
Setelah mengabsen di gerbang utara, Harunio memerintahkan semua anggota timnya untuk kembali sementara dia sendiri yang akan melapor ke Headquarters.
“Oh, Harunio rupanya. Leadro-sama sudah menunggumu.” Kata salah satu resepsionis.
“O-ohh ... baiklah.” Kata Harunio.
Belum ada lima detik dia berada di loby dan dia langsung mendapat panggilan, lalu Harunio pergi ke ruangan Yudai
ditemani oleh resepsionis dari loby. Begitu sampai di depan ruangannya, dia langsung mengetuk pintu.
“Masuklah.” Kata Yudai dari dalam ruangan.
“Leadro-sama, saya mengantarkan Harunio yang telah kembali dari misi.” Kata resepsionis.
“Ya, kau bisa kembali.” Kata Yudai.
“Saya permisi.” Lalu resepsionis itu meninggalkan ruangan.
Yudai berdiri dari kursinya dan berjalan menuju Harunio.
“Ada apa? Tidak perlu setegang itu, kau tidak seperti biasanya saja.” Kata Yudai.
Harunio hanya menatap Yudai dengan serius tanpa berkata-kata, Yudai berhenti dalam jarak 3 meter di depanya.
“Hm? Masih diam rupanya ... baiklah, terserah kau saja.” Yudai berbalik dan berjalan kembali menuju kursinya.
“Sialan!!” Harunio langsung membuat Feather Sword dan menyerang Yudai.
“Hmph! Akhirnya kau mulai bicara!” Yudai menahan serangan Harunio dengan Feather Sword berwarna hitam seperti Harunio.
“Diamlah ...!” Harunio melanjutkan serangan.
Namun Yudai dapat menghindari dan menahan serangannya dengan mudah meski bertarung di dalam ruangan yang tidak terlalu luas.
“Kau benar-benar tidak berkembang, ya. Tenangkan dulu fikiranmu, fokus dengan musuh dan apa yang ada di sekitarmu ...” Harunio menebaskan pedangnya tanpa arah sehingga menggores dinding, lantai, langit-langit, dan menghancurkan properti ruangan.
“... lalu ...” Yudai menghindari serangannya dan melawan balik sehingga Feather Sword Harunio terlepas dari genggamannya.
“...! Gawat ...!” Harunio mulai panik.
Yudai menebaskan Feather Swordnya.
“... waspadalah.” Yudai menghentikan serangannya tepat sebelum pedang itu menyentuh leher lawannya.
Harunio menelan ludahnya dan terlihat sangat panik.
“Selain itu, jaga ucapanmu!” Yudai memukul kepala Harunio dengan pelan menggunakan bilah Feather Swordnya dengan pelan.
“Ya ampun, belajarlah untuk mengendalikan emosi.” Yudai menonaktifkan Dimmension Link yang dia gunakan untuk memanipulasi ruangan sehingga semua kembali seperti semula.
“A-aku ...” Harunio sedikit ragu mengatakannya.
“Ya, wajar saja jika kau lebih marah dari biasanya. Kenapa kau tidak menggunakan Dragon Blade untuk menyerangku? Jika menggunakannya kau mungkin bisa menyudutkanku tadi.” Kata Yudai.
“Dengarkan aku!” Kata Harunio.
“Baiklah.” Yudai kembali ke kursinya.
“Sampai kapan kau akan memberikan misi palsu kepadaku?!” Harunio sangat marah karena ini bukan pertama kalinya dia mendapat misi dengan informasi palsu dari Yudai.
Bagi Harunio, misi dengan informasi palsu sama dengan meragukan kemampuannya.
“Ternyata hanya karena itu ...” Yudai menanggapinya dengan santai.
“Apanya yang 'hanya’ ...?!” Kata Harunio dengan kesal.
“Sebenarnya aku ingin bilang 'diam dan ikuti saja perintahku’ , tetapi kali ini akan aku beri sedikit penjelasan. Pertama, apa aku berbohong tentang informasinya?” Tanya Yudai.
