CARMEN

CARMEN
TUNTUTAN MAMI 2



cukup lama Carmen dan mami berpelukan hangat, sambil mengelus punggung Carmen mencoba memberi semangat mami untuk cepat pulih. Malam semakin larut, mami sudah tidur nyenyak setelah minum obat tadi. sementara Carmen masih duduk di sofa ruang tamu rumah mewah itu, ia meneguk perlahan teh melati kesukaannya saat ia dirumah ini.


"Kamu belum tidur?" Tanya Brian yang sudah berdiri dekat sofa tanpa Carmen sadari.


"Kamu udah selesai kerjanya?"


Brian duduk disamping Carmen," Ini udah malam, kamu tidur besok kuliah kan?"


"Iya besok ada jam siang. Kamu udah makan belum?"Tanya Carmen.


"Udah tadi di ruang kerja. Kamu kenapa ngelamun sendirian disini. kesambet Lo nanti"


"Kamu adalah harapan mami, jangan sampai kamu lemah atau sakit ya,"


Brian benar-benar tersentuh dengan gadisnya itu. entah apa yang baru didengar dari maminya tapi saat ini ia benar-benar bahagia karena Carmen memberi perhatian padanya.


"Selama ini aku kesepian sayang, semenjak papi meninggal kehidupan aku berubah. mami jarang pulang karena pekerjaannya mengurus perusahaan ini. Sejak aku SMA aku udah bertekad akan bantu mami,"


Carmen menatap lekat kekasih gantengnya itu. Ia kemudian menggenggam tangan Brian memberi dukungan.


"Kamu gak perlu menyesali apapun. Semua sudah ditakdirkan. Kamu tau papa mamaku meskipun mereka masih ada tapi dulu jarang bertemu. Terpisah jarak antar kota dan pekerjaan yang padat,"


"Semua orang punya masalahnya sendiri. Kamu dengan tanggung besarmu. Aku dengan keadaan yang ada," lanjutnya. Sekali lagi Brian tersentuh. 'aduh nih cewek kalo terus kayak gini gimana kalo gue khilaf malam ini' gumamnya dalam hati. Entah karena suasana malam ini yang nampak begitu sunyi atau karena ia memang sudah lama tak dapat perhatian. Rasanya ia gemas setiap memandangi wajah imut dan cantik Carmen.


"kamu liat apa? ada yang salah sama mukaku?"


cup


kecupan mendadak membuat Carmen terkejut dan hampir kehilangan kesadaran.


"Kamu selalu bikin gemas aku," jawab Brian sambil mencubit hidung mancung Carmen. Gadis itu hanya tersipu malu dan berdiri tiba-tiba.


"Aku ngantuk, mau tidur udah malam,"


Ia lari menaiki tangga dengan muka memerah, ia harus kabur sebelum Brian benar-benar kehilangan akal.


"Mampus gue, ini rumahnya dan segala hal bisa saja terjadi," Ucapnya pada diri sendiri.


####


Carmen sudah selesai menyiapkan sarapan. Ditatapnya jam yang sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Mami sudah bangun dan sedang sarapan di kamarnya dibantu pelayan. Carmen berjalan menaiki tangga menuju kamar Brian yang ada di samping kamar tidurnya tadi.


tok tok tok


"Brian, udah jam 8 kamu enggak bangun?? sarapan udah siap," Kata Carmen. Ditunggunya di depan kamar tapi tidak ada jawaban. Ia lalu mencoba menarik tuas pintu dan ceklek...


"enggak dikunci,"


dilihatnya Brian masih tidur dengan lelapnya padahal alarm disampingnya sudah berdering.


"Brian...bangun ayok udah siang nih," Sambil menggoyangkan badan.


Brian masih saja tertidur lelap, Carmen memandangi sejenak wajah ganteng pacarnya itu. Betapa beruntungnya Carmen bisa memiliki pacar seganteng Brian. Ia tersenyum dan berniat berbalik badan akan meninggalkan Brian.


Langkahnya terhenti saat lengan tangannya diraih oleh seseorang. Ternyata Brian sudah bangun dan reflek menarik Carmen. Seketika ia jatuh menindih badan Brian yang masih terbaring di ranjang. Ia sedikit memberontak agar dilepaskan, tapi pegangan semakin erat dan kini tangan satunya mencengkeram Carmen membalik tubuhnya seketika Carmen tertindih oleh tubuh kekar Brian.


" Brian lepasin, jangan macem-macem ya,"


"Kamu yang duluan masuk kamar aku, jangan salahin kalo aku reflek," Kata Brian dengan seringai di wajahnya.


"Udah Brian, aku cuma mau bangunin kamu, ini udah jam 8 sana mandi sarapan udah siap," Jawab Carmen yang masih berusaha terlepas dari Brian.


"Kamu kenapa sih panikan gitu hahahah,"


Carmen kesal, mukanya sudah benar merah karena menahan malu sekaligus marah. sementara Brian masih saja menggodanya. cengkeraman tangan cowok itu masih saja kuat meski carmen sudah berusaha memberontak sekuat tenaga.


