
Tidak lama kemudian Yudai dan Darkos datang.
“Kau tidak apa-apa, Harunio?” tanya Yudai.
“Apa yang sebenarnya terjadi? Lalu, tadi itu pedang apa?” tanya Darkos.
“Aku tidak apa-apa, naga yang kita temui tadi bernama Leviathan. Dia adalah salah satu naga yang menjaga Dragon Blade, dia juga bilang jika dia adalah pelayan sekaligus ksatriaku.” Kata Harunio.
“Begitu rupanya ...” kata Yudai.
“Hei, Yudai. Sebenarnya ada banyak hal yang ingin aku tanyakan kepadamu.” Kata Harunio.
“Tentang siapa sebenarnya dirimu, para naga yang menjaga Dragon Blade, dan apa yang harus kau lakukan selanjutnya? Baiklah, akan aku jelaskan.” Kata Yudai.
“...! B-bagaimana kau bisa tahu ...?!” Harunio sedikit terkejut.
“Aku mulai dari dirimu yang sebenarnya, kau adalah Emylier yang mewarisi kekuatan luar biasa yang disebut
Perfect Core. Itu adalah kekuatan digunakan oleh kedua pahlawan untuk menghentikan perang dan membawa perdamaian di dunia. Untuk mencapai tujuan itu, dia memberikan kekuatan Perfect Core kepada 9 naga. Para naga yang terpilih akan menjadi pedang atau lebih tepatnya ksatria dan bertarung bersamanya untuk mempertahankan perdamaian dunia.” Kata Yudai menjelaskan.
“H-hei, hei ...! Tunggu dulu ...” kata Harunio dengan panik.
“Intinya ... kau adalah reinkarnasi dari salah satu pahlawan yang memiliki kekuatan Perfect Core. Kau memiliki tugas untuk menghentikan perang yang suatu saat akan terjadi.” Kata Yudai
“Yang benar saja ...? Menghentikan perang? Aku baru mengetahuinya ...!" Kata Harunio.
"Karena itu kau mewarisi kekuatan Perfect Core." kata Yudai.
"A-aku tidak mungkin bisa melakukannya! Kita berbicara tentang perang, itu tidak semudah mengatakannya ...” kata Harunio.
“Selain itu, kau juga memiliki para ksatria dan peninggalan dari perang terakhir.” Kata Yudai.
“A-apa itu ...?” tanya Harunio.
“Itu adalah ... Kokuryuu.” Kata Yudai.
“Kokuryuu ...? Maksudmu naga yang ada di dalam diriku ...?” kata Harunio.
“Ya, sebenarnya dia juga merupakan ksatriamu. Tetapi dia menyimpan dendam dari masa lalu yang mungkin tidak bisa diredam.” Kata Yudai.
“Memangnya apa yang terjadi?” tanya Harunio.
“Dia dikhianati oleh Emylier yang paling dia percayai dan dikurung di dimensi lain.” Jawab Yudai.
“Apakah dia dikhianati oleh sang pahlawan?” tanya Harunio.
“Tidak, bukan dia.” Jawab Yudai.
“Lalu siapa ...?” tanya Harunio lagi.
“Akan aku jelaskan di lain waktu, saat ini aku ingin kau fokus untuk berlatih menggunakan kekuatan Perfect Core.” kata Yudai.
“T-tetapi ...” Harunio langsung depresi karena dia harus memikul tanggung jawab yang besar.
Harnio berbalik ke arah danau dan berusaha memikirkan solusi untuk masalah ini.
“Ya ampun, kau terlalu membebaninya lagi.” Kata Darkos.
“Aku minta maaf untuk itu, tetapi ini adalah takdirnya.” Kata Yudai.
“Percuma saja kau memaksanya dengan kondisinya saat ini ...” Kata Darkos.
“Hhh ... Harunio, aku sudah menjawab pertanyaanmu. Saatnya kita kembali ke Conqueron.” Kata Yudai.
Namun Harunio tidak menghiraukannya dan menatap bayangan dirinya yang dipantulkan oleh air danau yang disinari rembulan.
“Aku akan segera kembali, jaga dia sebentar.” Kata Darkos lalu pergi.
“Ya, baiklah.” Kata Yudai.
Lalu Yudai mendekati Harunio dan duduk di sampingnya.
“Apakah rasanya berat menjadi Emylier yang mencolok dibandingkan yang lain?” tanya Yudai.
“Entahlah ... aku tidak tahu. Hanya saja ... aku baru bangun sebagai Emylier biasa pagi ini, namun tugas yang berat sudah menantiku ...” kata Harunio.
