Dimension - Y

Dimension - Y
Arc 1 - Objective



Teringat dengan saat pertama kali mereka bertemu, para perampok itu harus berhadapan dengan Harunio karena telah menculik Miho.


“Aku kira siapa, ternyata kau ...” kata pemimpin perampok.


“Kau masih mengingatku rupanya. Mari buat ini lebih mudah, menyerahlah! Aku tidak ingin mengulangi pertarungan yang sia-sia seperti dulu.” Kata Harunio.


“Ada apa? Kau ingin membalas serangan waktu itu? Kau bahkan membawa lebih banyak anggota karena tidak ingin kalah, dasar kekanak-kanakan.” Kata pemimpin perapok.


“Siapa yang kau sebut kekanak-kanakan?! Kami mendapat tugas untuk merebut kembali persediaan makanan yang kalian curi!” kata Harunio.


“Hah?! Apa yang kau bicarakan?” kata pemimpin perampok.


“Kau tidak bisa menipuku, buktinya sudah ada di sini. Kuronia!” kata Harunio.


“Ya, tidak salah lagi. Hmm ... ini adalah roti yang dibuat di Ruton.” Kata Kuronia yang memakan sepotong roti.


“Kenapa kau memakannya?! Aku juga belum sarapan!” kata Harunio.


“Kami juga!” kata Blues dari jauh.


“Bagaimana aku tahu jika tidak aku coba.” Kata Kuronia.


“Aku kira kau bisa menebak dari baunya ...” Harunio salah prediksi.


“Itu mustahil.” Kata Kuronia.


“Roti itu juga baru saja dilempar ke tanah ...” kata Harunio.


“Tenang saja, kemasannya masih bagus. Ini berarti masih baru dari Ruton.” Kata Kuronia.


“Ya ampun ... aku tahu kalian lapar, tetapi bisakah kita fokus dengan misi ini terlebih dahulu?” kata Blitz.


“...! B-benar juga ... maaf, lapar mengubah segalanya.” Kata Harunio.


“Berisik sekali ...! Kenapa kalian menghentikan keretanya?” kata seorang laki-laki.


“...! Suara ini ...!” Harunio terkejut karena tidak asing dengan suara ini.


“Apa yang sebenarnya terja – Apa yang kau lakukan di sini ...?” kata laki-laki itu setelah menengok keluar dari salah satu gerbong.


“...! Darkos ...!? Apa yang kau lakukan di sini ...?” tanya Harunio.


“Jawab dulu pertanyaanku, dasar bodoh!” kata Darkos dengan kesal.


“Y-ya ... kami mendapat misi dari Yudai untuk merebut kembali persediaan makanan yang dicuri dari Ruton 3 hari


yang lalu...” kata Harunio.


“Hah?  Dicuri ...? Tidak ada barang yang hilang dalam jangka waktu itu.” Kata Darkos.


“E-eh?! Yang benar saja ...?” Harunio terkejut mendengarnya.


“Kami berangkat 3 hari yang lalu, dan semua masih baik-baik saja. Kereta ini mengangkut pesanan dari kota Sorumeth.” Kata Darkos.


“Apa?! Sial ...! Pasti Yudai memalsukan informasi lagi ...!” kata Harunio dengan kesal.


“Tunggu sebentar, di mana semua kudanya?” kata Darkos.


“Ehh ... dia melepas mereka semua. Emylier yang mengaku sebagai peringkat pertama akademi Conqueron.” Kata


pemimpin perampok sambil menunjuk Kuronia.


Darkos langsung berbalik dan menatap Harunio dengan tajam.


“...! Ini buruk ...!” Harunio mulai panik.


Darkos berjalan menuju Harunio.


“Y-ya ... sepertinya terjadi kesalahpahaman di sini ... heheh. P-pasti Yudai salah memberikan info –” Darkos langsung memukul Harunio dan terhempaskannya ke dinding tebing.


Semuanya bingung dengan apa yang sedang terjadi.


“Sialan!!” Kuronia langsung maju dan menyerang Darkos.


Namun dia bukan ancaman yang besar bagi Yoruhane itu, perlawanan Kuronia masih bisa diatasi oleh Darkos.


