kau tidak bisa berbicara dengannya, dasar bodoh!” kata Kokuryuu.
“Sekarang satu-satunya senjata yang bisa memotong tanduknya sudah tidak ada ...! Apa yang harus aku lakukan ...?! Menyerah ...? Tetapi apa yang terjadi jika –”
“Setelah apa yang kau lakukan, kau akan menyerah?” Kokuryuu memotong pembicaraan.
“Memangnya apa yang bisa aku lakukan?! Feather Sword tidak bisa menggoresnya sedikit pun!” kata Harunio.
“Hhh ... akan aku beri sedikit petunjuk. Jika kau ingin menggunakan Dragon Bladeku, maka raihlah pedang itu dengan seluruh inderamu.” Kata Kokuryuu.
“A-apa maksudnya ...?” Harunio masih tidak mengerti.
“Astaga … kuatkan tekatmu, rasakan keberadaan pedangku, lalu cabutlah.” Kata Kokuryuu.
Dengan begitu Harunio mendapatkan kembali kunci kemenangnanya.
“Jadi begitu ... mungkin jika saatnya tiba, kau akan mengetahuinya.” Kata Dragrest.
“Ya, aku rasa kau –”
“Sekarang!!” tiba-tiba Kuronia muncul bersiap menyerang menggunakan Sword’s Spirit.
Namun Harunio melindungi Dragrest menggunakan Mark Sealnya.
“Apa ...?! Apa yang kau lakukan, Harunio?! Ini kesempatan kita untuk menyerang!” kata Kuronia yang terbawa emosinya.
“Tenanglah, dia bukan musuh.” Kata Harunio.
“E-eh ...?” Kuronia terlihat bingung dengan jawaban Harunio.
Lalu anggota lain datang.
“Kalian ... Ehh?! Ada apa dengannya?!” Harunio langsung panik saat melihat Aprilia yang dirangkul oleh
Miho.
“Tidak perlu khawatir, Harunio-san. Miho sudah mengatasinya, dia hanya perlu beristirahat.” Kata Phinyx.
“Oh, ternyata begitu. Kerja bagus, Miho.” Harunio merasa lega.
“Tehehe ~ Aku hanya melakukan apa yang aku bisa!” kata Miho dengan senang.
Harunio khawatir jika akan ada masalah kalau anggota timnya terluka parah, terutama masalah dari Yudai
“Akhirnya pertarungan selesai ...! Aku benar-benar lelah ...” kata Blues.
“Baik, baik. Kerja bagus.” Kata Finyx.
“Ini adalah pengalaman yang berharga, terima kasih untuk pertarungannya.” Kata Blitz.
“Bahkan kau mensyukuri hal itu ...” kata Falco.
“Tentu saja! Kau juga seharusnya begitu! Pengalaman itu sangat penting, ingat itu baik-baik!” kata Blitz.
“Y-ya ... hanya saja ...” Falco sedikit gugup.
“Eh ...! Y-ya, benar juga ...” Harunio juga sedikit ragu.
“Haha ...! Coba cari alasan lain!” kata Blitz.
“Hhh ... baiklah, terserah kau saja ...” kata Falco.
“Semuanya, terutama Phinyx. Aku minta maaf yang sebesar-besarnya karena melibatkan kalian dengan pertarungan tadi. Aku tahu jika terlalu berat untuk memaafkannya, tetapi dari lubuk hatiku yang paling dalam ... aku mohon maafkan aku.” Kata Dragrest sambil menundukkan kepalanya pada mereka semua.
Namun mereka hanya diam melihat Dragrest yang meminta maaf.
“Jika kalian keberatan, cepat katakan sesuatu.” Kata Harunio.
Phinyx melangkah mendekati Dragrest.
“Phinyx ...” kata Finyx dengan pelan.
“Maaf untuk semua kesalahan ini.” Kata Dragrest.
“Bodoh ...! Dasar Bodoh! Kenapa kau melakukan ini semua?! Apa kau tahu betapa khawatirnya aku jika sampai
kehilanganmu?!” kata Phinyx yang bersedih.
“Phinyx ...” kata-kata Phinyx telah meluluhkan hati Dragrest.
“Tidak ada yang bisa menggantikanmu tahu ...!” Phinyx semakin bersedih.
“Haha ... maaf soal itu.” Kata Dragrest.
“Iya ...!” Phinyx langsung memeluk Dragrest meski masih menangis.
Dengan begitu mereka berdua telah berbaikan, dan hanya Miho yang menangis melihat moment yang mengharukan itu, sementara Harunio berbalik karena tidak kuat menahan Heavently Lock yang bereaksi karena melihatnya.
“Baiklah, sepertinya sudah saatnya aku kembali.” Kata Dragrest.
Phinyx melepaskan pelukannya.
“I-iya ...” Phinyx membuat Mark Seal di bawah Dragrest untuk mengirimnya kembali.
“Semuanya, sampai jumpa lagi!” kata Dragrest.
“[Kolus : Varnismo]!” Mark Seal itu mulai bercahaya dan menelan Dragrest hingga menghilang.
