Dimension - Y

Dimension - Y
Arc 1 - Challange



Lalu mereka pergi ke tempat yang lapang pada sisi lain danau sehingga pertarungan mereka tidak akan mengganggu pengunjung taman.


“Baiklah, peraturannya sederhana. Bertarunglah dengan seluruh kemampuan kalian, jika sudah tidak kuat menyerahlah. Batas waktu pertarungan adalah lima menit.” Kata Darkos.


Harunio dan Phinyx saling membungkuk untuk memberikan hormat pada lawannya.


“Ada apa? Masih merasa gugup? Ehh ... siapa namamu?” kata Harunio.


“Namaku Phinyx, setidaknya ingatlah itu, Harunio-san. Saat itu pertarungan kita memang tidak terencana, tetapi kali ini izinkan aku menggunakan pedangku untuk mengenalmu!” kata Phinyx.


“Hmph! Baiklah, dengan senang hati!” Harunio semakin bersemangat.


“[Kekkai of Absorption]!” Darkos menggunakan Skillnya untuk membuat ruang khusus untuk tempat bertarung mereka.


“Apa ini?!” kata Harunio.


“Pembatas untuk mengurangi jangkauan Skill kalian, jika tamannya rusak aku yang akan mendapat masalah.” Kata Darkos.


“Aku kira untuk menghalangi kami jika ingin lari dari pertarungan.” Kata Phinyx.


“Ya, sebenarnya itu juga.” Kata Darkos.


“Kau benar-benar tidak bisa dipercaya!” kata Harunio dengan spontan.


“Pertarungan dimulai!!” kata Darkos.


Mereka langsung mempersiapkan Feather Sword dan mengeluarkan Extensi mereka.


“Aku mulai! [Cross Blast]!” Phinyx menggunakan Skillnya dan membuat gelobang api dengan menebaskan Feather Swordnya secara menyilang.


“[Wind Cutter]!” Harunio menggunakan Skillnya dan membuat gelombang angin yang memotong Cross Blast.


Phinyx menghindari Wind Cutter yang masih melaju setelah memotong Cross Blast.


"Padahal Feather Swordnya berwarna hitam, kenapa dia memiliki Wind Shard?!" kata Phinyx dalam fikirannya.


“Tidak perlu setegang itu, santai saja! Ini hanya latihan.” kata Harunio.


“Terima kasih untuk sarannya, tetapi ... aku harap bisa membuatmu serius melawanku seperti waktu itu!” kata Phinyx.


“Ya ampun, kenapa dia ingin sekali aku serius melawannya ...” kata Harunio dengan pelan.


“[Comet Rain]!” Phinyx membuat beberapa Mark Seal di sekitarnya yang mengeluarkan purwarupa meteor.


Satu persatu meteor itu melesat, Harunio mengumpulkan Wind Shard pada Feather Swordnya sehingga pedang itu


mengeluarkan aura berwarna hijau.


“[Wind Step]!” Harunio memberikan buff pada dirinya yang membuat langkahnya lebih ringan.


Harunio menghindari Comet Rain sambil menebaskan Feather Swordnya yang menciptakan Wind Cutter untuk menghancurkan semua meteor yang melesat ke arahnya.


“[Crimson Chain]!” Phinyx membuat Mark Seal di sekitar Harunio yang mengeluarkan rantai berwarna merah untuk mengikat Harunio.


Lalu Harunio menancapkan Feather Swordnya ke tanah.


“[Domeof Wind]!” sebuah kubah angin muncul dan menangkis semua Crimson Chain.


Lalu Mark Seal Phinyx menghilang, Harunio juga menghentikan hembusan Doom of Wind.


“[Cross Blast]!” Phinyx mencoba menyerang Harunio dari jarak jauh lagi.


“[Black Barnish]!” Harunio mengumpulkan Dark Shard mengayunkan Feather Swordnya sehingga Cross Blast dapat diantisipasi.


"Sekarang Dark Shard?! Kemampuan apa ini?!" kata Phinyx dalam fikirannya.