“Hmph ... untuk kesan pertamaku pada Emylier terbaik ...” Darkos menahan serangan Kuronia dengan membalasnya dengan memukul perutnya.


Kuronia telah dilumpuhkan dengan sekali serangan, lalu Darkos menendang Kuronia hingga terlempar ke dinding


tebing di dekat Harunio.


“... boleh juga.” Kata Darkos.


“...! Kau tidak apa-apa, kawan ...?” kata Harunio.


“Y-ya ...! Begitulah ...!” kata Kuronia.


“Baiklah, berikutnya?” Darkos menantang anggota tim Harunio.


Namun mereka terlihat takut dan ragu untuk menyerang.


“Bisakah kita selesaikan dengan damai?” tanya Blitz.


“Ternyata kau cukup pandai juga, dengan begini berarti kalian sudah menyerah kan?” kata Darkos.


“Aku hanya ingin menghindari pertarungan yang sia-sia.” Kata Blitz.


“Keputusan yang bijak, kau seharusnya belajar darinya, Harunio.” Kata Darkos.


“Kugh ...! Berisik sekali kau ini ... tiba-tiba menyerang tanpa alasan dan pergi bersama segerombolan perampok, apa maksud dari ini semua?!” kata Harunio.


“Oh, ya ... aku hapir lupa. Maaf, sepertinya aku terlalu bersemangat karena baru pemanasan. Akan aku jelaskan dengan singkat, ehem! Pertama, pengiriman logistik harus diatur ulang karena kau terpaksa mengundurkan diri. Para perampok ini ikut ambil bagian karena terlibat.” Darkos menjelaskannya sambil berjalan menuju Harunio.


“Hmph ... masih saja menggunakan alasan itu ...” kata Harunio.


“Kedua, karena pertarungan besar kalian yang terjadi di sekitar gunung Stohelm kami harus mengambil jalur lain dan membuat jadwal pengiriman terlambat.” Kata Darkos.


“...! Y-ya ... i-itu ...” Harunio mulai panik.


“Ketiga, karena rencana bodohmu yang berhasil melepaskan semua kuda kami, pengiriman logistik semakin terlambat.” Kata Darkos.


Harunio sudah tidak bisa berkata-kata.


“Aku ingin tahu kalimat apa yang akan keluar dari mulutmu ...” Darkos sangat marah.


“A-aku –”


“Sudah, hentikan!!” teriak Miho.


“Miho ...?” kata Harunio.


Darkos melirik ke arah gadis itu.


berdasarkan penjelasan dari Leadro-sama! Jika itu informasi palsu ... jika itu palsu ...” Miho bingung harus mengatakan apa.


“Jika itu adalah informasi palsu, maka bukan tidak mungkin kesalahan bisa terjadi.” Kata Aprilia.


“Aprilia-chan ...” kata Miho.


Aprilia hanya tersenyum karena ingin membantu temannya.


“Apakah kami akan dihukum karena bergerak sesuai perintah?” kata Finyx.


“Itu benar! Kami hanya mengerjakan misi yang diperintahkan Leadro-sama saja!” kata Phinyx.


“Apa anda tidak berlebihan?” kata Falco.


Finyx sedikit menyinggung Blues dengan sikunya.


“Apa? Memangnya apa yang bisa aku katakan jika kita memang salah?” tanya Blues.


“Dasar kau ini ...” Finyx kecewa dengan partnernya.


Darkos berbalik dan menghadap para anggota tim Harunio.


“Hhh ... dasar anak-anak zaman sekarang. Aaahh ... merepotkan sekali. Semuanya! Berkumpul di dekat kereta!”


kata Darkos.


“Huh? Ada apa?” tanya Harunio.


“Akan aku tanggapi rencana bodohmu nanti, sekarang kita fokus bagaimana menyelesaikan masalah ini.” Kata Darkos.


“Baiklah ...” Kata Harunio.


Setelah mereka semua berkumpul, Darkos memberikan penjelasan.


“Karena kalian yang menyebabkan masalah ini, maka kalian semua harus bertanggungjawab untuk memperbaikinya.” kata Darkos.


“Y-ya, baiklah.” Kata Harunio.


