Dimension - Y

Dimension - Y
Arc 1 - Partner



Beberapa jam kemudian, Harunio dan Miho turun di gerbang timur untuk mengabsen.


“Terima kasih untuk tumpangannya,paman!” kata Harunio.


“Ya, sama-sama. Katakan saja jika kalian butuh tumpangan lagi!” kata kusir kereta kuda.


“Y-ya, baiklah ...” kata Harunio sedikit ragu.


“Kalau begitu sampai jumpa lagi.” kata Darkos.


“Iya! Terima kasih banyak!” kata Miho.


“Oh, ternyata kalian berdua. Bagaimana dengan pengamatannya?” tanya Guardo laki-laki.


“Ya, berjalan dengan lancar!” kata Harunio.


Lalu ia tertawa dengan pelan bersama Miho.


“Baiklah, absensi selesai. Silahkan kembali ke Conqueron.” Kata Guardo tersebut.


“Iya, terima kasih.” kata Miho.


Lalu mereka berdua melanjutkan perjalanan.


“Hari ini benar-benar menyenangkan! Akan aku ingat setiap detiknya!” kata Harunio dalam perjalanan mereka.


“Tetapi kau juga menghajar Teo hingga terluka parah.” Kata Miho.


“...! Y-ya, itu kesalahanku ... Aku akan minta maaf padanya nanti.” Kata Harunio.


“Baguslah! Selain itu kau memang terlihat lebih gembira dari biasanya.” Kata Miho.


“Tentu saja! Aku adalah orang terpilih yang akan menjadi Partner dari idola Conqueron.” Kata Harunio.


“T-tolong jangan menyebutku idola Conqueron, aku tidak suka dipanggil seperti itu ...” kata Miho.


“Baiklah kalau begitu, maaf.” Kata Harunio.


“U-umm ... Harunio, b-bolehkan aku bertanya sesuatu ...?” tanya Miho dengan gugup.


“Tanyakan saja apapun itu!” Harunio sedikit menyombongkan diri.


“A-apakah ...” Miho ragu untuk mengatakannya.


“Ada apa, Miho?” Harunio berbalik tanya.


“K-kau benar-benar sudah tinggal sendiri kan? Tidak di asrama?” tanya Miho.


“Oh, ya ... bukankah gerbang asrama sudah dikunci sekarang ...?” kata Harunio.


“...! K-karena itu ... umm ...” Miho sedikit ragu untuk melanjutkannya.


“...! J-jadi ...?!” Harunio tidak percaya dengan apa yang ia fikirkan.


“B-bolehkah aku meginap di rumahmu malam ini ...?” Miho memberanikan dirinya.


Harunio langsung meraskan Heavently Lock yang menusuk jiwanya secara spontan, ditambah mimisan.


“Ha-Harunio ...?! Kau tidak apa-apa?” Miho mengkhawatirkannya.


“Y-ya ... aku baik-baik saja, tidak perlu khawatir. Ngomong-ngomong ... umm ... tentang pertanyaanmu itu ... hehe ... A-aku tidak keberatan sama sekali.” Jawab Harunio.


“M-maaf merepotkan ...!” kata Miho.


“Ti-tidak, tidak. Tidak perlu mengkhawatirkannya. Dengar kita akan menjadi sepasang Partner, rumahku juga akan menjadi rumahmu. K-kita berbagi satu sama lain ...!” Kata Harunio dengan gugup.


“B-benar juga, ya ... tehehe~” Miho menahan rasa malunya.


“Jika ada yang menggangumu, aku akan membereskannya dengan cepat!” kata Harunio sambil mengadu tinju dengan telapak tangannya.


“I-iya ... aku mengandalkanmu, Harunio.” Kata Miho.


“Y-ya! Serahkan saja padaku!” kata Harunio dengan pecaya diri.


Mereka melanjutkan perjalanan mereka dengan perasaan malu satu sama lain.


Beberapa saat kemudian, mereka sampai di rumah Harunio.


“Tunggu sebentar.” Harunio memasukkan sandi yang ia pakai untuk mengunci pintu.


