
Matahari turun perlahan ke ufuk barat, Blitz adalah anggota pertama yang sampai di lokasi.
“Cepat sedikit, kau sendiri yang bilang agar sampai sebelum matahari terbenam.” Kata Blitz melalui De Ordernya.
“Heheh! Dia selalu mendahului kami seperti biasanya.” Kata Harunio.
“Sudah aku duga ...” kata Falco.
Lalu Harunio mendarat disusul oleh beberapa anggota lain.
“Memangnya hukuman apa yang akan kau berikan jika terlambat?” tanya Finyx.
“Haha! Aku hanya bercanda, jika seperti ini kalian akan bergerak dengan cepat kan?” kata Harunio.
“Di mana pasanganmu?” tanya Falco.
“Dia sudah kelalahan lalu Dragrest membawanya.” Jawab Finyx.
“Semuanya!!” kata Phinyx dari atas punggung Dragrest.
“Maaf kami terlambat!” kata Miho.
Lalu Dragrest mendarat, semua anggota tim langsung turun dari Dragrest.
“Maaf, kami terlambat, kawan.” Kata Kuronia.
“Tch! Padahal sedikit lagi ...!” Blues tidak terlihat senang.
“Sudah-sudah, tenanglah. Lagi pula matahari belum terbenam.” Kata Finyx.
“Begitu, ya ...” kata Phinyx.
“Syukurlah, kita tepat waktu.” Kata Miho.
“Katakan jika hukuman tadi hanya kebohongan seperti biasanya.” Kuronia berbisik kepada Harunio.
“Ya, begitu – Hwaaaah!!” Dragrest langsung mencengkram Harunio dan membawanya terbang.
“Harunio!” kata Miho.
“...! Apa yang terjadi?!” kata Blues.
“Hei! Apa yang dilakukan Mountmu?!” tanya Blitz.
“A-aku tidak tahu ... A-aku tidak pernah melihat Dragrest menculik seseorang sebelumnya ...!” Phinyx sedikit panik.
“Kita harus menyelamatkan Harunio!” kata Kuronia.
Dragrest langsung mengeluarkan nafas api dari mulutnya ke arah tim Harunio.
“Kuronia, Falco, tahan serangannya!” kata Blitz.
“Baik!” jawab mereka berdua.
Kuronia dan Falco langsung membuat dinding 2 lapis untuk menahan serangan Dragrest, lapisan pertama adalah
dinding besi milik Kuronia dan lapisan kedua adalah dinding tanah milik Falco.
Mereka dapat bertahan dari nafas api Dragrest berkat pertahanan Kuronia dan Falco, namun hawa panas tetap terasa di balik dinding tersebut.
“Kita benar-benar terpangggang di sini ...!” kata Blues.
“Hei, lakukan sesuatu pada Mountmu!” kata Blitz kepada Phinyx.
“O-oh, baiklah! D-Dragrest ...! Cepat turun sekarang juga!” Phinyx merasa canggung karena tidak pernah mengalami kejadian seperti ini.
“Hei!! Kau tidak mendengar perintah Summonermu?! Cepat turun!” kata Harunio.
Dragrest menghentikan hembusan apinya.
“Kenapa? Jika keadaannya seperti ini semua anggota timmu akan berakhir di sini.” Kata Dragrest.
“A-apa?!” Harunio langsung memberontak sehingga lepas dari cengkraman Dragrest dan terbang menggunakan Extensi sempurnanya.
“Apa yang terjadi ...?” tanya Blitz.
Falco dan Kuronia menghilangkan dinding yang melindungi mereka.
“Apa yang dia lakukan?” tanya Blues.
“Apakah Harunio ingin melawannya seorang diri?!” kata Falco.
“Itu sangat berbahaya! Dia tidak akan bisa menang!” kata Phinyx.
“Harunio ...” Miho benar-benar khawatir.
“Mount yang mengkhianati Summonernya sendiri ... itu sama sekali tidak lucu. Apa maksudmu?!” tanya Harunio.
“Masih banyak Emylier di dunia ini, aku masih bisa menjalin kontrak dengan Emylier lain.” Kata Dragrest.
