
Harunio mencabut Dragon Blade Leviathan dengan tangan kanannya, area di sekitarnya langsung hancur karena ledakan energy dari Perfect Core Shard.
“Baiklah ...! Terima kasih karena sudah menunggu!” kali ini Harunio masih memiliki kendali penuh atas tubuhnya setelah mengaktifkan Perfect Core.
“Sudah selesai yang istirahat?” kata Dragrest.
Harunio langsung melompat dan terbang dengan cepat, Dragrest memulai serangan dengan mengeluarkan hembusan apinya.
“Hmph! Aku sudah bosan melihatnya!” Harunio berhenti sejenak dan membuat sebuah Feather Knife di tangan kirinya.
Lalu ia memberikan Wind Shard pada pisau itu sehingga mengeluarkan aura berwarna hijau.
“Apa yang akan dia lakukan ...?” Dragrest mencoba membaca serangan Harunio
Lalu Harunio melemparnya ke atas dengan pelan dan memukul pisau itu dengan bilah dari Dragon Blade Leviathan.
Feather Knife itu langsung melesat ke arah Dragrest dengan cepat dan membuat sebuah tornado sepanjang pisau itu melaju. Hembusan api Dragrest dapat dipadamkan dengan mudah.
“Kemampuan bertarungnya meningkat drastis ...” kata Dragrest saat menghindari Feather Knife yang melesat itu.
Harunio memanfaatkan kesempatan itu untuk menebas tanduk Dragrest namun dapat dihindari juga, Harunio memanfaatkan kesempatan dengan menendang kepalan Dragrest dengan kuat dan membuatnya terbang lebih rendah.
“Kugh ...! Boleh juga!” kata Dragrest yang semakin bersemangat.
“Hmph! Aku baru pemanasan!” Harunio melanjutkan serangan.
“Hei ... hei ... Seseorang tolong jelaskan apa yang sebenarnya terjadi ...” kata Blues.
“Harunio adalah Emylier yang memiliki kekuatan luar biasa yang disebut Perfect Core yang merupakan kumpulan dari berbagai Shard di dunia.” Kata Kuronia.
“Jadi karena itu dia bisa menggunakan Shard dari berbagai element.” Kata Finyx.
“Itu hanya sebagaian kecil dari kemampuannya, biasanya Harunio akan lepas kendali setelah mengaktifkan 10% dari kekuatan Perfect Core.” Kata Kuronia.
“Ehh ... Apakah dia terlihat seperti lepas kendali?” tanya Falco.
“Aku belum pernah melihatnya menggunakan kekuatan itu saat kita menjalankan misi.” Kata Blitz.
“Tidak, saat dia lepas kendali dia akan menyerang targetnya dengan lebih brutal tanpa ragu.” Kata Finyx.
“Sekarang kau mengakui jika dulu ia ingin membunuhmu ...” kata Blues dengan pelan.
“Ternyata kau pernah melihatnya juga.” Kata Kuronia.
“Aku juga pernah melihat Harunio menggunakan kekuatan ini, tetapi itu karena Harunio ingin melindungi sesuatu.
Aku yakin itu!” Kata Miho.
“Mungkin saat ini dia sudah bisa mengendalikan kekuatan itu, meski baru 10%.” Kata Kuronia.
“Lalu bagaimana jika dia masih lepas kendali?” tanya Blitz.
“Kita harus menguras habis Shardnya, atau biarkan dia mengamuk dan tenang dengan sendirinya.” Kata Kuronia.
“Seperti kekuatan yang terkutuk, ya ...” kata Blitz dengan pelan.
Falco tahu jika Blitz memikirkan sesuatu tentang hal itu.
“Hei ... hei ... yang benar saja ... Membiarkan dia mengamuk? Jangan bercanda!” kata Blues.
“Kalau begitu satu-satunya jalan keluar hanya menetralkan Shardnya.” Kata Kuronia.
“Ya ampun, dia benar-benar Emylier yang menyusahakan ...” kata Blues.
“A-aku akan melakukan sesuatu jika itu terjadi!” kata Miho.
“Hanya jika kau bisa menetralkan Shardnya, selain itu terlalu beresiko.” Kata Kuronia.
“Harunio pasti akan mendengarkanku. Bagaimanapun juga, aku adalah partnernya!” kata Miho dengan percaya diri.
“Aku sudah bilang jika –”
“Jika itu satu-satunya hal yang dapat kita lakukan, maka kami mengandalkanmu, Miho. Sebagai gantinya kami akan berusaha untuk melindungimu.” Blitz memotong pembicaraan Kuronia.
“Baik!” kata Miho dengan percaya diri.
“Hhh ... baiklah kalau begitu.” Kata Kuronia.
