Dimension - Y

Dimension - Y
Arc 1 - Resolution



Beberapa jam kemudian, Harunio mulai membuka matanya karena terganggu oleh suara tapal kuda yang menghentak tanah dan suara roda yang melaju di jalan yang sedikit berbatu.


“Ini ... di mana ...?” tanya Harunio.


“Selamat pagi! Tidurmu nyenyak sekali, ya!” kata Miho.


“Miho ...? I-ini ...?!Hwaaah!!” Harunio langsung bangun karena terkejut.


Ternyata Harunio tidur di pangkuan Miho.


“Jangan banyak bergerak dulu, Harunio.” Kata Miho.


“Tunggu sebentar, kenapa kita naik kereta kuda? Apakah para Guardo menjemput kita?” tanya Harunio.


“Tidak, kita kembali ke Conqueron.” Kata Miho.


“Apa?! Kenapa?! Bagaimana dengan misinya?” tanya Harunio.


“Kita terpaksa mengundurkan diri karena kondisikita yang memburuk.” jawab Miho.


“Kau seharusnya bersyukur karena kami membantumu!” kata Blues yang berjalan disamping kereta kuda.


“Siapa mereka?” tanya Harunio.


“Mereka adalah Blues, Finyx, dan Phinyx. Saat mereka dalam perjalanan menuju Conqueron, mereka berusaha untuk menyelamatkanku saat ditangkap oleh para perampok .” Kata Miho.


“Finyx dan Phinyx ...? Oh, mereka yang kembar itu ...” kata Harunio.


“Kau tidak ingat dengan apa yang baru saja terjadi?” tanya Finyx.


“Tch! Dasar pembuat masalah ...!” kata Blues dengan pelan.


“Sepertinya dia membenciku ...” Harunio tidak tahu harus bagaimana.


“Tidak perlu difikirkan, dia hanya sedikit kesal karena terpaksa turun tangan.” Kata Finyx.


“Kau membelanya?! Setelah apa yang dia lakukan?!” Blues tidak sukadengan respon Finyx.


“Sudahlah, yang penting kita semua baik-baik saja.” Kata Finyx.


“Aku sudah tidak tahan lagi, aku ingin segera sampai ke kota!” lalu Blues mengeluarkan kedua sayapnya dan terbang.


“Maaf, seperti itulah sifat aslinya.” Kata Finyx.


“Ya ... baiklah kalau begitu. Namaku Harunio, dan dia adalah rekan satu timku Miho. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tetapi aku minta maaf atas semua yang telah terjadi dan terima kasih karena telah membantu.” Kata Harunio.


“Ya, tidak masalah, benarkan?” kata Finyx kepada adiknya.


“I-iya.” Kata Phinyx dengan spontan.


“Kalau begitu, kami harus mengejarnya sebelum dia terlibat masalah lain. Sampai jumpa!” lalu Finyx dan Phinyx terbang menyusul Blues.


“Hei, Miho. Apa yang sudah terjadi?” tanya Harunio.


“Apa tidak boleh jika tidak aku jelaskan?” kata Miho.


“Tolonglah, aku ingin mengetahuinya.” Harunio menatap Miho dengan serius.


“Saat itu keadaanku cukup buruk, tidak banyak yang bisa aku ingat.” Kata Miho.


“Tidak apa-apa, katakan semuanya.” Kata Harunio.


“Meski aku sedikit tidak sadar, hal yang aku ingat adalah kau berusaha sekuat tenaga  untuk  menyelamatkanku.” Kata Miho.


“Lalu kenapa dia membenciku?” tanya Harunio.


“Kau ... kau ...” Miho masih ragu.


“Sudahlah, katakan saja!” Harunio semakin penasaran.


“Kau ... berusaha menyerang Finyx.” Kata Miho.


Harunio diam untuk beberapa sesaat.


“Mereka bilang kau juga ingin membunuh para perampok itu ...” Miho merasa kasihan.


“Apakah aku melakukan suatu perubahan? Atau aku mengatakan sesuatu yang aneh seperti suatu frasa?” tanya Harunio.


“Mereka juga bilang Extensimu berubah, lalu Feather Sword tidak mempan kepadamu setelah mengatakan sesuatu seperti … Black-Beast.” Kata Miho.


“Ahh ... terjadi lagi, ya ...” Harunio merasa sedikit tertekan.


“Ada apa, Harunio?” tanya Miho.


“Kenangan buruk yang dulu menghantuiku baru saja kembali ... Selain itu, alasan kenapa Feather Sword tidak mempan karena aku memiliki lapisan khusus yang ada di permukaan kulitku. Maaf, lebih baik kau tidak melihatnnya.” Kata Harunio.


“Tidak apa-apa ...” Miho langsung membaringkan Harunio di pangkuannya lagi, “ … biar aku saja yang memperlihatkan sesuatu kepadamu.” Kata Miho.


“...! Mi-Miho?” Harunio sedikit canggung dengan situasinya.


Lalu Miho mengeluarkan Extensi Nenbinya, saat itu Miho baru memiliki lima buah ekor.


“Whoahaha!! Kau benar! Ekormu benar-benar tebal dan sangat lembut!!” Harunio sangat senang karena dapat bermain-main dengan ekor Miho.


“Hei, Harunio. Entah kenapa saat kita mengerjakan misi ini, aku merasa sangat senang. Caramu menjalani setiap misi benar-benar memiliki sudut pandang yang berbeda, ya ...” kata Miho.


“Hahaha! Kau terlalu berlebihan, aku hanya mengerjakansetiap misi dengan caraku sendiri!” kata Harunio sambil memeluk Ekor milik Miho.