“Kau meninggalkan Summonermu ...?!” Harunio mulai kesal.
“Hmph! Kau tidak perlu ikut campur. Satu-satunya alasanku membawamu karena pedang Leviathan.” Kata Dragrest.
“...! Jadi kau ingin pedang itu?” kata Harunio menyimpulkan.
“Benda itu terlalu berbahaya jika dipakai oleh bocah sepertimu.” Kata Dragrest.
“Dari awal kau sudah menipuku, ya ...” kata Harunio.
“Kau hanya bocah yang tidak tahu apa-apa.” Kata Dragrest.
“...! Sial!!” Harunio langsung membuat satu Feather Sword dan memulai serangan.
“Hmph! Apa ini? Kau bercanda?” Dragrest dengan mudah menahan dan menghindari serangan Harunio di udara.
Serangannya yang monoton membuat naga itu bisa membaca gerakannya, Dragrest memukul Harunio dan membuatnya jatuh dengan keras.
“Harunio!” Miho langsung pergi menuju Harunio.
“Jangan, Miho-chan! Terlalu berbahaya!” kata Aprilia yang menahan Miho.
“Tetapi Harunio ...! Harunio ...” Miho mulai bersedih.
Harunio langsung melompat dengan kuat sehingga tanah yang dipijaknya hancur, ia langsung terbang menuju Dragrest dengan cepat dan membuat satu Feather Sword lagi. Sayapnya yang berwarna hitam pekat mengeluarkan aura berwarna hijau dan kedua Feather Swordnya yang berwarna hitam mengeluarkan aura kuning.
“[Combine Skill : Wind Piercing Storm]!” Harunio melakukan maneuver berputar dengan cepat seperti sebuah bor yang membelah langit.
Dragrest hanya diam melihat serangan Harunio.
“Roaaarr!!!” saat Harunio sudah lebih dekat, Dragrest langsung berteriak dengan keras.
Combine Skill Harunio langsung lenyap hanya menyisakan dirinya yang melayang di udara.
“...! A-apa ...?!” Harunio terkejut dengan apa yang terjadi.
“Sadarlah dengan posisimu.” Dragrest langsung berbalik dan memukul Harunio dengan Ekornya sehingga Harunio jatuh dengan lebih keras hingga Feather Sword kanannya hancur.
“Harunio!!” Miho langsung pergi menuju Harunio tanpa menghiraukan apapun.
“Miho-chan!” Aprilia langsung mengejarnya.
“Tunggu dulu ...! Aaahh ...! Kita kejar mereka!” Blitz langsung menyusul Miho diikuti para anggota timnya.
“Tidak peduli seberapa tinggi kalian terbang, dengan sayap itu tidak akan bisa membawa kalian ke surga.” Dragrest langsung menarik nafas dan mengeluarkan hembusan apinya ke arah Harunio.
“...! Sial ...!” Harunio mengacungkan Feather Sword yang masih dia pegang ke arah semburan api Dragrest.
“[Dome of Wind]!” Harunio membuat kubah dari angin di sekitarnya.
Hembusan api itu langsung terurai begitu menyentuh Dome of Wind.
“Ayo cepat!” kata Blitz.
“Bertahanlah, Harunio!” kata Miho dalam fikirannya.
“Ohh? Ternyata kau masih bisa bertahan.” Kata Dragrest.
“Sial ...! Tidak aku sangka – !” tiba-tiba Mark Seal Dragrest muncul dibawahnya.
Mark Seal itu langsung meledak namun Harunio berhasil menghindarinya tepat disaat-saat terakhir dan hanya terhempas beberapa meter dari pusat ledakan.
“Yang itu hampir saja ...!” kata Harunio.
“Boleh juga.” Kata Dragrest.
“Tidak hanya memiliki jangkauan serangan yang luas, kau juga bisa membuat perangkap juga rupanya.” kata
Harunio.
“Kau kira kemampuanku hanya sampai di situ saja?” kata Dragrest.