Finyx mendekati adik perempuannya yang termenung melihat butiran cahaya dari Mark Sealnya yang perlahan-lahan menghilang bersama dengan matahari yang terbenam.
“Sudah, sudah ... sekarang semuanya sudah kembali seperti semula.” Finyx mencoba menghibur adiknya.
Phinyx langsung memeluk kakaknya.
“Iya ...” kata Phinyx meski masih bersedih.
Finyx membelai rambut adiknya agar dia merasa lebih baik.
“Maaf karena mengacaukan suasana. Tetapi kita juga harus mencari tempat untuk beristirahat.” Kata Blues.
“Titik awal kita sampai sepertinya cukup bagus untuk berkemah.” Kata Kuronia.
“Kita juga tidak punya banyak waktu untuk memeriksa tempat lain karena sudah lelah.” Kata Blitz.
“Baiklah, kita kembali ke sana.” Kata Harunio.
“Ayo, Phinyx.” Kata Finyx.
“Iya!” Phinyx terlihat sudah merasa lebih baik.
“Falco, masih bisa bergerak?” tanya Harunio.
“Y-ya, begitulah.” Jawab Falco.
“Baguslah, kita cari kayu bakar terlebih dahulu. Kuronia kembalilah bersama yang lainnya dan segera dirikan tenda.” Kata Harunio.
“Baik ...” jawab Falco dengan malas.
"Baiklah." kata Kuronia.
“Blitz, tendamu masih berfungsi?” kata Harunio mengambil tas yang berisi perlengkapan mendirikan tenda dari De Ordernya.
“Ya, masih bisa. Tetapi sepertinya akan sempit karena terlalu banyak Emylier, selain itu Aprilia membutuhkan tenda
sendiri.” Kata Blitz.
“Gunakan saja tendaku, ini masih baru.” Kata Kuronia.
“Baiklah, serahkan Aprilia kepada Miho dan Blues selama yang lain sibuk mendirikan tenda.” Kata Harunio.
“Baik.” Jawab mereka.
“Baiklah, ayo cepat, Falco.” Kata Harunio.
“Baik, baik ... tidak perlu terburu-buru.” Kata Falco.
Mereka menyalakan lampu senter dari De Order mereka dan berjalan di tengah kegelapan.
- - -
Sementara itu di Conqueron, Yudai menerima surat dari salah satu agennya. Dia sedikit tertawa saat membaca surat itu.
“A-apa ada yang salah, Leadro-sama?” tanya Guardo yang mengantar surat itu.
“Tidak, tidak ada apa-apa. Aku akan segera membalas suratnya, kau bisa kembali.” Kata Yudai.
“Baik.” Lalu Guardo itu meninggalkan ruangan.
Yudai mengaktifkan De Ordernya.
“Sambungkan dengan NW-001.” Kata Yudai.
“Menghubungankan saluran komunikasi dengan nomor pendaftaran NW-001.”
Yudai berdiri dan berjalan mendekati jendela untuk melihat pemandangan kota Conqueron.
“Yudai, ya ... Ada apa?” tanya Darkos melalui De Ordernya.
“Apa sekarang bukan waktu yang tepat?” kata Yudai.
“Langsung saja ... Ada apa?” tanya Darkos lagi.
“Pedang kedua sudah didapatkan.” Kata Yudai.
“Apa katamu ...?” kata Darkos.
“Kau tidak dengar?” Kata Yudai.
“Padalah mereka baru dikabari setelah kembali dari Luvana, apa saja yang sudah dilakukan anak itu ...?”
Kata Darkos.
“Entahlah, aku juga baru mendapat kabar jika Harunio telah mengalahkan naga itu.” Kata Yudai.
“Baiklah, apa ada berita baru dari para Yumiho?” tanya Darkos.
“Kaisar dan permaisuri telah ditemukan di wilayah Neteral bagian barat dari Desa Yumiho, tetapi tidak terselamatkan.” Kata Yudai.
“Apa?! Kondisinya?!” tanya Darkos.
“Sangat buruk, terdapat luka parah pada tubuh bagian belakangnya. Jasadnya ditinggalkan begitu saja, sepertinya pelakunya sangat buru-buru hingga tidak sempat membersihkan tempat kejadian.” Kata Yudai.
“Tentu saja mereka panik, yang melacak mereka adalah Yumiho.” Kata Darkos.
“Sekarang kakak tertua kaisar sedang mengambil alih tahta, saat ini keadaan benar-benar kacau. Aku akan menghadiri upacara pemakaman kaisar besok bersama perwakilan Yoruhane yang lain. Segera selesaikan tugasmu dan kembalilah ke Conqueron.” Kata Yudai.
“Baiklah, aku akan segera kembali setelah selesai di sini.” Kata Darkos.
Situasi semakin memburuk meski kaisar Yumiho telah ditemukan, sebagai pemimpin Conqueron Yudai harus mengambil langkah yang terbaik untuk masa depan Yumiho dan Emylier lain.