
Menutup pintu kamar dan mengunci nya, Farrel menggiring Safira agar duduk di tepi ranjang.
"Fir, kamu yakin??"
Mengangguk tanpa ragu, membuat Farrel mengerutkan keningnya lalu berkata "Aku khawatir, nanti malah dia juga punya rencana jahat sama kamu."
"Rel, saat ini kita ikutin dulu aja skenario yang udah dia susun. Karena sampai kapan pun dia pasti akan jadi benalu buat kita." jawab Safira bijak walaupun dalam hatinya ragu sendiri khawatir rasa cinta Farrel untuk Dinda masih ada karena sampai saat ini Farrel pun belum pernah menyatakan cinta nya pada Safira.
"Ok kalau itu mau kamu, tapi aku minta kamu hati hati, ga boleh pergi tanpa aku." akhirnya Farrel setuju.
"Iya pasti."
"Sama satu lagi, aku minta sampai masalah ini selesai kita tinggal di rumah orangtua dulu. Terserah mau di rumah mama atau disini, supaya aku ga was was kalau lagu kerja ninggalin kamu."
"Kenapa mesti pindah dari apartemen, kan ada mbok Siti juga yang nemenin, aku ga mau." tolak Safira yang sebenarnya sudah merasa sangat nyaman tinggal di apartemen.
"Fir, ngertiin aku." ucap Farrel.
"Tapi kan di apartemen juga ga sendirian, terus ada security juga kan, ada cctv juga." kekeh Safira sambil berkaca kaca, hormon kehamilannya membuat dia lebih sensitif.
Menghela nafas panjang, jika sudah seperti ini paling sulit untuk Farrel,"Sayang, jangan nangis ok." ucap Farrel sambil memegang tangan Safira, menatap lurus memandang bola mata Safira, "Aku tau ini bukan moment yang indah, sebenernya aku mau bilang ini nanti disaat perayaan anniversary kita yang pertama. Tapi aku pikir harus bilang sekarang supaya kamu lebih paham, dengerin aku ya!?!?" pinta Farrel.
"Iya" jawab Safira mengangguk dengan wajah penuh tanda tanya.
"Aku cinta kamu Safira Queena." ucap Farrel lantang dan seketika mata indah Safira langsung meluncurkan butiran butiran mutiaranya. Kata kata itu yang selama ini Safira tunggu akhirnya terucap juga, hatinya tak kuasa menahan rasa yang bercampur.
"Hey.... hey... udah aku bilang jangan nangis." ucqp Farrel menarik Safira ke dalam pelukannya sambil mengusap usap punggung Safira.
"Aku cinta kamu, aku sayang kamu, aku khawatir sama kamu dan baby kita, mau ya sementara tinggal di rumah orangtua kita, kamu bebas nentuin mau dimana."
"Kamu ga tanya perasaan aku gimana???" tanya Safira yang sekarang justru cemberut.
"Huffftttt...." Farrel menghela nafas dan menutup wajahnya. Safira mendelik tak suka dan langsung menggeser tubuhnya ke tengah ranjang menarik selimut lalu membaringkan tubuhnya.
"Ya Tuhan apakah semua ibu hamil seperti ini?????Tadi nangis sekarang marah, salah gue dimana???? Fir, sumpah ya kalau gue ga sayang ga cinta sama lu udah gue arrrggggghhhh." umpat Farrel dalam hatinya lalu mengusak usak rambutnya frustasi.
Menarik nafas membuangnya berkali kali Farrel lakukan untuk mengumpulkan kembali kesabarannya, bicara dengan Safira tak boleh memakai nada tinggi meskipun hanya naik satu oktaf. Karena jika nada bicara Farrel berbeda sudah di pastikan istrinya itu akan seperti apa.
Memposisikan tubuh nya di belakang Safira lalu ikut berbaring dan memeluk Safira dari belakang, "Aku ga tanya perasaan kamu, karena tanpa kamu bilang aku udah bisa ngerasain rasa cinta sama sayang kamu." ucap Farrel.
Safira membuka selimut yang menutupi kepalanya lalu dia berbalik menghadap Farrel.
Farrel merapihkan anak rambut yang sedikit jatuh menutupi mata Safira, "Benerkan yang aku bilang????? Kamu juga sayang dan cinta sama aku???" tanya Farrel tersenyum.
Safira mengangguk dan memeluk Farrel, "Aku cinta kamu juga." ucap Safira.
...----------------...
Ya gitu deh kalau bumil yaaaa, sensi bikin orang lain serba salah 😄😄
Ada yang tau arti judul bab di atas apa????????