
Kilas balik sebelum pertarungan, Harunio mencoba menenangkan diri dan berfikir bagaimana langkah selanjutnya.
“Baiklah ... kalian bertiga, masih bisa bergerak?” tanya Harunio.
“Hampir tidak ...” jawab Finyx.
“Kalau begitu kalian bertiga tidak perlu ikut menyerang, karena kondisi anggota lain juga hampir mencapai batasnya akan aku pertaruhkan kemenangan pada kesempatan ini.” Kata Harunio.
“Langsung saja ke intinya ...” kata Blitz.
“Blitz, Aprilia, kalian berdua adalah ujung tombak strategi ini. Falco, Kuronia, buatlah sebuah selongsong besar seperti meriam dengan para Ace sebagai pelurunya. Aku ingin kalian mengerahkan seluruh tenaga kalian untuk serangan ini, dan habisi dia dengan sekali serangan.” Kata Harunio.
“Kau serius?” tanya Blitz.
“Ya, tentu saja.” Kata Harunio.
“Kalau aku dan Falco tidak ada masalah, tetapi apakah mereka berdua bisa?” tanya Blitz.
“H-hei ... hei ... dia akan menyerang lagi!” kata Blues.
“Sial ...! Dia tidak memberikan banyak waktu ...! Yang terpenting pulihkan dulu kondisi mereka bertiga setelah
itu bersiap!” kata Harunio.
“Baik!” kata mereka berlima.
Kembali ke medan pertarungan.
“Kuronia, pastikan arah selongsongmu tepat pada Dragrest!” kata Blitz melalui De Ordernya.
“Ya, baiklah!” jawab Kuronia yang mengatur posisi selongsongnya.
“Target sudah terlihat!” kata Aprilia melalui De Ordernya.
“Baiklah, target telah terkunci!” kata Kuronia.
“Aprilia, kau sudah siap?” tanya Blitz melalui de Ordernya.
“Y-ya, aku siap!” jawab Aprilia.
“Bagus, kau cukup mengerahkan seluruh Shard yang masih kau miliki. Setelah itu serahkan pada Chrusade.” Kata
Blitz.
“Aku mengerti.” Kata Aprilia.
“Baiklah, kita mulai!” kata Blitz yang sudah siap di dalam selongsong yang dibuat Falco.
“Baik!” jawab mereka bertiga.
Blitz dan Aprilia mulai mengumpulkan semua Shard yang mereka miliki dan bersiap melepaskannya.
“Jadi begitu ...! Dia sengaja terkena Red Blast untuk mengalihkan pandanganku dari Shadow Clone dan teman-temannya ...!” kata Dragrest dalam fikirannya.
“Bagaimana dengan persiapannya?” tanya Harunio melalui De Ordernya.
“Di sini sudah siap!” jawab Blitz.
“Aku juga!” kata Aprilia.
“Tunggu aba-aba dariku!” kata Harunio.
“Baik!” kata mereka berdua.
“Wahai kilauan cahaya suci, terangi jiwa malang ini dengan rasa sakit! [Lightning Judgement]!” Harunio menggunakan Skillnya untuk memanggil petir yang kuat.
“Tidak akan aku biarkan!” Dragrest membuat Mark Seal di sekelilingnya dan memantulkan arah serangan Lightning Judgement.
Beberapa Shadow Clone terkena pantulan Lightning Judgement dan langsung menghilang bersama dengan Dark Chain yang dibuatnya.
“Aku akan mengutuk seluruh kehidupan ...” Harunio mengacungkan jari telunjukkan ke arah Dragrest dan membuat Mark Seal di depannya.
“[Cursed Lightning]!” Mark Seal itu langsung bersinar dan mengeluarkan petir yang kuat seperti Lightning Judgement namun berwarna ungu.
Cursed Lighting mengenai Mark Seal Dragrest, Skill Harunio tidak terpantulkan namun menjalar dan melingkup seluruh Mark Sealnya.
“A-apa ...?!” Dragrest terkejut dengan serangan Harunio.
Perlahan-lahan Mark Seal Dragrest retak lalu menghilang.
“Dispell ...?!” Dragrest tidak memperkirakan hal ini terjadi.
Harunio memanggil Lightning Judgement sekali lagi dan berhasil menyambar Dragrest sehingga ia menjadi tidak
berdaya.
“Tembak!” kata Harunio.
“[Lightning Beam]!” Blitz melepaskan kumpulan Light Shard yang menciptakan ledakan energy yang kuat.
“[Great Ignition]!” Aprilia juga melepaskan kumpulan Flame Shard yang menciptakan ledakan api yang kuat.
Dengan memanfaatkan selongsong yang dibuat oleh kedua Chrusade, kedua ledakan energy bisa difokuskan pada satu titik sehingga serangan terkuat dapat dilancarkan. Dragrest yang sudah tidak berdaya ditambah jeratan dari Dark Chain membuatnya tidak bisa menghindari kedua serangan itu.