“Baiklah, silahkan masuk.” Harunio mempersilahkan Miho.


“P-permisi ...” kata Miho sedikit gugup.


Harunio mendorong pintu rumahnya sehingga tertutup dan langsung terkunci, suaranya yang keras membuat mereka berdua terkejut.


“...! T-tenanglah, Miho. A-ahahaha ... pintu rumahku langsung mengunci secara otomatis. A-aku ini karena


model rumah yang Yudai berikan, hehehe ...” Harunio menahan rasa malunya dengan sekuat jiwa dan raga.


“B-begitu,ya ... Leadro-sama pasti memilih model rumah yang lebih modern.” Miho mencoba menanggapinya dengan tenang.


“I-itu benar ...! A-akan aku ubah settingannya." kata Harunio.


"Sial ...! Hanya karena kunci pintu saja langsung membuatku gugup setengah mati ...!” kata Harunio dalam fikirannya.


“Kau benar-benar tinggal di sini sendirian, ya ...” kata Miho sambil melihat sekelilingnya.


“Ya, benar. Kadang aku juga merindukan saat-saatku di asrama!” kata Harunio dengan senang.


“Bahkan saat bersama Emylier lain, itu masih belum cukup untuk meredam kesendirianmu ...” Miho bergumam sendiri.


“Huh? Ada apa, Miho?” tanya Harunio.


“...! T-tidak ada apa-apa ...! H-hanya saja –” Miho langsung diam setelah medengar perutnya berbunyi.


Harunio tertawa setelah mendengarnya, Miho juga ikut tertawa meski merasa malu.


“Sepertinya aku mulai lapar.” Kata Miho.


“Baiklah, kali ini biar aku yang mentraktirmu!” kata Harunio.


“Tidak perlu repot-repot, lebih baik kau menyimpan uangmu agar hutang-hutangmu cepat lunas.” Kata Miho.


“Jangan membuatku mengingatnya ...” Harunio langsung depresi.


“Pak kusir tadi memberiku sisa bahan mentah, selain itu aku juga menyimpan bahan makanan. Kau duduk saja, biar aku buatkan sesuatu.” Kata Harunio.


“Kau juga bisa memasak?” kata Miho.


“Haha! Hanya sedikit. Akan aku buatkan masakan terbaikku!” kata Harunio.


“Aku jadi tidak sabar!” kata Miho.


“Baiklah ... Meja anda lewat sini, Nona.” kata Harunio.


“Baik~” kata Miho.


Harunio berakting menjadi pelayan restoran, meski memang itu pekerjaan sampingannya.


“Silahkan duduk, Nona.” Kata Harunio sambil menarik sebuah kursi di meja makan.


“Terima kasih.” Lalu Miho duduk.


“Silahkan tunggu sebentar, hidangan spesial akan segera saya sajikan.” Kata Harunio lalu ke dapur dan mempersiapkan bahan-bahannya.


“Uhuhu, kau benar-benar menjadi seorang pelayan dalam waktu singkat, ya.” Kata Miho, suasana kembali normal.


“Hahaha, apa yang aku pelajari di restoran benar-benar berguna kan?” kata Harunio.


“Umm ... Harunio, tadi kau bilang jika kau tinggal sendiri kan?” kata Miho.


“Ya, itu benar.” Jawab Harunio.


“Lalu, itu ...?” kata Miho.


Harunio terkejut saat menyalakan kompornya, perlahan-lahan ia berbalik dan melihat benda yang Miho maksud.


“...! Sial ...! Kenapa mantel milik Kuronia ada di sini ...?!” kata Harunio dalam fikirannya.


Seperti kompornya yang baru menyala, emosi Harunio juga langsung meluap.


“Harunio … itu milik siapa?” tanya Miho dengan tatapan dingin.


“...! I-itu ... milik Kuronia ...” jawab Harunio.


“E-eh?! J-jadi ... kau dan Kuronia-san ...” wajah Miho langsung memerah.


“J-jangan memikirkan hal yang aneh!” kata Harunio.


“T-tetapi ... jika itu benar, berarti Kuronia-san adalah ...” Miho tidak berani melanjutkannya.


