
Berkat serangan gabungan yang dilakukan tim Harunio, mereka berhasil membalikkan keadaan dengan menjatuhkan Dragrest dari langit.
“[Crimson Chain]!” Phinyx membuat beberapa Mark Seal di sekitar Dragrest yang mengeluarkan rantai merah yang langsung mengikat Dragrest agar tidak bisa menghindar.
Dragrest menatap Phinyx dengan serius untuk beberapa saat.
“Sudah cukup, Dragrest. Hentikan ini semua.” Kata Phinyx.
Tetapi Dragrest tidak mempedulikannya melainkan bersiap menyerang lagi dengan membuka mulut dan membuat Mark Seal di depanya.
“Blues!” kata Finyx.
“Baiklah!” kata Blues.
Blues dan Finyx saling berpegangan tangan dan bersiap menggunakan Skill dengan membuat Mark Seal di bawah kaki mereka dan mengangkat tangan satunya.
“[Combine Skill : Full Close]!” mereka berdua menggunakan Combine Skill yang membuat sebuah segel dari tekanan air dan udara untuk menyegel mulut Dragrest dengan merapatkan tangan mereka.
“Whoah ...! Hebat, Blues, Finyx!” kata Harunio melalui De Ordernya.
“...! Dasar berisik ...!” kata Blues.
“Kau kira bisa menghentikanku dengan skill ini lagi?!” Dragrest berusaha untuk melawan balik.
“...! Nee-san ...! Blues ...! Berjuanglah ...!” Phinyx mempertahankan semua Crimson Chain agar tetap mengikat
Dragrest.
“...! Sial ...! Padahal dulu cara ini berhasil ...!” Blues berusaha dengan susah payah.
“...! Kali ini ...! Pasti juga bisa ...!” Finyx juga berjuang dengan keras.
“Aprilia, sekarang Phinyx tidak bisa bergerak karena mempertahankan rantai itu. Dragrest juga tidak bisa bergerak karena melawan Combine Skill mereka berdua, kita guanakan kesempatan ini untuk menyerang!” kata Blitz melalui De Ordernya.
“Baik!” jawab Aprilia.
“Tunggu dulu! Serangan jarak dekat terlalu beresiko, jika Skill mereka berdua dipatahkan kalian akan dalam bahaya!” kata Harunio.
“Serangan jarak jauh juga bisa saja mengenai rantai yang di buat Phinyx!” kata Blitz melalui De Ordernya.
“Kalau begitu alihkan saja perhatiannya, kita serahkan pada kemampuan menyegel mereka berdua.” Kata
Harunio.
“Baiklah kalau begitu, Falco kau ikut bersamaku!” kata Blitz.
“Ok!” kata Falco.
“Kau juga Aprilia pergilah, serahkan perlindungan kepada Kuronia.” Kata Harunio.
“Baik!” jawab mereka berdua.
“Miho, kau masih bisa bertarung?” tanya Harunio.
“I-iya, masih bisa.” jawab Miho.
“Kalau begitu bisakah aku menyerahkan perlindungan kepadamu?” tanya Harunio.
“Iya, baiklah!” kata Miho dengan senang.
“Baiklah, semuanya! Gunakan serangan jarak jauh kalian secara bergatian! Meski pandangannya tertuju pada mereka bertiga, itu bukan berarti Dragrest akan membiarkan kalian begitu saja. Karena itu aku serahkan perlindungan kepada semua Chrusade!” kata Harunio melalui De Ordernya.
“Baik!” jawab mereka berlima.
“...! Sial ...! Jika seperti ini dia terlihat berguna ...!” kata Blues.
“...! Diam dan fokus untuk menyegel mulutnya ...!” kata Finyx.
“Baiklah, serangan dimulai!” Harunio langsung terbang dan menambakkan Inferno Shooter ke arah kepala Dragrest.
“...! Sial ...!” perhatian Dragrest mulai teralihkan.
“Hoi!! Lihat kemana arah kau menembak!” kata Blues dengan panik.
“Kau fokus saja dengan apa yang ada di depanmu! Kita pindah ke titik lain, Miho!” kata Harunio melalui De
Ordernya.
“Baik!” kata Miho
“Dasar ...! Baru saja dipuji dia sudah berulah lagi ...!” kata Blues dengan kesal.
Blues khawatir jika itu akan menggagalkan Combine Skill mereka.
“[Ray Gun]!” bilah Feather Sword Blitz terbelah menjadi dua lalu mengeluarkan percikan listrik yang berkumpul dan memancarkan tembakan kuat ke arah Dragrest.
“[Burning Spear]!” Aprilia memberikan Shard pada Feather Swordnya sehingga berubah menyerupai tombak yang terbakar lalu ia melemparnya ke arah Dragrest.
Perlahan namun pasti, Blues dan Finyx hampir selesai menyegel mulut Dragrest dengan bantuan dari anggota timnya.
“Baiklah ...! Sedikit lagi!” kata Harunio yang melanjutkan serangan.
“Kombinasi mereka boleh juga, tetapi bagaimana dengan ini?” kata Dragrest dalam fikirannya.