“Jika bilang mudah itu sama saja berbohong, kita juga tidak tahu seperti apa pertarungan dan musuh seperti apa yang menunggu di masa yang akan datang.” Kata Yudai.
“Tetapi setelah itu bagaimana? Aku tidak tahu apakah hari-hariku bisa kembali seperti biasa atau tidak ...! Mungkin ada orang lain yang mengincar kekuatan ini ...! Aku bisa saja mati sebelum perang ... kita juga tidak tahu kapan perang itu dimulai. Aku tidak tahu apakah bisa mengendalikan kekuatan ini saat waktunya tiba ...! Bahkan karena kekuatan ini juga ... Teo hampir mati karena kepentinganku sendiri. Aku ... hanyalah anak egois yang tidak tahu apa-apa ...” kata Harunio.
“Hei, Harunio. Apakah menurutmu takdir itu tidak adil?” tanya Yudai.
“K-kenapa seperti itu ...?” Harunio berbalik tanya.
“Takdir bisa jadi pilihan, tetapi bisa juga ketetapan. Jika saja itu adalah pilihan, apa yang akan kau lakukan?” tanya Yudai.
“Tentu saja memilih salah satu diantaranya.” Jawab Harunio.
“Ya, seperti itulah. Tetapi jika itu adalah suatu ketetapan, maka itu hanya bisa dilakukan olehmu. Hanya kau yang bisa melakukannya, tidak ada yang lain.” Kata Yudai.
“Jadi maksudmu...” kata Harunio.
“Dulu aku tidak ingin menjadi Leadro, bahkan aku tidak tertarik sama sekali.” Kata Yudai.
“Tetapi kau sekarang menjadi Leadro.” Kata Harunio,
“Ya, memang benar. Setiap orang bisa berubah, termasuk diriku yang dulu.” Kata Yudai
“Itu sudah wajar kan.” Kata Harunio dengan singkat.
“Apa kau tahu? Alasannya sangat sederhana.” Kata Yudai.
“Memangnya apa itu?” Harunio berbalik tanya.
“Hanya sebuah tujuan.” Jawab Yudai dengan singkat.
“Hanya itu?” kata Harunio.
“Ya, benar.” Kata Yudai.
“Aku tidak mengerti ...” kata Harunio.
“Sama dengan apa yang kau lakukan hari ini, kau menyatakan perasaanmu kepada Miho kan? Memangnya apa yang membuatmu melakukannya?” tanya Yudai.
“K-karena aku menyukainya ...” jawab Harunio.
Lalu Yudai berdiri.
“Lihat? Hanya seperti itulah. Kau yang dulunya tidak perduli dengan Emylier lain dan selalu bersama Kuronia akhirnya berubah. Itu semua karena kau menginginkannya.” Kata Yudai.
“Jadi ...” kata Harunio.
“Aku ingin kau menemukan alasanmu untuk mengendalikan kekuatan Perfect Core.” Kata Yudai.
“Harunio!!” kata Miho dari jauh.
Miho langsung berlari menemui Harunio.
“Bukankah dia alasanmu untuk terus maju hingga kau mendapatkan idola Emylier dari Conqueron?” kata Yudai.
“Ini adalah perintah langsung dari Leadro, kau harus bisa mengendalikan kekuatan Perfect Core! Kau membuat ruang latihan itu agar bisa berlatih di sana kan?” kata Yudai.
Harunio mulai bangkit dari keterpurukannya.
“Gunakan kekuatan itu untuk melindungi dunia dimana gadis itu berada, dengan begitu kalian akan terus bersama, benarkan?” kata Yudai.
Begitu sampai, Miho langsung memeluk Harunio.
“Syukurlah kau baik-baik saja!” Miho tidak bisa menahan air matanya.
“Baik, baik. Maaf membuatmu khawatir, bagaimana dengan lukamu?” tanya Harunio.
“Sekarang sudah tidak apa-apa, saat aku bangun seseorang telah mengobatinya.” Kata Miho sambil menunjukkan perban yang menutupi lukanya.
“Coba aku lihat sebentar.” Lalu Harunio memeriksa luka Miho.
“Ha-Harunio ...?” Miho seikit malu.
Harunio meletakkan tangannya di atas luka Miho.
“Berkah kehidupan yang mengalir dalam diriku, akan aku bagikan kepada semua orang, [Blessed Healing].” Harunio menggunakan Skillnya untuk menyembuhkan tangan Miho dengan seketika.
“E-ehh? Hebat ... sudah tidak terasa sakit lagi. Kau benar-benar hebat Harunio! Terima kasih banyak!” Miho kagum
dengannya.
