
Setelah keributan yang terjadi di depan rumah selesai, Harunio dan Miho pergi ke ruang latihan di rumah Harunio.
“Ayo, Miho. Turunlah pelan-pelan.” Kata Harunio.
“B-baik ...! Kyaaah!!” Miho menjerit.
Miho langsung jatuh ke pelukan Harunio.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Harunio.
“I-iya ...” jawab Miho.
“Apa ada yang sakit?” tanya Harunio.
“U-uhh ... sedikit.” Jawab Miho.
“Maaf ... lain kali akan aku tambah penerangan dan pegangan agar kau tidak terpeleset saat menuruni tangga.” Lalu Harunio menggunakan Skillnya untuk menyembuhkan kaki Miho yang sedikit terkilir.
“M-maaf, merepotkan ...” kata Miho.
“Tidak apa-apa, sekarang bagaimana?” tanya Harunio.
“U-um, sudah lebih baik.” Jawab Miho dengan senyumannya.
“Baguslah.” Kata Harunio.
Mereka melanjutkan langkah mereka menuruni tangga ke ruang latihan yang berada di bawah tanah. Setelah sampai, Harunio memasukkan password yang digunakan untuk mengunci pintu ruangan.
“Baiklah, selamat datang di ruang latihanku.” Kata Harunio sambil membuka pintu ruangan.
“Umm ... apa ruangan ini selalu gelap?” tanya Miho.
Lalu Harunio menjentikan jarinya, dengan seketika lampu ruangan lansung menyala.
“Wah ... kosong?” kata Miho.
“Aku tidak membutuhkan peralatan karena ruangan ini dilengkapi dengan fitur yang tidak ada di tempat lain.” Kata Harunio.
“Misalnya?” tanya Miho.
“Mari kita mulai dengan tempat yang masih kau kenali, [Projection Start! Mode : Luvana]!” ruangan itu langsung bersinar dan berubah menjadi Taman Luvana.
Miho terkejut setelah membuka matanya.
“Wahh!! Hebat!” Miho kagum dengan ruang latihan Harunio.
Semua terlihat mirip dengan Taman Luvana yang asli.
“Hei, Harunio. Apa saja yang bisa dilakukan ruangan ini?” tanya Miho.
“Memproyeksikan objek atau tempat sedetail mungkin, tergantung dari data yang dimasukkan. Aku juga bisa mengubah latar waktunya.” Kata Harunio lalu mengubah waktu yang diproyeksikan dari siang menjadi malam.
“Meski hanya memproyeksikan saja ... ini semua sungguh hebat dan indah!” kata Miho.
“Lihat yang ini juga.” Kata Harunio.
Lalu sebuah lingkaran yang terang mucul, dan sesosok Emylier keluar dari lingkaran tersebut.
“Dia ... Teo-kun?!” Miho tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
“Bukan Teo sepenuhnya, dia hanya data bertarung Teo yang aku rekam saat bertarung dengannya di taman. Kali ini
dia akan menjadi lawan bertarungmu.” Kata Harunio.
“E-eh? A-aku harus bertarung sekarang?” tanya Miho.
“Ada apa, Miho?” tanya Harunio.
“T-tidak apa-apa ... hanya saja ... umm ...” Miho tidak tahu bagaimana menjelaskannya.
“Jangan bilang jika kau tidak memiliki pengalaman bertarung sama sekali?” Harunio sedikit terkejut.
“I-iya ... begitulah. Bahkan saat di akademi aku selalu kalah saat berlatih tanding ...” kata Miho.
“Aku tidak terlalu ingat soal itu ...” kata Harunio dengan pelan.
“Ini mungkin aneh ... tetapi aku lebih suka jika masalah bisa selesai tanpa bertarung.” Kata Miho.
“Hmm ... karena itu kau tertarik dengan Blessed Healing yang aku gunakan, ya ...” kata Harunio.
Miho hanya mengangguk dengan malu.
“Hmm ... posisi unit medis memang diperlukan untuk sebuah tim yang beranggotakan beberapa Emylier ...” kata Harunio.
“Mungkin unit medis adalah posisi yang tepat untukku.” Kata Miho.
“Tetapi, meskipun unit medis jarang bertarung itu bukan berarti semua unit medis tidak bisa bertarung.” Kata Harunio.
“B-begitu, ya ...” Miho terlihat putus asa.
“Sudah aku putuskan!” kata Harunio.
“A-ada apa, Harunio?” tanya Miho.
“Aku akan melatihmu meski harus mulai dari awal lagi.” Kata Harunio.
Miho sempat merasa senang, namun suasana hatinya langsung berubah.
“Tetapi ... aku tidak ingin merepotkan –”
“Dengan senang hati aku lakukan!” kata Harunio dengan yakin.
“Tetapi ... aku tidak tahu apakah aku bisa ...” Kata Miho.
“Akan aku ulangi lagi. Miho, apa kau ingin aku melatihmu di sini?” tanya Harunio.
“I-iya! M-mohon b-bimbingannya, S-Sensei!” Miho mencoba untuk membulatkan tekadnya.
