Dimension - Y

Dimension - Y
Arc 1 - Combination



Beberapa saat kemudian, Harunio dan Miho sampai di loby Headquarters. Di sana ada beberapa Emylier yang duduk sambil menunggu panggilan.


“Apa mereka semua ikut dalam misi gabungan?” tanya Miho.


“Entahlah, Yudai juga tidak memberitahu jumlah Emylier yang ikut.” Kata Harunio.


“Begitu, ya.” Kata Miho.


“Lebih baik kita tanyakan dulu.” Lalu Harunio pergi ke meja resepsionis.


“Permisi, kami mendapat perintah untuk mengikuti misi gabungan.” Kata Harunio.


“Oh, ya. Silakan tunggu sebentar, Leadro-sama masih ada urusan sekarang.” Kata seorang wanita dari meja resepsionis.


“Baiklah kalau begitu.” Lalu Harunio kembali.


“Bagaimana, Harunio?” tanya Miho.


“Yudai masih sibuk, dia bilang datanglah sore ini tetapi dia sendiri tidak menepati jadwal ...” kata Harunio.


“S-sudahlah ... mau bagaimana lagi? Beliau adalah Emylier terpenting di Conqueron, pasti sedikit sulit untuk meluangkan waktu.” Kata Miho.


Lalu mereka duduk di kursi yang disediakan.


“U-umm ... apakah aku bisa menjalankan misi kali ini dengan baik ...” kata Miho dengan pelan.


“Huh? Tenang saja, kau tidak perlu memikirkannya. Lakukan saja seperti saat kita berlatih, sebenarnya aku masih ingin kau menganggap ini sebagai latihan namun dengan kondisi yang lebih nyata.” Kata Harunio.


“U-uh, ya ... baiklah. Aku akan berusaha agar tidak merepotkan anggota tim yang lain.” Kata Miho.


“Yah, kita lihat seperti apa dulu misi kali ini. Setelah itu kita fikirkan langkah selanjutnya.” Kata Harunio.


“B-baiklah, kalau kau bilang begitu ...” Kata Miho.


Gadis itu sedikit gugup karena dia selalu menghambat rekan satu timnya.


“Miho ...? Miho? Hei, Miho.” Harunio terus memanggil namanya.


“...! E-eh, iya ...! A-ada apa, Harunio?” tanya Miho.


“Giliran kita, anggota tim lain sudah berkumpul di sana terlebih dahulu.” Kata Harunio.


“U-uh, ya ... baiklah.” Kata Miho.


Lalu mereka berdua pergi ke ruangan Yudai.


Sesampainya di ruangan Yudai, Harunio langsung mengetuk pintu.


“Masuklah.” Kata Yudai dari dalam.


Harunio membuka pintu dan langsung masuk.


“Baiklah, saatnya –” Harunio langsung diam setelah melihat Emylier yang berpartisipasi.


“Ada apa, Haru –?” Miho terkejut dan langsung diam.


“Kuronia?!” kata Harunio tidak percaya.


“Akhirnya kau sampai, kawan.” Kata Kuronia.


“Aprilia-chan? Kau ikut juga?” Miho merasa senang dan sedikit terkejut.


“Hihi! Kita satu tim lagi!” kata Aprilia.


“Tunggu sebentar, kalian saling kenal?” Harunio sedikit terkejut.


“Jahat sekali, kau sudah lupa dengan Aprilia-chan?” kata Miho.


“...! E-eh ...? O-oh, ya! Aprilia ya ... Tentu saja aku tidak akan lupa ... heheh ...” sebenarnya Harunio sudah lupa.


“Sudahlah, Miho. Lagi pula kami hampir tidak pernah berbicara satu sama lain, wajar saja jika dia tidak tahu.” Kata Aprilia.


“Tetapi ... setidaknya ingatlah teman seangkatannya ...!” Miho sedikit marah pada Harunio.


“Sudahlah, tidak perlu dipermasalahkan lagi.” Kata seorang Emylier perempuan.


“Oh, ternyata Blitz! Falco juga! Lama tidak bertemu dengan kalian berdua, bagaimana kabar kalian?” kata Harunio.


“Kau masih sama saja seperti dulu.” Kata Blitz.


“Ya, seperti yang kau lihat –”


“Ehem!” Miho menyela pembicaraan Falco.