“...! Y-ya ... -”
“Semua berdasarkan apa yang terjadi di lapangan, mulai dari benda, tempat, bahkan pelakunya. Tujuan yang sebenarnya misi ini adalah mencari tempat yang aman untuk melawan Dragrest.” Kata Yudai.
“K-kenapa kau tahu tentang Dragrest ...?” Harunio sedikit terkejut.
“Karena aku yang mengatur seluruh pertarungan ini.” Jawab Yudai dengan singkat.
“J-jadi selama ini ...” Harunio benar-benar terkejut jika Yudai telah merencanakan semua ini.
“Jangan bercanda, tidak semuanya memiliki motif yang sama.” Kata Yudai.
“Lalu kenapa kau melakukannya selama ini?!” Kata Harunio dengan kesal.
“Kau ingin aku menjawab apa?” Kata Yudai dengan santai.
“Katakan yang sebenarnya ...!” Kata Harunio.
“Untuk melatih dan memantau perkembanganmu.” Kata Yudai.
“Hah ...? Kau sebut itu pelatihan?!” Harunio memanas lagi.
“Ya ampun ... kau ini berisik sekali. Itu adalah cara paling efektif untuk melihat perkembanganmu.” Kata Yudai.
“Jika semua itu ditujukan untukku, kenapa yang lain ikut terlibat?! Mungkin Kuronia tidak memperdulikannya, tetapi
anggota lain tidak sama sepertinya! Apa kau tahu jika kami bertarung mati-matian melawan Dragrest?!” Kata Harunio.
“Soal pertarungan itu, Dragrest sendiri yang ingin melihat hargamu.” Kata Yudai dengan singkat.
“Sial ...! Dia benar-benar tidak bisa dimaafkan ...!” Kata Harunio.
“Dia halnya ingin menguji kemampuan kalian, tentu saja aku akan bertanggung jawab jika sesuatu yang buruk terjadi.” Kata Yudai.
“Tetapi tidak perlu melibatkan mereka juga ...!” kata Harunio.
“Sudahlah, meski ini adalah misi palsu namun kau tetap mendapatkan imbalannya. Jika sesuai dengan target ...” kata Yudai dengan pelan.
“Apa?” Harunio sedikit mendengarnya.
“Tidak bukan apa-apa.” Kata Yudai.
“Memangnya kenapa? Kau lupa jika masih punya hutang yang harus kau lunasi?!” Kata Yudai.
“...! J-jangan mengalihkan pembicaraan ...!” kata Harunio.
“Kesepakatannya masih sama, lunasi hutangmu atau hancurkan ruangan itu.” Kata Yudai.
“Baik, baiklah ... bersabarlah sedikit, pendapatanku hanya dari misi yang kau berikan ...!” kata Harunio dengan kesal.
“Memangnya apa yang terjadi dengan kerja sampinganmu?” Tanya Yudai.
“...! Y-ya ... itu ... a-aku tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya ...” kata Harunio.
“Katakan saja apa yang ada, kau masih ingat dengan apa yang terjadi kan.” Kata Yudai.
“T-tetapi bagaimana jika keadaan semakin memburuk?” Harunio semakin panik.
“Kejadian itu adalah tanggung jawab Darkos, seharusnya dia sudah mengatasi masalah ini.” Kata Yudai.
“B-benarkah ...?” Kata Harunio.
“Kenapa kau tidak datang ke sana dan pastikan dengan kedua matamu sendiri.” Kata Yudai.
Harunio hanya diam memikirkan tentang pekerjaan sampingannya yang bermasalah.
“Sudahlah, kau terlalu khawatir. Jika Darkos sampai lupa mengurus masalah ini aku sendiri yang akan menghajarnya, percayalah.” Kata Yudai.
“T-tetapi ...” Harunio masih ragu.
“Akan aku beri kompensasi.” Kata Yudai.
“Baiklah kalau begitu.” Kata Harunio dengan spontan.
“Dasar ... jika menyangkut uang kau langsung setuju ...” kata Yudai.
“Mau bagaimana lagi, aku membutuhkannya.” Kata Harunio.
