Dimension - Y

Dimension - Y
Arc 1 - Execution Day



Keesokan paginya, ada sebuah rombongan yang terdiri dari tiga kereta kuda yang sedang melewati jalan di antara tebing gunung Stohelm. Di sana, mereka melihat seorang pemuda yang sedang berjalan dengan susah payah di tengah jalan.


“Hei! Bisakah kau menepi? Jangan menghalangi jalan!” kata seorang pria.


Pemuda itu berhenti lalu berbalik dan berjalan ke arah rombongan itu.


“Lapar sekali ... Tolong beri aku makanan ...” kata pemuda itu.


Pemuda itu tersandung batu dan langsung tergeletak di tanah, dia mencoba berdiri namun terlalu lemah.


“Aku kira siapa ... ternyata hanya seorang bocah.”


“Hei! Ada apa?” tanya seorang pria dari kereta lain.


“Hanya seorang pengemis!”


“Suruh dia pergi dari jalan! Kita sedang buru-buru!”


Identitas dari pemuda itu adalah Kuronia, mereka tidak tahu wajah pemuda itu karena tertutup kerudung dari mantel yang berwarna abu-abu.


“Dasar ... pagi-pagi sudah mengemis meminta makanan ... Hanya satu potong tidak masalah kan?”


“Ya, baiklah! Yang penting singkirkan dia dari jalan!”


Lalu pria itu mengambil sepotong roti dan melemparnya di dekat pemuda itu.


“Terima kasih banyak! Aku benar-benar tertolong ...” kata Kuronia.


“Berisik ... cepat pergi! Jangan menghalangi jalan!”


“Tetapi sayang sekali ... hasil curian.” Kata Kuronia.


“...! Apa yang kau –” Kuronia langsung bangun dan bergerak dengan cepat menuju rombongan.


Dengan menggunakan sepasang Feather Knifenya, Kuronia langsung melepaskan kuda yang menarik kereta. Karena panik, kuda tersebut langsung pergi meninggalkan kereta yang ditariknya.


“Sial ...! Hentikan dia!!” kata pemimpin perampok.


Mereka langsung melengkapi diri dengan senjata dan mencoba menghentikan Kuronia.


“Aku akan sedikit serius.” Kata Kuronia.


Kuronia mengubah kedua Feather Knifenya menjadi sepasang Feather Sword.


“...! Itu ...!” pemimpin perampok itu tidak asing dengan senjata yang pemuda itu gunakan.


“Aku mulai!” Kuronia langsung maju melawan beberapa pria yang sudah siap dengan senjata mereka.


Dengan sigap Kuronia menahan dan menghindari serangan mereka lalu melepaskan satu kuda lagi dari keretanya.


“Sial ...! Dia cepat sekali ...!” kata seorang pria.


“Mundur! Lindungi kereta terakhir!” kata pemimpin perampok.


Mereka langsung menggunakan bom asap untuk mengurangi jarak pandang Kuronia.


“Aku butuh sedikit bantuan.” Kata Kuronia.


“Ya, baiklah.” Jawab Harunio melalui De Ordernya.


Tiba-tiba datanglah angin yang berhembus dengan kencang dan meniup kabut asap yang mereka buat.


“A-apa yang terjadi ...?!” kata seorang pira.


Kuronia langsung maju dan mengincar kuda yang menarik kereta ketiga.


“Tidak akan aku biarkan!” seorang pria mencoba menghalangi Kuronia menggunakan senjata beracun.


“Jadi itu yang mereka gunakan untuk melawan Emylier ...” kata Kuronia dalam fikirannya


Kuronia membuat sebuah pijakan dari besi dan melompati perampok tersebut.


“Apa?!” pria itu sedikit terkejut.


Kuronia melemparkan beberapa pisaunya dan langsung berubah menjadi lempeng besi yang melayang di udara. Ia


memanfaatkan lempeng besi tersebut untuk melewati blokade dari para kru kereta kuda. Setelah berhasil melewati mereka, Kuronia langsung melepaskan kuda dari kereta terakhir.


“Itu bukanlah senjata biasa ...! Sebuah senjata yang dibuat dengan memanipulasi Shard ... Siapa kau sebenarnya?!” kata pemimpin rombongan.


“Aku ...?” Kuronia menghilangkan vector mantelnya.


“...! K-kau ...!”


“Aku adalah Emylier dengan peringkat pertama dari akademi Conqueron. Kuronia Stowyne si Element Metal.” Kata


Para anggoat tim Harunio yang lain turun dari atas tebing dan menutup rute pelarian mereka.


“Gawat! Kita terkepung!”


Kilas balik tadi malam, Harunio membahas rencana penangkapan para perampok bersama Blitz dan Kuronia.