"Sayang, nikah yuk..biar aku bisa liat wajah kamu tiap bangun tidur,"


"Kamu nglindur ya?? sadar Brian sadar... Menikah itu bukan buat main-main. Udah bangun mandi, cepetan aku tungguin di bawah buat sarapan,"


melihat carmen yang sudah kesal ia lalu melepaskan Carmen dari pelukannya. Pakaian Carmen sedikit tersingkap membuat hati Brian berdesir tapi ia masih manusiawi dan tak ingin berbuat macam-macam. Ia lalu menutup tubuh Carmen dengan selimut dan berdiri menuju kamar mandi.


"Horor....," kata Carmen secepatnya meninggalkan kamar itu. Dengan langkah setengah berlari ia menuju lantai dasar menuju meja makan dan meneguk jus jambu yang tadi sudah ia siapkan.


"Syukurlah...gue masih selamat dari harimau," Katanya. Ia lalu tersenyum membayangkan betapa kekar dan bagusnya badan Brian. sungguh pemandangan yang indah dipagi ini. Lagi-lagi ia merasa beruntung telah memiliki Brian sebagai pacarnya.


Tak lama Brian sudah duduk disebelah Carmen yang masih diam sambil menikmati sandwich. Ia sengaja tak menyapa Brian karena masih kesal.


"Kamu masih ngambek ya," Tanya Brian mencolek pipi Carmen.


"ihhh apaan colek-colek,"


hahahaha "Kamu itu ya kalo ngambek malah bikin gemes,"


Carmen langsung memasukkan makanan di mulut Brian yang membuatnya terkejut dengan serangan tiba-tiba.


hahahaha "Rasain tuh..makan tuh roti," giliran carmen yang tertawa melihat ekspresi Brian.


mami berjalan perlahan sambil dipapah pelayan menuju meja makan menyaksikan keakraban mereka. Ia lalu tersenyum dan menyapa.


"Morning all,"


"mami udah sehat," tanya Brian.


"Mami kalo belum sembuh jangan dipaksain dulu,"


Perkataan Carmen membuat Brian tercengang. Sihir apa yang berhasil membuat Carmen memanggil mami. Ia bahkan memintanya dulu tapi ia tolak.


"Mami udah bisa berdiri..mami mau cepet sembuh biar bisa cepat-cepat ngantar kamu ngelamar Carmen,"


sepasang anak muda itupun langsung tersedak makanannya. Mereka lalu saling berpandangan dan diantara keduanya, Brian yang paling terkejut mencari air minum sambil menahan sesak di dadanya.


"Mami bikin aku kaget aja," kata Carmen menenangkan keadaan. Ia melihat ke arah Brian yang sudah lebih tenang.


"Kamu kemarin malam udah janji kan sama mami bersedia jadi menantu mami,"


Kali ini Carmen yang tak dapat lagi menahan keterkejutannya dan menghabiskan minuman di gelas itu. Dadanya masih sesak.


"Mami yakin dia mau???" Mata Brian berbinar-binar. Kebahagiaan tiba-tibamenyeruak dan tak dapat ia kontrol lagi .


"Iya kan Carmen, kamu kemarin udah janji mau kan?"


"Iya kan maksud Carmen enggak buru-buru mami... Pokoknya mami jangan mikir macem-macem sekarang fokus sembuh dulu ya," Jawab Carmen sangat hati-hati.


"Mami udah sembuh, pokoknya Minggu depan mami dan keluarga akan ke rumah kamu meminta izin ke orang tua kamu untuk menjadikan kamu menantu keluarga ini,"


Carmen seketika mematung. Ia tak pernah menyangka ucapan yang ia niatkan untuk menghibur malah menjadi bumerang. Sebenarnya bukan maksud ia menolak atau bagaimana itu, tapi ia masih ingin menikmati hidupnya dengan independen dan belum memikirkan ke arah serius.


perkataan mami benar-benar telak dan tak dapat diganggu gugat. Meski terkejut Brian mencoba terlihat tenang pun saat mengantar Carmen pulang ke apartemennya. Ia tahu pasti gadisnya itu pasti sedang kepikiran maka ia biarkan Carmen terlelap dalam pikirannya.


"Kamu gak usah khawatir, nanti biar aku ngomong sama mami. Aku gak mau semua ini karena paksaan dan aku menghargai keputusan kamu untuk enggak buru-buru," Katanya menenangkan.


"Kamu bilang, apa yang udah dikatakan mami gabisa diganggu gugat kan? aku jadi kepikiran,"


"Sayang, sampai kapanpun aku itu maunya sama kamu. Meskipun aku harus menunggu kesiapan kamu 5 tahun lagi, 10 tahun lagi...aku pasti kan kita bersama,"


"Ihh tumben banget gombalan kamu receh,"


Carmen membaringkan tubuhnya dengan pikiran yang masih gelisah. Sudah setengah jam yang lalu Brian pergi tapi ia tetap tak bisa membayangkan jika kata-kata mami akan kenyataan.


"Gue harus ngomong apa sama mama,"


Ia lalu mandi dan bersiap berangkat kuliah dengan jalan kaki. Hari ini ia ingin lebih lama dijalan sambil berpikir dan memikirkan. 'kalo kepikiran gini jadi pengen kembali kecil, gak ada beban'.