Dimension - Y

Dimension - Y
Arc 1 - Preparation



“Hei, kalian berdua. Tunggu aku.” Kata Blues.


“Cepatlah sedikit, dasar lamban.” Kata Falco.


“Berisik ... selain itu, kenapa kalian bisa langsung  mempercayai Harunio begitu saja?” tanya Blues.


“Sejak di akademi, aku selalu mempercayakan komando kepada Harunio. Dia selalu bisa menemukan jalan keluar saat kami kesulitan.” Kata Kuronia.


“Bukankah kau berlebihan ... lalu bagaimana denganmu?” tanya Blues kepada Falco.


“Saat itu adalah misi pertamaku dan Blitz, kami melakukan pengintaian selama hampir satu minggu bersama Harunio dan Kuronia. Kami membawa barang-barang kami dalam tas Backpack karena belum terbiasa menggunakan De Order. Dan akhirnya seperti yang kau dengar tadi, aku membuat persediaan Blitz hanyut saat menyebrangi sungai. Saat itu kondisi Blitz memburuk, lalu Harunio dan Kuronia terpaksa membagikan persediaan makanan mereka. Sebenarnya Harunio yang paling kesulitan karena tidak suka daging.” Kata Falco.


“Kenapa hanya kau sendiri yang tidak setuju dengan keputusan Leadro-sama?” tanya Kuronia.


“...! I-itu ...” Blues sedikit ragu menjelaskannya.


“Jika ini pertama kalinya kau menjalankan misi bersama Harunio, reaksimu tidak akan seperti itu. Kenapa kau tidak mempercayainya?” tanya Kuronia.


“I-itu ... tentu saja ... Karena dia hampir membunuh Partnerku.” Kata Blues.


“Jaga mulutmu itu ...! Harunio tidak akan pernah melakukan hal buruk seperti itu!” Kuronia langsung menarik kerah Blues karena tidak terima dengan penjelasan darinya.


“M-maaf, maaf ...! Membunuh memang terlalu berlebihan ... tetapi ...!” kata Blues.


“Tetapi apa?!” tanya Kuronia dengan kesal.


“Dia benar-benar menyerang Finyx tanpa ragu ...!” kata Blues.


“Finyx ...? Partnermu?” lalu Kuronia melepaskan Blues...


“Ya, benar ...!” kata Blues.


“Apa yang terjadi?” tanya Falco.


“Pada awalnya kami tidak sengaja bertemu dengannya, saat itu Miho sedang diculik oleh beberapa perampok dan kami mengejarnya sementara Harunio sedang bertarung melawan perampok lain yang menghalanginya.” Kata Blues.


“Lalu kenapa dia menyerang Partnermu?” tanya Falco.


“Aku tidak tahu, tetapi kami bertiga juga sempat bertarung melawannya setelah berhasil mengejar para perampok. Saat itu dia seperti menjadi Harunio yang lain, kami hanya ingin membantunya menyelamatkan Miho, tetapi dia melihat kami seperti para perampok itu ...!” Kata Blues.


“Dan sejak saat itu kau membencinya?” kata Falco menyimpulkan.


“Tentu saja! Tidakannya saat itu benar-benar tidak bisa dimaafkan ...!” kata Blues.


“Dalam misi gabungan, hal yang paling penting adalah kepercayaan setiap anggotanya. Aku ingin kau membuang semua pendapatmu itu dan fokus dengan misi ini, aku yakin jika Harunio dapat membalikkan fakta yang terlintas di fikiranmu.” Kata Kuronia.


“T-terserah saja ...” kata Blues.


“Dengan dirimu saat ini, kau hanya akan menjadi beban bagi anggota lain karena terlalu memikirkan diri sendiri.” Kata Kuronia.


“Baiklah ... baiklah ...! Aku mengerti!” kata Blues.


“Baguslah, kita hampir sampai.” Kata Kuronia.


“Baiklah! Saatnya berbelanja!” kata Falco.


“Memangnya kau ini perempuan ...?” kata Blues dengan pelan.


Sementara itu, di sisi lain.


“Bukankah itu Blitz-san ...?” kata Miho setelah melihat seorang perempuan yang berjalan di belakangnya.


“Oh, ya. Itu dia.” Kata Aprilia.


Mereka berdua berhenti sejenak.


“Huh? Ada apa?” tanya Blitz.


“T-tidak ... tidak ada apa-apa.” Kata Aprilia.


