
Harunio dibawa masuk ke dalam pilar cahaya oleh Naga misterius, namun ia tetap mencoba melepaskan diri dari cengkramannya.
“Sial ...! Kemana dia akan membawaku?!” kata Harunio dalam fikirannya.
Beberapa saat kemudian mereka keluar dari pilar cahaya yang menyilaukan.
“Ini ...? Di mana?” tanya Harunio.
Tempat itu mirip dengan taman Luvana, namun terlihat lebih natural seperti kembali ke masa lalu. Naga tersebut menurunkan Harunio di jalan batu yang sama di tengah danau seperti yang ada di taman.
“B-baiklah, aku yakin kau punya tujuan membawaku kemari.” Kata Harunio.
Naga itu memperlihatkan wujud aslinya dengan sisik yang didominasi warna biru.
“Setelah sekian lama menunggu, akhirnya hari ini datang juga.” Kata naga tersebut.
“...! Ternyata kau bisa bicara!” Kata Harunio.
“Aku adalah Leviathan, pelayan sekaligus ksatriamu.” Kata Leviathan memperkenalkan diri.
“...! P-pelayan ...?! Selain itu ... ksatria?! Dilihat dari manapun kau adalah Naga! Apa kau tidak salah bicara?”kata Harunio.
“Ya, itu benar. Aku adalah pelayanmu.” Kata Leviathan.
“Memangnya kita pernah bertemu?” tanya Harunio.
“Benar juga, kita sudah lama tidak bertemu.” Jawab Leviathan.
“Katakan jika aku masih tertidur di pos penjaga ...” Harunio masih belum mengerti.
“Tidak perlu menjelaskan detailnya, lagipula anak ini tidak akan mengerti.” Kata naga yang ada di dalam diri Harunio.
“Masih terlalu dini, ya ...” kata Leviathan.
“Kalian saling kenal?! Selain itu bagaimana bisa kalian memikirkan hal yang sama?!” Harunio semakin tidak mengerti dengan situasinya.
“Langsung saja ke intinya, Leviathan. Setelah itu biarkan dia sendiri yang mencari tahu semuanya.” Kata naga tersebut.
“Baiklah kalau begitu, aku yakin kau juga sudah tahu jalan fikirannya, Kei –”
“Jangan berani mengatakannya!” naga tersebut langsung memotong pembicaraan.
“Whoahahah ...! Menarik!” kata Harunio dengan gembira.
“Dasar mulut besar ...!” naga tersebut terlihat kesal.
“Hahaha! Sudah lama aku tidak merasakan sensasi ini. Hhh ... benar-benar mengingatkanku dengan masa lalu.” Kata Leviathan.
“Masa bodoh dengan masa lalu.” Kata naga tersebut.
“Apa dia selalu seperti itu?” tanya Harunio.
“Kau harus lebih sering berbicara dengannya jika ingin tahu.” Kata Leviathan.
“Kalian ini benar-benar susah diajak bicara ...” kata Harunio.
“Baiklah, kita langsung saja ke intinya. Kami memiliki tugas untuk menjaga benda yang bisa menentukan masa depan.” Leviathan mulai serius.
“Sepertinya sesuatu yang luar biasa.” Kata Harunio.
“Ya, itu benar. Ini adalah peninggalan dari pahlawan yang membawa perdamaian.” Kata Leviathan
“Itu adalah benda yang sangat berharga namun rapuh dan rawan dicuri. Oke, aku mengerti. Kau ingin aku membawanya ke tempat yang aman kan? Untuk itu kau membawaku kemari untuk memberitahukan posisinya tanpa diketahui siapapun.” Harunio mencoba menyimpulkan pokok pembicaraan.
“Ya, secara garis besar memang begitu. Tetapi, benda itu adalah milikmu.”Kata Leviathan.
“T-tunggu sebentar, kau tidak sedang bercanda kan? Maksudku ... ini benda bersejarah, bernilai tinggi, jika aku yang menjaganya pasti sudah aku jual karena sekarang aku sedang butuh uang.” Harunio berfikir jika ia menemukan solusi untuk melunasi hutangnya.
“Hahaha! Justru kau yang akan menghabiskan seluruh hartamu hanya untuk merebut benda ini!” Leviathan tertawa lepas setelah melihat respon Harunio.
“B-benarkah?” kata Harunio.
“Ya, tentu saja. Persiapkan dirimu.” tubuh Leviathan mulai diselimuti cahaya dan perlahan-lahan menyusut berubah menjadi sebuah pedang yang langsung jatuh dan menancap di depan Harunio.
“H-hei ... hei ...! Mataku baru saja menipuku!” Harunio sedikit terkejut melihatnya.
