Dimension - Y

Dimension - Y
Arc 1 - Confidence



Sementara itu, di Headquarters. Yudai sedang membahas beberapa hal bersama salah satu agennya yaitu Darkos.


“Hhmm ... beberapa dari mereka adalah Emylier yang lulus tes lokal untuk melanjutkan pelatihan di Conqueron.” Kata Darkos sambil melihat data dari beberapa Emylier.


“Ya, mereka memiliki kemampuan yang beragam.” Kata Yudai.


“Setidaknya mereka akan menjadi tim paling kuat di angkatan mereka.” Kata Darkos.


“Aku tahu jika ini mendadak, tetapi aku harap mereka bisa cepat terbiasa.” Kata Yudai.


“Kau sudah mempertimbangkan semua kemungkinannya, pasti akan berjalan dengan lancar.” Kata Darkos.


“Aku khawatir jika Klan Yumiho terus menutup diri dari Conqueron dan mulai bermusuhan dengan klan lain, terutama Klan Yoruhane.” Kata Yudai.


“Tenang saja, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi ...!” Kata Darkos dengan yakin.


“Bagaimana dengan situasi di Darko Tera?” tanya Yudai.


“Masih tenang seperti biasa, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” Jawab Darkos.


“Kita sudah tidak menerima kabar dari mereka sejak saat itu, katakan pada Chief untuk memperketat pertahanan. Jangan sampai ada yang tahu tentang situasi genting ini.” Kata Yudai.


“Baiklah, akan aku sampaikan kepadanya nanti.” Kata Darkos.


“Sekarang ... langkah selanjutnya adalah ...” Yudai mulai berfikir keras lagi.


Darkos menepuk punggung Yudai dan membuatnya sedikit terkejut.


“Tenangkan fikiranmu ... Bukankah kau terlalu berlebihan?” kata Darkos.


“Apa maksudmu?!” Yudai merasa tersinggung.


“Lihat.” Kata Darkos sambil melihat ke luar jendela.


Mereka melihat Harunio dan Miho yang sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit.


“Bahkan dia saja bisa santai tanpa menghiraukan apa yang akan terjadi selanjutnya.” Kata Darkos.


“Itu karena aku mengajarkannya tentang kebebasan.” Kata Yudai yang juga melihat Harunio.


“Yang benar saja.” Darkos meragukan kata-kata Yudai.


“Baik, baik, kau yang mengajarkannya. Karena kebebasannya yang dulu telah direbut, dia perlu mendapatkan penggantinya.” Kata Yudai.


“Direbut itu kata yang kurang pas.” Kata Darkos.


“Hilang?” tanya Yudai.


“Itu terdengar lebih buruk, tetapi itulah yang terjadi.” Kata Darkos.


“Selama dia bisa menjadi contoh Emylier yang baik, aku tidak keberatan.” Kata Yudai.


“Oh, ya. Kau juga harus mengendalikan wargamu!” kata Darkos.


“Ada apa?” tanya Yudai.


“Apa kau tidak tahu jika terjadi keributan di rumahnya pagi ini?” tanya Darkos.


“Maksudmu para Emylier single itu?” Yudai menyimpulkan.


“Nah, mereka adalah sekumpulan Emylier terkonyol yang pernah aku temui ...!” Kata Darkos.


“Meskipun begitu, mereka adalah Emylier yang berguna bagi Conqueron.” Kata Yudai.


“Apa aku tidak salah dengar?” kata Darkos.


“Tetapi kenyataan memang seperti itu.” Kata Yudai.


“Yang benar saja?! Apa saja yang mereka lakukan selain mengusik ketenangan Emylier lain?” tanya Darkos.


“Mereka sering berpartisipasi dalam pelayanan masyarakat seperti menjaga kebersihan lingkungan, tenaga konstruksi bangunan, penyedia jasa, pengawas sampah, bahkan tenaga sukarela.” Jawab Yudai.


“Mereka benar-benar pelayan masyarakat ...” kata Darkos yang sedikit tidak percaya.


“Hasil kerja mereka mendapat respon positif, kecuali dengan peraturan aneh mereka.” Kata Yudai.


“Dan kau membiarkannya ...” kata Darkos.


“Jika mereka mengganggu ketertiban dan kenyamanan umum, tentu saja itu masalah. Tetapi jika yang kau khawatirkan adalah mengganggu calon Partner, maka pendapatku adalah kebalikannya.” Kata Yudai.


“Bukankah itu sudah termasuk mengganggu ketertiban umum?” tanya Darkos.


“Ya, menurutku juga begitu.” Jawab Yudai.


“Lalu kenapa kau masih membiarkan mereka?” tanya Darkos lagi.