“C-cukup ...! Aku ini masih normal! Jangan membuat kesimpulan yang aneh!” kata Harunio yang menahan rasa malu.


“Lalu kenapa mantel Kuronia-san ada di rumahmu?” tanya Miho.


“Hhh ... pasti dia melupakannya saat menguji ruang latihanku kemarin. Dasar, ini adalah kebiasan lamanya ...! Sudah aku katakan berkali-kali tetapi dia tidak mau memakai Vector mantel ...! Padahal itu lebih praktis.” Kata Harunio sedikit kesal.


“Kebiasaan lama?” Miho masih tidak tahu dengan maksud Harunio.


“Setelah menguji ruang latihanku, dia langsung kembali ke asrama. Kuronia bilang mendapat misi dari Yudai keesokan harinya, dia pasti sengaja meninggalkan mantelnya karena tidak dibutuhkan dalam misi. Dasar, dia selalu saja seperti itu.” Kata Harunio menjelaskan.


“Jadi begitu ...” Kata Miho.


“Ya, dia juga paling taat dengan peraturan. Karena itu juga dia menjadi Emylier dengan peringkat pertama saat kelulusan, bahkan menjadi idola Conqueron di kalangan perempuan.” Kata Harunio.


“Ternyata seperti itu ceritanya.” Kata Miho.


“Ada satu hal yang mengejutkan dari Kuronia yang hampir tidak diketahui Emylier lain.” Kata Harunio.


“Benarkah? Apa itu?” tanya Miho.


“Kita bicarakan itu nanti saja. Terima kasih sudah menunggu, silahkan nikmati hidangan terbaik saya.” Kata Harunio


sambil menyajikan masakannya.


“Wahh –! Hanya nasi dan telur goreng, ya ...?” Miho sedikit kecewa.


“Ya, benar. Jangan melihat dari tampilannya, yang penting rasanya.” Kata Harunio.


“B-baiklah kalau begitu ... selamat makan.” Lalu Miho mulai mencoba telur goreng buatan Harunio.


“...!” Miho langsung terkejut saat memakannya.


“Bagaimana?” Harunio sudah tahu jawaban Miho.


“Aroma yang enak, terasa renyah dan perpaduan rasa yang enak! Rasanya aku tidak bisa berhenti memakannya! Ini benar-benar enak, Harunio!” kata Miho lalu mulai menambah suapan.


“Hahaha, sudah aku duga. Setidaknya aku masih bisa memenuhi kebutuhan protein hewani dengan mengkonsunsi telur seperti ini.” Kata Harunio.


“Aku tidak tahu jika telur goreng bisa seenak ini!” kata Miho.


“Ada teknik tersendiri agar rasanya bisa seperti itu.” Kata Harunio.


“Ini adalah hidangan yang sederhana namun enak!” kata Miho.


“Ini masih tidak ada apa-apanya, aku bisa membuatnya karena sisa dari ingatanku di masa lalu.” Kata Harunio.


“Benarkah? Aku kira kau kehilangan ingatan tentang masa lalumu.” Kata Miho.


“Ya, memang benar. Meski hanya samar-samar, tetapi aku tahu persis jika dulu aku sering memakan telur goreng


yang lebih enak dari ini. Sepertinya informasi tentang metodenya ikut hilang bersama ingatanku yang lain.” Lalu Harunio melanjutkan suapannya.


“Sayang sekali, ya. Padahal aku ingin mencicipi bagaimana rasanya.” Kata Miho.


“Tidak semua yang aku ingat hanya bagian buruk dari masa laluku, apa yang tersaji di piring ini adalah buktinya.” Kata Harunio.


“Iya, aku yakin masih ada kenangan bagus yang lain!” kata Miho menggenggam tangan Harunio.


“Ya, aku rasa kau benar.” Kata Harunio.


“Kapan-kapan bisakah kau mengajariku cara membuatnya?” tanya Miho.


“Ya! Tentu saja, dengan senang hati!” jawab Harunio.


Lalu mereka melanjutkan makan malam mereka.