“M-Miho ...?” Harunio sedikit takut.


“Jika dengan Blitz-san kau langsung ingat ...!” kata Miho dengan pelan.


“T-tidak ... ini tidak seperti yang kau fikirkan, Miho ...! A-aku hanya –”


“Ya ampun ...! Kau ini benar-benar tidak berubah sama sekali!” kata seorang Emylier laki-laki.


“Huh ...? Ohh ... ternyata kau juga.” Suasana hati Harunio langsung berubah drastis.


“Hah ...?! Aku tidak mengerti dengan apa yang kau bicarakan!” kata Blues.


“Sudahlah, diam saja!” Finyx langsung menginjak kaki Blues.


“...! Aww! Aww! Aww! Pernahkah kau menginjak kakimu sendiri ...?!” kata Blues yang kesakitan.


“Aku tidak peduli!” kata Finyx.


“Maaf karena dia selalu seperti ini, Harunio-san.” Kata Phinyx.


“Y-ya, aku juga tidak peduli jika dia berubah.” Kata Harunio.


“Ternyata kalian sudah saling kenal.” tanya Kuronia.


“Ya, begitulah.” Jawab Harunio.


“Ehem!” Yudai langsung menyita perhatian mereka.


“Sudah puas yang menyapa?” tanya Yudai.


“Y-ya ... begitulah ...” kata Harunio.


“Kalau begitu, aku akan memberikan penjelasan misi gabungan kali ini.” Kata Yudai.


Lalu mereka bersiap mendengarkan.


“Kemarin kita menerima laporan jika terjadi pencurian di gudang logistik Ruton, kasus kali ini bisa dibilang sama dengan yang terjadi tahun lalu. Tiga kereta kuda yang penuh dengan bahan makanan berhasil kabur, karena dulu pengiriman logistik terhambat keadaannya menjadi semakin buruk.” Yudai mengalihkan pandangannya kepada Harunio.


“...! Sepertinya yang dimaksud itu aku ...!” kata Harunio dengna pelan.


“Aku rasa kita berdua.” Kata Miho dengan pelan.


“Apakah para Guardo benar-benar dikalahkan oleh pencuri itu?” tanya Blitz.


“Ya, itu benar. Menurut laporan dari mereka, para pencuri adalah Normus.” Kata Yudai.


“Yang benar saja ...” kata Blues.


“Ya, begitulah. Aku ingin kalian tetap berhati-hati dan jangan meremehkan musuh kalian!” kata Yudai.


“Baik!” jawab mereka semua.


“Setelah berhasil mencuri logistik dari gudang, mereka bergerak ke arah utara. Tujuan mereka adalah kota di wilayah Normus yang bisa dicapai dengan melewati gunung Stohelm, kota Sorumeth. Dengan muatan sebanyak itu, mereka akan membutuhkan waktu paling cepat 3 hari untuk sampai. Kalian harus bisa mendahului mereka dan merebut kembali barang curian!” kata Yudai.


“Kalau begitu, waktu kita hanya sampai besok!” kata Harunio.


“Harunio, kau yang memimpin misi kali ini. Jika kau sampai membuat kekacauan lagi ... aku tidak akan memaafkanmu apapun yang terjadi ...!” kata Yudai dengan serius.


“...! Y-ya ... k-kami akan berusaha semaksimal mungkin ...” Harunio sedikit takut.


“Hhh ... dia lagi ...!” kata Blues.


“Kenapa? Kau tidak setuju?” kata Harunio.


“Leadro-sama , apakah tidak ada Emylier lain yang anda rekomendasikan untuk memimpin misi kali ini?” tanya Blues.


“Baiklah, siapa yang ingin mengganti posisi Leader?” tanya Yudai.


Tetapi anggota lain diam, hanya Blues yang tidak setuju.


“Hah? Kalian serius?!” Blues tidak percaya.


“Aku tidak keberatan jika dia yang memimpin misi ini.” Kata Blitz.


“Aku juga.” Kata Falco.


“Aku percaya dengan intruksi dari Harunio.” Kata Kuronia.


“Sebenarnya ini pertama kalinya aku satu tim dengannya, jadi aku ingin melihat seperti apa kemampuannya.” Kata Aprilia.


