Dimension - Y

Dimension - Y
Arc 1 - Secret



Setelah mereka menghabiskan makanan mereka, Miho membantu Harunio membersihkan peralatan makan.


“Sudah aku bilang jika kau tidak perlu membantuku.” Kata Harunio.


“Tidak apa-apa, sebagai perempuan aku jadi merasa tidak enak jika kau melakukan semuanya sendiri.” Kata Miho.


“Heheh, baiklah jika kau memaksa.” Kata Harunio.


Beberapa saat kemudian.


“Akhrinya selesai.” Kata Harunio.


“Terima kasih untuk makan malamnya, Harunio. Itu benar-benar enak!” kata Miho dengan senang.


“Syukurlah jika kau menyukainya.” Harunio juga senang mendengarnya.


“Tetapi kau tidak bisa mengkonsumsi telur saja, kau juga harus mengimbanginya dengan sayuran agar nutrisi yang kau dapat seimbang!” kata Miho memberi saran.


“Baik, baik. Jika kau sudah tinggal di sini, akan aku serahkan kepadamu.” Kata Harunio.


“Umu, umu! Serahkan saja padaku!” kata Miho dengan yakin.


Lalu mereka tertawa bersama.


“Baiklah, saat tidur.” Kata Harunio.


“U-umm ... a-apa kita akan berbagi tempat tidur ...?” tanya Miho dengan malu.


Harunio langsung merinding karena efek Heavently Lock.


“...! T-tentu saja tidak ...!” Harunio langsung panik.


“T-tetapi ... kau tinggal di sini sendiri ... jadi hanya ada satu tempat tidur kan ...” Miho menahan rasa malunya.


“...! Y-ya, memang benar seperti itu ... Tetapi kita tidak akan tidur di ranjang yang sama ...! Kau bisa gunakan tempat tidurku, aku akan memakai sleeping bag saja.” kata Harunio.


“T-tetapi ... aku sedikit merasa tidak enak jika harus seperti itu ...” kata Miho.


“Hidupku terancam jika sampai itu terjadi ...!" kata Harunio dalam fikirannya.


"S-sudahlah, lagipula aku tidak keberatan.” Kata Harunio.


“B-baiklah kalau begitu.” Kata Miho.


Lalu Harunio mengantar Miho ke kamarnya.


“Silahkan masuk. Memang tidak seperti yang ada di asrama, tetapi anggap saja seperti kamarmu sendiri.” Kata


Harunio sambil membuka pintu kamarnya.


“U-umm ... baik.” Kata Miho.


“Kalau begitu aku akan tidur di ruang sebelah, selamat malam.” Kata Harunio lalu berjalan keluar.


“Ha-Harunio ...!” kata Miho.


“Ada apa?” tanya Harunio.


“B-bisakah kau tidur di kamar ini juga ...?” Miho menahan segenap rasa malunya.


“...! Tidak, tidak ...! A-aku tidak bisa ...!” kata Harunio dengan spontan.


“T-tetapi ... ini adalah pertama kalinya aku tidur selain di asrama. Jadi ... aku sedikit takut ...” kata Miho dengan wajah polosnya.


“J-jadi kau selalu mendapat misi jangka pendek? “ tanya Harunio.


Miho hanya mengangguk dengan malu.


“Hhh ... baiklah. Aku cukup sering mendapat misi dalam jangka waktu yang lama, jadi aku cukup terbiasa tidur di luar atau di penginapan.” Kata Harunio lalu mengambil sleeping bag dari Inventory De Order.


“Karena aku tidak terlalu berguna dalam tim, aku sering membuat kegagalan dan kami pulang lebih awal ...” Miho


sedikit kecewa pada dirinya.


“Lalu mereka yang pada awalnya bersemangat satu tim denganmu langsung berubah membencimu.” Harunio


menyimpulkan.


“I-iya, seperti itulah ...” kata Miho.


“Dasar ... Emylier seperti itu yang harus kau hindari, reaksinya langsung berubah secepat kesan pertama mereka


kepadamu!” Kata Harunio sambil merapikan sleeping bagnya.


“K-karena itu ...” kata Miho sedikit bersedih.


“Huh ...?” Harunio langsung melihat ke arah Miho.


“Karena itu –” Harunio langsung meletakkan tangannya di kepala Miho.


