
Pagi ini suasana begitu lengang, tidak seperti biasanya yang sudah lalu lalang kendaraan. Carmen mengambil ponselnya yang ia taruh di tas untuk melihat jam berapa sekarang. Sangat sepi. Biasanya dijam segini ada ibu-ibu yang sudah membungkus nasi di kertas karena antrian anak-anak muda. Carmen pernah sekali mencoba dan rasanya memang enak untuk harga yang terjangkau.
"Apa gue salah hari ya? tapi ini masih hari kamis," Gumamnya.
Meski agak aneh dengan hari ini, Carmen tetap lanjut berjalan dan sampailah di gedung tempat dia kuliah. Ada Rio yang terburu-buru turun dan menghampiri Carmen.
"Gawat, hari ini ada aksi mahasiswa ke gedung DPRD, semua kelas di sweeping. wajib ikut," Katanya. Carmen kaget.
"Terus loe ikut?" Tanya Carmen. Pertanyaan bodoh.
"Gue rencana mau pulang kos aja, anak baru gak mau ikutan dulu. Loe mau balik enggak?" Jawab Rio.
"Kelas kita?"
"Udah gausah dipikirkan dulu. Anak-anak banyak yang pulang juga," Kata Rio menarik tangan Carmen.
Mereka berlari dengan cepat, ponsel Carmen berbunyi. Mamanya memanggil.
-Halo Ma,
-Car, Kamu udah tahu belum akan ada aksi mahasiswa di kota kamu.
-Ma nanti Carmen telpon lagi. Ini aku mau pulang biar gaikut aksi.
Tut.
Karena arah mereka berlawanan terpaksa Carmen pulang sendirian. Eitt tapi dia ingat kalau hari ini ada janji dengan dosen pembimbingnya. Ia kembali ke kampus dan langsung masuk ruang dosen. Itu akan menjadi aman dari sweeping. Belum juga sempat masuk ke ruangan, tiba-tiba dua orang datang menemuinya.
"Loe Maba kan? ayo demi solidaritas bersama. Ini untuk kepentingan hajat hidup orang banyak BLA BLA bla, "Katanya.
Singkat kata Terpengaruh lah pikiran Carmen dan entah angin apa dia ikut keluar dan berjalan bersama rombongan. Sungguh kegiatan yang tak pernah Carmen sangka. Seseorang introvert sepertinya bisa berjalan memadati jalanan protokol yang sudah berubah menjadi lautan manusia. Tidak ada yang ia kenal apalagi bisa diajak ngobrol. Pikirannya bingung, panas terik matahari menyengat. Carmen hampir jatuh karena berkunang-kunang hingga seseorang memegang lengannya.
"Ngapain kamu ikutan? Mau sok jadi aktivis?"Tanyanya dengan muka kesal. Carmen seperti melihat sebuah oase. Brian dengan begitu gantengnya sedang berada disampingnya dan mencoba menguatkan tubuhnya yang mulai gemetar.
"Kak, loe bisa bawa gue ke pinggir enggak, gue udah kunang-kunang banget," Kata Carmen. Brian menuntunnya ke pinggir. Duduk berteduh di bawah pohon.
"Loe tunggu disini bentar, gue beliin minum," Katanya. Beberapa saat kemudian ia datang membawa sebotol minuman dingin.
"Makasih kak, " Jawab Carmen setelah mendapat minuman. Ia lalu berdiri dan hendak pergi. Tangannya ditarik Brian.
"Hei, mau kemana loe?" Tanyanya. Carmen menoleh.
"Mau pulang kak, gue capek. Tersesat juga ke tempat gini," Jawab Carmen. Brian mengikutinya. Carmen masih enggan menoleh ke belakang meski ia tahu sedang diikuti. Tanpa sadar senyum merekah di wajahnya.
Mobil Brian berhenti di komplek apartemen Carmen. Ia masih duduk diam sementara Carmen bersiap keluar mobil. Ia melihat Brian yang masih diam tanpa kata.
"Kamu bisa bikin kopi enggak?" Tanyanya. Carmen tersenyum.
"bisa kalo kak Brian mau aku buatin," kata Carmen. Brian menyetujui. Mobil bergerak menuju parkiran. Mereka naik ke lantai 8 dan lagi-lagi tanpa ada suara tanda canggung masih begitu kentara.
