Dimension - Y

Dimension - Y
Arc 1 - Relationship



Setelah duel melawan Phinyx selesai, Harunio dan Miho melanjutkan pengamatan mereka hingga sore hari. Saat itu mereka berada di sebuah jalan batu yang mengarah ke tengah danau. Cahaya matahari terbenam yang dipantulkan oleh danau membuat Harunio terpesona dengan Miho yang semakin memukau.


“A-ada apa, Harunio?” Miho sedikit malu.


“...! T-tidak ada apa-apa ... eheheh ...” Harunio sedikit gugup.


“Baiklah, saatnya pulang.” Kata Darkos yang menghampiri mereka.


“Tetapi kami masih belum menyelidiki semua tempat.” Kata Harunio.


“Hari ini sudah cukup, kita kembali ke Conqueron sekarang.” Kata Darkos.


“Baiklah kalau begitu.” Kata Harunio.


Lalu mereka bertiga meninggalkan Taman Luvana dan kembali ke Conqueron menunggangi Raska.


- - -


“Hei, kenapa pengunjung taman semakin berkurang saat sore? Padahal itu adalah waktu yang paling tepat untuk menikmati keindahan taman.” Kata Harunio dalam perjalanan mereka.


“Huh? Tentu saja karena sudah waktunya pulang.” Kata Darkos.


“Aku tadi melihat beberapa pengunjung sangat tergesa-gesa ketika mengemasi barang-barangnya sebelum pergi.” Kata Miho.


“Mungkin karena peraturan baru untuk mengosongkan taman sebelum matahari terbenam.” Jawab Darkos.


“Kenapa?” tanya Harunio.


“Sekitar 15 tahun yang lalu sebelum aturan ini diberlakukan, peristiwa aneh terjadi di tempat itu. Lalu dibuatlah peraturan itu demi keamanan pengunjung.” Kata Darkos menjelaskan.


“Apa yang terjadi?” tanya Miho.


“Entahlah, karena itu aku mendapat tugas untuk menyelidikinya.” Kata Darkos.


“Begitu, ya ....” kata Miho.


“Ngomong-ngomong, ada sesuatu yang kalian dapatkan?” tanya Darkos.


“Menurutku tidak ada yang aneh dari tempat itu.” Kata Harunio.


“Ada satu yang sedikit janggal, kau ingat jalan yang menuju ke tengah danau itu?” kata Miho.


“Ya, kenapa?” tanya Darkos.


“Ujung jalan itu melengkung seperti ada bagian yang hilang ....” Kata Miho


“Ya, benar juga. Selain itu harus aku akui tempat itu adalah titik terbagus untuk melihat seisi taman.” Kata Harunio.


“Hmm ... begitu rupanya.” Kata Darkos.


“Lalu bagaimana dengan sejarah tempat itu?” tanya Harunio.


“Aku dengar taman itu dulunya adalah tempat persembahan dalam tradisi kuno.” Kata Darkos.


“Memangnya ada apa?” tanya Harunio.


“Zaman dulu adalah zaman yang primitif, yang dipersembahkan pasti bukan makanan atau barang yang setiap hari kau temui.” kata Darkos.


“...! L-lalu apa yang mereka korbankan ...?” Harunio sedikit gemetar.


“Ya, banyak hal yang bisa saja mereka persembahkan …” Harunio dan Miho semakin penasaran.


“Budaya yang beraneka ragam menjadikan banyak hal yang mungkin mereka persembahkan.” Kata Darkos.


“M-misalnya?” Harunio sedikit takut namun penasaran.


“Biasanya mereka mengorbankan hewan, hasil bumi yang beraneka ragam, bahkan juga ... Normus atau Emylier.” Kata Darkos


“...! Me-mengerikan ...!” kata mereka berdua.


“Ada juga beberapa kategori korban yang akan dipersembakan, kau ingin tahu?” kata Darkos.


“Kau serius memberitahu kami hal-hal seperti itu?!” Harunio merasa jijik.


“S-sudahlah ... kita bahas yang lain saja ....” Miho juga merasakan hal yang sama.


“Ya, mungkin itu yang menjadi penyebab gangguan tersebut. Ekspedisi malam lebih menarik, kan?” Kata Darkos.