“Hhh ... aku menyesal karena khawatir ...” kata Yudai.
“Kalau begitu aku pergi dulu, Yudai!” Kata Harunio lalu meninggalkan ruangan.
“Ya, baiklah.” Kata Yudai.
Hari sudah siang, itu waktu yang pas untuk datang ke sana karena bisa sekalian mencari makan siang. Keadaan di
restoran tampak seperti biasanya, tidak banyak yang berubah meski karyawannya berkurang.
“Sepertinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan ... baguslah.” kata Harunio.
“Oh, ternyata Harunio! Kau sudah kembali secepat ini?” kata seniornya.
“Y-ya, begitulah ... tidak apa-apa kan jika hari ini aku belum masuk?” Kata Harunio.
“Ya, terserah kau saja. Lagi pula gaji yang kau terima tergantung dari absensimu.” Kata seniornya.
“B-benar juga, ya ... heheh. Kalau begitu, tolong menu yang seperti biasanya.” Kata Harunio yang memesan makan siangnya.
“Baiklah, silakan duduk sambil menungu pesananmu.” Kata seniornya.
“Terima kasih.” Lalu Harunio mencari tempat duduk yang kosong.
Ia sengaja mencari duduk yang sedikit jauh dari pelanggan lain dan membaca informasi yang diupdate pada De Ordernya.
“Ada apa? Kau tidak terlihat seperti biasanya.” Kata manajernya.
“...! Pak Rein!” Harunio sedikit terkejut.
“Boleh aku duduk?” Tanya manajernya
“I-iya, silakan.” Kata Harunio.
“Aku kira hal buruk juga menimpamu, sayangnya kondisi Teo masih belum membaik.” Kata manajernya.
“Y-ya ... soal itu ...” Harunio ragu mengatakannya.
“Syukurlah kau selamat dari kejadian itu.” kata manajernya.
“E-ehh ... kejadian ...?” Harunio benar-benar tidak tahu arah pembicaraan ini.
“Serangan yang terjadi di taman Luvana beberapa hari yang lalu, saat itu kalian berada di sana kan.” Kata manajernya.
“A-ahh, ya ... kejadian itu ...! Sayangnya itu benar-benar terjadi, dan ... aku merasa sangat bersalah.” Kata Harunio.
“Sebenarnya apa yang menyerangnya?” Tanya manajernya.
“A-aku tidak terlalu mengerti soal detailnya, tetapi yang aku tahu malam itu Teo telah berjuang sekuat tenaga melawan musuh. Bahkan setelah membangkitkan Extensi sempurnanya, dia masih bukan apa-apa tandingan bagi musuhnya. Teo terus berjuang meski tubuhnya terluka parah, lalu akhirnya bantuan dari Agen Conqueron datang. Teo yang terluka parah langsung dilarikan menuju rumah sakit Conqueron.” Kata Harunio.
“Begitu rupanya, salah satu Agen Conqueron juga memberikan informasi yang serupa. Karena kerusakan yang terjadi, taman itu ditutup untuk sementara.” Kata manajernya.
“B-begitu, ya ...” kata Harunio.
“Ternyata rumor tentang taman itu benar-benar terjadi, tempat itu berbahaya setelah matahari terbenam.” Kata
manajernya.
“Waktu itu adalah pertama kalinya aku ke sana, aku juga baru tahu tentang rumor itu ...” kata Harunio.
“Apapun yang terjadi, kau harus bersyukur karena masih selamat. Maaf mengganggu waktu makan siangmu.” Kata manajernya lalu berdiri.
“T-tidak sama sekali, seharusnya aku yang harus menemui anda dengan segera.” Kata Harunio.
“Tidak apa-apa, pastikan kau meminta maaf jika membuat kesalahan. Sampai nanti.” Kata manajernya lalu pergi.
“U-uhh ... ya, baiklah. Apakah dia tahu kejadian yang sebenarnya ...?” Kata Harunio dalam fikirannya.
Pak Rein terlihat menyembunyikan sesuatu dari Harunio.