
Setelah makan, Harunio mengajukan diri untuk membantu pekerjaan karena merasa tidak enak jika bersantai sementara rekan-rekannya sibuk mengurusi tugas masing-masing. Lalu ia pulang saat hari sudah sore.
“Apa yang dikatakan Yudai ternyata benar, pak Rein dan para seniorku tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya
karena Darkos.” Harunio bergumam sendiri dalam perjalanannya.
“Kau sudah kembali, kawan.” Kata Kuronia.
“Ya, begitula – Eh ...? Kuronia?! Apa yang ...?!” Harunio langsung terkejut.
“Aku dan Aprilia baru saja pindah kemari, sekarang kita adalah tetangga.” Kata Kuronia.
“Pantas saja aku merasa ada yang berbeda ... ternyata kau yang pindah.” Kata Harunio.
“Bukan aku saja, anggota tim lain bersama partnernya juga pindah kemari.” Kata Kuronia.
Harunio langsung melihat ke arah deretan rumah baru di samping rumahnya.
“Phinyx tidak tinggal di asrama, tetapi tinggal bersama Blues dan Finyx.” Kata Kuronia.
“Ya ampun ... sepertinya hari-hariku sudah tidak akan tenang ... Aku ingin beristirahat, istirahat yang sangat panjang ...” Harunio sedikit kehilangan semangat.
“Ya, baiklah. Kerja bagus, kawan.” Kata Kuronia.
Harunio hanya melambai dengan malas sambil berjalan menuju rumahnya.
“Ada apa , Kuronia?” Tanya Aprilia.
“Tidak ada apa-apa, hanya menyapa Harunio saja.” Jawab Kuronia.
“Oh begitu, ya. Bisa bantu aku sebentar?” Tanya Aprilia.
“Ya, baiklah.” Kata Kuronia.
Lalu mereka berdua memasuki rumah.
“Huh? Kenapa kunci pintunya tidak aktif ...?” Pintu rumahnya biasa dikunci menggunakan password, tetapi kadang-kadang kunci manual juga digunakan.
Harunio memasuki rumah dengan waspada.
“Aku mencium sesuatu ... pencuri macam apa yang memasak di rumah targetnya ...?!” Kata Harunio dengan sedikit
kesal.
Ia langsung pergi memeriksa dapur.
“Oh, selamat datang, Harunio.” Kata seorang gadis.
“...! Miho ...?!” Harunio dikejutkan oleh pencuri hatinya.
Harunio terpesona melihat Miho memasak lengkap dengan appron yang ia kenakan.
“Silahkan duduk, Harunio. Kau pasti lelah kan?” Kata Miho.
“Y-ya baikla - Bukan begitu!” Kata Harunio.
“Oh ... kau ingin mandi dulu? Tidak apa-apa, kita bisa makan setelah kau selesai.” kata Miho.
“Bukan itu juga maksudku, tetapi terima kasih.” Kata Harunio.
“Ada apa, Harunio?” Tanya Miho.
“...! Y-ya ... itu ... umm ... kau tidak benar-benar tinggal bersamaku di rumah ini kan?” Tanya Harunio.
“Uhuhu! Sudah jelas kan?” kata Miho.
Harunio merasa tenang.
“Tentu saja aku tinggal di sini bersamamu.” Kata Miho.
“Eh ...” Harunio langsung diam membatu.
“Harunio ...?” Miho bingung dengan reaksi partnernya.
Harunio hampir kehilangan keseimbangan karena merasakan efek Heavenly Lock yang menyadarkannya.
“Harunio! Ada apa?” Miho mengkhawatirkannya.
“U-uhh ...! Tidak apa-apa, hanya Heavenly Lock seperti biasanya ...” kata Harunio.
“Kau membuatku khawatir saja ...” kata Miho.
“Heheh! Maaf, maaf. Tetapi kenapa tiba-tiba kau pindah kemari? Tanya Harunio.
“S-sebenarnya ... kamarku di asrama sudah dipakai oleh Emylier lain. Jadi aku pindah kemari seperti anggota tim lain, tehehe ~” Miho menjelaskan dengan gaya bicaranya yang seperti biasa.
“B-begitu rupanya ...” Harunio sedikit canggung.
“Sepertinya masalah akan bertambah jika aku tinggal di sini, ya...” Miho sedikit murung.
“T-tidak, bukan seperti itu. A-aku hanya terkejut karena kau pindah kemari ... jadi ... u-umm, buatlah dirimu nyaman seperti rumahmu sendiri.” Kata Harunio.
“Iya!” Miho langsung kembali bersemangat.
“Heheh! Baguslah.” Kata Harunio sambil membelainya dengan pelan.
“Tehehe ~” Miho merasa lebih nyaman.
“Sepertinya aku mulai lapar, aku penasaran dengan apa yang kau buat.” Kata Harunio.
“Kalau begitu segera aku siapkan.” kata Miho.
“Ya, terimaka -”
“Sial ...! Aku juga mau!”
“Ssstt ...! Jangan berisik!”
Tiba-tiba terdengar suara dari luar, sepertinya para 4 Lone sedang menguntit.
“Ternyata masih ada sampah yang harus aku buang, aku akan keluar sebentar.” Kata Harunio.
“I-iya, hati-hati, Harunio.” Kata Miho.
Lalu Harunio keluar melalui pintu belakang.
“Hwaaaah!!”
“Lari!!!”
“Uhuhu ...! Sepertinya Harunio sedang bersenang-senang!” Lalu Miho melanjutkan masakannya.
“Ya ampun ... dia benar-benar berisik ...!” kata Blues yang melihat Harunio mengejar para 4 Lone dari jendela.
“Biarkan saja, lagi pula dia tidak mengganggumu.” Kata Finyx.
