Dimension - Y

Dimension - Y
Arc 1 - Life Change



Beberapa saat kemudian, Harunio dan Miho telah sampai di Conqueron.


“Oh, sepertinya itu Aprilia-chan.” kata Miho.


Aprilia menunggu Miho di depan Headquarters bersama Kuronia.


“Kenapa Kuronia juga bersamanya?" kata Harunio dalam fikirannya.


"Aku lupa jika kau punya rencana dengannya hari ini, maaf karena memakan waktu seharian.” Kata Harunio.


“Sudahlah, tidak apa-apa. Terima kasih untuk kerja kerasmu selama misi hari ini.” Kata Miho.


“Ya, sama-sama. Ini sudah tugas kita sebagai Emylier.” Kata Harunio.


“Benar juga, ya ...” kata Miho dengan pelan.


“Huh? Ada apa, Miho?” tanya Harunio.


“Bukan apa-apa, kalau begitu sampai jumpa lagi! Kabari aku jika ruang latihannya selesai, ya!” lalu Miho mempercepat langkahnya.


“Ya! Tentu saja!” teriak Harunio.


“Aku tidak tahu jika misi kali ini terlalu berat bagimu.” Kata Aprilia.


“S-sebenarnya ... kami gagal dalam misi dan mengambil misi lain untuk mengisi waktu, tehehe ~” jawab Miho.


“Tidak seperti biasanya kau pergi dengan seorang gadis, kawan!” kata Harunio.


“Mau bagaimana lagi? Dia tidak mau menunggu temannya di asrama, setidaknya aku akan memastikan  keselamatannya untuk hari ini karena kami masih rekan satu tim.” Kata Kuronia.


“Kau menanggapinya dengan berlebihan lagi ...” kata Harunio.


“Terima kasih atas perhatianmu, Kuronia-san. Tetapi sekarang sudah tidak apa-apa.” Kata Aprilia.


“Baiklah kalau begitu.” Kata Kuronia.


“Sekali lagi terima kasih untuk kerja samanya hari ini, kami pergi terlebih dahulu.” Kata Aprilia.


“Ya, jaga dirimu baik-baik.” Kata Kuronia


“Sampai jumpa lagi, Harunio!” kata Miho.


“Ya, sampai jumpa lagi!” kata Harunio.


Lalu Miho dan Aprilia kembali ke asrama perempuan.


“Aku juga akan pulang sekarang.” Kata Harunio lalu mulai berjalan.


“Sepertinya kau bersenang-senang dengannya hari ini.” Kata Kuronia sambil menyusulnya.


“Ya, begitulah. Rasanya aku tidak ingin saat-saat itu berakhir ...” kata Harunio.


“Biar aku tebak, kau juga ...?” kata Kuronia.


“Sejujurnya ... Ya, itu benar.” Kata Harunio.


“Setelah apa yang kau katakan hari ini, akhirnya kau memakan kata-katamu sendiri.” Kata Kuronia.


“Hah ...?! Maaf saja, aku lupa dengan apa yang aku katakan tadi pagi. Coba ingatkan aku ...!” Harunio menantang Kuronia.


“Tidak, lupakan saja. Lagipula kau akan terus menyanggah apa yang aku katakan.” Jawab Kuronia dengan tenang.


“Sudah aku putuskan! Aku akan ikut persaingan ini!” kata Harunio.


“Hhh ... dan sekali lagi kau melibatkan diri dalam urusan yang merepotkan.” Kata Kuronia.


“Jika aku bisa memenangkannya aku tidak akan menyesal! Siapa yang tidak ingin memiliki partner seperti Miho ...” kata Harunio.


“Terserah kau saja ... Aku akan lewat persimpangan itu, kau bisa kembali sendiri kan?” Kata Kuronia.


“Hmph! Memangnya kau fikir berbicara dengan siapa?!” Kata Harunio.


“Baiklah, sampai jumpa.” Kata Kurnia lalu berbelok.


“Oh, ya. Bisakah kau datang ke rumahku besok?” tanya Harunio.


“Ada apa?” tanya Kuronia.


