
Miho menjerit saat melihat Harunio yang telah hangus terbakar.
“Hei ... hei ... yang benar saja ...?!” kata Blues.
“Tenanglah, Miho-chan.” Falco mencoba menenangkannya.
“Tidak mungkin ... ini tidak mungkin terjadi ...!” Miho tidak bisa menahan air matanya.
Sosok hitam itu menghilang secara perlahan-lahan seperti abu yang tertiup angin.
“Itu ... Miho-chan, tenanglah. Itu hanya Shadow Clone milik Harunio, bukan dirinya yang asli!” kata Falco.
“Jadi ... Harunio ...!” kata Miho.
“Ya! Dia pasti baik-baik saja!” kata Falco.
“Benar juga, ya ... Harunio pasti baik-baik saja!” kata Miho.
“Lebih baik kita periksa anggota lainnya.” Kata Blues.
“Baiklah, ayo cepat!” kata Falco.
Lalu mereka bertiga segera pergi.
Sementara itu di tempat lain, para anggota tim dikejutkan dengan apa yang ada dibalik bunker Kuronia.
“A-apa yang ...?!” Finyx tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
“Ha-Harunio-san ...?!” Phinyx juga sama terkejutnya dengan kakaknya.
“...! Sepertinya kalian baik-baik saja ...! Di luar terasa panas sekali ...!” Harunio langsung terjatuh setelah mempertahankan Holly Shield dari serangan Dragrest.
Mereka berlima langsung berkumpul di sekelilingnya. Meski tidak terkena kobaran api secara langsung, Harunio tetap merasakan hawa panas yang luar biasa.
“Kenapa kau memaksakan diri ...? Bagaimana jika Miho melihatmu seperti ini ...?” kata Aprilia.
“Jadi sejak awal aku tidak menahan serangannya ...?! Kenapa kau melakukan ini, Harunio?!” kata Kuronia.
“Heheh ...! Maaf, Kuronia ... Bukannya aku tidak percaya padamu, hanya saja ... aku khawatir jika kalian tidak akan selamat ...” kata Harunio.
“Tetapi mengorbankan dirimu sendiri bukan solusinya!” kata Kuronia.
“Haha ...! Maaf soal itu ...” Harunio langsung tenang tidak bersuara.
“Hei ... Harunio! Buka matamu!” kata Kuronia.
Kuronia yang terlihat paling sedih dari pada mereka berlima.
“Tenanglah, Kuronia. Dia masih bernafas.” Kata Blitz.
“Dia selalu saja mengambil jalan keluar tanpa memikirkan dirinya sendiri ...!” kata Kuronia.
“Aku tahu itu, biarkan dia istirahat terlebih dahulu. Pertarungan masih belum berakhir.” Kata Blitz sambil melihat ke arah Dragrest yang terbang di langit.
Beberapa saat kemudian Miho, Falco, dan Blues sampai.
“Harunio ...?! Apa yang terjadi?! Apa yang telah terjadi padanya?!” tanya Miho yang menahan air matanya.
“Minggir, beri aku ruang.” Kata Blues.
Miho mundur sejenak.
“Blues ...?” kata Finyx.
Blues membuat Mark Seal di telapak tangan kanan dan meletakkannya di kepala Harunio.
“Mengalirlah wahai aliran kehidupan, [Aqua de Vida]!” Blues menggunakan Healling Skillnya.
“...! U-uhh ...!” suara Harunio mulai terdengar.
“B-bagaimana?” tanya Kuronia.
“Kondisinya tidak terlalu bagus tetapi dia baik-baik saja, selain itu serangan Dragrest tadi juga berdampak pada stamina dan Shard kita semua. Jika terus seperti ini, hanya masalah waktu sampai Dragrest membakar habis Shard kita.” Kata Blues.
“Terima kasih, Blues.” Kata Miho.
“...! A-aku hanya melakukan tugasku sebagai Supporter.” Kata Blues.
“Apa yang dikatakan Blues benar, pertarungan jangka panjang akan menguntungkan Dragrest ...” Kata Phinyx.
“K-kalau begitu kita harus bagaimana ...?” tanya Falco.
“Sepertinya pemimpin kalian sudah tidak bisa bertarung lagi, selanjutnya apa yang akan kalian lakukan?” tanya Dragrest.
Naga itu telah menyalakan api kemarahan di hati Kuronia, dia tidak akan memaafkan Dragrest karena telah melukai sahabat baiknya.