“Ya ampun ... sudah aku bilang jika tidak perlu menangis kan? Aku jadi ikut merasa bersalah.” kata Harunio.


“Maaf ... aku hanya sangat senang ada Emylier yang benar-benar mengakuiku. Karena itu saat dia membutuhkan


bantuan, aku dengan senang hati akan membantunya!” Miho mulai tersenyum meski air matanya masih mengalir.


“Baik, baik. Aku senang mendengarnya.” Kata Harunio sambil menepuk kepala Miho dengan pelan.


Miho sudah merasa baikan karena perhatian dari Harunio.


“Fwaaah ... saat tidur.” Kata Harunio.


“Baik.” Kata Miho.


Lalu Miho langsung berbaring di ranjang, sementara Harunio tidur di lantai menggunakan sleeping bagnya.


“Umm ... Harunio ...?” kata Miho.


“Fwaaah ... ada apa lagi, Miho ...?” kata Harunio yang menahan kantuk.


“Apa tidak apa-apa jika kau tidur di bawah seperti itu ...?” tanya Miho.


“Fwaaah ... tidak perlu dipermasalahkan, selamat malam.” Harunio langsung menutup matanya.


“U-umm ... baiklah, selamat malam.” Kata Miho.


Tetapi Harunio sebenarnya Harunio masih belum mengantuk karena efek dari Heavently Lock yang membuatnya tetap terjaga.


“Miho sudah tidur kan ...?” kata Harunio dalam fikirannya.


“Ya, begitulah.” Jawab Leviathan.


“Bukannya aku menolak, tetapi akan menjadi masalah jika 4 Lone mengetahuinya.” Kata Harunio dalam fikirannya.


“Berisik, aku tidak peduli dengan masalahmu. Cepatlah tidur, dari tadi kau sudah mengganggu ketenanganku!” Kata Kokuryuu.


“Baik, baik.” Lalu Harunio menggunakan Skillnya untuk berpindah tempat ke kamar kosong di sebelah kamarnya.


Dengan begitu dia bisa beristirahat dengan tenang tanpa khawatir ada kabar jika mereka berdua tidur di ruangan yang sama.


Keesokan harinya, Harunio mulai bangun setelah tidur di dalam ruang kosong di rumahnya.


“Huh ...? Oh, ya. Miho tidur di kamarku ...” kata Harunio.


Harunio meregangkan tubuhnya sejenak, lalu segera merapikan sleeping bagnya dan menyimpannya di Inventory.


“Hatching!! … Sepertinya aku kena flu lagi ...” untuk seorang pewaris kekuatan Perfect Core, flu adalah penyakit yang sering dialaminya.


Harunio langsung pergi ke kamar mandi yang letaknya bersebelahan dengan dapur.


“Oh, Harunio. Selamat pagi!” kata Miho yang selesai memasak dan masih memakai Vector Appron.


“Huh ...? Oh ... selamat pagi, Miho.” Kata Harunio yang masih mengantuk.


“Jangan tidur lagi, Harunio. Sarapan sudah siap.” Kata Miho.


“Sarapan ...?” lalu Harunio melihat ke meja makan.


Sudah ada dua porsi nasi goreng yang siap dinikmati di meja tersebut.


“Maaf membuatmu harus bangun pagi-pagi untuk menyiapkan sarapan. Aku tidak terlalu terkejut jika Miho bisa memasak, dia kan perempuan. Selain itu, dia sangat cocok dengan Appron itu!!” Kata Harunio dalam fikirannya.


“Tidak apa-apa, saat di rumah aku sudah terbiasa bangun pagi dan menyiapkan sarapan.” Kata Miho.


“Rumahmu di pegunungan Albaster?” tanya Harunio.


“Ya, benar. Keluargaku memiliki penginapan di sana, bangun pagi dan membuatkan sarapan sudah menjadi keseharianku.” Kata Miho.


“Begitu rupanya ... aku akan mandi terlebih dahulu.” lalu Harunio pergi ke kamar mandi.


“Oh, baiklah.” Kata Miho sambil bersiap-siap setelah membuatkan mereka sarapan.


- - -


Beberapa saat kemudian, Harunio keluar dari kamar mandi.


“Miho, hari ini kau ada kegiatan?” tanya Harunio yang baru keluar dari kamar mandi.


