
Setelah Medical Check-up, Harunio dan Miho hanya duduk di loby.
“Ahh ... benar-benar membosankan ...! Aku tidak mengira jika akan gagal dari misi!” kata Harunio.
“A-ahaha … Kalau aku malah sering gagal.” Miho merendah.
“Kau juga tidak memiliki kegiatan hari ini?” tanya Harunio.
“Sebenarnya ada, tetapi temanku masih belum kembali dari misinya.” Kata Miho.
“Satu-satunya agendaku hanya misi ini, tetapi aku terpaksa mengundurkan diri ...” kata Harunio.
“Y-ya ... maaf, maaf.” Kata Miho.
“Ini sudah kesekian kalinya kau meminta maaf ...” kata Harunio.
Lalu seseorang datang.
“Namamu Harunio?” tanya Darkos.
“Ya, benar. Ada apa?” Harunio berbalik tanya.
“Jangan seperti itu, Harunio ...!” kata Miho dengan pelan.
“Memangnya kenapa?” tanya Harunio.
“Hahaha, kalian benar-benar akrab, ya! Namaku Darkos, aku adalah teman Yudai dari Darko Tera.” Darkos memperkenalkan diri.
“Darko ...!”
“ ... Tera?!”
Harunio dan Miho terkejut mendengarnya.
“Jadi ...!” Harunio sedikit terkejut.
“Ya, aku juga seorang Yoruhane sepertinya. Selain itu, aku adalah Agen Conqueron dari Darko Tera.” Kata Darkos.
“A-ada yang bisa aku bantu?” tanya Harunio.
“Sepertinya kau punya waktu luang setelah dinyatakan gagal dari misi.” Kata Darkos.
“Sudahlah, jangan membahasnya ...” Harunio langsung depresi karena mengingatnya.
“Hahaha! Bagaimana kalau kau membantuku? Akan aku anggap ini sebagai quest, kau bisa mendapat imbalan setelah selesai.” Kata Darkos.
“Benarkah?! Apa yang harus aku lakukan?!” Harunio langsung bersemangat.
“Aku ingin kau membantuku mengamati sebuah tempat di wilayah Netral sebelah timur laut Conqueron.” Kata Darkos.
“Timur laut? Tempat apa itu?” tanya Harunio.
“Hanya sebuah taman.” Kata Darkos.
“Taman?” kata mereka berdua.
“Lebih tepatnya Taman Luvana.”kata Darkos.
“Apakah ada sesuatu yang terjadi?” tanya Miho.
“Ada beberapa rumor yang beredar tentang tempat itu, aku mendapat tugas untuk menyelidikinya. Kita hanya perlu menyelidiki setiap sudutnya.” Kata Darkos.
“Baiklah! Meski biasanya aku butuh Kuronia, tetapi akan aku lakukan!” kata Harunio.
“Baguslah.” Darkos terlihat senang.
“Bagaimana denganmu, Miho? Kau mau ikut?” tanya Harunio.
“E-ehh? Tetapi ...” Miho sedikit ragu.
“Oh, ya. Apakah tempat itu berbahaya?” tanya Harunio kepada Darkos, “Kami bertemu perampok pada misi sebelumnya dan dihajar oleh mereka.” Kata Harunio.
“Tenang saja, tempat ini adalah salah satu destinasi wisata oleh Normus maupun Emylier.” Kata Darkos.
“Kau dengar? Ini tidak seperti misi yang sebelumnya, kau tidak perlu khawatir! Ini lebih baik daripada tidak melakukan apa pun.” kata Harunio.
“Y-ya, baiklah kalau begitu. Aku akan ikut!” kata Miho.
“Baguslah! Kita berangkat!” kata Darkos.
Setelah mengabsen, mereka pergi lewat gerbang timur Conqueron. Emylier yang tidak dalam misi akan memiliki status ‘Standby’ atau ‘Working’ yang tertera pada personal info pada De Order dan Internal System. Begitu pula sebaliknya, Emylier yang sedang menjalankan misi atau aktifitas lain di luar Conqueron akan memiliki status ‘Engaged’ pada personal infonya.
“Tunggu sebentar, kita pergi dengan jalan kaki?!” tanya Harunio.
“Ya, begitulah.” Darkos menjawabnya dengan santai.
“Menyebalkan ...” Harunio kehilangan semangat.
“S-sudahlah, kau juga akan mendapat imbalan karena membantunya, kan?” Miho mencoba menyemangati Harunio.