Sementara itu, pertarungan Harunio dan Dragrest masih berlanjut.
“Hmph! Ternyata hanya Dragon Blade yang mempan padamu!” kata Harunio.
Pedang itu satu-satunya senjata yang mampu menggores tubuh Dragrest meski lukanya akan langsung beregenerasi dengan cepat.
“Hmph! Memangnya kau bisa mengalahkanku?” tanya Dragrest.
“Yah, setidaknya biarkan aku mencobanya dulu. [Lightning Step]!” Harunio memberikan buff Light Shard untuk meningkatkan kecepatannya.
Dragrest hanya bisa mengantisipasi serangan Harunio meski kadang mengenainya, lalu Dragrest membuat perangkap ledakan di udara untuk memperlambat Harunio.
“Hmph! Yang benar saja!” Harunio menebaskan Dragon Blade Leviathan pada Mark Seal Dragrest dan menghancurkan perangkapnya.
“Sepertinya perangkap kecil sudah tidak berpengaruh padamu.” Kata Dragrest.
“Ayolah, kau hanya bermain-main dari tadi. Aku mulai bosan.” Kata Harunio dengan santai.
“Kalau begitu ... aku akan mengerahkan seluruh kemampuanku.” Dragrest merasa tertantang.
“Sepertinya menarik ...!” Harunio juga semakin bersemangat.
“Kekuatanku adalah tarian kehidupan yang membakar tubuh hingga ajal ...” Dragrest membuat Mark Seal dengan ukuran yang sama saat menggunakan Hell Pilar namun ia membuat Mark Seal yang mengelilingi Harunio dari atas, bawah, samping, depan, dan belakang.
“H-hei ...! Sepertinya dia ingin membuat sebuah ledakan lagi!” kata Blues.
“Sial ...! Kita harus segera membantunya!” kata Kuronia.
“T-tolong tunggu sebentar lagi ...!” kata Miho.
“Kita tidak punya banyak waktu!” kata Kuronia.
“Tenangkan dirimu, Kuronia. Jika kau belum pulih, kau hanya akan menghambatnya saja.” Kata Blitz.
“Sial ...!” Kuronia sangat kecewa pada dirinya saat melihat Harunio berjuang sendirian tanpa bantuannya.
“Ya ampun ... apa perlu Mark Seal sebesar ini untuk membakar seorang Emylier?" kata Harunoi.
"Kita mulai, Leviathan!” kata Harunio dalam fikirannya.
“Baik.” Kata Leviathan.
“... membakar, membersihkan, menyucikan jiwa yang ternoda oleh dunia! [Crimson Howling Flame]!” Mark Seal itu
langsung bersinar dengan warna merah lalu mengeluarkan api berwarna merah pekat
yang membakar semua yang ada di dalamnya.
“...! Harunio ...! Sialan ...!! Akan aku bunuh dia sekarang juga!!” Kuronia sudah terbawa amarahnya.
“Jangan, Kuronia!” Aprilia menahan Kuronia untuk pergi.
“Lepaskan aku! Aku tidak akan memaafkannya!!” Kuronia tetap memaksa pergi.
“Tahan dia sampai proses pemulihan selesai!” Blitz memberi perintah.
“Lepaskan aku ...!” kata Kuronia.
Miho langsung membekukan kedua kaki Kuronia.
“Apa yang kau lakukan ...?!” kata Kuronia yang terbakar oleh emosinya.
“Aku tidak tahu apakah aku benar-benar mengerti apa yang kau rasakan saat ini ... Aku memang baru saja bertemu Harunio, tidak sepertimu yang selalu bersamanya dalam situasi apapun. Tetapi aku juga tidak ingin melihat Harunio terus disakiti seperti itu ...” kata Miho.
“Kalau begitu ...!” Kuronia tetap memaksa ingin pergi.
“Tetapi jika kau tidak bisa bertarung, apa kau ingin membebani Harunio di saat yang sama?!” kata Miho.
Kuronia sedikit terkejut dan mulai tenang.
“Hei, Kuronia.” Kata Aprilia.
Lalu Kuronia melihat ke arah Aprilia.
“Jika kau mati di sini, aku yakin banyak orang akan sedih setelah mengetahuinya. Tetapi aku yang akan paling sedih karenanya ...” Aprilia tidak bisa menahan air matanya saat mengucapkan kalimat terakhir.
“Aprilia ...” Kuronia merasa menyesal.
Miho melepaskan es yang membekukan kakinya.
“Dasar ... aku saja tidak peduli jika salah satu dari mereka mati ...” kata Blues dengan pelan.
“Ssstt!” Finyx menyuruhnya diam.
“Sekarang bagaima – ...! A-apa yang ...?!” Dragrest sedikit terkejut.