“Nee-san, kamar yang lain tidak ada ranjangnya.” Kata Phinyx.
“Memang seperti itu kan? Perlengkapan yang disediakan hanya untuk sepasang Emylier.” Kata Blues.
“Benar juga, kalau begitu Phinyx akan tidur bersamaku. Jangan merengek minta ditemani ...!” Finyx sedikit mempermainkan partnernya.
“...! T-terserah saja ...! Awas kalau kalian mengerjaiku!” Lalu Blues pergi ke kamarnya.
“Sepertinya akan menarik ...!” Finyx merencanakan sesuatu.
“Nee-san ...?” kata Phinyx.
“Kita lanjutkan saja, masih banyak hal yang harus dikerjakan.” Kata Finyx.
“Iya, baiklah!” kata Phinyx dengan semangat.
Sementara itu di rumah Falco, Blitz sedikit murung karena teringat beberapa hal.
“Masih memikirkannya?” tanya Falco.
“Kau sendiri tahu jika aku tidak akan bisa melupakannya ...” kata Blitz.
“Sudahlah, apapun itu semua sudah terjadi. Jika kau tidak bertindak, aku tidak akan berada di sini bersamamu.” Kata Falco.
“Iya ...” kata Blitz.
“Selain itu, kita benar-benar beruntung karena mendapatkan fasilitas lengkap di sini.” Kata Falco.
Kilas balik di Headquarters sebelum misi gabungan dimulai, semua anggota tim kecuali Harunio dan Miho dipanggil untuk menerima penjelasan dari Yudai.
“Pertama-tama, aku ucapkan terima kasih kepada kalian semua yang bersedia untuk berpartisipasi.” Kata Yudai.
“Kami semua adalah Emylier yang anda pilih, Leadro-sama. Tentu kami akan melaksanakan perintah anda.” Kata Blitz.
“Lalu, apa yang harus kami lakukan?” tanya Falco.
“Mulai hari ini, kalian akan menjadi anggota tetap Tim Harunio.” Kata Yudai.
Untuk sesaat mereka diam.
“Hah ...? Timnya ...?!” tentu Blues tidak akan senang dengan tugas itu.
“Ssstt!! Diamlah ...!” kata Finyx dengan pelan.
“Aku mengerti jika ada diantara kalian yang memiliki urusan pribadi dengannya, tetapi aku ingin kalian mengesampingkan masalah itu. Kalian semua dibutuhkan.” Kata Yudai.
“Tidak ada masalah sama sekali, Leadro-sama.” Kata Kuronia.
“Aku tidak perlu khawatir padamu, lagi pula kau akan mengikutinya kemanapun anak itu pergi.” Kata Yudai.
Aprilia mengangkat tangannya.
“Ya?” Yudai mempersilakan Aprilia berbicara.
“U-umm ... apakah itu berarti kami akan selalu mendapat misi gabungan?” tanya Aprilia.
“Tidak juga, sebenarnya tidak banyak yang berubah. Kalian masih bisa menerima misi dan menjalani pekerjaan sampingan kalian seperti biasanya. Tetapi setiap kali tim Harunio mendapat misi gabungan, kalian semua harus ikut selama kalian tidak mendapat misi lain.” Kata Yudai.
“Begitu rupanya ...” kata Kuronia.
“Itu syarat dari kesepakatan ini, sebagai imbalannya aku akan memberikan fasilitas lengkap untuk satu pasang partner.” Kata Yudai.
Mereka yang berada di ruangan itu menyetujuinya meski Blues terlihat terpaksa.
Kembali ke alur utama.
“Leadro-sama memberikan imbalan yang besar hanya untuk menemaninya dalam misi gabungan ... pasti ada maksud lain dibalik ini semua ...” Kata Blitz.
“Bukankah kau terlalu curiga?” kata Falco.
“Kita harus waspada dengan setiap kemungkinan yang bisa terjadi, kau juga telah melihat kemampuan Harunio yang selama ini ia sembunyikan.” Kata Blitz.
“Astaga ... kau seperti baru pindah kemarin saja. Apa sulit bagimu untuk percaya?” kata Falco.
“Aku sudah bilang jika –”
“Jika memang Leadro-sama merencanakan sesuatu yang besar sampai melibatkan Harunio yang memiliki kekuatan mengerikan itu, pasti ada alasannya. Jika kau mencurigai Leadro-sama tanpa alasan, apa kau bisa menyebut dirimu layak berada di sini?” kata Falco.
“...! Tidak seperti biasanya kau bicara seperti ini ...” sedikit Blitz terkejut melihat reaksi yang tidak biasa dari partnernya.
“Hmph ...! Kau terlalu meremehkanku.” Falco sedikit menyombongkan diri.
“Hei, Falco. Bagaimana jika menurutmu saat ini kita dikorbankan untuk sesuatu?” tanya Blitz.
“Hah ...? Bukankah kau seharusnya tahu karena pernah –”
Blitz langsung menampar Falco namun dapat ia tangkap.
“Aku serius ...!” Kata Blitz dengan kesal.
Falco melepaskan tangan Blitz.
“Tentu saja ... aku takut. Aku tahu kau tidak ingin masalah yang sama terulang lagi, karena itu kau juga harus percaya dengan informasi yang diberikan. Dan tentu saja waspada, tetapi itu juga ada batasnya!” Kata Falco.
“Hmph ...! Ini terdengar aneh jika keluar dari mulutmu.” Blitz merasa sedikit lebih tenang.
“...! Dasar tidak sopan!” Falco tersinggung.
Blitz dan Falco sudah cukup terbiasa dengan keadaan genting, mereka tidak boleh lengah dengan situasi seperti ini
karena sesuatu yang buruk bisa terjadi.