“Nafas apinya sangat kuat, aku ragu jika Wind of Refuse bisa menahannya ... Jika dilihat dari daya ledak perangkapnya tadi, sepertinya itu masih dalam skala kecil. Dia mungkin bisa membuatnya dengan jangkauan yang jauh lebih luas dan lebih kuat. Selain itu, apakah teriakannya juga termasuk Dispell yang membatalkan Skill ...? Astaga, merepotkan sekali ...” kata Harunio dalam fikirannya.
“Harunio, kau tidak apa-apa?” tanya Miho yang baru sampai.
“Ya, untuk saat ini.” Jawab Harunio.
“Dasar ... apa yang kau fikirkan? Kau tidak akan bisa mengalahkannya seorang diri!” kata Blitz.
“A-aku minta maaf! A-aku tidak tahu kenapa Dragrest melakukan ini semua ...!” kata Phinyx.
“Sudahlah, tenangkan dirimu. Sekarang giliran kita untuk menyerang!” kata Harunio.
“Jangan katakan jika kau akan menggunakannya?!” Kuronia sedikit panik.
“Menggunakan apa?” tanya Blues.
“Tidak untuk saat ini, akan aku pakai sebagai pilihan terakhir.” Kata Harunio.
“Lalu, bagaimana rencananya?” tanya Blitz.
“Ya, seperti biasanya. Blitz akan menjadi Ace, lalu Kuronia dan Falco bertugas menjadi Chrusade. Kuronia akan mengurus pertahanan untuk Ace, dan Falco bagaian Supporter.” Kata Harunio.
“Baik.” Kata Kuronia.
“Aku mengerti.” Kata Falco.
“Phinyx, kau adalah Summonernya, kau bisa lakukan sesuatu padanya?” tanya Harunio.
“Hei, aku bertanya sesuatu.” Kata Blues.
“Y-ya ... aku rasa masih bisa menghentikan pergerakannya untuk beberapa saat.” Jawab Phinyx.
“Baiklah, kau akan berada di bawah komando Blitz. Dia yang akan memimpin di garis depan.” Kata Harunio.
“B-baik ...” kata Phinyx.
“Aku juga ikut, aku tidak bisa meninggalkannya bertarung sendirian!” Kata Finyx.
“Nee-san ...” kata Phinyx.
“Tenang saja! Kau pernah melawan Dragrest sebelumnya, kau yang paling tahu gerak-geriknya. Lagi pula kau adalah Summonernya.” Kata Finyx.
“Bagaimana, Blitz?” tanya Harunio.
“Ya, lebih banyak yang ikut lebih baik.” Jawab Blitz dengan singkat.
“Ah, aku hampir lupa. Bagaimana denganmu, umm ... Aprilia? Kau bisa menjadi Ace bersama mereka?” tanya Harunio.
“E-eh ...?” Aprilia sedikit terkejut.
“Kemampuan bertarung Aprilia-chan juga hebat!” kata Miho.
“Miho-chan ...” Aprilia sedikit malu.
“Aprilia, sekarang ini bukan waktunya untuk merendahkan diri. Kita harus melakukan apa yang kita bisa.” Kata Kuronia.
“K-Kuronia ... Baiklah, aku akan ikut!” kata Aprilia dengan semangat.
“Miho, kau sekarang adalah Supporter. Tetaplah waspada bersama Falco, kali ini sudah terlambat untuk ragu.” Harunio mencoba menyemangati Miho dengan senyumannya.
“Iya, baiklah!” kata Miho.
“Baguslah. Sekarang, Blues.” Kata Harunio.
“...! A-apa?” Blues masih membenci Harunio.
“Dari respon Finyx yang khawatir dan langsung memintamu memeriksa keadaan Phinyx setelah bertarung melawanku, kau juga Supporter kan?” kata Harunio.
“Memang benar, kenapa?” tanya Blues dengan acuh.
“Kalau begitu, kau ikut bersama Falco dan Miho.” Kata Harunio.
“Hmph! Baiklah, kalau begitu.” Sebenarnya Blues juga tidak ingin bertarung.
Supporter hanya bertugas di belakang dan jarang ikut bertarung di garis depan.
“Tetapi ... jika sampai kau melakukan sesuatu pada Miho ... aku akan langsung menyerangmu meski Dragrest masih mengamuk ...!” kata Harunio.