“Jika mereka tidak bisa menjalin hubungan baik antar Partner karena gangguan kecil seperti mereka, berarti ikatan yang mereka jalin benar-benar lemah! Keberadaan mereka seharusnya menjadi penyemangat kedua Emylier untuk memperkuat ikatan satu sama lain!” kata Yudai.


“A-aku tidak tahu jika kau bisa mengatakan hal seperti ini ...” Darkos terkejut dengan sisi lain Yudai yang baru ia ketahui.


“Kau terlalu meremehkanku.” Kata Yudai.


“Setidaknya kau pasti sudah menyiapkan rencana cadangan jika terjadi sesuatu.” kata Darkos.


“Tentu saja, masalah besar bisa terjadi jika aku biarkan.” Kata Yudai.


“Hhh ... lebih baik aku berangkat sekarang.” Kata Darkos.


“Ya, baiklah.” Kata Yudai.


Lalu Darkos meninggalkan ruangan untuk bersiap-siap kembali ke Darko Tera.


- - -


Sementara itu, Harunio dan Miho sedang menuju ruangan dimana Teo dirawat.


“Oh, di sini,ya ...” kata Harunio yang sampai di depan pintu ruangan yang terbuka.


Lalu mereka berdua masuk, di dalam hanya ada Teo dan seorang perawat.


“Permisi.” Kata Miho.


“Selamat siang, bagaimana dengan keadaan Teo?” tanya Harunio.


“Oh, kalian teman-temannya, ya. Untuk saat ini dia masih dalam keadaan koma, kita hanya bisa berdoa agar Teo-kun segera sembuh dan bisa beraktifitas seperti biasanya.” Jawab perawat itu.


“Kira-kira berapa lama waktu yang dibutuhkan?” tanya Miho.


“Mengingat luka yang dideritanya cukup parah ... mungkin sekitar 2 sampai 4 minggu.” Jawab perawat itu.


“Begitu, ya ... Harunio, apakah kau bisa menyembuhkannya dengan skillmu?” Miho berbisik kepada Harunio.


“Jangan bercanda ...! Meskipun aku bisa menggunakannya untuk menyembuhkan berbagai luka, bukan berarti semua bisa disembuhkan ...!” kata Harunio dengan pelan.


“Tetapi ...” kata Miho lagi.


“K-kalau boleh tahu, seberapa parah lukanya?” tanya Harunio kepada perawat itu.


“Jika melihat data hasil pemeriksaannya, banyak tulang rusuk Teo-kun yang patah, selain itu beberapa persendiannya juga bergeser, dan tulang belakangnya juga sedikit retak. Namun kalian tidak perlu khawatir, dengan


perawatan dan istirahat yang teratur Teo-kun pasti bisa lekas sembuh.” Kata perawat itu.


“B-begitu, ya ... Teo-kun yang malang, semoga dia cepat sembuh.” Kata Miho.


"A-adiknya ...?" kata Harunio.


"Oh, kau belum tahu, ya? Teo-kun tinggal di Conqueron bersama adik perempuannya." kata perawat itu.


“...! L-lalu di mana dia sekarang?” tanya Harunio.


“Dia mendapat misi pengamatan bersama seorang rekannya, mungkin Leadro-sama pasti ingin dia tidak terlalu


memikirkan masalah ini dan mempercayakan pihak rumah sakit untuk merawat kakaknya.” Kata perawat tersebut.


“K-kalau boleh tahu, siapa nama –” tetapi Harunio langsung memberi isyarat pada Miho untuk tidak ikut campur.


“Terima kasih untuk penjelasannya, aku harap Teo segera sembuh.” Kata Harunio.


“Iya, terima kasih karena mau datang menemuinya.” Kata perawat itu.


“Kalau begitu, kami pergi terlebih dahulu.” Kata Harunio sambil berbalik menuju pintu keluar.


“K-kami permisi terlebih dahulu ...!” kata Miho lalu menyusul Harunio.


“Iya, hati-hati di jalan!” kata perawat tersebut.


Miho mempercepat langkahnya untuk menyusul Harunio.


“Tunggu aku, Harunio!” kata Miho.


“Pelankan suaramu saat dirumah sakit, Miho.” Kata Harunio.


“Kenapa kau langsung pergi tanpa menanyakan namanya?” tanya Miho.


“Lebih baik kita tidak berususan lebih jauh lagi.” Kata Harunio.


“Tadi kau bilang dia pasti akan mengerti setelah kau jelaskan.” Kata Miho.


Tetapi Harunio hanya diam dan terus berjalan.


“K-kau akan menyelesaikan masalah ini kan?” tanya Miho.


