
seminggu setelah mama Sela mengunjungi Carmen ke apartemen suasana tak banyak berubah. Hanya saja Carmen yang punya tingkat kepekaan diatas rata-rata membaca gelagat aneh dari kedua orang tuanya. Mama pulang dengan ekspresi mencurigakan dan meminta Carmen untuk pulang akhir pekan ini. Ia juga menelpon kakak-kakaknya apakah mereka pulang, dan benar saja mereka semua akan berkumpul di Kota M, rumah mereka.
"Aneh aja kak, mama tiba-tiba maksa banget aku pulang. Kakak-kakak aku juga disuruh mama pulang," Curhat Carmen di dalam mobil saat Brian mengantarnya pulang. Brian masih fokus menyetir.
"Aku cek lagi apa ada tanggal penting terlewat tapi nihil,"
"Yaudah, mungkin aja mama papa kamu kangen berat sama anak-anaknya. Itu wajar kan karena kalian semua berpisah karena keadaan masing-masing," Jawab Brian menengahi. Sebenarnya ia juga merasa aneh dengan sikap maminya akhir-akhir ini.
Biasanya mami tidak akan betah di rumah lama-lama. Namun, ia sudah dirumah hampir 2 Minggu dan itu yang membuat harap cemas akan ada peristiwa heboh apa.
"Eh sayang, waktu mama Sela kesini dia gak keluar kemana-mana kan?"Tanya Brian.
Carmen berusaha mengingat.
"Waktu itu pagi-pagi aku buru-buru ke kantor Good idea buat resign. Trus pas pulang mama udah pamit duluan soalnya ada kerjaan mendadak dan dia harus balik ke kota M,"
"Soalnya mami hari itu dari siang udah keluar gak tau kemana. Biasanya sih ke salon, tapi hari itu bukan jadwalnya juga. aku hafal soalnya sering antar mami,"
kekhawatiran Brian ditebak oleh Carmen. Mamanya bukan tipikal orang santai yang ada waktu untuk keluar kota. Pekerjaan sebagai jaksa menuntutnya untuk menyelesaikan banyak perkara. jadi, tumben sekali kalo mama berkunjung k kota S tidak saat akhir pekan. Pikiran itu terngiang-ngiang di benak Carmen. Setelah mengantarkan pacar tersayang pulang, Brian langsung tancap gas pulang karena pekerjaan sudah menunggu untuk di eksekusi.
####
Rumah berlantai dua dengan cat putih mendominasi setiap sudut yang sudah terlihat rimbun oleh tanaman mama. Hobi baru mamanya mengisi kesepian karena ketiga buah hatinya sudah memiliki kesibukan masing-masing. Dulu diakhir pekan, mereka sering berkumpul, menikmati hari di rumah atau piknik. Namun sekarang ketiganya memiliki aktivitas masing-masing. Akhirnya untuk mengubur kesepian itu, mama sela merawat tanaman di rumahnya.
Mobil Honda CRV yang menjadi kendaraan keluarga itu baru terparkir di garasi. Carmen keluar dan langsung memeluk mamanya, sementara sang supir pribadi dengan perawakan gagah dan rupawan menenteng tas pakaian kotor yang dibawa gadis kecilnya dari Kota S.
"Dasar anak malas, pakaian kotor malah dibawa pulang," Kesal mama. Carmen hanya nyengir.
"Papa siap buat nyuci...iya kan pa?? "
pria separuh baya itu hanya mengangguk. Tanda-tanda kebapakan dan pengayom keluarga sangat tergambar jelas dari gurat wajah matangnya. Mereka masuk ke dalam rumah yang hangat dan penuh kebahagiaan. Kakak-kakak Carmen sudah duduk santai bermain PS langsung memeluk adik kecilnya menandakan betapa mereka sangat rindu dengan kebersamaan keluarga mereka.
sore itu mama mengeluarkan banyak bahan masakan tak seperti biasanya. Carmen datang membantu mamanya memasak di dapur.
"Banyak banget ma masaknya?"
"Iya, kita mau ada tamu nanti malam,"
"Enggak pesen aja, tamunya berapa orang?"
"Hem...berapa orang ya? pokoknya kita siapkan saja makanan enak-enak entah berapa orang mereka kesini,"
Carmen tak menaruh curiga apapun. Ia membantu mamanya memasak aneka hidangan lezat dan beragam. Kak Tio yang baru selesai mandi pun ikut membantu mama dan adiknya tanpa sungkan. Mereka berhasil membuat dapur berantakan namun puas dengan hasilnya.
"Carmen, udah sore kamu mandi dulu. Biar sisanya mama beresin dibantu kakakmu,"
Selepasnya Carmen pergi, kak Tio yang sedari tadi menahan untuk bertanya akhirnya buka suara.
