Dimension - Y

Dimension - Y
Arc 1 - Hard Work



Setelah sampai di ruang latihan di rumahnya, Harunio langsung mengaktifkan proyeksi ruang latihan sehingga menampilkan taman Luvana di waktu malam.


“Frame Type-Teo tingkat kesulitan mudah diaktifkan!” Harunio mengaktifkan fitur musuh.


“Kau sudah siap?” tanya Harunio.


“I-iya!” jawab Miho meski sedikit ragu.


“Baiklah, mulai!” kata Harunio.


Frame Type-Teo langsung membuat kobaran api yang kuat, tetapi dapat dihindari Miho meski sedikit kesulitan.


“Bahkan aku bisa merasakan hawa panas dari skillnya ...!” kata Miho.


“Tetap fokus, Miho!” kata Harunio.


“Baik!” kata Miho.


Gadis itu masih menjaga jarak dengan Frame Type-Teo, dan belum menyerang sama sekali sementara Frame Type-Teo terus melancarkan serangan.


“Apa yang kau lakukan? Kau tidak akan menang jika terus seperti ini!” kata Harunio.


“A-aku mengerti!” Miho sedikit ragu karena masih mengingat Teo yang sebenarnya.


Frame Type-Teo langsung membuat beberapa Feather Knife dan melemparnya ke arah Miho.


“Aku bahkan tidak perlu menghindar ...” kata Miho.


Feather Knife tersebut hanya tersebar di sekitarnya


“Jangan berfikir sedangkal itu!” kata Harunio.


Perlahan-lahan Feather Knife tersebut menyala dan meledak sehingga membuat pergerakan Miho terhenti.


“Kyaaa!” Miho terperangkap dalam serangannya.


Frame Type-Teo langsung memanfaatkan kesempatan dan menyerang Miho menggunakan Feather Swordnya, Miho tidak bisa bergerak karena terlalu takut dan hanya pasrah dengan keadaan.


“[Projection Stop]!” kata Harunio.


Semua objek proyeksi menghilang termasuk Frame Typer-Teo yang sedang menyerang, jika itu adalah pertarungan


yang sesungguhnya Miho pasti terluka parah.


“Kau tidak apa-apa?” tanya Harunio.


“Maaf ...” kata Miho sedikit bersedih.


“Sudahlah, Miho.” Harunio mencoba menenangkan gadis itu.


“Aku bahkan tidak bisa menyerangnya sekalipun ...! Aku ... benar-benar payah ...!” Miho mulai menangis.


“Sudahlah, tidak apa-apa.” Kata Harunio sambil menepuk bahunya.


Miho langsung memeluk Harunio dan menangis, sementara Harunio hanya bisa menerima semua luapan kesedihannya sambil menahan reaksi Heavently Lock.


“K-kita istirahat terlebih dahulu, sekarang sudah saatnya makan siang.” Kata Harunio.


“B-baik ...” kata Miho meski masih bersedih.


Lalu mereka meninggalkan ruang latihan.


“Duduklah, Miho. Biar aku buatkan sesuatu.” Kata Harunio.


“U-umm, biar aku bantu.” Kata Miho.


“Tidak apa-apa, untuk sekarang tenangkan dirimu terlebih dahulu.” Kata Harunio.


“B-baiklah ... maaf merepotkanmu, Harunio.” Kata Miho.


“Sudahlah, tidak perlu difikirkan.” Kata Harunio.


Miho berfikir jika dia hanya akan menjadi beban bagi Emylier lain yang bersamanya, berbeda dengan Harunio


yang bisa membantu Emylier lain dalam posisi apapun.


“Baiklah, silakan dinikmati.” Kata Harunio sambil menyuguhkan seporsi nasi dan telur goreng buatannya.


“U-um, iya. Terima kasih, Harunio.” Kata Miho.


“Sama-sama.” Kata Harunio.


Mereka beristirahat sambil makan siang dengan menu yang biasa Harunio buat, tetapi keadaan Miho saat itu


benar-benar tidak bisa membuat Harunio tenang.


“Ada apa, Miho? Aku sudah menambahkan garam saat membuatnya, jangan menangis atau rasanya akan semakin


asin.” Kata Harunio.


“Maaf ... aku minta maaf.” Miho masih belum bisa tenang.


“Ya ampun ... masih memikirkan tentang latihan tadi?” kata Harunio.


Miho hanya mengangguk dengan wajah sedihnya.


“Hhh ... sudahlah, tidak perlu difikirkan.” Kata Harunio.


“Aku minta maaf ... aku tidak bisa mengalihkan fikiranku ...!” kata Miho.


Harunio hanya diam berfikir bagaimana mengatasi masalah ini sambil meneruskan suapannya, sementara Miho


masih bersedih.


“Hei, Miho.” kata Harunio yang telah menghabiskan makanannya.


“I-iya ...” kata Miho meski masih bersedih.


“Ingin mendengar sesuatu yang menarik?” tanya Harunio.


“A-apa itu? Tanya Miho.


“B-baiklah ...” kata Miho yang mencoba menahan kesedihannya.


Lalu Miho mulai menghabiskan makanannya.


