
“E-eh ...?! Ada apa ini ...?” tanya Miho.
“Aww ...! Sial ... itu benar-benar sakit ...!” lalu Harunio mengaktifkan De Order screennya.
“Kyaa –! Ohh ... ternyata Harunio ...” Miho sedikit terkejut saat melihat wajah Harunio yang tiba-tiba muncul setelah
mengaktifkan Vision-screennya.
“Ternyata kehabisan daya ...” kata Harunio.
Harunio mengaktifkan tenaga cadangan sehingga penerangan ruang latihan kembali normal. Fitur ruang latihan menjadi sangat terbatas dalam mode ini, proyeksi ruangan juga tidak bisa digunakan karena kekurangan tenaga.
“Aaahh ...! Padahal sedikit lagi ...!” Miho sedikit kecewa karena gagal memangkan pertarungan.
“Hahaha! Yang tadi hampir saja!” kata Harunio dengan gembira.
“Kenapa kemenangan pertamaku seperti ini ...” Miho sedikit kecewa.
“Sudahlah, tidak perlu dipermasalahkan. Kita hanya berlatih, yang penting kau sudah mulai terbiasa dengan pertarungan yang sebenarnya.” Kata Harunio.
“Sepertinya begitu ... Oh, Harunio! Dahimu memar!” kata Miho.
“Hmm? Oh, ini pasti karena aku menabrak pilar es tadi.” Kata Harunio.
“Kau tidak apa-apa kan?” Miho mengkhawatirkannya.
“Kebetulan sekali! Miho, kita lanjutkan latihanmu sebagai Supporter.” Kata Harunio.
“E-eh ...? Sekarang juga ...?” Miho sedikit terkejut.
“Ya, benar.” Kata Harunio dengan semangat meski sedang terluka.
“T-tetapi ... aku tidak yakin bisa melakukannya ...” kata Miho.
“Harus mulai dari awal lagi, ya ... Baiklah, akan aku beri sedikit penjelasan.” Kata Harunio.
“U-um, baiklah.” Miho bersiap mendengarkan.
“Skill yang bisa digunakan Emylier itu beragam, untuk Supporter biasanya menggunakan Skill tipe Buff, Debuff, Purifer, dan Healing. Untuk menggunakan Healig Skill, kau harus memiliki Shard yang tergolong sebagai energy kehidupan, misalnya Aqua Shard. Karena sebagian besar tubuh kita terdiri dari cairan, Aqua Shard lebih mudah diproses menjadi Healing Skill karena identik dengan unsur kehidupan. Pepatah bilang jika Air adalah sumber kehidupan.” tanya Harunio.
“U-um, ya begitulah. Tetapi, Healing Skill yang kau gunakan tidak seperti Skill biasa.” Kata Miho.
“Blessed Healing?” kata Harunio.
“Ya, benar.” Kata Miho.
“Itu karena aku menggunakan Shard dari Perfect Core, aku belum memberitahumu, ya?” tanya Harunio.
“Belum.” Kata Miho.
“Yudai bilang Perfect Core adalah inti Shard yang terdiri dari seluruh Shard di dunia, dengan menggunakan kekuatan dari Perfect Core aku bisa menggunakan Skill dari Element apapun. Tetapi beberapa Shard itu masih tersegel, untuk membukanya aku harus membuat kontak langsung dengan penggunanya atau Skill yang dibuat dari Shard itu. Sama seperti Skill dari Cold Shard yang aku gunakan, aku baru membangkitkannya kemarin saat di taman Luvana.” Kata Harunio.
“A-apa itu benar ...? Maksudku, dengan kekuatan itu kau benar-benar tidak terkalahkan.” Kata Miho.
“Yah ... Kuronia juga mengatkan hal yang sama, tujuan membosankan seperti menguasai dunia bukanlah gayaku. Selain itu aku hanya bisa menggunakan sebagian kecil kekuatannya, kau sendiri tahu jika aku sudah lepas kendali saat menggunakan 10% kekuatannya.” Kata Harunio.
“Y-ya ... benar.” Kata Miho.
“Selain itu ...” lalu Harunio melepas topeng transparan dari wajahnya.
Harunio yang dilihat bukanlah Harunio yang sebenarnya, ada sebuah tonjolan di dadanya dan memancarkan cahaya berwarna biru tetapi agak redup.
“... Aku sebenarnya ragu jika Perfect Core tidak memiliki efek samping.” Kata Harunio.
“Ha-Harunio ... apa itu ...?” tanya Miho.
“Seperti yang kau lihat, inilah Perfect Core.” Harunio menonaktifkan Vector bajunya dan menampakkan Perfect Core yang tertanam di dadanya.
