
Semua mata terpana saat Brian dan Carmen masuk arena lapangan futsal. Ada yang terpesona karena mereka seperti pasangan serasi ganteng dan cantik. Ada pula yang menatap Carmen dengan tatapan sinis karena iri ia begitu dekat dengan Brian. Untuk sebuah alasan Carmen harus berangkat bersama dengan Brian.
Hari ini perdana ia akan mulai berlatih futsal. Sebenarnya jujur saja ia tidak pernah bahkan sekali menendang bola. Meski ia seorang atlit namun cabang olahraga yang ia tekuni adalah basket. Carmen masih berjalan di samping Brian. Sebenarnya Cowok itulah yang meminta ia berjalan berbarengan. Alasannya apa, entahlah. Carmen juga tak mau tahu mendalam.
"Hai Carmen," Sapa Doni saat Carmen sudah sampai di depan nya. Carmen tersenyum.
"Hai kak,".
"Akhirnya loe berhasil bawa cewek ini ke arena bro,"Sahut Doni menepuk pundak Brian.
"Mohon bimbingannya kak Doni,"Jawab Carmen. Mereka menyuruh Carmen bersiap-siap. Setelah memakai sepatu dan meminum seteguk air Carmen berlari menuju tengah lapangan berkumpul dengan pemain lainnya untuk mulai belajar.
"Oke Carmen tahap pertama kamu coba tendang bola ini ke teman depan kamu l, ingat sampai kamu benar-benar menguasai ya," Kata Doni. Carmen memperhatikan dengan serius. sebenarnya bisa kecewa karena Brian berjanji akan mengajari namun malah Doni yang telaten menemaninya berlatih, sementara Brian sedang asyik duduk memperhatikan mereka.
Carmen memang cewek yang pintar dan mudah memahami sesuatu baru. meski dikatakan newbie tapi dia sudah bisa menguasai beberapa teknik dasar. Bahkan ia sudah dipercaya Doni untuk ikut bermain saat sesi pertandingan sebelum latihan diakhiri. Tidak lama, hanya satu babak saja tapi Carmen menunjukkan performa yang mumpuni.
"Kamu sudah bagus di penguasaan bola, minusnya jangan ragu merebut," Kata Doni mengevaluasi Carmen ketika ia sedang beristirahat di pinggir lapangan. Brian datang membawa sebotol minuman dan handuk untuk mengelap keringat Carmen. Cewek itu langsung menerimanya.
gluk gluk gluk
"Makasih kak,"Kata Carmen. Doni kembali memberi arahan tim cewek sementara Brian duduk di samping Carmen.
"Capek ya?"Tanya Brian.
"Lumayan untuk anak baru,"Jawab Carmen. Ia lalu mengelap keringat. Brian masih menatap Carmen yang kelelahan.
"Sambil istirahat kamu lihat dan pahami cara pemain lain main di lapangan," Kata Brian. Carmen tidak menjawab tapi mengikuti instruksi cowok keren itu. Kurang lebih 2 jam latihan dan berakhir. Carmen mendapat tawaran untuk makan malam bareng pemain futsal cewek yang lain. Sebenarnya ini hanya taktik cewek-cewek saja biar Brian ikut makan tapi ajakan itu ditolak Carmen. Ia beralasan harus mengerjakan tugas besok. Karena mereka semua memahami cewek baru itu masih Maba akhirnya mereka pergi tanpa Carmen.
"Kamu enggak laper?"Tanya Brian pada Carmen saat mereka diperjalanan di mobil.
"Sebenarnya laper kak, tapi belum mandi, bau, enggak enak semua,"Jawab Carmen. Ia lalu mengibaskan rambutnya pelan karena terasa lepek.
"Namanya juga habis olahraga car,".
"Emang lapangan futsal enggak ada ruang ganti yang bisa langsung mandi gitu ya?"Tanya Carmen.
"Iya ada lah, kamu sih enggak lihat keseluruhan lapangan dan ruang ganti tadi," Jawab Brian memberikan kipas elektrik. Carmen tertawa mirip boneka saja saat menerima kipas itu.
"Jadi kita langsung pulang aja nih?"Tanya Brian. Carmen mengangguk. Mobil melaju dengan kecepatan sedang membelah macetnya kota S. Karena macet parah perjalanan dari lapangan menuju apartemen Carmen yang seharusnya hanya 30 menitan harus dilakukan selama sejam lebih.
Waktu masih menunjukkan pukul 6 malam, masih sore dan Carmen tidak sungkan menawari Brian mampir ke rumahnya. Brian tidak menolak, selesai memarkir mobil ia menyusul Carmen yang sudah lebih dulu di lift. Sambil naik Carmen berpikir akan memasakkan apa untuk Brian.
"Silahkan duduk kak, minuman dingin ada di kulkas, maaf ya aku tinggal mandi dulu,"Kata Carmen melangkah ke kamar mandi. Brian meletakkan tas kecilnya di sofa, berjalan menuju dapur untuk mengambil minum dan kembali duduk di sofa menyalakan tv untuk memecah keheningan.