“Tentu saja ...! Kita harus menyatukan kekuatan kita yang tersisa untuk mengalahkannya! Benarkan, Blitz?!”
kata Kuronia.
“Dengar ... tidak semua Emylier di sini mau bertindak ceroboh sepertimu!” kata Blitz.
“Jika kita tidak berusaha kita tidak akan berhasil!” kata Kuronia.
“Bagaimana kau bisa berusaha jika tubuhmu sudah mencapai batasnya?!” kata Blitz.
Kuronia terlalu marah sehingga tidak bisa berfikir jernih.
“Tenanglah kalian berdua ...” kata Falco.
“Hmph! Jadi seperti ini cara Emylier dengan peringkat pertama bertindak? Kau ingin membuat anggota lain menjadi
korban?!” kata Blitz.
“T-tidak ... aku tidak bermaksud seperti itu ...!” Kuronia merasa tertekan karena perbedaan pendapat ini.
“Hhh ... untuk saat ini tenangkan dirimu! Setelah itu, kita fikirkan rencana untuk mengalahkannya.” kata Blitz.
“Baik ...” kata Kuronia.
“Situasi semakin memburuk saja ...! Kita harus bagaimana ...?!” kata Blitz dalam fikirannya.
Tim Harunio mendapat pukulan berat karena kehilangan pemimpin penyerangan, saat ini mereka menjadi ragu untuk mengambil keputusan.
Disaat kesadarannya melemah, Harunio mendengar suara dari dalam dirinya.
“Hei, hanya seperti ini?” suara Kokuryuu terdengar jelas dalam diri Harunio.
Di tempat itu hanya ada sebuah ruang kosong yang gelap dan penuh dengan genangan air, Harunio kembali memasuki alam bawah sadarnya.
“Kokuryuu ...?” kata Harunio dengan lemah.
“Kemapuanmu hanya sejauh ini? Menyedihkan, menyedihkan sekali ...!” Kata Kokuryuu.
“Mau bagaimana lagi? Seranganku tidak mempan padanya, dia juga bisa menetralkan Shard hanya dengan berteriak ...! Apa yang harus aku lakukan ...?!” Harunio mulai putus asa.
“Kau ingin menyerah?” tanya Kokuryuu.
“Kami berdua tidak akan memaafkanmu jika itu yang akan kau lakukan.” Kata orang lain.
“Suara ini ... Leviathan ...?” kata Harunio.
“Jadi seperti ini akhirnya? Penantian panjang yang sudah aku lewati, hanya untuk ini?” kata Leviathan yang memperlihatkan wujudnya.
“Tetapi aku harus bagaimana ...?!” Harunio.
“...! Oh, ya ...! Memotong tanduknya ... Tetapi seranganku tidak mempan padanya!” kata Harunio.
“Itu masalahmu.” Kata Kokuryuu.
“Ayolah, aku sedang mencoba untuk bangkit ... Beri aku bantuan!” kata Harunio.
“Hmph! Pikirkan sendiri caranya.” kata Kokuryuu.
“Baik, baiklah! Aku mohon bantu aku.” Kata Harunio.
“Hhh ... beritahu dia.” Kata Kokuryuu.
“Kami adalah ksatriamu, gunakan kami saat kau membutuhkan bantuan.” kata Leviathan.
“Gunakan kalian ...?” kata Harunio.
“Sekarang cepat selesaikan pertarunganmu!” kata Leviathan.
Kesadaran Harunio mulai pulih, perlahan-lahan ia membuka matanya dan melihat seluruh anggota tim yang berkumpul di sekitarnya.
“Huh ...? Semuanya ...” kata Harunio.
“Harunio ...!” Miho sedikit terkejut dan merasa lega karena partnernya baik-baik saja.
Harunio mencoba berdiri meski sedikit sulit.
“Tidak perlu terburu-buru, kawan.” Kata Kuronia.
“Jangan terlalu banyak bergerak, kau baru saja pulih.” Kata Blues.
“Huh? Oh, ternyata kau yang menggunakan Healling Skill. Terima kasih.” Kata Harunio.
“...! B-baguslah kau masih bisa aku selamatkan ...! Jika kami mati di sini kau yang harus bertanggung jawab!” kata Blues.
“Katakan saja ‘terima kasih kembali’ !” Finyx langsung menginjak kaki Blues.
Dan Blues langsung berteriak kesakitan.
“Siapa juga yang ingin mati di sini ...” kata Phinyx.