“Kau juga kembali ke asrama?” tanya Miho.


“Ya, benar.” Kata Blitz.


"Mari berangkat bersama." kata Miho.


"Terserah saja." kata Blitz dengan acuh.


Mereka bertiga melanjutkan perjalanan bersama-sama.


“Ngomong-ngomong, kau adalah Partnernya Kuronia kan? Aku sedikit terkejut saat pertama kali mendengarnya.” Kata Blitz.


“Eh?! A-Aprilia-chan ...?! Aku juga baru tahu!” Miho juga terkejut mendengarnya.


“A-ahaha ...! Bagaimana, ya ... Kuronia sendiri yang menanyakannya langsung kepadaku ...!” kata Aprilia.


“Ohh ... ternyata dia bisa juga.” Kata Blitz.


“K-kenapa kau tidak memberitahuku?!” tanya Miho.


“Tenang ... tenanglah ... Itu baru saja terjadi ... Selain itu, aku juga baru tahu jika kau menjadi Partner Harunio.” Aprilia berusaha menanggapinya dengan tenang.


“...! Y-ya ... itu juga baru saja terjadi ...” Miho sedikit malu mengatakannya.


“Kalian berdua ini sama saja ...” kata Blitz.


“A-ahaha ... ya, begitulah. Sepertinya kau lebih tahu tentang Kuronia, ya.” Kata Aprilia kepada Blitz.


“Dulu kami pernah satu tim dalam beberapa misi gabungan, tetapi tidak banyak yang aku ketahui. Dia memang tidak banyak bicara dan cenderung tertutup, sementara Harunio kebalikan dari Kuronia.” Kata Blitz.


“Blitz-san juga tahu tentang Harunio?” tanya Miho.


“Tidak banyak yang aku ketahui, hanya beberapa hal saja. Sejak awal mereka berdua selalu bersama, mereka seperti dua sisi dari mata uang.” Kata Blitz.


“Kalau aku pernah melawan Harunio-san!” kata Phinyx.


“...! Sejak kapan ...” Miho terkejut karena baru menyadari Phinyx yang sudah berjalan bersama mereka.


“Phinyx ...!” Finyx menegur adiknya.


“Benarkah? Lalu bagaimana?” tanya Blitz.


“Aku yang menang!” kata Phinyx.


“B-benarkah?” Blitz sedikit terkejut.


“Ya! Tentu sa –”


“Secara teknis, hasilnya seimbang.” Finyx menyela pembicaraan.


“Tadi dia bilang menang.” Kata Aprilia.


“Itu saat kami bekerjasama melawannya, tetapi saat duel satu lawan satu hasilnya seri.” Kata Finyx.


“Yah, aku sudah menduga itu.” Kata Blitz.


“Tetapi menang tetaplah menang!” kata Phinyx.


“Iya, iya baiklah ... Kau memang adik perempuanku yang hebat!” kata Finyx sambil menepuk-nepuk kepala adiknya.


“Tehehe ~ Aku tahu itu!” kata Phinyx.


Lalu mereka melanjutkan perjalanan ke asrama bersama-sama.


- - -


Waktu yang diberikan Harunio sudah habis, para Emylier pergi ke luar Fortrees melewati gerbang utara.


“Huh? Bukankah itu ...” kata Falco.


“Ya, seperti yang kau lihat.” Kata Blitz.


“Huh? Astaga ...! Apa saja yang kalian lakukan ...?!” Harunio sudah menunggu mereka di luar Fortrees.


“Seperti yang kau katakan, kami hanya memanfaatkan waktu 15 menit yang kau berikan.” Kata Kuronia.


“Haha, hanya bercanda. Aku juga baru sampai!” kata Harunio.


“Jangan membuat kami khawatir, Harunio.” Kata Miho.


“Haha, maaf-maaf!” Harunio menanggapinya dengan santai.


“Dasar ...” Blues tidak menyukai sikap Harunio.


“Baiklah, seperti yang kalian ketahui waktu kita sangat terbatas. Kita harus sampai di gunung Stohelm lebih dahulu sebelum para perampok. Karena tidak ada waktu untuk mencari transportasi, kita akan berangkat menggunakan Extensi masing-masing!” kata Harunio.


“Baik!” jawab mereka.


Miho terlihat ragu karena dia satu-satunya Emylier Nenbi dalam tim.


“Ada apa, Miho?” tanya Aprilia.


“...! U-uhh ... t-tidak, tidak ada apa-apa ...” kata Miho.