“Pengujian terakhir.” Jawab Harunio.


“Sudah aku bilang jangan melibatkanku.” Kata Kuronia.


“Aku mohon, kali ini saja!” kata Harunio.


“Kau sudah tahu jawabannya.” Kata Kuronia.


“Ayolah …!” Harunio tetap meminta Kurnia untuk ikut.


“Hhh ... baiklah, kau pasti akan melakukan apapun untuk melibatkanku.” Kata Kuronia lalu pergi.


“Terima kasih, kawan! Aku tahu kau bisa diandalkan!” kata Harunio.


“Ya, ya ... sama-sama.” Kata Kuronia.


“Sampai jumpa besok!” kata Harunio.


Kuronia hanya terus melangkah sambil melambaikan tangan.


Sementara itu, Darkos langsung menemui Yudai setelah sampai di kota.


“Mungkin aku harus memasang beberapa perangkap.” Kata Yudai sambil mengurus beberapa berkas di monitornya.


“Haha, kau fikir aku hama?” kata Darkos.


“Aku hanya tertarik mencobanya.” Kata Yudai.


“Baiklah, baiklah. Lain kali akan aku gunakan pintu.” Kata Darkos.


“Jadi, bagaimana?” Yudai bersiap mendengarkan laporan Darkos.


“Ya, masih belum untuk saat ini.” Kata Darkos.


“Aku tidak akan terkejut jika memang tidak ada apa-apa di sana.” Kata Yudai.


“Apa kau ingin mendengar kemungkinan yang bisa terjadi?” Kata Darkos.


“Katakan yang paling mungkin terjadi.” Kata Yudai.


“Dia sedang menunggu perintah, sepertinya.” Kata Darkos.


“Jawaban yang meragukan ... lebih baik kau lanjutkan dulu. Kita sudah menebar umpan jangan sampai kita sia-siakan.” Kata Yudai.


“Sesuai perintah anda. Oh ya, aku punya berita buruk.” Kata Darkos.


“Apa itu?” tanya Yudai.


“Hei, ini tidak lucu.” Kata Yudai.


“Apa aku sedang bercanda?” kata Darkos dengan serius.


“Lalu bagaimana situasi saat ini?” tanya Yudai.


“Situasi masih bisa terkendali, namun belum ada kepastian tentang hilangnya kaisar.” Kata Darkos.


“Untuk saat ini kita hanya bisa memantau perkembangannya, kita akan turun tangan jika keadaan tidak kunjung


membaik.” Kata Yudai.


“Baiklah.” Kata Darkos.


Laporan mengejutkan dari Darkos membuat Yudai harus bekerja lebih keras sebagai pemimpin Conqueron.


- - -


Keesokan harinya, Harunio memulai hari pertamanya bekerja di salah satu restoran di Conqueron.


“Di sini, ya ...” lalu Harunio masuk.


Harunio seikit bingung karena baru pertama kali datang.


“Maaf, kami masih belum buka.” Kata salah satu karyawan yang sedang bersih-bersih.


“M-maaf ... s-sebenarnya aku datang kemari untuk menggantikan temanku.” Kata Harunio.


“Oh, maksudmu NEET itu! Ternyata dia memiliki teman sungguhan!” kata karyawan tersebut.


“Reputasinya benar-benar buruk ...!” kata Harunio dalam fikirannya.


“Apa yang kau lakukan?! Cepat lanjutkan!” kata karyawan lain.


“Padalah masih pagi dan kau sudah sangat berisik, cobalah untuk santai sedikit ...” kata karyawan tersebut.


“E-ehh ... darimana aku harus mulai ...?” tanya Harunio.


“Duduklah terlebih dahulu, akan aku katakan pada manager nanti.” Kata karyawan tersebut.


“U-uhh, ya ... baiklah.” Harunio hanya bisa mengikuti instruksinya.


Beberapa saat kemudian seseorang datang dan langsung duduk.


“Maaf membuatmu menunggu.” Kata manager restoran.


“T-tidak apa-apa.” Harunio sedikit gugup.


“Baiklah, siapa namamu?”