“Lihat! Apa itu?!” kata Falco.
Anggota tim Harunio melihat ke arah ledakan Mark Seal tersebut, setitik cahaya biru muncul dari dalam ledakan.
“A-apakah ...?!” Kuronia sedikit tidak percaya.
“Ya ...! Itu pasti ...” kata Miho.
Cahaya biru itu semakin membesar, ledakan Crimson Howling Flame padam dan Mark Seal Dragrest berubah menjadi biru. Dalam beberapa detik Mark Seal tersebut telah lebur menjadi embun yang jatuh secara perlahan-lahan dari udara.
“Harunio!” kata Miho.
Tentu saja dibalik itu semua adalah Harunio.
“Murnikan, sucikan, pulihkan seperti sediakala. [Kiri Kaifuku]!” Harunio menggunakan Healling Skill milik Leviathan.
Embun yang turun dari udara memiliki efek yang memulihkan kondisi semua anggota tim Harunio.
“I-ini ...!” kata Kuronia.
“Sepertinya dia masih ingat dengan kita.” Kata Blitz.
“Kiri Kaifuku ... Skill yang menetralisir efek negative sekaligus memulihkan kondisi tubuh ... Sejauh mana kau bisa menggunakan kekuatan milik Leviathan ...?” Dragrest berfikir keras tentang kemampuan Harunio.
Setelah menggunakan Healling Skill, Harunio langsung melanjutkan serangan. Namun Dragrest dapat menghindarinya dan membuat perangkap dari Mark Sealnya.
“...! Sial ...!” Harunio tidak sempat menghindar.
Beberapa detik kemudian perangkap itu langsung meledak namun Harunio berhasil menahannya dengan melingkupkan kedua sayapnya ke depan.
“Kembalilah ke asalmu!” Dragrest memukul Harunio menggunakan ekornya dan sehingga ia jatuh ke tanah dengan
keras.
“Harunio!” kata Miho.
Kuronia langsung pergi ke tempat Harunio jatuh tanpa menghiraukan siapapun.
“Ya ampun ..! Ayo, kita juga!” kata Blitz.
“Baik!” jawab mereka.
Para anggota tim segera mengikuti Blitz.
“Ahh ... sial ...!” kata Harunio yang bangkit dari retakan tanah.
“Harunio!” kata Kuronia yang baru sampai.
“Oh, Kuronia, ya ...” kata Harunio.
“Kali ini kau benar-benar berlebihan, apa yang kau fikirkan?” Kuronia mengulurkan tangannya dan membantu Harunio bangun.
“Haha ... kau sendiri juga sama kan.” Kata Harunio.
“Harunio, kau baik-baik saja?” tanya Miho.
“Seharusnya itu yang aku tanyakan.” Kata Harunio.
“Ya, berkat embun yang kau turunkan kami sudah lebih baik.” Kata Blitz.
“Embun ...? Oh, Skill itu!” kata Harunio.
“Dasar ... Skill sendiri saja tidak ingat!” kata Blues.
“Jika responmu seperti ini berarti kau baik-baik saja.” Kata Harunio.
“Apa?!” Blues tersinggung.
“Dasar berisik ...!” Finyx langsung memukul kepala Blues.
“Blues bodoh ...” kata Phinyx.
“Umm ... untuk memastikan saja, apakah dia masih Harunio yang kita kenal?” Aprilia berbisik kepada Miho.
“B-benar juga ...! U-umm ... Harunio ...” Miho sedikit ragu menanyakannya.
“Huh? Ada apa, Miho?” Harunio menanggapinya seperti biasa.
“A-apakah ... umm ...” Miho masih ragu menanyakannya.
“Bisakah kau menanyakannya nanti, kita masih sibuk sekarang.” kata Harunio.
“Dia masih Harunio yang biasa.” Kata Blitz.
“Ya, benar.” Kata Falco.
“Tentu saja dia masih Harunio yang seperti biasanya.” Kata Kuronia.
“Apa yang kalian bicarakan? Aku benar-benar tidak mengerti ...” kata Harunio.
“Uhuhu ...! Syukurlah kau masih Harunio yang seperti biasa!” Miho merasa lega.
“Aku sudah muak mendengar kata ‘seperti biasa’ terus!! Hhh ... baiklah! Sepertinya kalian sudah pulih kembali setelah Shard kalian dibakar oleh Dragrest.” Kata Harunio.
“Ya, begitulah.” Kata Blitz.
“Baguslah kalau begitu, kali ini kita akan melakukan penyerangan habis-habisan! Jika gagal maka berakhir sudah.” Kata Harunio.
Tidak ada yang menyangka jika Harunio akan mengatakan hal seperti itu.