“Miho, kau masih tidak yakin dengan dirimu sampai saat ini?” tanya Harunio.


Miho hanya mengangguk dengan pelan.


“Maaf, aku salah bertanya. Sampai kapan kau ragu dengan dirimu sendiri?!” tanya Harunio.


“Tidak, kau salah, Aprilia-chan. Padahal latihan ini baru saja dimulai ..! Maafkan aku, Harunio. Aku hampir saja lupa!” Miho kembali bersemangat.


“Baguslah jika kau masih bersemangat." kata Harunio.


“Latihan ...? Apa saja yang kalian lakukan?” tanya Aprilia.


“Hanya sebuah latihan yang menyenangkan.” Kata Harunio dengan singkat.


“Tenang saja, kau terlalu khawatir.” Kata Miho.


“Y-ya ... karena aku tidak tahu banyak tentang Harunio ...” kata Aprilia.


“Sudahlah, tidak perlu khawatir. Lagi pula Harunio itu Emylier yang baik.” Kata Miho.


“Kau yakin ...?” Aprilia masih tidak percaya.


“Maaf, kawan. Sepertinya ini akan melelahkan.” Kata Harunio kepada Kuronia.


“Tidak perlu dihiraukan, ini sudah resikonya.” Kata Kuronia.


“Memangnya ada apa?” tanya Aprilia.


“Oh, tidak ada apa-apa. Hanya saja beberapa anggota akan sedikit tertinggal karena tidak memiliki Extensi Winbi.” Kata Harunio.


“Tidak bisa terbang, ya. Phinyx, bagaimana menurutmu?” tanya Finyx kepada adiknya.


“Serahkan saja kepadaku!” lalu Phinyx berjalan menuju tempat yang lebih lapang.


“Wahai makhluk suci yang menjadi tangan dan kakiku, dengarkanlah panggilanku, datanglah kepadaku, lalu pinjamkan aku kekuatanmu! [Kolus : Bohren]!” Phinyx menggunakan Skill untuk memanggil Mountnya.


Mark Seal dengan diameter 15 meter muncul di bawahnya dan mulai bercahaya, sesosok Mount muncul secara perlahan-lahan.


“I-ini ...!” kata Falco.


“Baru pertama kali aku melihatnya ...” kata Blitz.


“Hebat ...!” kata Aprilia.


Miho hanya terdiam tanpa bisa mengatakan sepatah kata.


“Jadi mereka benar-benar ada ...” kata Kuronia.


“Tunggu sebentar, seekor naga?!” Harunio tidak percaya dengan apa yang ia lihat.


“Tentu saja! Dragrest akan memberikan tumpangan bagi anggota yang tidak bisa terbang.” kata Phinyx yang berdiri di atas kepala naga tersebut.


“Kalian seharusnya berterima kasih karena –”


“Kau cukup diam saja.” Finyx langsung memukul partnernya.


Perlahan-lahan naga tersebut menunduk dan melihat Harunio dari dekat.


“...! Terjadi lagi ...!” Harunio sedikit takut.


Phinyx langsung melompat turun dari atas kepala Mountnya.


“Namanya adalah Dragrest, dia adalah Mountku!” kata Phinyx sambil sedikit menjulurkan lidahnya.


“Aku kira kau yang sudah memanggilku.” Kata Dragrest kepada Harunio.


“Eeehh ... maaf, aku tidak mengerti ...” Harunio benar-benar tidak tahu dengan apa yang Dragrest bicarakan.


“Tunjukkan harga yang kau miliki.” Harunio mendengar sebuah bisikan.


“...! Suara ini ...! Leviathan!” kata Harunio dalam fikirannya.


Harunio membuat sebuah Mark Seal ukuran kecil dan muncul sebuah pedang, lalu ia mengambil pedang tersebut dan menancapkannya ke tanah.


“...! Pedang Leviathan ... jadi begitu ...” kata Dragrest.


Tiba-tiba Dragrest berujud di depan Harunio.


“...! A-apa yang terjadi ...?” Phinyx terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.


Semua anggota juga terkejut melihatnya.


“...! A-apa yang harus aku lakukan ...?!” Harunio sedikit panik.


“Hhh ... dasar payah. Tunjukkan sedikit kewibawaanmu!” kata Kokuryuu.


“O-oh! B-baiklah ...!” kata Harunio dalam fikirannya.


“Angkat kepalamu, Dragrest.” Kata Harunio.


