
Tibalah hari dimana Harunio dan Teo akan mengutarakan perasaan mereka kepada Emylier yang mereka pilih.
“Apa?!” kata Harunio.
“Sayang sekali kita tidak bisa pergi bersama, kali ini aku ada tugas mendadak.” Kata Teo.
“Tetapi ini tidak mengacaukan rencanamu kan?” kata Harunio.
“Semoga saja tidak, aku akan memintanya untuk menungguku. Sebenarnya aku merasa sedikit tidak enak memberitahukannya.” Kata Teo.
“Baiklah, semoga rencanamu berjalan lancar! Aku tidak akan menggangu kalian berdua.” kata Harunio.
“Hmph! Kau juga jangan bertindak bodoh atau kau akan kehilangan kesempatan sekali dalam seumur hidup!” kata Teo.
“Ya! Kau tidak perlu mengatakannya dua kali! Kalau begitu, aku pergi dulu!” kata Harunio.
Lalu Harunio mengabsen dan segera pulang.
“Miho, kau sudah pulang?” Harunio menghubungi Miho melalui De Ordernya.
“Ya, begitulah. Kita berangkat sekarang?” tanya Miho.
“Ya, kau bisa menungguku di gerbang timur, aku akan mencari transportasi terlebih dahulu.” Kata Harunio.
“Baiklah, jangan lama-lama, ya!” kata Miho.
“Ya, serahkan saja padaku!” kata Harunio.
Harunio langsung mempersiapkan semuanya, sementara pergi Miho menunggunya di gerbang timur Conqueron.
“Permisi, tolong absensinya.” Kata Miho.
“Oh, ternyata si idola Conqueron!” kata salah satu Guardo laki-laki.
“U-uhh ... tidak juga.” Kata Miho sambil menahan malu.
“Dasar tidak sopan! Mereka hanya memanggilnya begitu bukan berarti dia menginginkannya.” Kata Guardo laki-laki
lain.
“Haa?! Coba jelaskan dimana letak kesalahanku?” kata Guardo pertama.
“Baik, baik. Jatah makan siangmu ada di meja, cepat makan atau aku buang.” Kata Guardo kedua.
“Dasar tidak berperasaan, kau sendiri tahu jika aku belum makan seharian.” Lalu Guardo pertama pergi.
“Umm ... bagaimana dengan absensinya?” tanya Miho.
“Oh, ya. Aku hampir lupa.” Kata Guardo kedua.
“Baik, tunggu sebentar.” Kata Guardo perempuan.
“Ya ampun ... kalian selalu ribut sampai lupa dengan tugas!” kata Guardo perempuan yang lain.
“Apakah kau pergi sendiri?” tanya Guardo perempuan pertama.
“Tidak, rekanku sedang mencari transportasi. Dia memintaku untuk menunggu di sini.” Kata Miho.
“Begitu, ya. Silahkan tulis nama dan tempat tujuan kalian.” Kata Guardo perempuan.
“Baik.” kata Miho.
Lalu gadis itu segera mengisi absensi.
“Sudah selesai.” Miho mengembalikan absensinya.
“Baiklah, Miho Shiroku dan ... Harunio Ell Roshido ...?” kata Guardo perempuan.
“Iya, benar.” Kata Miho.
“Tidak ada, hanya kami berdua. Ada apa?” tanya Miho.
“Banyak Emylier tidak pernah menjalankan misi bersamanya lagi, mereka seperti takut kepadanya. Kecuali Kuronia, dia benar-benar Emylier yang luar biasa karena berani menjalankan misi bersama Harunio hingga berkali-kali.” Kata Guardo perempuan 1.
"Benarkah?" kata Miho dengan wajah polosnya.
“Kenapa kau masih ingin satu tim dengannya?” tanya Guardo perempuan 1.
“Sebenarnya aku tidak tahu kabar yang beredar tentang Harunio, tetapi yang aku tahu dia bisa diandalakan dan dipercaya. Meski kadang-kadang dia bersikap aneh, tetapi itu bukan masalah.” kata Miho.
“Ohh ... benarkah?” kata Guardo perempuan 2.
“Selain itu dia memiliki pandangan yang berbeda dengan Emylier lain, dia sering membuatku terkejut!” Kata Miho.
“Lalu tingkah aneh seperti apa maksudmu?” tanya Guardo perempuan 1.
“...! E-ehh ...! B-bagaimana, ya ... ehehehe ...” Miho tidak tahu bagaimana menjelaskannya.
“Banyak yang menyukai Kuronia karena kemampuan dan juga ketampanannya. Aku tidak tahu kenapa Kuornia tidak menjadikanmu sebagai Partnernya, kalian berdua adalah idola Conqueron.” Kata Guardo perempuan 2.
“U-umm ... Kuronia-san memang Emylier yang hebat dengan kemampuan yang luar biasa, dia juga ahli dalam bidang akademik. Tetapi aku tidak terlalu tertarik dengannya, selain itu Harunio bukanlah Emylier yang buruk. Mencurigai sesorang itu tidak baik, apa lagi tanpa bukti.” Kata Miho.
“Hehee ... sepertinya idola Conqueron menyukai Harunio.” Kata Guardo perempuan 2.
“...! E-ehh ...?! T-tidak seperti itu juga ... lagi pula mereka seenaknya saja menyebutku idola Conqueron ...!” Miho langsung merasa malu.
“Dia baru bilang jika tidak boleh mencurigai orang kan?” Kata Guardo laki-laki 1.
“Kau diberi nasehat dari Emylier yang lebih muda darimu?” kata Guardo laki-laki 2.
“Berisik!” kata Guardo perempuan 2.
“Hei!! Miho! Maaf sedikit terlambat!” Harunio datang dengan kereta kuda mereka.
“Maaf, kami harus berangkat sekarang.” Lalu Miho menemui Harunio.
“Oh, baiklah." kata Guardo perempuan 1.
“Kau sudah menulis nama kita?” tanya Harunio.
“Iya, sudah. Ngomong-ngomong ini ...” kata Miho.
“Kereta penyuplai bahan makanan, paman ini sedang mengantar persediaan rempah-rempah ke wilayah lain. Karena rutenya searah, kita bisa berangkat bersama.” Kata Harunio.
“Begitu, ya! Tolong bantuannya, paman!” kata Miho.
“Tentu saja, nona muda. Tetapi aku minta maaf karena nanti perjalanan pulangnya agak terlambat.” Kata pak kusir.
“M-maaf soal itu, ehehehe ...!” kata Harunio.
“Ya, tidak apa-apa. Aku tahu jika kau menghemat semuanya karena –”
“Gaaahh!! Baik, baiklah! Aku mengerti! Aku minta maaf! Tolong jangan membuatku mengingatnya!” kata Harunio.
“Hahaha! Kalau begitu silahkan naik, mungkin sedikit berantakan dibelakang sana.” Kata pak kusir.
“Baik!” kata mereka berdua.
Lalu mereka berdua menaiki gerbong belakang dan mengkondisikan diri di tempat yang seadanya karena penuh dengan muatan.
“Sepertinya gosip yang beredar tentang Harunio perlu diragukan.” Kata Guardo perempuan 1.
“Ya, mungkin apa yang dikatakan Miho ada benarnya. Kita tidak tahu karena belum pernah mengalaminya.” Kata Guardo perempuan 2.
“Benar juga.” Kata Guardo perempuan 1.
Dengan begitu Harunio dan Miho berangkat menuju taman Luvana.