“Haha, tidak perlu memanggilku Sensei juga.” Kata Harunio.
“K-kalau begitu ... Senpai?” kata Miho dengan wajah polosnya.
Harunio langsung merasakan efek Heavently Lock.
“...! Panggil saja dengan namaku seperti biasa ...” Harunio sedikit malu.
“Baik! Mohon bimbingannya, Harunio!” kata Miho dengan senang.
“Y-ya, baiklah." kata Harunio.
"Sial, efek Heavently Lock lebih sering terasa jika dari Miho ... Sebenarnya ada apa ini ...?” kata Harunio dalam fikirannya.
“Lalu, kapan kita mulai?” tanya Miho.
“...! Y-ya, bagaimana kalau kita mulai sekarang.” Kata Harunio.
“B-baik!” kata Miho.
“Pertama-tama, jelaskan tentang kemampuanmu.” Kata Harunio.
“Baik, kami Emylier dari Klan Shiroku secara umum memiliki extensi Nenbi dan memiliki Cold Shard. Klan Shirok juga termasuk dalam garis keturunan Yumiho, selain memiliki Elemental Shard kami juga bisa memiliki kemampuan Yumiho.” Kata Miho menjelaskan.
“Hmm ... jika seperti itu, bukankah kau memiliki kemampuan yang lebih cocok menempati posisi Ace?” kata Harunio.
“Tetapi aku hanya menyia-nyiakan kemampuan itu karena tidak bisa bertarung.” Kata Miho.
“Meski begitu, kau juga tidak boleh menyerah. Tidak banyak Ace yang memiliki kemampuan Supporter.” kata Harunio.
“Mendengarnya langsung dari Emylier itu terasa hebat, ya ...” kata Miho.
Sebenarnya Harunio bisa menepati posisi manapun saat bertarung.
“...! Y-ya ... begitulah. Ehem! Karena itu, setidaknya kau harus bisa untuk melindungi diri sendiri.” Kata Harunio.
“K-kau benar, ya ...” Miho sedikit kecewa pada dirinya.
“Kalau begitu, kita coba saja dulu. Frame Type-Teo dengan tingkat kesulitan yang mudah akan menjadi lawanmu.” Kata Harunio.
“F-Frame ...? Teo-kun ...?” Miho sedikit terkejut.
“Ada apa? Tidak bisa menyerangnya karena memiliki wajah Teo? Baiklah, akan aku hilangkan wajahnya.” Harunio mengganti settingan Frame Type-Teo dengan wajah yang gelap dan menyisakan matanya yang menyala.
“...! M-menakutkan ...!” kata Miho.
Harunio mengganti settingan wajahnya dengan menggunakan topeng dengan lubang untuk mata dan tanpa mulut.
“...! Orang asing ...! A-aku harus menjaga jarak ...!” kata Miho.
Harunio mulai kesal, lalu ia mengganti settingan wajahnya menggunakan topeng dengan bentuk rubah.
“Aaahh! Sangat lucu! Sayang jika dirusak ...!” kata Miho.
“Miho!! Ya ampun ...!” Harunio tidak bisa menahannya lebih lama lagi.
“...! M-maaf ... seperti percuma ...” Miho menyesal.
“Hhh ... memaksamu bertarung juga bukan ide yang bagus …” Harunio mencoba menenangkan diri sejenak.
“A-aku sangat menghargai niatmu untuk membantu, tetapi entah kenapa aku merasa tidak ingin bertarung saja ...” kata Miho.
“Kalau begitu untuk ap – Tunggu dulu ...” Harunio berfikir sejenak.
“Ada apa, Harunio?” tanya Miho.
Harunio bergumam sendiri.
“U-umm ... Harunio?” tanya Miho.
“Begitu rupanya!” kata Harunio dengan spontan.
“A-ada apa, Harunio?” tanya Miho.
“Sekarang jam … oh, sudah bisa!” kata Harunio.
“Harunio?” pertanyaannya masih belum dijawab.
“Miho, aku ingin menemui seseorang. Bisakah kau ikut denganku?” tanya Harunio.
“Y-ya, sebenarnya bisa saja. Tetapi sekarang kan ...” Miho sedikit ragu.
“Kau bisa berlatih kapanpun di sini, sekarang ayo kita pergi!” Harunio telah merencanakan sesuatu.
“K-kemana?” tanya Miho.
“Ke rumah sakit.” Jawab Harunio.
“Rumah sakit? Apakah ...?!” Miho sedikit terkejut.
“Ya, aku ingin mengunjungi Teo.” Kata Harunio.
“Tetapi ... apa itu tidak apa-apa? Maksudku, kau yang membuat Teo terluka parah. Apa itu baik-baik saja jika kerabatnya ada di sana?” tanya Miho.
“Y-yaa ... kalau aku jelaskan, mereka pasti akan mengerti.” Kata Harunio.
“B-baiklah kalau begitu ...” kata Miho.
“Kita berangkat sekarang!” kata Harunio.
Lalu mereka berdua pergi ke rumah sakit untuk mengunjungi Teo.