“Hebat ...” kata Miho yang kagum melihat kedua serangan dahsyat itu.
“Aku benar-benar tidak tahu seberapa jauh pengalaman bertarung Harunio-san sampai bisa memikirkan strategi ini ...” kata Phinyx.
“Tetapi, apakah dengan begini kita menang?” tanya Finyx.
“Jangan terlalu optimis! Hasilnya masih belum jelas!” kata Blues.
Kedua serangan telah berakhir, Falco langsung membatalkan Skillnya sehingga selongsong yang dibuatnya menghilang.
“Blitz! Kau tidak apa-apa?!” tanya Falco yang mengkhawatirkannya.
“Y-ya ...! Begitulah ...!” Blitz melemah karena kehabisan tenanga.
“Kemari.” Falco langsung merangkul Blitz dan membantunya bangun.
Di sisi lain juga sama, Kuronia langsung membatalkan Skillnya setelah serangan berakhir.
“Aprilia! Bertahanlah!” kata Kuronia.
“K-Kuronia ...” keadaan Aprilia lebih buruk dari Blitz sehingga pandangannya sedikit kabur bahkan suara Kuronia
terdengar sangat pelan baginya.
“Sial ...! Aku butuh Unit Supporter di sini! Cepatlah, kesadaran Aprilia mulai menghilang!” kata Kuronia melalui De Ordernya.
“A-Aprilia-chan ...?! Baiklah kalau begitu, aku akan segera ke tempatmu, Kuronia-san! Maaf, semuanya. Aku pergi
dulu!” Miho segera pergi ke tempat Kuronia.
“Kau juga pergilah, masih bisa menggunakan Healling Skill kan?” kata Finyx.
“Hhh ... padahal aku baru saja beristirahat ...” kata Blues dengan malas.
Lalu Blues pergi ke tempat Falco dan Blitz.
Dragrest langsung jatuh setelah Dark Chain yang mengikatnya lenyap bersama para Shadow Clone yang juga ikut terkena serangan.
“Baiklah ... aku sudah tidak bisa bergerak lagi. Sekarang apa yang akan kau lakukan?” kata Dragrest dalam fikirannya.
Harunio hanya diam dan memperhatikan situasi dari atas, lalu ia mengepalkan tangan kanannya secara perlahan di depan dada kirinya. Harunio menarik sebuah Dragon Blade seperti menarik pedang yang menusuk jantungnya, lalu ia mengejar Dragrest yang jatuh.
“Haha ... jadi begitu ...” kata Dragrest dengan lemah.
Harunio memberikan Shard pada Dragon Blade itu sehingga mengeluarkan aura berwarna ungu dan bersiap memotong tanduk Dragrest.
“Meski kau telah mengkhianati tuanmu, akhirnya kau kembali kepadanya lagi ...” hanya dalam sekali tebas tanduk Dragrest berhasil dipotong.
“Kuronia-san!” kata Miho dari jauh.
“Miho Shiroku ... syukurlah kau datang." Kuronia merasa lega.
"Dia memiliki 5 Ekor dari Extensi Nenbi dan Fox’s Ears?” kata Kuronia dalam fikirannya.
“Panggil aku Miho saja.” Kata Miho.
“Baiklah, Miho. Tolong, pulihkan kondisi Aprilia.” Kata Kuronia.
“Bukan Aprilia-chan saja, tetapi kau juga, Kuronia-san.” Kata Miho.
“Kau tidak perlu mengkhawatirkanku, kondisi Aprilia yang paling parah ... dia lebih membutuhkan Healing Skill dari pada aku.” Kata Kuronia.
“T-tetapi ... setelah pertarungan itu lebih baik –”
“Aku mohon, jangan menyia-nyiakan Shard yang masih kau miliki. Aku tidak apa-apa, gunakan saja pada Aprilia.” Kata Kuronia.
“B-baiklah kalau begitu.” Kata Miho.
Kuronia sedikit menjauh dari Aprilia dan menyerahkannya pada Miho.
“[Cold Healing]!” Miho membuat Mark Seal dengan ukuran 2 meter dengan Aprilia sebagai pusatnya.
Perlahan-lahan kondisi Aprilia mulai pulih berkat Healing Skill Miho.
“U-uhh ... Miho-chan ... kah?” kata Aprilia dengan lemah.
“Iya, benar.” Kata Miho.
“Aku hampir lupa ... kapan terakhir kali melihat Extensimu saat bertarung ...” kata Aprilia.
“Sudahlah, pasti sudah sangat lama.” Kata Miho.
“Aprilia ... bertahanlah!” kata Kuronia.
“Kuronia ... Tidak perlu khawatir.” Aprilia mencoba untuk bangun namun tubuhnya belum cukup kuat.