Brian duduk di sebuah sofa, tepat didepannya terdapat TV yang lumayan besar. Disebelah TV terdapat almari kaca besar tempat piala, penghargaan dan foto2 keluarga Carmen. Sambil menunggu Carmen membuatkan kopi untuknya, ia berjalan menuju balkon apartemen. Dalam diam Brian kagum dengan penataan ruang yang sangat maksimal dan rapi.
"Ini kak kopinya, maaf kalo enggak cocok rasanya," Kata Carmen membuyarkan pikirannya. Brian duduk kembali sementara Carmen mengambil beberapa camilan dari dapur.
"Jadi loe tinggal di rumah ini sendiri?" Tanya Brian setibanya Carmen dari dapur. Nampak ia membawa toples berisi kue kering.
"Iya kak, sejak orang tua dan kedua kakak tinggal luar kota," Jawab Carmen. Ia kemudian duduk di sofa kecil di sebelah Sofa Brian duduk.
"Emang kemana aja?"
"Papa mama punya profesi sama dan ditugaskan di tempat yang sama. Kakak pertama kerja di Ibukota, sedangkan kakak keduaku kuliah tingkat akhir di kota Y," Jawab Carmen. Brian mengangguk paham.
"Terus rumah induk keluarga loe dimana?" Tanya Brian.
"Di Kota M kak, dulu papa bertugas disini jadi beliau menyicil apartemen ini karena beranggapan kalau gak bakal pindah, eh ternyata pindah juga nyusul mama. Jadilah apartemen ini kosong beberapa waktu sampai gue tempatin," Jawa Carmen. Mereka larut dalam pembicaraan ngalor ngidul. Hari sudah semakin malam, tidak terasa begitu cepat. Brian pamit pulang.
"Maaf ya kak, cuma dikasih kopi aja," Kata Carmen sebelum Brian memacu mobilnya. Carmen nampak manis berdiri di samping kaca mobil. Senyumnya mengembang dan membuat Brian tak bisa sedetikpun melepas pandangan nya.
" Itu aja udah seneng kok, kopi kamu enak. Next time boleh dong dibuatin lagi," Jawab Brian menggoda. Carmen hanya tersenyum.
"Boleh kak, silahkan. Kalo perlu nanti aku masakin juga nasi goreng spesial, " Kata Carmen. Mobil melaju meninggalkan apartemen. Carmen berjalan meninggalkan parkir masuk ke rumahnya.
####
Ia masih saja tersenyum dalam kesendirian di rumahnya sambil mencuci gelas bekas kopi tadi. Hari ini rumahnya kedatangan tamu spesial. Tamu tak terduga yang membayangkan saja Carmen tidak mampu.
"Ternyata aslinya baik dan nyambung banget. Dia bahkan tahu anime yang jadi kesukaan ku," Kata Carmen sendiri. Hatinya masih berbunga-bunga. Ingin rasanya dia menceritakan pada Rio apa yang terjadi hari ini.
Berawal dari salah arahan, bertemu dengan Brian dan akhirnya berkesempatan dekat dengannya. Tak berbeda jauh dari Carmen, Brian baru saja sampai rumahnya dan enggan mandi setelah sampai kamarnya. Ia hempaskan tubuhnya di kasur yang empuk dan besar tersebut. Sepanjang perjalanan ia senyum-senyum sendiri macam orang gila.
Entah dari kapan hatinya deg-degan tak kunjung reda. Tak disangka hari ini bisa main ke rumah cewek imut itu. Ngobrol, menikmati kopi dan bercanda santai. Rasanya jarang sekali dia melakukan aktivitas itu. Selama ini setelah putus dari mantannya 5 tahun lalu hampir setiap hari ia menyibukkan diri dengan kegiatan di kampus. Lebih sering futsal.
Dia bahkan tak ada niatan untuk dekat dengan cewek. Tapi sejak pertama bertemu dengan Carmen memang berbeda. Dia langsung saja tertarik dan ingin dekat dengannya. Carmen begitu cantik, baik dan misterius. Sore tadi benar-benar membuatnya sadar bahwa cewek sepertinya memang berbeda dari yang lain. Cara pandangnya dalam menjalani hidup begitu sederhana. Ikuti kata hati.
Sedang asyiknya berpikiran kesana sini Brian dikejutkan dengan bunyi ponselnya. tertera Carmen memanggilnya. Ia terjungkat dari ranjang, mangatur nafas dan mengangkat telpon tersebut.
"Kak Brian udah sampai rumah??" Tanya seseorang dari ujung sana. Brian kembali tersenyum bahagia.
####