
Beberapa saat kemudian, Harunio terbangun di tempat yang tidak ia ketahui.
“Ini ... di mana ...? Gelap sekali ... Apa aku sudah mati?! Memangnya mati itu rasanya seperti ini?” kata Harunio.
Tidak ada objek apapun di dalam ruang gelap dan kosong itu, lalu sebuah cahaya berpendar dari bawah.
“Apa ini ...? Air? Aku berdiri di atas air?! Tetapi bagaiamana bisa airnya menyala?” kata Harunio.
“Dasar lambat ...” kata seseorang.
“...! S-siapa itu ...?!” Harunio merasa takut.
“Ya ampun ... beranikan dirimu, dasar penakut!”
“Apa ada orang lain di sini ...?” kata Harunio dalam fikirannya.
“Ya, kau bisa menyebutku begitu.”
“S-sial ... bahkan dia bisa membaca fikiranku ...” Harunio semakin takut.
“Hhh ... aku tahu jika kau akan takut, tetapi bukan seperti ini!”
“K-keluarlah ...! T-tunjukkan dirimu!” Harunio mencoba memberanikan diri.
“Hmph! Jika mendengar suaraku saja sudah ketakutan, memangnya kau punya keberanian untuk bertemu denganku?”
Sebenarnya Harunio masih takut.
“Baiklah, setidaknya akan aku perlihatkan diriku.”
“...! H-hei, hei ... katakan jika mataku menipuku ...!” Harunio tidak percaya dengan ada di depannya.
Harunio melihat sesosok bayangan seukuran dengan Mount dengan mata hijau terang, Sayap besar seperti kelelawar, dan sebuah Ekor yang meruncing.
“B-bagaimana bi – Tunggu sebentar, kau Naga yang ada di taman?” tanya Harunio.
“Dasar bodoh! Tentu saja bukan! Aku tidak tahu seberapa bodohnya dirimu hingga tidak bisa membedakanku dengannya!” kata Naga tersebut.
“Y-ya ... aku kira sama saja ... heheh.” Kata Harunio.
“Hmph! Ternyata masih terlalu dini, cepatlah kembali ke dunia nyata! Jangan tunjukkan dirimu lagi.” kata tersebut sambil berbalik membelakangi Harunio.
“Apa?! L-lalu ini di mana?! Apa aku sudah mati?!” tanya Harunio.
“Ini adalah alam bawah sadarmu, kau masih hidup selama air yang terang itu masih mengalir.” Jawab Naga tersebut.
“Benarkah? Sepertinya kau tahu tentang tempat ini.” Kata Harunio.
“Hmph! Tentu saja.” Kata Naga tersebut.
“Lalu bagaimana caranya kembali?” tanya Harunio.
“Fikirkan caranya sendiri.” Kata Naga tersebut.
“Hei, ayolah. Bantu aku.” Kata Harunio.
“Itu bukan urusanku.” Kata Naga tersebut.
“Aku masih meminta bantuan dengan baik-baik.” Kata Harunio.
“Aku tidak peduli.” Kata Naga tersebut.
“Baiklah! Akan aku paksa kau membantuku!” kata Harunio.
“Sudah aku bilang jika masih terlalu dini bagimu, gunakan sisa hidupmu untuk memikirkannya.” Kata Naga tersebut.
“Berisik! Kau tidak perlu repot-repot bergerak, aku sendiri yang akan mendatangimu!” kata Harunio.
Harunio terus berjalan tanpa henti namun tidak juga bertemu dengan Naga tersebut.
“Hhh ... Hhh ... Sial ...! Sebenarnya ... seberapa jauh ... kau bersembunyi ...?!” Harunio sudah lelah.
“Aku sudah bilang kan? Masih terlalu dini bagimu.” Kata Naga tersebut.
“Ayolah ... memangnya apa ruginya jika kau memberitahuku caranya kembali ke dunia nyata.” kata Harunio.
“Hhh ... ya ampun, kau ini benar-benar menyusahkan. Baiklah ... akan aku bantu, pelajari ini baik-baik!” kata Naga tersebut.
“Nah, kenapa tidak bilang dari tadi.” Kata Harunio.
“Kau masih bisa merasakan tubuhmu di dunia nyata?” kata Naga tersebut.
“Y-ya, meski sedikit sulit membedakannya.” Kata Harunio.
“Yang kau butuhkan hanya rangsangan aktif pada tubuhmu, misalnya sesuatu yang kau sebut Heavently Lock.” kata Naga tersebut.
“Aku baru tahu jika Heavenly Lock ada gunanya.” Kata Harunio.