“Pedang ini adalah jiwa sekaligus inti Shard kami, naga yang kau lihat adalah perwujudan kami sebagai ksatriamu.” KataLeviathan.
“Sebentar, otakku masih memproses ilusi ini agar bisa aku pahami ...! Aku kira ksatria yang kau maksud seperti
para Guardo.” Harunio masih berfikir keras dengan masalah serius ini.
“Kami para ksatria adalah naga yang akan membantumu dalam setiap pertarungan. Jumlah kami ada sembilan, masing-masing dari kami memiliki Dragon Blade. Naga yang kau lihat adalah wujud fisik yang dibuat menggunakan Shard dari Dragon Blade, menurut pemahaman kalian aku sudah mati karena tubuhku sudah tidak ada. Tetapi sebenarnya kami hidup di dalam Dragon Blade.” Leviathan menjelaskan.
“Tetapi jiwamu berbentuk sebuah pedang ... bukankah itu wujud fisik?” kata Harunio.
“Y-ya ... kau bisa menyebutnya begitu.” Kata Leviathan.
“Jadi senjata pribadiku adalah sembilan naga. Haha! Bagus juga!” Harunio terlihat senang.
"Sebelum kau mengambil pedangku, ada beberapa prosedur yang harus dilakukan." kata Leviathan.
"Ada apa?" tanya Harunio.
"Setiap Dragon Blade memiliki kutukan yang sama. Jika orang lain yang membawanya, maka tubuh dan jiwanya akan termakan oleh Dragon Blade tersebut." kata Leviathan.
"Uhh ... maaf, apa yang terjadi?" Harunio tidak mengerti penjelasannya.
"Hhh ... orang itu akan mati dan tubuhnya akan berubah menjadi naga." kata naga yang ada di dalam diri Harunio.
"...! Kutukan apa itu ...?!" Harunio terkejut mendengarnya.
"Seperti itulah kutukan Dragon Blade." kata Leviathan.
"Lalu bagaimana cara untuk menghilangkannya?" tanya Harunio.
"Kau tidak bisa menghilangkannya, tetapi kau bisa menggunakannya tanpa termakan oleh kutukan itu." kata Leviathan.
"Bagaimana caranya?" tanya Harunio.
"Senketsu no Chikai, semacam kontrak yang dibuat dengan darahmu. Sejak dulu Dragon Blade diwariskan dengan perjanjian itu." kata Leviathan.
"Ayo kita lakukan." kata Harunio.
"Baiklah, kalau begitu. Buatlah Mark Seal dibawa Dragon Bladeku." kata Leviathan.
Lalu Harunio membuat Mark Sealnya.
"Selanjutnya." kata Harunio.
"...!" Harunio menyayat telapak tangan kirinya menggunakan Feather Knife.
Darahnya mulai menetes pada Mark Seal itu dan warnanya berubah menjadi merah. Mark Seal itu mulai menelan Dragon Blade Leviathan.
"Kontrak sudah dibuat, Shard dari Dragon Bladeku sudah terhubung dengan inti Shardmu. Sekarang kau bisa mengambil pedangku dari Mark Sealmu." kata Leviathan.
Harunio membuat Mark Seal di tangan kanannya lalu pedang itu muncul.
“Hebat ...! Apakah dia juga salah satu ksatria sepertimu?” Harunio menanyakan tentang naga yang ada di dalam dirinya.
“Ya, benar.” Jawab Leviathan.
“Sudah aku duga! Hei! Serahkan pedangmu padaku! Ini adalah perintah langsung dari tuanmu!” Harunio bertingkah seperti majikan sekarang.
“Hmph! Aku tidak akan memberikan pedangku begitu saja!” kata naga tersebut.
“Apa?! Kau berani melawan tuanmu?!”kata Harunio.
“Persetan dengan penjelasan Leviathan, kau masih belum layak untuk memilikinya!” kata naga tersebut.
“Leviathan, ada apa dengannya?” Harunio tahu jika dia tidak bisa memaksanya begitu saja.
“Oh, ya. Aku lupa tentang satu hal kecil.” Kata Leviathan.
“Apa itu?” Harunio penasaran.
“Saat kami menyerahkan pedang tersebut, kau harus membuktikan harga yang kau miliki. Dan kami memiliki penilaian yang berbeda-beda.” Kata Leviathan menjelaskan.
“Jadi kau ingin aku menyerahkan jiwaku sebagai harga untuk pedangmu?” tanya Harunio pada naga di dalam dirinya.
“Jiwamu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pedangku.” kata naga tersebut.
“...! Lalu apa yang kau inginkan?!” tanya Harunio dengan kesal.
“Biar aku luruskan masalah ini, kau memang belum layak memilikinya namun aku mengizinkanmu menggunakannya.” kata naga tersebut.