“...! A-aku dalam bahaya jika sampai itu terjadi ...!” kata Blues.
“Baguslah jika kau mengerti.” Kata Harunio.
“Ohh ...! Aku mengerti!” kata Harunio.
“L-lagi pula aku tidak tertarik padanya sama sekali!” kata Blues.
“Begitu, ya! Syukurlah!! Kau bebas melakukan apapun selama itu tidak mengganggu Miho, mencacimaki diriku, menyangkal semua pendapatku atau apapun itu terserah saja. Lakukan sesuka hatimu karena aku tidak peduli!” kata Harunio dengan senang.
“A-ada apa dengannya ...?!” kata Blues.
“Percayalah, dia benar-benar tidak peduli.” Kata Falco.
“Tunggu dulu, pertanyaanku masih belum dijawab!” kata Blues dengan kesal.
“Sudahlah, kau bisa menyakannya sampai puas nanti.” Kata Finyx.
“Semua Ace dan Kuronia ikuti perintah Blitz! Falco bersiap bersama para Supporter! Sisanya serahkan kepadaku!” kata Harunio.
“Baik!” jawab para anggota kecuali Blues yang menjawabnya dengan malas.
“Kita hanya memiliki 4 Ace, 2 Chrusade, 2 Supporter, dan 1 All-Round. Kau yakin?” tanya Blitz.
“Akan aku beri sedikit petunjuk.” Kata Kokuryuu dalam diri Harunio.
“...! Tidak seperti biasanya kau yang memulai pembicaraan ...” kata Harunio.
“Jika kau mati di sini aku juga akan mati.” Kata Kuroyuu.
“Heheh! Jadi, bagaimana?” tanya Harunio.
“Kau cukup memotong tanduk yang ada di atas mulutnya saja.” Kata Kokuryuu.
“A-apa hanya begitu saja?” tanya Harunio.
“Ya, tetapi aku ragu kau dapat melakukannya.” Kata Kokuryuu.
“Kita coba saja!” kata Harunio dengan semangat.
Lalu Harunio mengaktifkan Extensi sempurnanya.
“Hmph! Masih saja memaksakan diri dengan All-Round lagi ... tetapi terserah saja. Berdiam diri juga tidak akan
mengubah apapun!” kata Blitz.
“Kalau begitu, kau sudah tahu harus bagaimana kan?” kata Harunio.
“Serahkan saja kepadaku, aku tidak percaya jika bisa bertarung melawan seekor naga!” kata Blitz dengan semangat.
“Baiklah ... Serangan dimulai!” kata Harunio.
“Ayo!” kata Blitz.
“Baik!” jawab Aprilia, Finyx, dan Phinyx.
“Serahkan perlindungan kepadaku!” kata Kuronia.
Chrusade pertama yaitu Kuronia bertugas mengamankan unit Ace sementara Falco bersiap bersama dengan para
Supporter yaitu Miho dan Blues, sementara Harunio menjadi All-Round yang akan membantu posisi yang kosong dan memimpin penyerangan.
“Baiklah! Rencananya sederhana, tahan dia atau lakukan apapun yang membuatnya tidak bisa bergerak. Setelah itu habisi dia!” kata Harunio melalui De Ordernya.
“...! T-tetapi ...!” Phinyx terkejut mendengarnya.
“Dengar, dia sendiri yang sudah mengkhianati Summonernya. Saat ini dia tidak lebih dari predator yang sedang
mencari mangsa, jika kau tidak melawan kau tidak akan selamat.” Kata Harunio.
“B-baiklah ...” Phinyx terpaksa melakukannya.
“Pertama, kita harus tahu seberapa tangguh musuh. Phinyx, kau mendapat kehormatan untuk memulai serangan!” kata Blitz melalui De Ordernya.
“T-tetapi ... a-aku harus bagaimana ...?” Phinyx sedikit gugup.
“Ikat saja seperti saat melawan Harunio dulu.” Kata Finyx melalui De Ordernya.
“B-baiklah, akan aku coba!” kata Phinyx.