“N-namaku Harunio Ell Roshido.” Jawab Harunio.


“Harunio, ya ... Namaku Nismo Rein, manager restoran ini.” Kata pak Rein sambil melihat data Harunio yang ia cari


melalui sebuah layar cahaya yang muncul di depan wajahnya.


“S-senang bertemu dengan anda … pak Nismo Rein.” Kata Harunio.


“Santai saja, tidak perlu tegang.” Kata pak Rein.


“I-iya, baik. Sial ...!! Aku terlalu banyak membuat kesan buruk!” kata Harunio dalam fikirannya.


“Jadi kenapa kau ingin bekerja di sini?” tanya pak Rein.


“...! T-temanku yang bekerja di sini akan pergi keluar kota. Lalu dia menawarkanku untuk menggantikannya bekerja di sini.” Jawab Harunio.


“Oh, dia rupanya ... Dia merupakan karyawan paling tenang di sini, dia menunjukkan nilainya melaui tindakan. Dan itu adalah salah satu hal yang aku suka darinya, meski kadang keryawan lain suka menyindirnya.” Kata pak Rein.


“S-saya akan berusaha untuk menyamainya ...” kata Harunio.


“Tidak perlu memaksakan diri, setiap orang memiliki ciri khas masing-masing. Lebih baik kau tetap menjadi dirimu dari pada terpaksa menjadi orang lain.” Kata pak Rein.


“I-ya, baiklah.” Kata Harunio.


“Pertama-tama kau akan memulai masa pelatihan selama satu bulan. Hari libur hanya di hari minggu. Cuti hanya tiga hari dalam satu bulan kecuali jika kau mendapat misi, tetapi quest tidak termasuk. Ada yang ingin kau tanyakan?” tanya pak Rein.


“U-uh, aku rasa belum untuk saat ini.” Kata Harunio.


Pak Rein menutup Vision-screen De Ordernya.


“Kalau begitu, selamat datang Harunio-kun. Aku harap kau bisa cepat beradaptasi dan selamat bekerja.” Kata pak Rein sambil mengulurkan tangannya.


“Baik, mohon kerjasamanya.” Kata Harunio yang menjabat tangannya.


“Teo!” pak Rein memanggil salah satu karyawannya.


Lalu seorang anak laki-laki datang.


“Dia adalah Emylier yang lulus dari akademi di tahun yang sama denganmu.” Kata pak Rein.


“Namaku Harunio.” Kata Harunio.


“Ya, aku sudah tahu. Kau Emylier yang selalu bersama Kuronia si Element Metal kan? Namaku Teo, salam kenal.” Kata Teo sambil mengulurkan tangannya.


“Y-ya, aku juga.” Kata Harunio sambil menjabat tangannya.


“Teo akan menjadi mentormu selama masa pelatihan, lebih mudah menerima penjelasan dari Emylier yang seumuran denganmu kan?” kata pak Rein.


“U-uh, ya ... terima kasih banyak.” Kata Harunio.


“Aku akan pergi dulu karena ada sedikit urusan, aku serahkan dia kepadamu.” Kata pak Rein kepada Teo lalu pergi.


“Siap, pak! Baiklah, kita mulai dari hal yang paling dasar.” Kata Teo.


“Y-ya, baik.” Kata Harunio.


“Setelah kau terdaftar sebagai karyawan di sini, kau akan menerima mail yang berisi Vector Style seragam kami.” Kata Teo.


“Ya, sudah ada.” Kata Harunio yang memeriksa mail pada De Orderya.


“Tambahkan Vector tersebut ke dalam Wardrobe, kau harus mengenakan seragam tersebut selama kau bekerja. Oh, ya. Selama kau dalam masa pelatihan seragammu akan terdapat tag training.” Kata Teo.


Harunio langsung mencoba vector seragamnya.


“Heheh, benar-benar ada.” Kata Harunio.


“Kau akan mendapat seragam resmi setelah menyelesaikan masa pelatihanmu.” Kata Teo.


“Baiklah!!” Harunio mulai bersemangat.


Hari pertamanya bekerja di restoran itu dimulai.