“Jadi, kita akan menyergap mereka seperti biasa?” tanya Blitz.


“Pada dasarnya seperti itu, tetapi yang menjadi masalah adalah rute yang akan mereka lewati.” Kata Harunio.


“Ada beberapa rute yang bisa digunakan untuk menuju kota, biasanya rute memutar lebih sering dipakai sebagai jalan keluar masuk menuju kota.” Kata Kuronia.


“Ya, namun daerah itu adalah tempat kita bertarung melawan Dragrest.” Kata Harunio.


“Mereka pasti akan berfikir ulang kalau ingin melewati rute itu. Mengingat serangan Dragrest mencakup area yang sangat luas, pasti mereka sudah melihat pertarungan kita dari jauh.” Kata Blitz.


“Blitz, seberapa jauh kau bisa melacak posisi mereka?” tanya Harunio.


“Tidak terlalu jauh, tetapi akan aku coba untuk meningkatkan jangkauannya dari tempat yang lebih tinggi.” Kata Blitz.


“Baguslah, aku mengandalkanmu.” Kata Harunio.


“Ya, baiklah.” Kata Blitz.


“Setelah kita tahu rute yang mereka pakai, kita akan bersiap untuk melakukan serangan kejutan lalu tutup jalur


pelarian mereka.” Kata Harunio.


Lalu keesokan harinya, berdasarkan pantauan dari Blitz, rute yang mereka ambil adalah jalan yang melewati tebing


gunung. Rute ini jarang digunakan karena terlalu berbahaya dan tidak efisien bagi Normus.


“Kalau begitu, aku serahkan kepadamu, kawan.” Kata Harunio.


“Ya, tentu saja.” Kuronia memakai vector mantelnya dan langsung terjun menuruni jurang.


Sesuai rencana, para perampok muncul dan Kuronia bertugas memulai serangan kejutan.


“Baiklah, pertama-tama ….” Kuronia berbaring di tanah dan berguling beberapa kali untuk mengotori pakaiannya agar tidak dicurigai.


“Haha! Lihat, dia benar-benar pandai melakukannya!” kata Falco.


“Apa tidak apa-apa meninggalkan Kuronia sendirian di sana?” Aprilia mengkhawatirkan partnernya.


“Tidak perlu khawatir, Aprilia. Meskipun dia seorang Esper, kemampuan bertarung jarak dekatnya itu luar biasa.


Apa kau tahu kenapa Kuronia bisa menjadi peringkat pertama akademi?” tanya Harunio.


“T-tidak ...” jawab Aprilia.


“Ini hanya pendapatku saja, jika Kuronia memiliki Extensi mungkin dia adalah Emylier Hanbi.” Kata Harunio.


“Kuronia ... adalah Emylier Hanbi?” kata Aprilia.


“Penggunaan Shard dari para Esper bisa dibilang cukup buruk, tetapi bukan berarti tidak bisa ditingkatkan. Lalu entah bagaimana Kuronia bisa berhasil, kemampuannya menggunakan Skill tidak jauh berbeda dari Emylier pada umumnya. Selain itu kemampuan fisiknya yang hebat itu bukan dari buff, tetapi kemampuan alaminya. Aku tidak tahu apa saja yang sudah dia lalui hingga sampai seperti ini. Tetapi, aku yakin itu sesuatu yang besar.” Kata Harunio.


Aprilia tidak bisa berkata-kata setelah mendengarnya.


“Aku butuh bantuan.” Kata Kuronia melalui De Ordernya.


“Ya, baiklah.” Lalu Harunio mengeluarkan kedua sayapnya dan menggunakan Skill untuk memanggil angin yang


meniup kabut asap yang menghalangi Kuronia.


“A-apa benar Kuronia seperti itu ...?” tanya Aprilia.


“Kemampuan fisik yang hebat dari Nenbi, lalu pengendalian Skill dari Winbi. Dia memiliki kekuatan seperti Hanbi,


tetapi dia terlihat seperti Normus. Kuronia memang tidak bisa terbang tetapi Emylier Nenbi juga sama. Mungkin kesempurnaan itu bukan milik Emylier ataupun Normus, tetapi dimiliki oleh Esper.” Kata Harunio.


“Jika dilihat dari sudut pandang itu, semua menjadi terlihat luar biasa ...” kata Aprilia.


Kuronia telah melepaskan semua kuda sesuai rencana.


“Baiklah, saatnya beraksi!” kata Harunio.


Lalu mereka semua turun dan menutup rute pelarian para perampok.


“Yo! Kita bertemu lagi!” kata Harunio.


Rencana penyergapan berhasil, para perampok tidak akan bisa lolos dari mereka.