“Tentu saja, semua yang ada di dunia ini tidak diciptakan dengan sia-sia.” Kata Naga tersebut.
“Hmm ... untuk mengaktifkannya, aku membutuhkan perasaan yang kuat ... perasaan yang kuat ...” Harunio berkonsentrasi untuk mengaktifkan Heavently Lock.
“Hmm ...! Ummhh ...! Ngghh ...!!" Harunio tidak pernah mengaktifkannya degan sengaja karena itu adalah hal yang
mengganggu baginya, tetapi dia terus berusaha memaksakan tubuhnya.
“Berisik! Lakukanlah dengan tenang!” kata Naga tersebut.
“Aku sudah berusaha! Kau kira ini mudah?” kata Harunio.
“Padahal kau sendiri terus mengalaminya tetapi tidak bisa memanfaatkannya!” kata Naga tersebut.
“Belakangan ini aku memang sering mengalaminya karena – Tunggu sebentar, aku tahu! Setelah bersama Miho aku cukup sering mengalami reaksi tersebut. Sebentar ... hal yang membuatku mengalami reaksi terburuknya adalah –!”
Harunio mengingat kembali saat ia mengungkapan perasaannya kepada Miho dan membuat Heavently Locknya aktif.
“...! Aku sudah kembali ...!” kata Harunio.
“Oh, akhirnya kau bangun juga. Selamat datang di pos penjaga taman.” Kata Darkos.
“Darkos ...? Yudai juga?!” Harunio sedikit terkejut.
“Bagaimana dengan keadaanmu?” tanya Yudai.
“Y-ya ... aku baik-baik saja. Bagaimana dengan Miho?! Teo juga!” Harunio sedikit panik.
“Gadis itu baik-baik saja, dia masih tertidur. Tetapi tentang anak itu ... kondisinya tidak bagus.” Kata Darkos.
“He-hei ... jangan katakan jika aku membunuhnya ...” Harunio semakin panik.
“Kondisinya memang parah, tetapi dia masih hidup. Aku meminta Raska untuk mengantarnya ke rumah sakit Conqueron.” Kata Darkos.
“Syukurlah ...” Harunio merasa lega.
“Tetapi jika dibiarkan lebih lama kau benar-benar akan membunuhnya.” Kata Yudai.
“Ap –?!” Harunio sedikit terkejut.
“Tetapi gadis itu berhasil menyadarkanmu dan menyelamatkan anak itu, dia benar-benar melebihi perkiraan kami.” Kata Yudai.
“Kita bahas nanti saja, sekarang kita fokus pada itu.” Yudai menunjukkan pilar cahaya yang bersinar dari danau.
“Itu ...” kata Harunio.
“Naga yang kau panggil masih ada di sana, ini tidak seperti kasus sebelumnya.” Kata Yudai.
“Memangnya apa yang terjadi?” tanya Harunio.
“Semuanya dimulai sejak 15 tahun yang lalu, pada suatu malam sebuah pilar cahaya muncul dari ujung jalan batu yang ada di danau. Salah satu penjaga taman memeriksa pilar cahaya tersebut, namun dia ditarik kedalam pilar cahaya itu selama beberapa menit hingga cahaya itu menghilang. Secara fisik tidak ada luka yang dialaminya, namun dia dianggap sudah gila karena menceritakan hal-hal aneh seperti monster dan menjelajah waktu.” Kata Yudai menjelaskan.
“Aku baru tahu tentang hal itu ...” kata Harunio.
“Untuk menutupi kasus tersebut dibuatlah peraturan dimana pengunjung tidak diperbolehkan ada di area taman setelah matahari terbenam. Selain itu dibuatlah Kekkai yang mirip dengan Dimension Link untuk menyamarkannya dari luar.” Kata Yudai.
“Lalu aku dan beberapa Emylier harus memperbaikinya setiap minggu agar Kekkainya tetap bekerja.” Kata Darkos.
“Hebat! Ternyata kau juga bisa membuat Dimension Link yang dapat bertahan lama!” kata Harunio.
“Tunggu dulu, apa ...?” Darkos sedikit terkejut.
“Huh? Ada apa?.” Harunio malah bingung sendiri.
“Apa saja yang sudah anak ini lakukan?” tanya Darkos kepada Yudai.
“Ceritanya panjang, sekarang kita selesaikan dulu masalah di sini!” kata Yudai.
“Ya, baiklah!” kata Harunio dengan semangat.
Lalu mereka kembali ke dalam taman.
- - -
Tidak lama kemudian, mereka telah sampai di tempat tujuan. Naga tersebut masih terbang dengan bebas di sekeliling danau.