Lalu Dragrest kembali ke posisi normal, dan Harunio membuat Mark Seal dengan ukuran yang sama untuk menyimpan Dragon Blade milik Leviathan.


“Hei, Dragrest! Apa yang terjadi?!” Phinyx sedikit kesal.


“Tidak, tidak ada apa-apa.” Kata Dragrest.


“Sudah jelas ada sesuatu yang terjadi! Aku tidak pernah melihatmu seperti itu!” kata Phinyx.


“Kau terlalu curiga.” Kata Dragrest.


“Kawan, apa yang terjadi?” tanya Kuronia.


“Maaf, kita tidak punya banyak waktu. Kuronia, Miho, kalian berdua naiklah ke punggung Dragrest. Kita berangkat sekarang!” kata Harunio.


“T-tetapi ... itu sedikit ... E-ehem ...! Maaf, kawan. Lebih baik aku berangkat dengan tenagaku sendiri jika seperti itu.” kata Kuronia.


“Ya ampun ... masih saja memikirkan hal sepele ...! Tetapi aku juga tidak akan memaafkanmu jika terjadi sesuatu pada Miho ...” kata Harunio.


“Aku hanya ingin menghindari masalah yang mungkin akan terjadi.” Kata Kuronia.


“Kalau begitu aku juga ingin menunggangi Dragrest.” Phinyx langsung menawarkan diri.


“...! A-aku juga!” kata Blues.


“Hhh ... Dragrest, kau bisa?” tanya Harunio.


“Sepertinya temanmu itu sedikit sensitif dengan perempuan, Phinyx dan gadis Nenbi itu bisa naik ke punggungku, sisanya biar aku bawa dengan kedua tanganku.” Kata Dragrest.


“Baiklah, bagaimana dengan kalian?” tanya Harunio.


“Aku tidak keberatan sama sekali.” Kata Kuronia.


“...! S-setelah aku fikir kembali ... lebih baik aku berangkat menggunakan Extensiku sendiri ...” kata Blues.


“Sudah ditentukan! Ayo, Miho-san!” kata Phinyx.


“I-iya ... panggil aku dengan Miho saja.” Kata Miho.


“Baiklah!” Kata Phinyx.


Lalu Miho dan Phinyx naik ke punggung Dragrest.


“I-ini sedikit menakutkan ...” kata Miho.


“Tenang saja, tidak perlu khawatir! Dragrest tidak akan melukai siapapun!” kata Phinyx.


“Ngomong-ngomong, seberapa tajam kuku naga?” tanya Kuronia yang berdiri di telapak tangan Dragrest.


“Setidaknya cukup untuk memotong pohon dari Fortrees dengan mudah.” Jawab Dragrest.


“Hmm ... menarik.” Kata Kuronia.


Pohon yang tumbuh di Fortress rata-rata memiliki diameter sebesar 3 meter.


“...! K-Kuronia-san, apa tidak berbahaya jika kau terlalu dekat dengan cakar tersebut ...?” kata Miho.


“Huh? Akan lebih berbahaya jika aku terus berada di dalam cengkramannya, lagi pula dengan begini aku bisa lebih mudah memposisikan diri.” Kata Kuronia.


“Emylier Peringkat pertama memang hebat ...!” Phinyx kagum pada Kuronia.


“Baiklah, aktifkan Extensi kalian!” kata Harunio.


Semua anggota langsung mengeluarkan sayap mereka.


“Misi gabungan dimulai! Tujuan kita adalah Gunung Stohelm! Yang sampai di sana setelah matahari terbenam akan mendapat hukuman!” Harunio langsung melompat sambil mengeluarkan Extensinya dan terbang dengan cepat ke arah utara.


“...! Sial ...! Dia seenaknya saja membuat peraturan!” Blues langsung terbang menyusul Harunio.


“Tidak perlu buru-buru kan.” Kata Finyx yang terbang mengikuti Blues.


“Hmph! Dasar lamban.” Blitz langsung melompat dan terbang dengan kecepatan tinggi seperti kilat.


“Ya ampun ... bagaimana aku bisa menyusulmu dengan kecepatan seperti itu.” Kata Falco.


“Hebat ...!” kata Miho.


“Cepat, Dragrest! Jika sampai kita terlambat kau akan aku hukum!” kata Phinyx.


“Baik, baik.” Kata Dragrest dengan santai.


Misi gabungan tim Harunio dimulai.