Phinyx dibuat bingung dengan kemampuan Harunio, dia harus menari celah untuk menyerang Harunio.


“Apa ini tidak apa-apa?” tanya Blues.


“Siapa yang membuat masalah ini semakin serius ...?!” Finyx benar-benar marah.


“...! I-itu ...” Blues tidak bisa berkata-kata.


“U-umm ... tolong maafkan Harunio untuk apa yang sudah terjadi!” kata Miho.


“Huh? Kenapa kau minta maaf?” tanya Finyx.


“Saat itu Harunio telah melakukan sesuatu buruk ketika melawan kalian bertiga, kan?Aku tahu jika tidak akan mudah untuk memaafkannya, tetapi dia tidak bermaksud seperti itu. Karena itu, aku mohonmaafkanlah dia!” kata Miho.


“Ya ampun ... dia benar-benar beruntung bisa memiliki Partner sebaik dirimu.” Kata Finyx.


“...! K-kami ... kami hanya rekan satu tim saja ...! D-dia bukan Partnerku ...!” kata Miho sambil menahan rasa malunya.


“Tetapi kalian benar-benar serasi, itu yang pertama kali terlintas difikiranku.” Kata Finyx.


“K-kami hanya kebetulan satu tim dan mendapat misi bersama ...” kata Miho.


“Sebenarnya aku juga berfikir kalian adalah sepasang Emylier.” Kata Blues.


“Kau diam saja!” kata Finyx dengan spontan.


“...! B-baik ...” Blues hanya bisa menurutinya.


“Aku juga akan ikut bertanggung jawab jika sesuatu terjadi kepada Phinyx-chan.” Kata Miho.


“Tidak perlu difikirkan, sebenarnya dia sendiri yang ingin berbicara dengan Harunio setelah pertarungan itu. Mungkin inilah cara Phinyx melakukannya. Jadi, biarkan saja mereka.” Kata Finyx.


“Kenapa dia ingin berbicara dengan Harunio?” tanya Miho.


“Entahlah, aku juga tidak tahu. Phinyx memang Emylier yang hebat, tetapi dia jarang memiliki waktu luang dan tidak memiliki banyak teman. Dia terikat oleh tradisi di tempat asal kami. Karena itu Phinyx hanya bisa berkumpul bersama keluarganya saja. Banyak hal yang tidak dia ketahui, karena itu dia akan mencari tahu dengan caranya sendiri. Selain itu dia selalu menirukan apa yang aku lakukan, uhuhu!” Finyx sedikit tertawa mengingat masa lalu mereka.


“Apa kau punya alasan khusus menggantikannya bertarung melawanku?” tanya Harunio.


“Aku hanya ingin memastikan sesuatu saja. Saat itu kau menyerangku dengan sekuat tenaga, dan aku merasa seperti pernah menahan serangan itu. Tetapi kali ini benar-benar berbeda ...” Jawab Phinyx.


“Ehh ... maaf, aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan.” Kata Harunio.


“Hhh ... sepertinya kau tidak bertarung seperti saat itu.” Kata Phinyx.


“Ya ampun, padahal aku sudah bertarung semampuku. Kau memang Emylier yang kuat dan rendah hati.” kata


Harunio dengan santai.


“Kenapa kau tidak serius bertarung melawanku?” tanya Phinyx.


“Instingmu sangat tajam, ya ...” kata Harunio.


“Saat itu kau bertarung mati-matian demi melindungi gadis itu, tetapi kenapa kau tidak menanggapi pertarungan ini dengan serius meski alasannya sama?!” tanya Phinyx.


“Karena kau tidak ada hubungannya, jadi kau tidak perlu ikut terlibat.” Jawab Harunio.


“Padahal aku yakin jika aku akan mengerti jika bisa bertemu denganmu lagi ...!” Kata Phinyx.


“Aku menantangnya karena aku kesal dengan ... uhh, siapa namanya?” tanya Harunio.