“Tidak tidak tidak ...! S-setelah aku fikir kembali, malam adalah waktunya istirahat setelah beraktifitas seharian.” Kata Harunio.


“B-benar juga, ya ... “ kata Miho.


“Hoho ...! Jangan bilang jika kau yang juga memiliki Dark Shard takut dengan hal seperti itu.” Darkos menyindir Harunio.


“...! S-setiap orang punya phobia masing-masing ...!” kata Harunio dengan spontan.


“Aku tidak terkejut jika Miho yang takut, tetapi kau juga ...” Darkos semakin mempermainkan Harunio.


“...! B-berisik ...! Terserah kau saja ...” kata Harunio sambil memalingkan muka.


“S-sudahlah, Harunio. Kita berdua memiliki rasa takut yang sama.” Miho mencoba menenangkan Harunio.


“Kita hampir sampai!” kata Raska.


Lalu Raska terbang merendah menuju sisi timur Fortrees.


“Baiklah, terima kasih untuk tumpangannya.” Kata Darkos.


“Ya, sama-sama.” Kata Raska.


“Setelah mengabsen ke pos timur kalian bisa langsung kembali, biar aku saja yang mengurus laporan pengamatannya.” Kata Darkos.


“Jangan lupa upah yang kau janjikan!” kata Harunio


“Ya, baiklah. Itu juga.” Kata Darkos.


“Kau serius atau tidak?! Jika kau berbohong, kau akan menyesalinya!” kata Harunio.


“Baik, baiklah ... kau membuatku takut karena diancam oleh anak-anak.” Kata Darkos.


“Sial ...!” kata Harunio dengan pelan.


“Sudahlah, Harunio. Setidaknya misi kali ini telah selesai.” Kata Miho.


“Oh, aku lupa. Kerja bagus.” Kata Darkos.


“Kau memang tidak menganggapinya dengan serius!” Harunio semakin kesal.


“Ahh ... dasar berisik. Cepat pulanglah!” kata Darkos.


“Hmph! Tidak perlu kau suruh!” kata Harunio lalu pergi.


“K-kalau begitu, kami permisi!” kata Miho lalu menyusul Harunio.


“Sudahlah, kau cukup diam dan perhatikan saja.” Kata Darkos dengan santai.


“Dari dulu kau tidak pernah berubah, Yudai akan marah besar jika kau tidak memberikan hasil yang bagus.” Kata Raska.


“Haha, benar juga.” Kata Darkos.


Darkos benar-benar menjalani tugasnya dengan santai.


- - -


Harunio dan Miho pergi ke pos timur untuk mengabsen, setelah itu mereka kembali ke Conqueron.


“Hhh … aku merasa hal buruk terus menimpaku hari ini ...” Harunio langsung kehilangan semangat.


“Aku kira tidak juga, kau terlihat cukup senang selama di taman.” Kata Miho.


“Y-ya, begitulah ... Mungkin itu satu-satunya hal bagus yang terjadi hari ini ... namun itu memalukan ...!” kata Harunio.


“Y-ya ... lihatlah sisi baiknya, dengan begini hutangmu mulai berkurang,kan.” kata Miho.


“Gaaahh!! Jangan membuatku mengingatnya ...!” Harunio langsung panik.


“A-ahaha ... ngomong-ngomong, Extensimu benar-benar mirip dengan Raska-san.” Kata Miho.


“Kau juga mengatakan ini tadi. Aku rasa apa yang dikatakan Darkos ada benarnya, aku dan Raska memang mirip dengan Yoruhane. Meski aku belum pernah bertemu dengan Emylier yang memiliki sepasang sayap hitam seperti kami.” Kata Harunio.


“Setelah perang berakhir, Klan Yoruhane lebih fokus dengan wilayah mereka. Padahal mereka adalah salah satu


dari Emylier yang ditakuti saat perang.” Kata Miho.


“Mereka berhak memilih masa depannya sendiri. Lagi pula apapun yang mereka lakukan, Emylier lain pasti akan dinilai buruk. Teror yang terukir dalam sejarah tidak akan mudah dihilangkan.”Kata Harunio.