“Jangan memaksakan diri, Aprilia-chan.” Kata Miho.
“Benar juga, ya ... Terima kasih untuk Healing Skillnya.” Kata Aprilia.
“Berterima kasihlah kepada Kuronia-san yang segera memberitahukan kondisimu, aku tidak akan tahu situasi di sini
tanpanya.” Kata Miho.
“Terima kasih, Kuronia. Maaf karena merepotkanmu ...” kata Aprilia.
“Kau tidak perlu meminta maaf, yang penting kau baik-baik saja.” Kata Kuronia.
“Begitu, ya ...” kata Aprilia dengan senang.
“Sekarang beristirahatlah, pulihkan dulu kondisimu.” Kata Kuronia.
“Iya, kau benar ...” kata Aprilia.
Kuronia menggendong Aprilia dengan gaya tuan putri, dan itu membuat Aprilia terkejut.
“...! K-Kuronia ...?” kata Aprilia sambil menahan rasa malunya.
“Ada apa? Ini lebih mudah dari pada harus menggendongmu di punggungku.” Kata Kuronia.
“B-baiklah ... kalau begitu ...” kata Aprilia yang tersipu malu.
Tiba-tiba tanah bergetar diikuti suara gemuruh, itu disebabkan oleh Dragrest yang jatuh ke tanah dari ketinggian
puluhan meter.
“Kalian berdua, tolong simpan itu untuk nanti saja. Dragrest memang sudah jatuh, tetapi kita masih belum tahu
apakah pertarungan sudah berakhir atau belum.” Kata Miho.
“Benar juga ...” kata Aprilia.
“Pertama, kita harus membawa Aprilia ke tempat yang aman terlebih dahulu.” Kata Kuronia.
“Kita bisa ke tempat Finyx-san dan yang lainnya, mereka juga sudah tidak bisa melanjutkan pertarungan.” Kata Miho.
“Kalau begitu, kita ke sana.” Kata Kuronia.
“Aku akan memberitahu Blitz-san terlebih dahulu. U-umm ... Blitz-san?” tanya Miho.
“Ya, ada apa?” tanya Blitz melalui De Ordernya.
“Kondisi Aprilia-chan memburuk dan tidak bisa melanjutkan pertarungan, kami akan berkumpul di tempat Finyx-san.” Kata Miho.
“Baiklah, aku akan segera menyusul kalian ke sana.” Kata Blitz.
“Baik! Blitz-san akan segera menyusul.” Kata Miho.
“Baiklah, kita berangkat!” kata Kuronia.
Lalu mereka bertiga pergi ke tempat Finyx berada.
Setelah Dragrest jatuh di tanah, Harunio mendarat dan berjalan mendekatinya sambil bersiap menyerang menggunakan Dragon Bladenya.
“Sial ...! Harusnya aku menggunakan Wind of Refuse saat masih terbang ...!” kata Harunio.
Debu yang berterbangan mempersempit jarak pandangnya.
“U-ughh ...!” tiba-tiba terdengar suara seseorang.
“Dari sana!” Harunio mempercepat langkahnya menuju sumber suara.
Perlahan-lahan Dragrest mulai terlihat, ia sudah tidak berdaya bahkan tidak bisa mengangkat kepalanya.
“Jadi, ini akhirnya?” kata Harunio di depan Dragrest.
“Ya ... seperti itulah.” Kata Dragrest.
“Tunggu dulu, aku tidak akan memaafkanmu jika mati saat ini.” Kata Harunio.
“Haha ... bercandamu buruk sekali.” Kata Dragrest.
“Aku serius, kembalikan Dragon Blade Leviathan dan jelaskan apa maksudmu melakukan ini semua.” Kata Harunio sambil mengacungkan Dragon Blade ke arahnya.
Dragrest langsung memuntahkan Dragon Blade Leviathan dan menancap di dekat tanduknya yang telah terpotong.
“Ya ampun ... menjijikkan sekali ...” Harunio membuat angin kencang yang bertiup ke arah Dragon Blade itu untuk
menghilangkan air liur Dragrest.
“Uhh ...! Setelah aku fikir lagi ... akan aku ambil nanti saja, lalu bagaimana dengan penjelasannya?” tanya Harunio.
“Hhh ... beri aku waktu untuk bernafas ...” kata Dragrest.
“Baiklah, waktumu sudah habis. Sekarang jelaskan.” Kata Harunio.
“Haha, dasar tidak sabaran. Pertama, biar aku berikan sesuatu padamu.” Kata Dragrest.
“Huh? Apa maksudmu?” tanya Harunio.
“Lihatlah ke sana.” Dragrest meminta Harunio melihat ke arah potongan tanduknya.
Potongan itu langsung bersinar.
“T-tidak mungkin ...!” Harunio terkejut dengan apa yang ia lihat.