"Ma, jadi tamu malam ini milik siapa?"
Mama mengerjipkan mata.
Keluarga ini memang cerdas semua. Hanya dengan jawaban itu Tio sudah paham maksud mamanya.
"Jadi dia gimana? Keluarganya gimana? Carmen udah kenal belum?"
"Husstt kamu itu ya, jiwa2 pengacara nya muncul deh...kepoan,"
"Aku kan kakak ma, harus tahu dong adek aku sama siapa? orang kayak gimana?,"
"keluarga Handoko Wijaya, nyonya Handoko sahabat mama waktu SMA dulu,"
"Mama udah obrolin sama papa, dia gak masalah,"
"bukannya ini terlalu singkat ma, Carmen masih kecil,"
"Mereka udah pacaran, satu kampus. mama yakin Carmen gak akan menolak," hahahahah
mama berperan sebagai ketua panitia menerimaan tamu malam ini. Semua pakaian dan menu makanan dipersiapkan langsung olehnya. Rumah dan isinya ditata Serapi dan seharum mungkin. Suami dan anak-anaknya hanya menggelengkan kepala melihat mamanya yang tiba-tiba bersemangat bahkan levelnya hingga 200%.
"Kak, mama kenapa sih?"Tanya Carmen yang sudah mengenakan dress selutut yang dipilihkan mamanya dengan agak paksaan.
"Mama kan perfeksionis dek, gak mau ada celah sedikitpun kalo mau ada tamu,"
"Tapi kita biasa menerima tamu untuk makan malam,"
Kak Andre yang merupakan kakak kedua menimpali. Setelah sebelumnya protes karena harus mengenakan baju yang kedodoran. Iya memang sangat memperhatikan penampilan.
"Yang ini kan tamu maha penting, sangat penting dan VIP," Jawabnya dengan bercanda. Carmen lalu melempar bantal ke arah kakaknya yang jail itu.
Mama berjalan menuju papa dan merapikan kemejanya sebentar lalu menatap ketiga anaknya.
"Bagus persiapan selesai. Kalian bersikap baik dengan tamu ya,"
tak lama rombongan sekitar 2 mobil datang dan memarkir di halaman rumah. Carmen mencoba mengintip tapi sia-sia saja karena kedua kakaknya jauh lebih tinggi dari badannya. Didengarnya samar-samar mama dan papa sudah di teras rumah dan menyambut tamu penting itu. Sementara anak-anak berdiri di depan pintu masuk rumah berjajar dengan Carmen berdiri diujung. Mama mempersilah tamu masuk dan kak Tio segera menyambut tamu bersalaman disusul kak Andre.
Mata Carmen tak berkedip melihat mami Nita sudah berdiri didepannya dengan senyum bahagia dan memeluk gadis cantik itu. Mami Nita berlalu diganti oleh Brian yang juga berusaha menyembunyikan wajah gugupnya. Kakak-kakak Carmen menepuk pUndak dan mengajaknya duduk di ruang tamu mereka. Tak lupa mama menggandeng lengan gadis nya itu yang masih kaku berdiri dengan segala keterkejutannya.
kedua keluarga sudah duduk dan saling memberi senyum serta memperkenalkan anggota keluarga masing-masing.
"Jadi maksud kedatangan kami kesini adalah untuk melamar putri pak Heri untuk putra semata wayang saya Brian Wijaya," Ucap mami Nita. Carmen masih diam bingung dengan pikirannya. Brian juga masih diam tak ada suara. Ia memikirkan kata apa yang tepat untuk menjelaskan pada pacarnya itu nanti.
"Saya sudah membayangkan momen ini akan datang pada kami. Sebagai orang tua dengan putra-putri akan ada momen dimana kami yang akan datang bertamu melamar anak orang atau kami didatangi tamu untuk melamar anak gadis kami. Jujur kami sekeluarga terutama saya dan istri menyambut baik kedatangan nyonya Wijaya sekeluarga malam ini,"
Semuanya menyimak dengan seksama. Pak Heri memang Sosok pribadi yang hangat dan bijaksana, family man untuk keluarganya.
"Tetapi segala keputusan saya langsung berikan hak menjawab kepada Putri kami, Carmen. Karena dialah yang akan menjalani kehidupannya nanti," Sambil menatap putri kecilnya dengan nada getir.
"Segala keputusan Carmen akan kami terima, kami tahu ini sangat mendadak dan pasti Carmen juga masih terkejutnya," Jawab mami Nita tak kalah diplomatis. Jiwa pebisnis yang lama ia lakoni menuntunnya menjadi pribadi yang matang dan berperan sebagai Tuan dan Nyonya Wijaya sekaligus. Hal itulah yang membuat Brian sangat menghormati maminya lebih dari siapapun.