Sebuah benda seperti kristal berbentuk limas segi empat dengan sudut yang ada di atas, bawah, kanan, dan kiri yang memancarkan cahaya berwarna biru terang. Terdapat motif seperti ukiran berwarna emas di sekelilingnya. Selain itu, Perfect Core Skin yang berwarna perak juga menutupi sebagian tubuh Harunio meski dia tidak mengaktifkannya.
“...! Maaf!” Miho tidak sanggup melihatnya dan langsung menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Lalu Harunio memasang kembali Masked Mask dan mengaktifkan Vector bajunya.
“Sekarang sudah tidak apa-apa.” Kata Harunio.
“Apakah ... itu tidak merasa sakit?” tanya Miho.
“Tidak sama sekali, tetapi aku bisa merasakan Perfect Core Skin yang terus tumbuh menutupi tubuhku. Untuk saat ini hampir menutupi seluruh tubuh bagian depanku.” Kata Harunio.
Miho tidak bisa berkata-kata dan merasa kasihan dengan Harunio.
“Kembali ke pelajaran Supporter, kau harus bisa menguraikan Cold Shard menjadi Aqua Shard dan menggunakan Healing Skill.” Kata Harunio.
“A-apa bisa seperti itu ...?” Miho sedikit tidak percaya.
“Itu versi sederhananya, tetapi tidak menutup kemungkinan jika kau bisa menggunakan Healing Skill menggunakan
Cold Shard.” Kata Harunio.
“L-lalu apa yang harus aku lakukan?” tanya Miho.
“Pada dasarnya Skill Emylier hanya sebatas imajinasi Emylier itu sendiri, jika kau ingin menggunakan Skill kau pasti memikirkan bentuk awalnya terlebih dahulu lalu memprosesnya dengan Shard dan terciptalah sesuatu. Ada juga faktor lain yang mempengaruhinya, seperti emosi atau kondisi tertentu yang membuatmu menggunakan Skill secara kebetulan.” Kata Harunio.
“Hmm ... jadi, aku harus menggunakan mantra seperti yang kau gunakan, ya?” kata Miho menyimpulkan.
“Haha, meski kau sebut mantra tetapi tidak sepenuhnya benar. Semua kalimat itu hanya metode untuk memperjelas bentuk Skill yang akan dibuat, intinya semua rangkaian frasa yang kau sebut mantra hanyalah kata-kata, nama Skill itu juga.” Kata Harunio.
“J-jadi ... kita tetap bisa menggunakan Skill dengan rangkaian frasa yang singkat, panjang, atau bahkan tidak mengucapkan sepatah kata sekali pun?” kata Miho.
“Ya, tentu saja. Kau hanya perlu berkonsentrasi dengan apa yang akan kau buat dari Shard yang kau gunakan. Nama dan rangkaian frasa itu hanya untuk membantumu berkonsenstarsi pada Skill yang akan kau gunakan. Kadang-kadang, semakin panjang frasa yang kau buat maka semakin kuat Skillmu karena apa yang kau bayangkan lebih jelas.” Kata Harunio.
Miho masih berusaha memahami ini semua.
“Masih tidak percaya jika Skill itu hanya memerlukan imajinasi? Akan aku buktikan! Aku bisa mengubah ruangan ini
menjadi Taman Luvana tanpa mengaktifkan proyeksi, tetapi menggunakan Skill Dimension Link.” Kata Harunio.
“B-benarkah ...?” tanya Miho.
“Aku memanggil ilusi yang bersembunyi dibalik kenyataan ... Ubahlah wujud dan keindahanmu menjadi sebuah kenyataan! [Dimmension Link]!” Mark Seal tersebut langsung bersinar hingga menutupi seluruh ruangan.
Saat semua pandangan kembali normal, ruangan itu sudah menjadi Taman Luvana seperti apa yang diproyeksikan ruang latihan.
“Waahhh! Hebat!! Benar-benar mirip dengan ruang latihanmu!” Miho sangat kagum melihat semua itu.
Textur, suhu, dan semua komponen kenyataan lain benar-benar terasa seperti Taman Luvana yang sebenarnya, lalu Harunio mengembalikan ruang latihan seperti semula.
“Sekarang giliranmu.” Kata Harunio.
“T-tetapi ... aku tidak yakin bisa melakukannya sepertimu ...” kata Miho.
“Yah, untuk percobaan pertama memang sulit merangkai frasa. Tetapi berusahalah sebisamu, apapun caranya yang penting kau bisa menggunakan Healing Skill.” Kata Harunio.
“M-meski kau bilang begitu ... tetapi aku tidak tahu harus bagaimana ...” kata Miho.
“Sejak awal latihan, kau menggunakan Skill hampir karena tidak sadar ... yang mengetahui caranya hanyalah kau sendiri. Ingatlah kembali kenapa kau menggunakan Skill, cari tahu lebih dalam kenapa kau menggunakannya.” Kata Harunio.