Saat Aprilia hendak menggunakan Skillnya, Dragrest membuat perangkap dari Mark Seal di bawahnya.
Kuronia membuat Mark Sealnya di atas perangkap Dragrest dan meredam ledakannya. Namun efek ledakan itu tetap melontarkan gadis itu, Kuronia dengan sigap menangkapnya.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Kuronia.
“I-iya, aku baik-baik saja ...” Aprilia sedikit merasa malu.
“Baguslah, tetaplah waspada.” Kata Kuronia.
“B-baik.” Kata Aprilia.
“Kita lanjutkan serangan!” kata Kuronia.
“Iya, baiklah!” kata Aprilia.
Di tempat lain perangkap Dragrest terus bermunculan untuk menghalangi mereka.
“...! Sial ...! Tidak ada ...! Habis ...! Habisnya ...!” kata Falco yang menghindari perangkap satu persatu.
Namun Blitz dapat menghindari semuanya dengan mudah sambil melanjutkan serangan.
“Aku lebih khawatir dengan mereka bertiga ...!" kata Blitz.
"Bagaimana situasi di sana?” tanya Blitz melalui De Ordernya.
“Apa kami harus memberitahukan situasi di sini setiap saat ...?!” kata Blues yang berusaha dengan susah payah.
“Dragrest menyerang kami dengan Mark Sealnya yang meledakkan setiap tempat yang kami pijak, apa di sana tidak ada perangkap apapun?” tanya Blitz melalui De Ordernya.
“Tidak ...! Tidak ada perangkap apapun di sini ...!” kata Finyx.
“Baiklah, kalau begitu teruskan saja apa yang kalian lakukan!” kata Blitz.
“Dasar ...! Sebenarnya apa yang dia bicarakan ...?!” kata Blues.
“Tanyakan saja nanti ...!” kata Finyx.
Sementara itu, Miho sedikit kesulitan jika harus melindungi Harunio dari perangkap Dragrest.
“M-maafkan aku, Harunio ...” Miho sedikit kecewa pada dirinya.
Miho hanya bisa menghindar atau diselamatkan oleh Harunio
“Ingatlah –” Harunio langsung menancapkan Dragon Blade Leviathan pada Mark Seal Dragrest yang muncul di bawah kaki mereka.
“ – Peraturan nomor 1.” Mark Seal itu langsung hancur setelah pedang itu menusuknya.
“Peraturan ... Oh, iya ...” kata Miho.
“Misi ini masih termasuk latihanmu, jadi ketiga peraturan yang aku buat masih berlaku untukmu.” Kata Harunio.
“Baik!” kata Miho.
“Bagaimana jika kau ikut menyerang?” tanya Harunio.
“E-eh ...! T-tetapi ...” Miho masih ragu.
“Lebih berbahaya, tetapi mungkin dengan begitu mereka bisa lebih cepat menyegel Dragrest. Aku percaya dengan
kemampuanmu, Miho!” Kata Harunio.
“B-baiklah ... akan aku coba ...” kata Miho.
“Baguslah, teruslah menyerang dan jangan bertahan. Hindari saja semua perangkap itu.” Kata Harunio.
“Aku mengerti!” kata Miho.
“Baiklah ... kita mulai!” Harunio langsung mencabut Dragon Blade Leviathan dan meninggalkan Miho sambil
menembakkan Inferno Shooter lagi.
“Harunio selalu percaya diri dengan kemampuannya ... Dia juga mengajarkanku untuk mempercayai kemampuanku ... Tetapi kenapa aku selalu ragu ...?! Aku tidak ingin membebani siapa pun lagi! Kali ini ... jangan ragu ...! Kami pasti akan menang!” Miho mengeluarkan Extensi Nenbinya yaitu 5 buah Ekor dan sepasang Fox Ears di kepalanya.
Setelah mengaktifkan Extensinya, kecepatan bergerak Miho meningkat drastis. Ia bisa menghindari semua perangkap Mark Seal Dragrest dengan mudah sambil menyerang menggunakan Cold Sting secara bergantian.
“Bagus, Miho! Teruskan!” kata Harunio.
“Baiklah!” Miho benar-benar merasa senang karena kali ini dia lebih berguna bagi tim.
“...! Ternyata mereka masih bisa melawan ...!” kata Dragrest dalam fikirannya.
“Perlawanan Dragrest semakin melemah ...” kata Blues.
“Ini kesempatan kita ...!” kata Finyx.
Blues dan Finyx mengerahkan seluruh kemampuan mereka untuk menyelesaikan segel Full Close.
“Sedikit lagi ...! Berjuanglah sedikit lagi ...! Nee-san ...! Blues ...!” kata Phinyx sambil mempertahankan Crimson Chain.
“Segel mereka sudah hampir selesai ...?!” kata Dragrest dalam fikirannya.
“Hyaaaaaa!!!” Blues dan Finyx mengerahkan seluruh tenaga yang masih mereka miliki.
Akhirnya segel Full Close telah terpasang dan mengikat mulut Dragrest, perangkap Mark Seal dari Dragrest juga langsung menghilang dan tidak muncul lagi.