“Kenapa sekarang kau yang mengatur tuanmu?!” Harunio sedikit kesal.
“Jangan samakan aku dengan Leviathan yang menerimamu begitu saja, selain itu kau bukanlah tuanku!” naga itu menolak Harunio tanpa ragu.
“Hei, masalah dengannya semakin serius.” Harunio masih menanggapinya dengan santai.
“Sudahlah, tidak perlu keras kepala.” Leviathan mencoba membantu Harunio.
“Meskipun aku memberitahukan harga yang aku pasang untuk pedangku, dia juga tidak akan bisa memenuhinya.” kata naga tersebut.
“Memangnya apa atau berapa harga yang kau pasang untuk pedangmu?” tanya Harunio.
“Aku ingin menghancurkan dunia, tidak ada yang lain.” kata naga tersebut.
Harunio hanya diam setelah mendengar jawabannya.
“Lihat? Bahkan otaknya tidak mampu memahaminya.” kata naga tersebut.
“Pfft ...! Hahaha! Aku kira apa? Ternyata menghancurkan dunia, yang benar saja! Hahaha!” Harunio langsung tertawa lepas bukannya takut atau curiga setelah mendengannya.
“Apa yang kau tertawakan?!” naga itu sangat kesal dengan respon Harunio.
“Haha ...! Untuk apa aku memiliki pedangmu jika dunia sudah hancur? Tujuanmu kuno sekali!” Harunio masih menanggapinya dengan santai.
“Jaga mulutmu itu!” kata naga itu dengan kesal
“Tetapi harus aku akui jika kau ini benar-benar monoton, masih saja ada yang memiliki tujuan seperti itu. Menghancurkan dunia, menguasai dunia, itu membosankan kau tahu?” kata Harunio.
“Kau tidak tahu apapun ...!”naga itu sedikit mengancam Harunio karena meremehkannya.
“Ya, aku memang tidak tahu apapun tentangmu. Kita juga baru saja bertemu dan aku langsung terlibat dengan hal
ini, tetapi aku yakin seiring waktu berjalan kita akan saling mengerti.” Kata Harunio.
“Hmph! Tidak aku sangka kau bisa mengatakan sesuatu yang bagus.” kata naga tersebut.
“Dasar tidak sopan! Kau tidak tahu jika sedang berbicara dengan tuanmu?!” Harunio tersinggung.
“Pelajarilah arti dari Dragon Blade.” kata naga tersebut.
“Memangnya ada apa?” tanya Harunio.
“Kau akan tahu setelah menggunakannya.” kata naga tersebut.
“Baik, baik, terima kasih untuk sarannya. Aku harus kembali sekarang, bagaimana caranya keluar dari sini?” tanya Harunio kepada Leviathan.
“Kita tidak pergi ke manapun, ini semua adalah gambaran tentang masa lalu tentang tempat ini.” Jawab Leviathan.
“Ohh ... ternyata seperti Dimension Link, banyak yang sudah berubah, ya. Kapan aku bisa berbicara denganmu lagi?” Kata Harunio.
“Kita selalu terhubung selama pedang itu bersamamu, patung naga itu juga terhubung denganku. Dulu benda itulah yang menjaga pedangku, patung itu menyerap Shard dari pedangku karena terbuat dari Crystal Scream dan menyembunyikannya dari dunia.” Kata Leviathan.
“Begitu rupanya ... bahkan orang lain bisa mati hanya dengan membawanya.” kata Harunio.
“Apapun yang ada di dunia ini memiliki artinya masing-masing. Pedang kami memanglah sebuah senjata, baik atau
buruknya itu tergantung dari siapa yang menggunakannya.” Kata Leviathan.
“Benar juga, ya. Kalau begitu, sampai jumpa lagi.” Kata Harunio.
“Baiklah! Aku menantikan perintahmu, tuanku yang baru. Apapun kesulitan yang menghadapi, percayakan kepada kami untuk membantumu.” Kata Leiatahan.
“Ya! Tentu saja!” kata Harunio dengan senang.
Lalu tempat itu mulai bersinar terang, pilar cahaya yang ada di tengah danau mulai menyusut dan perlahan-lahan
menghilang menyisakan Harunio yang berada di depan sebuah patung naga di tengah danau.
“Jadi jalan ini menghubungkan daratan dengan patung naga yang menjaga pedangmu.” Kata Harunio.
“Ya, itu benar.” Jawab Leviathan.
“Setidaknya patung ini akan menjadi peninggalan yang bagus untuk tempat ini.” Kata Harunio.
“Bagus kan?” kata Leviathan.
“Ya, benar juga.” kata Harunio.
Lalu Harunio membuat Mark Seal ukuran kecil dan menyimpan Dragon Blade Leviathan.