“Padahal aku sudah diam ...” kata Blues.


“Kalau begitu tutup mulutmu dan diam selamanya hingga mati.” Darkos mulai benci dengan kebiasaan Blues.


“...! M-maaf ...” Blues menyesal.


“Kalian semua harus menangkap kembali semua kuda yang melarikan diri, aku tidak peduli bagaimana caranya yang penting mereka semua bisa kembali untuk menarik semua kereta ini!” kata Darkos.


“Sederhana sekali ...” kata Harunio dengan pelan.


“Aku tidak ingin membuang-buang waktu lagi. Kau pemimpin tim ini kan? Pikirkan caranya sendiri, semakin cepat


keretanya bisa berangkat lebih baik.” Kata Darkos.


“Ya ... tetapi, apa kalian bisa mengendarai kuda?” tanya Harunio kepada anggota timnya.


Dan mereka tidak memperlihatkan respon yang positif.


“Maaf, tetapi sayang sekali.” Kata Harunio.


“Bagaimana dengan mereka?” Blitz menunjuk pada para perampok.


“Jika kalian bisa menangkapnya kami masih bisa membawa mereka kembali, selain itu kita tidak tahu mereka pergi kemana.” Kata pemimpin perampok.


“Kalau begitu serahkan kepada kami.” Kata Harunio.


“Apa yang akan kalian lakukan untuk menemukan mereka?” tanya pemimpin perampok.


“Blitz yang akan melacak mereka.” Kata Harunio.


“Hhh ... Ya, tidak ada pilihan lain.” Kata Blitz.


“U-umm ... siapa saja yang akan pergi?” tanya Miho.


“Hmm ... siapa, ya ...” Harunio berfikir sejenak.


“Yang akan pergi yaitu aku, Kuronia, Blitz, dan Falco.” Kata Harunio.


“Baik.” Kata Kuronia.


“A-aku ...?” Falco sedikit tidak setuju.


“Ya, tentu saja. Kita harus menangkap kudanya agar tidak pergi.” Kata Harunio.


“Y-ya ... tetapi apa tidak ada yang lain?” tanya Falco.


“Finyx hanya akan menghempaskan mereka, Phinyx bisa membakar mereka, Aprilia juga sama dan kondisinya belum membaik, Blitz bertugas melacak mereka, Miho masih perlu latihan atau dia akan membekukan kudanya, Blues tidak berguna.” Kata Harunio.


“...! Hoi!!” Blues langsung tersinggung.


“Kau di sini saja bersama anggota yang lain.” Kata Harunio.


“Hhh ... baiklah, tetapi bisakah kita sarapan dulu?” tanya Falco.


“Tidak ada waktu, cepat temukan mereka semua setelah itu kau boleh sarapan!” kata Darkos.


“...! Sial ...” Falco patah semangat.


“Tenang saja, kau yang akan mendapat giliran pertama setelah Blitz menemukan lokasinya.” Kata Kuronia.


“Aku tidak ingin mendengarnnya darimu ...!” Falco sedikit kesal karena hanya Kuronia yang sudah makan.


“Kita berangkat! Blitz kau langsung cari lokasi mereka, kami akan mengikutimu dari belakang.” Kata Harunio.


“Baiklah.” Blitz langsung mengeluarkan Extensinya dan terbang.


Lalu mereka bertiga menyusul bersama beberapa perampok.


“Baiklah, kita makan saja dulu sambil menunggu mereka mencari kuda yang lepas.” Kata Darkos.


“E-eh!? Apa tidak apa-apa?” tanya Blues.


“Oh, kau ingin menunggu mereka, ya? Terserah kau saja, aku sudah lapar.” Kata Darkos.


“Tidak, terima kasih. Aku senang tidak dipilih!” Blues terlihat senang dengan pilihan ini.


“Harunio-san baru saja menyebutnya tidak berguna ...” kata Phinyx.


“Sudahlah, biarkan saja.” Kata Finyx.


Para anggota tim Harunio bersama Darkos dan beberapa perampok menjaga kereta kuda sambil menyantap sarapan pagi mereka sementara Harunio dan yang lainnya sedang menangkap kuda yang lepas.