Lalu Harunio berhenti.


“Ya, seperti begitu ...” kata Harunio.


Miho terlihat senang.


“Aku tahu kau pasti akan –”


“Aku ingin menghindarinya ...!” kata Harunio yang terlihat sedih.


“E-eh ...? Bukankah kau ingin menyelesaikan masalah ini?” tanya Miho.


“Ini sudah diluar kemampuanku ...!” kata Harunio.


“J-jadi ...” kata Miho.


“Aku tidak ingin terlibat lagi dengan urusan ini, seperti yang perawat itu katakan. Percayakan kepada pihak rumah sakit untuk merawat Teo.” Kata Harunio.


“A-aneh ... ini terasa aneh ... Harunio yang aku kenal tidak seperti ini, bukankah skillmu bisa menyembuhkannya? Kenapa tidak kau gunakan seperti kau menyembuhkan semua lukaku?!” Miho merasa kecewa dengan Harunio.


“Jika saat itu Teo masih ada di taman, aku bisa menggunakannya untuk meringankan luka yang dideritanya ...! Tetapi sekarang situasinya sudah berbeda ...!” kata Harunio.


“Apanya yang berbeda? Jika Teo sudah sembuh keadaan akan kembali seperti semula kan?” kata Miho.


“Memangnya apa jaminanya jika itu yang akan terjadi? Dari mana kau tahu jika tidak akan ada masalah kalau aku


melakukannya?” tanya Harunio.


“...! I-itu ...” Miho tidak bisa menjawabnya.


“Jika semua bisa terjadi semudah itu, aku tidak perlu menghindar dan menjelaskan semua ini kepada adiknya lalu


masalah selesai!” kata Harunio.


Miho tidak tahu harus bagaimana.


“Semua tidak akan terjadi dengan semudah itu ...! Jika Teo tiba-tiba sembuh, masalah lain akan datang. Teo yang


dianggap memalsukan cideranya, pihak rumah sakit yang dianggap memalsukan data. Semua akan berujung sebagai kasus pencurian yang melibatkan orang dalam! Dengan begitu bukan hanya adik perempuannya saja yang terkena dampaknya, diriku maupun dirimu bahkan keluarganya juga!” kata Harunio.


“A-aku tidak tahu jika akan jadi seperti itu ...” kata Miho.


“Saat ini, Teo sedang melawan penderitaannya. Dan bersiap untuk melawan penderitaan yang akan terjadi.” Kata


Harunio.


Miho hanya bisa diam.


“Tidak hanya Teo saja, semua pasien di seluruh dunia sedang berjuang melawan penyakit yang dideritanya saat ini.


Jika kau tahu nama adik perempuannya, lalu apa yang akan kau lakukan?” Kata Harunio.


“M-memberinya semangat agar tidak menyerah, karena Teo-kun pasti baik-baik saja ...” kata Miho.


“Lalu apakah dia akan menanggapinya dengan baik? Tidak akan seperti itu, dia bisa saja mencurigaimu sebagai


pelakunya. Setidaknya dia akan menyalahkanmu karena baru saja menjelaskan masalah ini, banyak kemungkinan buruk yang bisa terjadi jika mengatakannya saat ini.” Kata Harunio.


Miho terkejut mendengarnya, ia tidak mengira jika respon yang diharapkannya akan berbeda dengan kenyataan.


“B-baiklah, aku mengerti ...” kata Miho.


“Sifat Emylier itu beragam, kau tidak bisa menanggapinya dari sudut pandangmu sendiri.” Kata Harunio.


“B-bisakah kita hentikan pembicaraan ini ...?” Miho mulai bersedih.


“Hhh ... Aku akan mengantarmu kembali ke asrama, kita bisa melanjutkan latihanmu lain kali.” Kata Harunio.


“Ha-Harunio ...!” kata Miho.


“Ada apa?” tanya Harunio.


“A-aku ... aku ingin ... melanjutkan latihanku hari ini!” kata Miho.


“Tidak perlu memaksakan diri.” Kata Harunio.


“Tidak, aku harus memaksakan diriku yang hanya menjadi beban ini untuk berubah ...!” kata Miho.


“Hmph, itu baru namanya semangat!” kata Harunio dengan senang.


Miho juga mulai terlihat gembira seperti biasa.


“Tetapi jangan pernah bilang tentang kekurangannmu lagi didepanku!” kata Harunio.


“B-baik, maaf soal itu ... tehehe ~” kata Miho.


“Baiklah ... kita lanjutkan latihanmu!” kata Harunio.


“Iya!!” jawab Miho dengan semangat.


Lalu mereka berdua kembali ke rumah Harunio.