“Benar juga, ya ...” kata Miho.


“S-selain itu ... umm ...” Harunio sedikit gugup.


“Ada apa, Harunio?” tanya Miho.


"Sial ...! Wajah polosnya semakin membuatku gugup!!" kata Harunio dalam fikirannya.


“U-umm ... Mi-Miho ...” kata Harunio dengan gugup.


“Iya, ada apa?” tanya Miho.


“B-bolehkah aku ... me-meminta ...” Harunio semakin gugup.


“Minta tolong untuk meminjamkan uang? Tentu saja, karena kau sedang dililit hutang.” kata Miho.


“A-aku berterima kasih jika kau mau meminjamkanku uang, tetapi bukan itu ...!” kata Harunio.


“Lalu apa? Bukankah itu yang sedang kau butuhkan?” kata Miho.


“Ki-kita sampingkan dulu masalah hutangku, oke? Aku sudah memikirkan solusinya ....” kata Harunio.


“Sebenarnya aku tidak keberatan jika itu yang kau butuhkan, lalu apa yang kau inginkan?” tanya Miho.


“B-bolehkah aku ...” Harunio mencoba mengatakan keinginannya.


“Hmm …?” Miho merespon dengan wajah polosnya.


“...! B-bolehkah aku meminta ID De Ordermu?!” kata Harunio sambil menahan malu.


“Umm ... untuk apa?” tanya Miho.


"...! Sial! Aku tidak memperkirakan jawaban ini!!" kata Harunio dalam fikirannya.


“Y-ya ... kau tahu,kan ... Jika tempat kerjaku membutuhkan karyawan aku bisa memberitahumu!” Harunio langsung membuat alasan.


“Tetapi aku sudah memiliki pekerjaan lain.” Kata Miho.


“Sial ...!! Oh, ya!" Harunio teringat sesuatu.


“Miho, aku memiliki ruang latihan pribadi. Kita bisa berlatih bersama di sana! Kau bisa mengajak teman-temanmu untuk ikut!” kata Harunio.


“Hhmm ... Emylier yang ingin berlatih di akademi akan dikenakan biaya masuk ....” kata Miho.


“Nah! Itu benar, kau bisa berlatih di tempatku tanpa dipungut biaya apapun!” kata Harunio.


“Tetapi pekerjaanku  adalah sebagai instruktur di akademi, aku bisa berlatih di sana setelah pelajaran selesai.” Kata Miho.


“Eh ...??” Harunio langsung diam membatu.


“Tetapi aku juga penasaran seperti apa ruang latihanmu.” Kata Miho.


"...! Ini dia!!" Harunio kembali bersemangat.


“K-kalau begitu, beritahu serial IDmu aku juga akan memberikan punyaku!” Harunio tidak percaya dengan apa yang


terjadi.


Lalu mereka bertukar ID agar mereka bisa berkomunikasi lewat De Order.


“Baiklah, kau sudah aku tambahkan di Friend List.” Kata Miho.


“Y-ya, aku juga. Tetapi kau harus menunggu sebentar lagi.” Kata Harunio.


“Kenapa?” tanya Miho.


“Masih ada tes terakhir sebelum bisa digunakan, aku akan menyelesaikannya secepat mungkin.” Kata Harunio.


“Sepertinya ada yang aneh ...” raut muka Miho langsung berubah.


“...! A-apa aku mengatakan sesuatu yang aneh ...?” Harunio sedikit takut.


“Apakah ...” Miho terlihat curiga.


"Gawat  ...!! Seharusnya aku tidak mengatakannya!" Harunio mulai panik.


“… ruang latihanmu memiliki fasilitas yang lebih lengkap?!” Miho terlihat penasaran.


“Eh ...? Y-ya, begitulah. Kau tidak akan menemukannya ditempat lain!” kata Harunio.


“Wahh … sepertinya menarik!” kata Miho.


“Lihat saja nanti! Kau pasti terkejut!” kata Harunio.


“Kalau begitu cepat selesaikan, ya!” kata Miho.


“Y-ya! Serahkan saja kepadaku!” kata Harunio.


Dan sejak saat itu mereka semakin dekat.