“Cari tahu lebih dalam ...” Miho mulai berfikir.
“ ... Kenapa aku menggunakannya ... Hmm ... alasanku ...” Miho masih berfikir keras.
“Ahhh ... aku tidak pernah bosan mendengarkan suaranya ...!” kata Harunio dalam fikirannya.
“Oh, ya!!” kata Miho dengan spontan.
“...! E-eh, ya. Ada apa?” tanya Harunio yang langsung sadar.
“Aku akan mencobanya, Harunio!” kata Miho.
“Y-ya, silahkan.” Kata Harunio.
Miho merapatkan kedua telapak tangannya seperti akan berdoa dan berkonsentrasi.
“Konsentrasi ... Fokus ... Ingat kembali bagaimana rasanya saat membantu Harunio ... Kali ini aku harus
menyembuhkan lukanya ... sembuhkan ... sembuhkan ...!” perlahan-lahan tangan Miho mengeluarkan cahaya berwarna biru terang.
“...! Hebat ... dia langsung bisa ...!” kata Harunio dengan pelan.
Harunio tidak menyangka Miho dapat mempelajarinya dengan cepat.
“A-aku melakukannya ...!” Miho tidak percaya jika dia berhasil.
“Coba kita lihat seberapa jauh yang kau bisa.” Kata Harunio.
“Baik.” Lalu Miho meletakkan kedua tangannya pada luka memar di dahi Harunio.
“Ahhh … rasanya nyaman sekali ...! Sangat sejuk dan membuatku lupa dengan luka karena benturan itu ...” kata Harunio dalam fikirannya.
Cahaya biru dari tangan Miho mulai redup menandakan proses penyembuhan selesai.
“U-umm ... bagaimana, Harunio ...?” tanya Miho.
“Huh ...? O-oh, ya. Aku sudah merasa lebih baik, tetapi masih butuh latihan lagi agar Skillmu lebih efektif.” Kata
Harunio.
“U-umm ...! Baik.” Kata Miho.
Luka memar Harunio masih belum sembuh sepenuhnya, meski sudah tidak menonjol tetapi rasa sakitnya masih
sedikit terasa.
“Baiklah ... karena kau menggunakannya secara spontan kita harus menamainya agar mudah diingat. Hhmm ... kita akan namakan Skill itu ... Cold Healing ...? Tidak, tidak, rasanya aku sudah bosan mendengar kata Cold hari ini ...” kata Harunio.
“Ah, itu saja tidak apa-apa.” Kata Miho.
“Eh, apa benar tidak apa-apa?” tanya Harunio.
“Iya, aku meyukainya.” Kata Miho.
“Baiklah, kalau itu yang kau mau. Memberikan nama pada Skill membantumu menggunakan dan meningkatkan efisiensi Skill itu sendiri. Oh, ya ... aku lupa dengan Skill area yang kau gunakan untuk mengalah Frame terakhir.” Kata Harunio.
“Skill area ...?” Miho sedikit tidak mengerti.
“Itu ... Skill yang kau gunakan dengan membuat Mark Seal yang sangat besar tadi ...” kata Harunio.
“Oh ... itu.” Kata Miho.
“Hhmm ... karena aku sudah bosan mendengar kata Cold aku rasa kita harus memberikan nama yang lain ... Sesuatu yang terkesan khusus seperti hanya kau saja bisa menggunakannya ...” kata Harunio.
“Mark Seal yang aku buat adalah Mark Seal klan Shiroku, jadi aku fikir jika semua Emylier dari klan Shiroku bisa menggunakannya.” Kata Miho.
“Itu dia! Shiroku Phantasma! Bagaimana?” tanya Harunio.
“Uhm! Uhm! Itu terdengar sangat hebat!” Miho terlihat menyukai nama yang Harunio berikan.
“Benarkan? Aku senang kau menyukainya!” kata Harunio.
“Terima kasih banyak karena sudah mengajariku banyak hal!” kata Miho sambil sedikit membungkuk.
“...! A-ahh ... Sudahlah ... aku melakukannya juga karena keinginanku sendiri.” Harunio gugup.
“Aku sangat senang memilih – tidak ... Aku sangat senang menjadi Emylier yang kau pilih!” kata Miho dengan sangat bahagia.
“Y-ya, aku akan melakukan apapun untuk Partnerku. Lagi pula aku sendiri yang memilihmu.” Harunio sedikit malu
mengatakannya.
“Iya!” kata Miho.
“Kita akhiri latihan untuk hari ini dan bersiap untuk menerima penjelasan tentang misi selanjutnya.” Kata Harunio.
“Baik!” Kata Miho.
Lalu mereka berdua meninggalkan ruang latihan dan bersiap untuk pergi ke Headquarters.