“Tidak juga ... ada apa, Harunio?” tanya Miho lalu menonaktifkan Vector apronnya.


“Kalau begitu, bagaimana jika hari ini kau mencoba ruang latihanku?” tanya Harunio.


“Benarkah?! Oh, ya ... kau sudah menyelesaikan tes terakhirnya kan? B-bersama Kuronioa-san ...” kata Miho dengan pelan pada bagian akhirnya.


“...! A-aku sudah bilang jika Kuronia hanya membantuku mengetesnya saja ...! Kenapa kau masih memikirkan kesalahpahaman itu ...!” kata Harunio sambil menahan malu.


“M-maaf ... aku masih memikirkan tentang mantel itu ...” kata Miho.


“Hhh ... dengar, Kuronia memang dekat denganku. Tetapi kami, terutama aku, masih normal dan tidak memiliki satu


pun kategori yang muncul di kepala Fujoshi!” kata Harunio.


“T-tetapi jika memang itu yang kau inginkan ... maka mau bagaiman lagi ... ehehe. A-aku hanya akan –” Harunio langsung memukul tembok hingga sedikit retak dan membuat Miho terkejut.


“Miho ...!” Kata Harunio.


“...! I-iya?” Miho sedikit terkejut.


“Jangan membuatku menjelaskannya lagi ...!” Kata Harunio dengan serius.


“B-baik ... a-aku mengerti, Harunio ... K-kau dan Kuronia-san hanya teman saja kan ... K-karena itu kau berjuang sekuat tenaga untuk menjadikanku partnermu kan ...” Miho sedikit takut dengan Harunio.


“Hhh ... baiklah, aku ingin mencoba sarapan buatanmu!” kata Harunio langsung berubah seperti semula.


“Hhh ... Iya, silahkan dinikmati! Aku sudah menyesuaikannya dengan seleramu.” kata Miho.


Harunio mencoba satu suapan.


“… Sedikit pedas, kau menambahkan lada, ya?” kata Harunio.


“U-umm ... ya, itu benar. Tetapi tidak apa-apa kan?” tanya Miho dengan wajah polosnya.


“Ya … sebenarnya tidak apa-apa. Karena sudah dibuatkan, akan aku habiskan.” Kata Harunio.


“Syukurlah jika kau suka!” kata Miho dengan senang.


“Tetapi untuk selanjutnya tolong kurangi ladanya, sebenarnya masih sedikit pedas bagiku.” kata Harunio.


“Baik.” Jawab Miho.


Mereka memulai hari dengan sarapan buatan Miho.


Tiba-tiba Harunio menerima pesan dari Kurona, ia langsung memeriksa De Ordernya.


“Ada apa, Harunio?” tanya Miho.


“Kuronia bilang akan datang untuk mengambil mantelnya, kau bisa bertanya sampai puas kepadanya nanti tentang


kesalahpahaman itu.” Kata Harunio dengan acuh.


“A-aku sudah minta maaf tentang itu ...” Miho merasa bersalah.


“Baik, baik. Aku memaafkanmu.” Kata Harunio.


“Terima kasih!” kata Miho dengan senang, lalu melanjutkan suapannya.


“Sial ... jika dia aku berdebat melawan air matanya, apapun hasilnya aku yang jadi merasa bersalah ...!” kata Harunio dalam fikirannya.


Setelah Harunio menghabiskan sarapannya, ia langsung menaruh peralatan makannya di wastafel.


“Oh, biar aku saja, Harunio.” Kata Miho yang juga telah menghabiskan  sarapannya.


“Tidak apa-apa, biar aku bantu.” Kata Harunio.


“Kuronia-san akan datang kan? Biar aku saja yang mencuci piringnya.” Kata Miho.


“Baiklah, kalau begitu. Tolong, ya.” Kata Harunio.


“Iya.” Miho langsung membersihkan peralatan makan mereka.


Beberapa menit kemudian, terdengar suara ketukan pintu.


“Oh, itu pasti Kuronia-san.” Kata Miho.


“Ya, sepertinya begitu.” Kata Harunio.


Lalu Harunio mengambil mantel Kuronia dan berjalan menuju pintu depan.


“Lain kali jangan tinggalkan – ...! Sial ...” kata Harunio dengan spontan.


Harunio terlihat kesal setelah membuka pintu.