“Ehh ... apa yang harus aku lakukan?” tanya Harunio.
“Entahlah, lakukan saja seperti yang kau lakukan saat menghajar anak itu.” Kata Darkos.
“Kau mengaktifkan Phase 1 dan kehilangan kesadaran lagi? Bukankah aku sudah bilang untuk tidak menggunakannya.” Kata Yudai.
“Astaga ... kau harus belajar menggunakan kekuatan itu!” kata Darkos.
“Bagaimana aku bisa mempelajarinya jika aku dilarang menggunakannya?!” kata Harunio.
“Meski aku melarangmu tetapi kau tetap menggunakannya.” kata Yudai.
“Sepertinya dia harus mendapatkan pelatihan khusus.” Kata Darkos kepada Yudai.
“Jika saatnya tiba.” Kata Yudai.
“Hei, Harunio. Aku bisa melatihmu mengendalikan kekuatan Perfect Core.” Kata Darkos.
“Benarkah?!” Harunio sedikit terkejut.
“Ya, tentu saja. Kau mau?” tanya Darkos.
“Tentu saja aku mau!” kata Harunio dengan semangat.
“Baiklah, pertama-tama kita tentukan tanggal kepergianmu lalu –”
“Tunggu sebentar, aku harus pergi? Dari Conqueron?!” kata Harunio tidak percaya.
“Tentu saja, banyak pengganggu di sana. Akan menjadi masalah besar jika kau tidak menghancurkan monument perdamaian dunia.” Kata Darkos.
“Tidak bisa, aku tidak ingin pergi dari Conqueron hanya untuk berlatih! Akan aku pelajari sendiri secara perlahan-lahan.” kata Harunio dengan yakin.
“Sayangnya aku tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Kau harus berlatih di luar Conqueron, resikonya terlalu besar.” Kata Yudai.
“Tetapi ...!” kata Harunio.
“Soal gadis itu?” tanya Yudai.
“Benar juga, anak ini sedang jatuh cinta!” Darkos sedikit menggoda Harunio.
“...! B-bagaimana kalian bisa tahu ...?” Harunio benar-beanr terkejut.
“Tertulis jelas di wajahmu.” Kata Darkos.
“Sejujurnya aku ragu jika Emylier lain akan melepaskan Miho begitu saja setelah mengetahui jika aku mendaftarkannya sebagai Partnerku.” Kata Harunio.
“Itu bukan urusanku.” Kata Darkos.
“Hmph! Aku sudah menduga jawaban dari Emylier penyendiri sepertimu!” kata Harunio memprovokasi Darkos.
“Hah?! Aku belum memiliki Partner karena kontrak kerjaku sebagai agen Emylier, dasar bodoh!” kata Darkos sambil
menekan kepala Harunio dengan kuat menggunakan kedua tinjunya.
“Aww-aww ...! Hentikan ...! Itu menyakitkan!” kata Harunio.
“Jika aku memiliki Partner, aku tidak akan menghabiskan waktu untuk mengurusimu!” kata Darkos.
“Diamlah kalian berdua, aku juga tersinggung!” kata Yudai.
“Aku juga tidak yakin meinggalkan Miho dibawah penjagaan Normus yang tidak aku kenal! Aku tidak akan memaafkannya jika sesuatu terjadi padanya!” kata Harunio.
Naga tersebut langsung terbang menuju mereka bertiga.
“Bersiaplah! Dia datang!” kata Yudai.
“Aku tidak menyangka jika dia benar-benar merespon keinginanmu!” kata Darkos.
“A-aku juga terkejut ...” kata Harunio.
Naga itu langsung mendarat dan menyerang Yudai dan Darkos hingga mereka terlempar jauh.
“Yudai! Darkos! Sial ...! Apa yang kau lakukan?!” kata Harunio dengan kesal.
Naga itu langsung menggenggam Harunio dan kembali ke pilar cahaya.
“Sial ...! Dia membawanya!” kata Darkos.
“Tunggu ...! Kita amati saja apa yang akan terjadi.” Kata Yudai.
“Jangan bercanda!” kata Darkos.
“Tidak ada laporan tentang pengunjung yang hilang karena kasus ini, alasan dia membawa Harunio pasti karena dia ingin menyampaikan sesuatu, semoga saja.” Kata Yudai.
“Tetapi kita tidak tahu apa tujuannya!” kata Darkos.
“Percayalah dengan apa yang ditinggalkan Shura.” Kata Yudai.
“Baiklah kalau begitu.” Kata Darkos.
Darkos terpaksa mengikuti perintah Yudai.