“Kami bertiga akan mengalihkan perhatiannya, Kuronia kau lindungi Phinyx!” kata Blitz.
“Baik.” Jawab Kuronia Kuronia melalui De Ordernya.
“Aprilia, Finyx!” kata Blitz.
“Baik!” jawab mereka berdua.
Blitz, Aprilia, dan Finyx langsung terbang ke atas Dragrest sementara Kuronia masih di bawah bersama Phinyx yang bersiap menggunakan Skillnya.
“Kali ini apa yang mereka rencanakan ...” kata Dragrest.
“[Feather Glare]!” Blitz mengambangkan kedua sayapnya dan menggunakan Skill sehinga kedua sayapnya bersinar terang.
Pandangan Dragrest terganggu untuk beberapa saat.
“Aprilia kau serang sayap kanannya, Finyx kau sebelah kiri.” Kata Blitz.
“Baik!” jawab mereka berdua.
Aprilia dan Finyx langsung menyerang target mereka.
“[Fiery Strike]!” Aprilia menyerang sayap kanan Dragrest dengan tebasan api yang kuat.
“[Whirlwind Strike]!” Finyx juga menyerang sayap kiri Dragrest dengan kuat.
Sayap Dragrest telah rusak seperti kain yang robek dan membuatnya jatuh.
“A-aku mulai!” kata Phinyx.
Lalu ia melemparkan beberapa Feather Knife ke udara.
“[Crimson Chain]!” Phinyx membuat Mark Seal sesuai dengan posisi Feather Knifenya dan mengeluarkan rantai merah yang langsung mengikat Dragrest sehingga dia terombang-ambing di udara.
“Sekarang! Serang dia dengan kekuatan penuh!” kata Blitz melalui De Ordernya.
Blitz, Aprilia, dan Finyx langsung memanfaatkan kesempatan untuk menyerang Dragrest.
“Tidak, jangan!” kata Phinyx.
“[Burning Spirit]!” Dragrest menggunakan Skillnya.
“...! A-apa ...?!” Blitz terkejut dengan langkah antisipasi dari naga itu.
Dragrest meledakkan diri disaat mereka bertiga menyerang ke arahnya, kobaran api yang kuat membakar seluruh
area di sekitarnya.
“Semuanya! Kalian baik-baik saja?!” Phinyx mengkhawatirkan mereka bertiga.
“Y-ya ...begitulah.” kata Finyx melalui De Ordernya.
“I-ini ... Shadow Clone?” kata Aprilia.
Harunio membuat beberapa Shadow Clone untuk menyelamatkan mereka bertiga.
“Kau seperti sudah mengetahui pergerakannya saja.” kata Blitz.
"Hanya kebetulan." kata Harunio melalui De Ordernya.
Sayap Dragrest kembali seperti semula setelah ledakan itu berakhir.
“Jadi mereka selamat –” Dragrest terkejut saat Harunio tiba-tiba menyerang.
“...! A-apa?!” Harunio terkejut saat Feather Swordnya hancur setelah menebas tanduk Dragrest.
Serangannya benar-benar tidak mempan sehingga Feather Swordnya sendiri yang hancur.
“Tidak berbekas sama sekali ...?!” kata Harunio.
“Kau bercanda? Coba hindari ini!” Dragrest langsung membuat Mark Seal yang lebih besar di atasnya.
Diameter mark Seal itu mencapai 100 meter dengan Dragrest sebagai pusatnya.
“I-ini tidak bagus ...! Semuanya merapat pada Chrusade masing-masing! Kuronia, Falco, lindungi semua
anggota!” Harunio langsung terbang menjauh dari Dragrest.
“Tubuhku adalah perisai sejati, dengan tubuh ini aku akan melindungi seluruh kehidupan yang suci! [Metal Bunker]!” Kuronia membuat bunker dari Mark Sealnya dengan diameter kurang lebih 5 meter.
“Cepat, Harunio!” kata Kuronia.
“Tidak perlu menungguku! Cepat tutup bunkernya!” kata Harunio.
“...! Maaf ...!” Kuronia langsung menutup bunkernya untuk melindungi semua Ace.