“Blues.” Jawab Phinyx.


“Oh, ya. Ini semua karena aku kesal dengan Blues, aku benar-benar marah dan ingin menghajarnya habis-habisan!Tetapi untuk saat ini, aku hanya meredam amarahku dan bermain-main denganmu.” Kata Harunio.


“Kalau begitu, lampiaskan semua perasaan itu dalam seranganmu! Aku juga akan menanggapi semangatmu itu! [Burning Feather]!” Phinyx menggunakan Skillnya sehingga Sayapnya mengeluarkan aura berwarna merah.


“Kau yakin?” tanya Harunio.


“Dari tadi kau hanya bermain-main denganku, kan? Kenapa kau tidak memperlihatkan kepadaku bagaimana kemampuanmu jikabersungguh-sungguh!” kata Phinyx.


“Hei, Darkos! Tidak apa-apa, kan?” tanya Harunio.


“Jika sesuatu yang buruk terjadi, kau akan menyesal.” Kata Darkos.


“Hmph! Mungkin tidak akan sama seperti waktu itu ...” Harunio langsung menyempurnakan kedua Extensinya, “... Tetapi aku akan menjawab semua pertanyaanmu!” kata Harunio.


"Extensinya sama seperti waktu itu, kekuatannya mungkin juga sama ... Tetapi entah kenapa aku masih terasa berbeda." Kata Phinyx dalam fikirannya, “Baiklah! Aku juga akan serius!” kata Phinyx.


“Mari selesaikan pertarungan ini ...!” kata Harunio.


“Baiklah!” kata Phinyx.


Mereka menyerang bersamaan.


“[Sword’s Spirit]!” mereka menggunakan Skill yang sama.


Feather Sword mereka mulai bertumbukan dan menggetarkan area di sekitarnya.


“...! Siapa yang akan menang?!” kata Blues.


“Kita akan tahu hasilnya nanti!” kata Finyx.


Serangan mereka telah berakhir, dibalik debu yang berterbangan hanya ada mereka berdua yang saling menahan Feather Sword satu sama lain.


“Bagaimana?” tanya Harunio.


“Sudah aku duga ...” kata Phinyx.


Feather Sword mereka mulai retak dan hancur disaat yang bersamaan.


“Baiklah, pertarungan selesai! Hasilnya seimbang!” kata Darkos.


“... kau tidak akan serius.” Kata Phinyx.


“Heheh! Maaf karena mengecewakanmu.” Kata Harunio dengan santai.


“Menahan seranganku lalu melawan dengan kekuatan yang sama, padahal aku ingin bertarung seperti saat itu.” Kata Phinyx.


“Maaf, aku tidak terlalu ingat dengan pertarungan itu.” Kata Harunio.


“Jangan bilang jika kau bertarung tanpa sadar?!” kata Phinyx.


“Ya, sepertinya begitu.”kata Harunio.


“Tidak mungkin ...”kata Phinyx.


“Apa masih ada yang harus aku jelaskan?” tanya Harunio.


“U-umm ... aku rasa tidak untuk saat ini.” Phinyx sedikit malu.


“Kau juga dari Conqueron, kan? Kalau begitu kau bisa menemuiku kapan saja.” Kata Harunio.


“Y-ya, baiklah. Ngomong-ngomong, apakah gadis itu Partnermu?” tanya Phinyx.


“...! S-sebenarnya bukan ... kami hanya satu tim ...” Harunio sedikit ragu.


“Kenapa kau bertindak sejauh ini untuknya?” tanya Phinyx.


“Y-ya, mungkin karena ... aku menyukainya ...” kata Harunio dengan pelan.


“Hmm? Ada apa?” Phinyx tidak mendengarnya.


“Ti-tidak ada apa-apa ...!” Harunio sedikit malu.


“Sudah selesai yang bermain?” tanya Darkos.


“Ya, begitulah.” Kata Harunio.


“Bagaimana dengan tugasmu?” tanya Darkos.