“Harunio memintaku untuk mengikuti perintahnya ... Leadro-sama juga bilang jika Harunio yang memimpin misi kali ini.” Kata Miho.


“Sudahlah, mengalah saja.” kata Finyx.


“Kau juga tidak mau menggantikan posisi Leader kan.” Kata Phinyx.


“Lihat? Mereka sendiri yang memutuskan, jangan berfikir jika aku merencanakan ini semua!” Kata Harunio.


“Tch! Sial ...!” Blues terpaksa menjalankan misi dibawah perintah Harunio.


“Baiklah, segera bersiap dan cepatlah berangkat. Biar aku yang mengurus absensi dan Pass-role kalian.” Kata Yudai.


“Baik!” jawab mereka semua.


Bagi Emylier yang memiliki pekerjaan di Conqueron, mereka akan mendapatkan Pass-role atau surat izin yang dimasukkan ke dalam system absensi Emylier sebagai dispensasi untuk menjalankan misi yang diterima. Pass-role hanya berlaku satu kali, setelah misi selesai Pass-role akan dihapus secara otomatis.


- - -


Setelah menerima penjelasan tentang misi kali ini, mereka langsung meninggalkan Headquarters.


“Karena aku masih ada urusan sebentar aku akan pergi terlebih dahulu. Kita akan berkumpul di luar Fortrees dari gerbang utara dalam 15 menit, setelah itu kita akan langsung berangkat.” Kata Harunio.


“Kau mau pergi ke mana, Harunio?” tanya Miho.


“Pulang ke rumahku, lebih baik kau bersiap-siap bersama yang lain.” Kata Harunio lalu pergi.


“B-baiklah ...” kata Miho.


“Miho, bisa bantu aku sebentar?" tanya Aprilia.


“U-uh, iya baiklah.” Jawab Miho.


“Biar aku bantu juga.” Kata Kuronia.


“Tidak boleh, ini hanya untuk perempuan.” Kata Aprilia.


“Begitu, ya. Kalau begitu aku akan pergi membeli persediaan ration.” Kata Kuronia.


"Aku ikut." kata Falco.


“Baiklah, ayo!” Kata Aprilia.


“Iya.” Jawab Miho.


Miho dan Aprilia kembali ke asrama perempuan.


“Ah, Falco. Tolong carikan untukku juga.” Kata Blitz.


“E-eh? Aku?” Falco sebenarnya tidak mau.


“Tentu saja ...!” kata Blitz dengan sedikit mengancamnya.


“Tetapi aku juga masih harus –”


“Aku masih memintamu dengan baik-baik ...!” Blitz masih menahan diri.


“...! T-tenaglah, Blitz ...” kata Falco sedikit takut.


“Apa kau masih ingat siapa yang menghabiskan persediaan outdoorku?” tanya Blitz.


“B-baiklah ...! Aku mengerti, jadi tolong tenangkan dirimu, oke ...?” Falco semakin takut.


“Hhh ... Lagi pula aku hanya pergi ke asrama sebentar, aku juga akan membantumu nanti.” Kata Blitz.


“Y-ya ...” Falco sedikit merasa aman.


“Setidaknya katakan ‘terima kasih’ atau ‘aku senang mendengarnya’!” Blitz langsung menarik kerah Falco dengan kesal.


“B-baiklah ...! Baiklah ...! Terima kasih! Aku senang mendengarnya!” kata Falco dengan spontan.


Lalu Blitz melepaskan Falco.


“Hmph! Dasar ...” Blitz langsung pergi.


“Ternyata ada yang senasib denganku ...” kata Blues.


“Jangan samakan aku denganmu ... ayo, Kuronia.” Kata Falco.


“Ya, baiklah.” Kata Kuronia.


Lalu mereka berdua pergi.


“Blues, persediaan kita juga menipis. Tolong belikan lagi.” Kata Finyx sambil memberikan Cash Cardnya.


“Hhh ... baiklah ...” kata Blues yang terpaksa.


“Jangan lupa bagianku!” kata Phinyx.


“Ya, ya ... baiklah ...” Kata Blues dengan malas.


“Kita juga harus berkemas.” Kata Finyx.


“Iya.” Kata Phinyx.


Finyx dan Phinyx juga kembali ke asrama.