“Begitu, ya ... Terima kasih karena mau menjalankan misi bersamaku, dan maaf membebanimu karena aku tidak terbiasa dengan pertarungan.” Kata Miho.


“Kenapa kau mempermasalahkan hal kecil seperti it –” Harunio terkejut ketika menatap wajah Miho.


Saat pertama kalinya melihat Fox Ears diatas kepala Miho, Harunio berifikir jika gadis itu  terlihat semakin cantik. Tetapi semua langsung berubah dalam sekejap setelah ia melihat air mata gadis itu mengalir.


Setelah perjalanan menggunakan kereta kuda, mereka berhenti di gerbang barat Conqueron untuk mengabsen.


“Terima kasih karena telah mengantar kami, paman!” kata Harunio.


“Kami benar-benar minta maaf karena tidak bisa membayar jasa anda!” kata Miho.


“Hahaha! Tidak apa-apa, para Guardo dari Ruton sudah mengurusnya.” Kata pak kusir.


“Begitu, ya!” kata Miho dengan senang.


“Kalau begitu, aku pergi terlebih dahulu.” kata pak kusir.


“Ya, selamat jalan!” kata Harunio.


Lalu dia meninggalkan gerbang barat dan kembali ke Ruton.


“Sekarang bagaimana?” tanya Miho.


“Ya ... persiapkan saja mentalmu.” Kata Harunio lalu berjalan menuju Conqueron.


“T-tunggu aku ...! Persiapkan mental? Apa maksudnya?” tanya Miho sambil mengejar Harunio.


“Pergi ke Headquarters dan mendengarkan semua komentar pedas Yudai.” Kata Harunio dengan santai.


“Sepertinya kau sudah terbiasa dengan situasi ini.” Kata Miho.


“Ya, begitulah! Aku sering membuat masalah dan dimarahi olehnya!” Harunio masih bisa menanggapinya dengan tenang.


“Selain itu, kau memanggil Leadro-sama dengan namanya. Kau benar-benar dekat dengannya, ya!” kata Miho.


“Aku sudah bersama dengan Yudai untuk waktu yang lama, bahkan sebelum tinggal di Conqueron.” Kata Harunio.


“Jika kau bukan dari Darko Tera, lalu di mana tempat asalmu?” tanya Miho.


“Entahlah ... aku tidak mengingatnya.” Kata Harunio.


“Begitu, ya ... Y-yang penting adalah apa yang ada sekarang, benarkan?” kata Miho.


“Ya, kau benar!” kata Harunio.


Setelah mereka tiba di Ruangan Yudai.


“Hhh ... aku yakin kau sudah tahu apa yang akan aku katakan.” Yudai sedikit kecewa.


“...! Y-ya ... begitulah ... hehehe ...!” Harunio semakin gugup karena tidak tahu apa yang akan terjadi.


“Akan aku percepat ke bagian evaluasinya. Ehem! Kalian dinyatakan gagal dari misi dan tidak mendapat imbalannya. Itu saja.” Kata Yudai.


“Y-ya ... kemungkinan terburuknya sudah terjadi ...” Harunio sedikit kecewa karena tidak bisa melunasi hutang dan mengisi tabungannya.


“Umm ... tadi kau bilang jika aku harus mempersiapkan mental untuk mendengarkan komentar –”


“Gaaahh!” Harunio langsung menutup mulut Miho dengan kedua tangannya karena tidak ingin memperburuk


keadaan, “Tidak usah difikirkan! Sekarang sudah tidak perlu dibahas lagi, oke?” kata Harunio dengan panik.


“Kau ini benar-benar tidak memiliki sopan santun terhadap perempuan ...!” Yudai kecewa dengan Harunio.


“M-Miho ... kau tidak apa-apa?” Harunio sedikit panik karena wajah Miho langsung memerah.


“A-aku tidak apa-apa ...! Hanya sedikit terkejut ...” kata Miho sambil menahan rasa malunya.


“Oh, ya! Aku mendapat tawaran untuk bekerja di restoran tempat P2 bekerja. Besok aku sudah bisa mulai bekerja!” Kata Harunio.


“Begitu rupanya, baguslah. Bekerjalah dengan baik dan jangan mengecewakan mereka.” Kata Yudai.


“Ya, tentu saja! Ngomong-ngomong, urusan kami sudah selesai?” tanya Harunio.


“Huh? Oh, ya. Pergilah ke Unit Medis untuk diperiksa, aku dengar Miho terkena racun.” Kata Yudai.


“Oh, benar juga. Ayo, Miho.” kata Harunio.


“Iya. Kami permisi, Leadro-sama.” Kata Miho.


Lalu mereka berdua meninggalkan ruangan.


“Gadis itu partnernya?” tanya Darkos yang tiba-tiba datang.


“Sudahlah, ada apa kau kemari?” tanya Yudai.


“Bolehkah aku meminjam mereka sebentar?” tanya Darkos.


“Apa yang ingin kau lakukan?” tanya Yudai.


“Berjalan-jalan di taman.” Kata Darkos.


“Untuk apa?” tanya Yudai lagi.


“Aku ingin memancing ikan yang besar.” Kata Darkos.


“Tidak usah berbelit-belit.” Kata Yudai.


“Karena informasi yang terbatas aku juga ragu mengatakannya, bukankah lebih baik memeriksanya terlebih dahulu?” kata Darkos.


“Terserah kau saja, itu juga kalau anak itu mau.” kata Yudai.


“Tenang saja, dia tidak akan menolak.” Kata Darkos.


Lalu Darkos meninggalkan ruangan.