“Ahahaha ...! Ini tidak seberapa.” Harunio merendah.
“Tetapi itu benar-benar luar biasa! Apakah aku juga bisa menggunakan Skill seperti itu?” tanya Miho.
“Y-ya, mungkin saja.” kata Harunio.
“Bisakah kau mengajariku?” Miho benar-benar tertarik dengan Healing Skill Harunio.
“Y-ya, baiklah ... Setidaknya akan aku coba.” Kata Harunio.
“Yay! Aku jadi tidak sabar!” kata Miho dengan senang.
“Hei, Yudai. Aku rasa kau benar.” Kata Harunio.
“Ada apa, Harunio? Selain itu kenapa Leadro-sama dan Darkos-san ada di sini?” tanya Miho.
“Alasan yang aku cari, sudah aku temukan!” kata Harunio dengan senang.
“Hmph, baguslah kalau begitu.” Kata Yudai dengan senang.
“Hei ...! Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?” Miho mulai merajuk.
“Bukan apa-apa.” Harunio sedikit.
“Hmph! Tidak adil ...!” kata Miho.
“Ayolah ... tidak perlu marah, Miho.” Kata Harunio.
“Aku tidak marah.” Miho langsung memalingkan wajahnya dari Harunio.
“Maaf, maaf. Akan aku jelaskan lain kali, oke?” kata Harunio.
“Tidak, tidak akan aku maafkan.” Kata Miho.
Harunio diam sesaat.
“Hanya bercanda!” kata Miho.
“Haha, kau membuatku khawawtir saja.” Kata Harunio.
“Tetapi kau harus menjelaskannya, dan juga mengajariku menggunakan skill itu.” Kata Miho.
“Y-ya … aku sudah bilang kan?” Kata Harunio sedikit ragu.
“Hei!! Sampai kapan kalian ingin di sini? Aku mulai kedinginan!” kata Darkos dari tepi danau.
“Baiklah, saatnya pulang.” Kata Yudai.
“Baik!” jawab Harunio dan Miho.
“Oh, tunggu dulu ... Gawat, kita terlambat ...! Aku harap dia tidak terlalu lama menunggu!” kata Harunio.
“Siapa yang kau bicarakan?” tanya Yudai.
“Kusir kereta kuda yang mengantar kami kemari.” Kata Harunio.
“Oh, baguslah jika kau sudah menyiapkan transportasi untuk pulang. Cepat, kita tidak boleh membuatnya menunggu!” kata Yudai.
Lalu mereka pergi ke titik pertemuan yang diberitahukan oleh kusir tersebut.
- - -
“Ternyata ... ini transportasimu ...” kata Yudai.
Yudai tidak terlihat senang.
“Ini lebih baik dari pada tidak sama sekali!” kata Harunio.
“Aku tidak perduli dengan ucapan Emylier yang tidak berani menatap lawan bicaranya!” kata Yudai.
Karena Harunio tidak tahan dengan bau rempah-rempah dia menghadapkan wajahnya keluar jendela.
“T-tolong jangan marahi Harunio, Leadro-sama ... A-aku yakin dia tidak bermaksud buruk, benarkan Harunio ...?”
Miho mencoba membelanya.
“Ya ampun ... aku rasa kau adalah gadis yang terlalu sempurna untuknya.” Kata Yudai.
“Maaf saja! Tetapi aku yang menang!” kata Harunio.
“Aku tidak perduli dengan siapa yang menang.” Kata Yudai.
“I-ini ... suatu kehormatan bisa mengantarkan Leadro-sama dengan kereta sederhana ini ...!” kusir tersebut merasa bahagia dan gugup disaat yang bersamaan.
“Yaah!! Pemandangan malam sungguh menenangkan, ya!!” kata Darkos yang duduk di kursi pengendara.
“...! Sial ...! Inikah caramu memperlakukan atasanmu ...?!” kata Yudai sedikit kesal.
“Jangan seperti itu, akan merepotkan jika Emylier lain tahu kalau kau pergi secara diam-diam.” Kata Darkos.
“Dasar ...! Gajimu akan menutup masalah ini!” kata Yudai.
“Apa?! Gajiku tidak ada hubungannya! Jangan seenaknya melibatkan gajiku!” kata Darkos.
“Keputusanku sudah bulat! Aku adalah Leadro, Emylier yang pemimpin Conqueron! Keputusan berada di tanganku!” kata Yudai.
“SIAAAL!!!” kata Darkos dengan kesal.
Dan mereka melanjutkan perjalanan ke Conqueron dengan transportasi yang Harunio dan Miho gunakan.