“Sebenarnya ...” Miho mengalihkan perhatiannya ke Harunio, “ ... aku sudah tahu akar permasalahanmu.” Kata Harunio.


“B-benarkah?” tanya Miho.


“Ya, saat ini kau tidak memiliki tujuan apapun untuk diraih.” Kata Harunio.


Miho sedikit terkejut, dan ia kembali menjadi dirinya yang seperti biasa.


“K-kalau begitu ...” kata Miho.


“Ya, cukup sederhana, kan?” kata Harunio.


“A-apa benar hanya karena itu ...?” tanya Miho.


“Jika ada yang ingin aku tambahkan, itu adalah keragu-raguan, kurang percaya diri, dan sejenisnya. Setidaknya itu


penjelasan logis yang terlintas di kepalaku.” Jawab Harunio.


“Hanya karena itu ... aku menjadi beban Emylier lain ...” Miho mulai bersedih lagi.


“Hei, hei, Miho. Lihat kemari, aku sedang berbicara denganmu.” Kata Harunio.


“I-iya ... maaf.” Kata Miho sambil mengusap air matanya.


“Sebenarnya aku sudah tahu saat kesal denganmu yang tidak mau melawan Frame Type-Teo seberapa keras aku mengubah tampilannya, aku mengajakmu ke rumah sakit juga untuk membuatmu menemukan alasan untuk bertarung.” Kata Harunio.


“Lalu ... aku harus bagaimana?” tanya Miho.


“Hmm ... bagaimana, ya ...?” kata Harunio sambil melihat ke arah Miho.


Miho menjadi sedikit gugup.


“Miho, kenapa kau tiba-tiba ingin melanjutkan latihanmu?” tanya Harunio.


“K-kenapa, ya ...” Miho tidak tahu bagaimana menjelaskannya.


“Sudahlah, katakan saja.” Kata Harunio.


“A-aku juga tidak terlalu mengerti ... Hanya saja saat mengetahui jika semua orang di rumah sakit sama-sama berjuang melawan penyakitnya, aku juga merasa ingin melawan kekuaranganku!” kata Miho.


“Hhmm ... begitu, ya ... Lalu saat kau berhadapan dengan Frame Type-Teo, kau langsung kehilangan rasa percaya


diri.” Kata Harunio menyimpulkan.


“S-sepertinya begitu ...” kata Miho.


“Yah, bukan berarti itu tidak akan terjadi. Bagi Emylier yang jarang bertarung sepertimu lalu tiba-tiba terjun ke medan pertempuran pasti akan terkejut karena belum terbiasa, kau harus memiliki tekad yang kuat untuk bisa bertahan, selain itu pengalam bertarung juga penting.” Kata Harunio.


Tiba-tiba Harunio menerima panggilan dari De Ordernya.


“Yudai ...?" kata Harunio dalam fikirannya.


"Harunio di sini, ada apa, Yudai?” tanya Harunio.


“Kau sedang sibuk?” tanya Yudai melalui De Ordernya.


“Tidak juga, ada apa?” tanya Harunio.


“Ada misi gabungan untukmu, datanglah ke ruanganku nanti sore.” Kata Yudai.


“Ya, baiklah.” Kata Harunio.


“Oh, ya. Katakan juga pada Miho untuk bergabung.” Kata Yudai.


“Ya, Miho sedang bersamaku sekarang.” Kata Harunio.


“Baguslah, aku serahkan padamu.” Kata Yudai.


“Baik.” Lalu Harunio menutup channel De Ordernya.


“Ada apa, Harunio?” tanya Miho.


“Kebetulan sekali, kita berdua mendapat misi gabungan.” Kata Harunio.


“K-kalau begitu ...” kata Miho.


“Ya, kemungkinan terjadi pertarungan sangat tinggi. Sayangnya dengan kemampuanmu yang sekarang, kau hanya akan menjadi beban seperti biasanya.” Kata Harunio.


“M-mungkin lebih baik aku tidak ikut ...” kata Miho.


“Benarkah? Kau ingin melewatkan kesempatan ini?” tanya Harunio.


“T-tetapi ... aku hanya akan membebani anggota lain ...” kata Miho.


“Karena itu, kita akan mempercepat latihanmu.” Kata Harunio.


“A-apakah dengan begitu aku bisa berguna?” tanya Miho.


“Ya, tentu saja.” Jawab Harunio dengan yakin.


Miho kembali bersemangat karena merasa jika kali ini semua akan berbeda.


“Baik!” kata Miho.


“Karena kita harus ke ruangan Yudai nanti sore, kita akan mulai latihan sekarang.” Kata Harunio.


“Baiklah, tetapi setelah mencuci piring.” Miho langsung mengambil peralatan makan mereka berdua dan membersihkannya.


Harunio merasa lega karena Miho sudah kembali seperti semula.


“Aku akan menunggu di ruang latihan, pintunya tidak akan aku kunci jadi kau bisa langsung masuk.” Kata Harunio.


“Oh, baik~!” kata Miho.


Harunio pergi ke ruang latihan dengan perasaan tenang karena situasinya sudah lebih baik.