“Masih belum, kami baru saja makan siang. Kenapa kau tidak memberikan bekal atau uang makan?!” kata Harunio dengan kesal.


“Maaf, aku lupa.” Kata Darkos tanpa merasa bersalah.


“Apa katamu …?!” Kata Harunio dengan kesal.


“Sudahlah, lagi pula gadisi itu sudah membelikanmu makanan, kan?” Kata Darkos.


Lalu Finyx, Blues, dan Miho datang.


“Blues! Segera periksa keadaannya!” kata Finyx yang khawatir.


“Tenanglah, dilihat dari manapun dia baik-baik saja.” Kata Blues.


“Cepat lakukan!” kata Finyx sambil menginjak kaki Blues.


“...! Baiklah ...! Baiklah! Tidak perlu pakai kekerasan!” kata Blues.


“Harunio, kau tidak apa-apa?” tanya Miho.


“Ya, tidak perlu khawatir.” Kata Harunio dengan santai.


“Syukurlah.” Miho merasa lega.


“Baiklah, saatnya kembali bertugas.” Kata Darkos.


“Oh, ya. Kita hampir lupa tentang misinya.” Kata Miho.


“Kalau begitu kami akan memulainya sekarang, ayo kita pergi, Miho.” Kata Harunio.


“Baik.” Kata Miho.


Lalu mereka berdua pergi memulai misi mereka.


“Aku yakin kalian tidak datang kemari untuk mencari masalah dengan mereka.” Kata Darkos.


“T-tentu saja tidak ...!” kata Blues.


“Jika dilihat dari pembicaraan kalian beberapa saat yang lalu, sepertinya kalian pernah melawan Harunio.” Kata Darkos.


“Y-ya, begitulah. Meski tidak sengaja ....” kata Finyx.


“Kau, kenapa kau sangat membenci Harunio?” tanya Darkos kepada Blues.


“Y-ya ... mau bagaimana lagi, dia hampir membunuh Partnerku ....” kata Blues.


“Begitu rupanya, bagaimana pendapat kalian tentang pertarungan tadi?” tanya Darkos lagi.


“Yang aku tahu, saat itu Harunio-san lebih agresif saat menyerang dan tidak ragu sama sekali. Tidak seperti pertarungan tadi, sepertinya kami melawan dia yang lain.” Kata Phinyx.


“Aku sudah mendengar kabar tentang kalian berdua, anak kembar yang mewarisi Phoenix Feather. Ini belum pernah terjadi sebelumnya.” Kata Darkos.


“Sebenarnya aku tidak terkejut jika kau mengetahuinya, mengingat kau adalah Agen Conqueron.” Kata Finyx.


“Hei, Phinyx. Mungkin yang kau katakan ada benarnya.” Kata Darkos.


“B-benarkah?” tanya Phinyx.


“Apa kau percaya jika reinkarnasi kehidupan itu nyata?” tanya Darkos.


“A-aku tidak tahu ...” kata Phinyx.


“Mungkin dia yang lain memiliki hubungan denganmu di masa lalu. Tetapi itu semua sudah lewat seperti lembaran buku yang baru. Apa yang akan terjadi selanjutnya terserah kepadamu, kau tidak perlu terpaku dengan masa lalu yang tidak pernah kau jalani. Teruslah melangkah di jalan yang kau yakini.” Kata Darkos.


“Iya! Baiklah!” kata Phinyx dengan semangat.


“Bagus, sekarang pergilah! Jangan ganggu mereka!” Darkos langsung berganti ekspresi.


“Y-ya ... baiklah ...  Lagi pula hanya masalah yang akan kami dapat jika berurusan dengannya.” Kata Blues.


“Kalau begitu, kami permisi.” Kata Finyx.


Lalu mereka bertiga pergi.


“Sekarang ....” Darkos berbalik menghadap ke danau. "Apa kau memakan umpan ini?" kata Darkos


dalam fikirannya


Sepertinya Darkos ingin memancing sesuatu yang tidak biasa.