“Oh, ya ...” Harunio membuat Mark Seal dan mengambil Dragon Blade Leviathan.
Harunio berfikir sejenak sambil memandangi pedang itu.
“Pedang apa itu ...?” tanya Falco dengan pelan.
“Aku juga ingin menanyakan hal yang sama ...” kata Blitz.
Harunio langsung tersenyum karena merasa jika bisa memenangkan pertarungan.
“Baiklah ...! Semuanya, kalian baik-baik saja kan?” kata Harunio.
“Hmph ...! Sadarlah siapa yang baru saja tergeletak di tanah ...!” kata Blues.
“Blues ...!” Kata Finyx dengan pelan.
“Y-ya ... baiklah, aku akui itu ... Tetapi, kalian masih bisa bertarung kan? Aku butuh skuad lengkap!” kata
Harunio.
“Ya, masih bisa meski Dragrest telah membakar Shard kami. Serangan terakhirnya berdampak secara internal.” Kata Blitz.
“Ini benar-benar merepotkan ... Miho, buat Mark Seal dan gunakan Cold Healling pada semua anggota.” Kata Harunio.
“B-baiklah.” Kata Miho.
“Pulihkan terlebih dahulu kondisi kalian, setelah itu kita akan menyerang balik!” Kata Harunio.
“Baiklah kalau begitu.” Kata Blitz.
“Ada yang keberatan?” tanya Harunio.
Semua hanya diam.
“Miho, lakukan.” Kata Harunio.
“Baik!” lalu Miho membuat Mark Seal dengan diameter kurang lebih 5 meter.
“[Cold Healling]!” Mark Seal tersebut langsung bercahaya dan mulai memulihkan kondisi semua anggota termasuk Miho sendiri.
Harunio keluar dari Mark Seal sambil memegang erat Dragon Blade Leviathan.
“Harunio ...?” kata Miho.
“Aku akan mengulur waktu sebentar, kalian istirahat saja dulu.” Kata Harunio.
“He-hei ... kau ingin memaksakan semuanya seorang diri lagi?!” kata Kuronia.
“A-apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Miho kepada Aprilia.
“Harunio melindungi kita semua dari serangan Dragrest tadi meski para Chrusade telah bersiap untuk bertahan. Dan akhirnya seperti yang tadi kau lihat.” Kata Aprilia.
“Jadi ... sejak awal Harunio yang menahan serangan itu seorang diri?!” Miho tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
“Kuronia, benar. Lebih baik kita memulihkan kembali kondisi kita. Kau sendiri juga bilang begitu!” kata Blitz.
Harunio berbalik dengan senyuman di wajahnya.
“Tenang saja, kalian tidak perlu khawatir.” Kata Harunio dengan percaya diri.
Mereka hanya bisa percaya dengan keputusan yang diambil pemimpin mereka, lalu Harunio berbalik menghadap Dragrest dan menancapkan Dragon Blade Leviathan ke tanah.
“Mengakses sistem kesadaran internal!”
“Apakah menurutmu takdir itu tidak adil?” Harunio ingat dengan peercakapannya dengan Yudai saat berada di Taman Luvana.
“Hei, Yudai ... aku tidak tahu apakah ini tindakan yang benar atau tidak …” kata Harunio dalam fikirannya.
“Takdir bisa jadi pilihan, tetapi bisa juga ketetapan …”
“Mengaktifkan Core hingga 10%!” Harunio mengeluarkan gelombang energy yang kuat, semua anggota timnya tidak bisa berkata-kata saat melihatnya.
“Ohh? Boleh juga dia ...!” Dragrest semakin bersemangat.
“Aku ingin kau menemukan alasanmu untuk mengendalikan kekuatan Perfect Core.”
“Sekarang ... tidak, aku sudah menemukannya sejak saat itu!” kata Harunio dalam fikirannya.
“Lalu, gunakanlah kekuatan itu untuk melindungi dunia dimana gadis itu berada, dengan begitu kalian akan terus bersama, benarkan?”
“Aku akan terus melangkah di jalan yang aku yakini ...! Karena kali ini ...!” kata Harunio dalam fikirannya.
“Phase 1 diaktifkan ...”
“Miho ... lalu, semua anggota timku ...!”
“... [Code: Black-Beast]!” Harunio mengaktifkan kekuatan Perfect Core.
“Akan aku lindungi!”
Pertarungan yang sesungguhnya baru saja dimulai.