“Jika dia tidak memberi imbalan yang pantas, aku tidakakan memaafkannya ...!” kata Harunio.
Lalu mereka berhenti setelah melewati Fortrees.
“Ada apa? Sudah lelah?” tanya Harunio.
“Kenapa baru dibahas sekarang?! Bukankah lebih mudah mencarinya saat di Conqueron?!” Harunio terlihat kesal.
“Kau tidak akan menemukan yang ini di Conqueron.” Darkos maju beberapa langkah lalu ia membuat Mark Seal dengan ukuran yang besar. “[Kolus : Bohren]!” Darkos menggunakan Skillnya untuk memanggil Mount.
Mark Seal itu mulai bersinar, beberapa saat kemudian seekor burung raksasa dengan tinggi sekitar 15 meter telah hadir.
“Whoaaah!! Hebat!” Harunio langsung takjub.
“I-inikah ... Mount Winged Beast ...?” Miho baru pertama kali melihat Mount seperti itu.
“Huh ...? Tempat ini ...” kata Raska.
“Yo, Raska! Kau sedang sibuk?” tanya Darkos.
“Aku kira siapa, ternyata Darkos.” Kata Raska.
“Yang lain ada di belakangmu.” Kata Darkos.
Raska melihat ke arah belakang.
“Oh, ternyata –” Raska langsung membungkuk dan melihat Harunio dari dekat.
“...! J-jika dari dekat sedikit menakutkan juga ...” kata Harunio dengan pelan.
Harunio berdiri tepat di depan Raska.
“Dia yang kau maksud?” tanya Raska kepada Darkos.
“Ya, memangnya siapa lagi?” kata Darkos.
“Tidak aku sangka akan bertemu dengannya lagi.” Kata Raska.
“Baik, baik, terserah kau saja, kakek ...” kata Darkos.
“Dia tiba-tiba melihat ke arahku lalu membahas hal yang tidak aku mengerti ...!” Kata Harunio.
“Y-ya ... kita biarkan saja.” Kata Miho.
“Ohh, pemandangan langka. Partnernya?” tanya Raska.
“...! P-Partner ...?!” Harunio dan Miho langsung canggung.
“Entahlah ... mungkin belum.” Kata Darkos.
“T-tolong hentikan candaanmu ...! Apa kau sudah lupa dengan tujuanmu?!” kata Harunio sambil menahan malu.
“Kita mulai dengan perkenalan saja dulu, dia adalah Raska. Satu-satunya Mount yang mirip dengan Yoruhane.” Kata Darkos memperkalkan Mountnya.
“Aku Harunio Ell Roshido, satu-satunya Emylier yang mirip Yoruhane.” Kata Harunio.
“Namaku Miho Shiroku, senang bertemu denganmu.” Kata Miho.
“Hmm … pasangan Partner yang menarik.” Kata Raska.
“K-kami ... Status kami bukanlah sepasang Partner ...!” Harunio mencoba meluruskan kesalah pahaman ini.
Sementara Miho berusaha menahan rasa malunya.
“Baiklah, baiklah. Tolong antar kami ke Taman Luvana, bisa kan?” kata Darkos.
“Bukankah kau bisa ke sana dengan tenagamu sendiri?” kata Raska.
“Kau tidak dengar? Perempuan itu adalah Emylier Nenbi!” kata Darkos.
“Bukan masalah, kan?” kata Raska.
Darkos memberi isyarat untuk mendekat.
“Ini urusan penting.” Kata Darkos dengan serius.
“Ohh? Seberapa penting?” tanya Raska.
“Kau ingin dunia kiamat?” tanya Darkos.
“Kita berangkat sekarang.” Raska langsung menurut.
“He-hebat ... dia langsung mematuhi perintahnya ...” Harunio terkesan.
Lalu mereka naik ke punggung Raska.
“Kita berangkat!” kata Darkos.
“Ya!!” kata Harunio dan Miho.
Raska mulai melebarkan kedua sayapnya dan terbang.
“Hei, Harunio. Sepertinya sayap Raska-san sama dengan sayapmu saat bertarung tadi.” Kata Miho.
“Benarkah? Kau bilang jika kau tidak terlalu ingat pertarungan itu?” tanya Harunio.
“Hanya sedikit yang aku ingat, uhum ~” kata Miho sambil menunjukkan senyuman manisnya.
Dengan begitu perjalanan mereka untuk mengamati Taman Luvana dimulai.