Harunio langsung mendarat di atas Metal Bunker dan menggunakan Skillnya.
“[Holly Shield]!” ia melapisi Metal Bunker dengan Skill bertahan dari Light Shard.
“H-hei ...! Cepat ...! Ini tidak bagus! Dia akan menyerang!” Blues mulai panik dan mengganggu konsentrasi Falco.
“Diamlah! Dasar berisik!” kata Falco.
“Bagaimana aku bisa tenang disaat seperti ini?!” kata Blues.
“[Doom of Ice]!” Miho membuat kubah es seperti bunker Kuronia.
“Huh ...? Ternyata kau juga bisa menjadi Chrusade ...” kata Falco.
“Eh? Tetapi aku tidak yakin jika kubah es ini dapat bertahan dari serangannya.” Kata Miho.
“Tamatlah kita!!” Blues benar-benar panik.
“Sial ...! Kau benar! Keluarlah perwujudan bumi yang kuat! [Earth Bunker]!” Falco melapisi kubah es Miho dengan bunkernya.
Blues melihat sesuatu berwarna hitam sesaat sebelum kubah es tertutup Earth Bunker
“Apa itu tadi ...?” kata Blues dalam fikirannya.
“Bakar dan bersihkan dosa dari seluruh makhluk hidup di dunia ...! [Hell Pilar]!” Dragrest mengaktifkan Skillnya.
Mark Sealnya langsung bercahaya dan mengeluarkan kobaran api yang membakar apapun yang ada didalam
jangkauannya.
“Sial ...! Panas sekali!!” kata Harunio dalam fikirannya.
“Jika seperti ini ... kita tetap akan kalah meski sudah bertahan ...!” kata Kuronia.
“Datanglah wahai tangan sunyi yang menyelimuti waktu! [Wind Peace]!” Finyx menggunakan Skillya untuk menciptakan area yang menghembuskan angin yang menenangkan.
“Semuanya, bertahanlah! Setelah ini, kita harus berkumpul dengan anggota lain!” kata Blitz.
“Baik.” Kata mereka berempat.
Sementara itu di bunker yang lain, suhu tinggi dari Skill Dragrest membuat temperatur di dalam bunker semakin panas dan membuat kubah es Miho mencair.
“Panas sekali ...!” kata Blues.
“Apakah yang lain ... baik-baik saja ...?” kata Miho dengan pelan.
“Tentu saja kan? Harunio sudah memperkirakan serangan ini, mereka pasti baik-baik saja!” kata Falco.
“Benar juga, ya ...” Miho merasa lebih tenang.
“Y-ya ... jika ada yang terluka, kita harus menolongnya. Ngomong-ngomong, tadi aku melihat sesuatu berwarna hitam sebelum kau menutup kubah.” Kata Blues.
“Mungkin itu hanya imajinasimu saja, kau terlalu panik.” Kata Falco.
“Tetapi aku benar-benar melihat sesuatu!” kata Blues.
Beberapa saat kemudian, Hell Pilar sudah berhenti dan menyisakan area yang penuh dengan bekas kebakaran yang dahsyat.
“Huh? Sudah berhenti ...” kata Falco
Lalu ia membuka bunkernya di susul Miho yang menghilangkan kubah esnya.
“...! Tidak mungkin ...” Miho terkejut dengan apa yang ia lihat setelah membuka perlindungan mereka.
“Sudah berhenti, ya ...” lalu Kuronia membuka bunkernya.
Unit Ace dan Kuronia terkejut setelah melihat apa yang ada di balik bunker mereka.
“Sudah aku duga tadi aku melihat sesuatu!” kata Blues.
“Hei ...!” Falco memberi isyarat agar diam.
“Memangnya kenapa ...?!” kata Blues dengan pelan.
Miho tidak sanggup berdiri setelah melihat sesosok Emylier serba hitam yang melindungi bunker mereka dengan Skill dari Light Shard.
“Tidak mungkin ... ini tidak mungkin ... Harunio ...” Miho tidak percaya dengan apa ia lihat.
Sesosok hitam itu terlihat seperti Harunio yang hangus terbakar.