"Rumah ini nyaman, aku bahkan bisa berlama-lama disini tanpa bosan," gumam Brian. Tak lama Carmen keluar dari kamarnya sudah berganti pakaian santai rumahan. Brian senang karena Carmen bisa lebih santai di hadapannya. Mereka jadi begitu intim saja jika berdua saja di rumah begini.
"Kak aku lapar, makan apa ya enaknya?"Tanya Carmen sambil merapikan rambutnya. Brian nampak berpikir.
"Kita gofood aja gimana?"Jawab Brian. Carmen sepertinya tidak begitu setuju.
"Aku masakin aja ya? mau makan apa kakak?"Tanya Carmen. Brian menaikkan alis tanda ragu pada keputusan Carmen barusan. Ia tidak tahu bahwa Carmen bisa masak. Ia menanyakan lagi untuk memastikan.
"Yeeee emang belum ngerasain masakan aku sih, mau makan apa? aku masakin,"Jawab Carmen. Brian tersenyum.
"Terserah tuan rumah deh, aku nurut aja,"Jawab Brian. Carmen melangkah ke arah dapur dan mengambil bahan-bahan masakan dalam kulkas. Sementara Brian melihat Carmen dari sofa. Carmen nampaknya sudah terbiasa masak sendiri dan Brian memang ingin merasakan masakan cewek yang sedang ia taksir ini.
"Ternyata dia sudah biasa masak ya? pantas saja melihat kesibukan orang tuanya,"Batin Brian. Carmen masih fokus memasak di dapur tanpa sedikitpun peduli dengan Brian yang sedari tadi memandangnya.
"Nah, sipp rasanya udah pas,"Kata Carmen setelah mencicipi masakannya. Ia lalu menghidangkan makanan dalam piring dan setelah siap ia mempersilahkan Brian untuk makan.
Brian duduk di meja mini bar depan dapur Carmen. sementara Carmen duduk di depan Brian mereka saling berhadapan. Brian nampak senang dengan menu makanan di depannya.
"Ini kayaknya enak,"Kata Brian.
"Coba aja dulu kak, kalo rasanya kurang pas ngomong aja,"Jawab Carmen. Brian memotong daging menjadi potongan kecil lalu menusuk satu potongan menggunakan garpu dan bersiap memasukkan ke dalam mulutnya. Carmen deg-degan dibuatnya menunggu respon Brian.
"hemmmm enak,"Kata Brian saat makanan itu sudah di dalam mulutnya. dagingnya empuk dan matang merata, bumbunya pas dan yang lebih nikmat lagi makanan itu dibuat oleh Carmen.
"Syukurlah, yaudah kak selamat makan,"Kata Carmen lega. Ia lalu menyantap makanannya sendiri dan mereka larut dalam makanan masing-masing. Sesekali mereka terlibat percakapan hangat membahas apapun. Tak terasa malam makin larut. Brian masih menonton film yang diputar, popcorn belum habis. Carmen sudah panik melihat ke arah jam dinding.
"Sudah malam begini kenapa gue menawarkan nonton film segala, " Batinnya. Mukanya makin gelisah. Brian menoleh ke arah Carmen.
"Kamu takut ya Carmen?" Tanya Brian. Carmen mengangguk.
"Katanya tadi enggak takut film horor," Lanjutnya.
"Kak, maaf udah malam. Aku gak enak aja kalo malam-malam gini teman cowok masih di rumah," Jawab Carmen. Brian melirik jam tangannya. Dan benar saja tidak terasa sudah pukul 10 malam. Dia mengambil tas dan beres-beres sebentar kemudian pamit pulang.
Carmen kembali ke rumah setelah mengantar Brian ke lobi. TV ia matikan dan bersiap untuk tidur, namun Matanya tertuju pada ponsel yang tergeletak di meja sudut sofa.
"Inikan hapenya kak Brian?," Kata Carmen. Ia lalu meletakkan ponsel itu di kamar berjaga-jaga jika nanti Brian menelpon untuk memastikan. Ia beranjak ke kasur dan mematikan lampu kamar. Matanya sudah mulai tertutup perlahan.
kring ..kring...
suara ponsel membuatnya terperanjat dari tidur. Ponselnya Brian berdering.
"Kontak cewek," Batin Carmen. Ia lalu mengangkat panggilan itu.
-Halo, Brian kamu kemana aja chat aku enggak kamu bales dari tadi.
-Halo, maaf ponsel Kak Brian ketinggalan di rumah saya. Besok saja kalau mau telpon.
-Kamu siapa? dimana sekarang Brian?
Tut tu Tut
Carmen menutup telpon itu. Malam itu setelah mendapat panggilan telpon cewek dari ponsel Brian, Carmen tiba-tiba tidak bisa tidur.
"Apa itu pacarnya Brian ya?"
####