
Meski Brian sudah menjelaskan kenyataan bahwa ia sudah melupakan Aurel, Carmen masih terganggu dengan cewek itu. Apalagi ia mendengar bahwa Aurel masih berkeliaran di sekitar Brian. Hari ini dengan seluruh kekuatan ia mengajak Aurel bertemu. Doni lah yang memiliki peran mengatur pertemuan keduanya tentunya tanpa sepengetahuan Brian. Sebuah restoran yang serng dikunjungi Aurel adalah tempat yang tepat untuk mengutarakan semua kesah dan gelisah.
Carmen sudah duduk dan memesan Kopi susu sebelum akhirnya Aurel datang. Untuk pertama kalinya Carmen melihat bagaimana cewek yang pernah singgah di hati Brian. 'memang cantik' Gumamnya. Ia lalu meletakkan kopi dengan tangan sedikit bergetar.
"Boleh aku duduk?" Tanya Aurel. Bahkan suaranya begitu lembut dan terlihat sosok yang hangat.
"Silahkan,"
"Maaf aku agak lama, tadi jalanan agak macet. oh ya kenalin aku Aurel,"
"Iya .aku Carmen, Pacar Brian," Ucap Carmen dengan penekanan.
Aurel memesan minuman dan beberapa makanan ringan. Carmen masih memeprhatikan setiap gerak-gerik Aurel. Begitu iri ia dengan cewek di depannya. Cantik, Anggun dan terlihat pintar. Pantas saja Brian begitu susah melupakannya. Tapi sesuai dengan alasannya datang kesini. Ia harus menjelaskan agar semua jelas.
"aku sudah mendengar dari Doni hubungan kamu dan Brian," Kata Aurel memulai pembicaraan.
"Dulu, tempat ini adalah favorit kami berdua. Dia masih sama, masih begitu pendiam dan tidak banyak berbicara," Lanjutnya.
"Meskipun kamu sudah pacaran sama dia, perasaanku terhadap Brian enggak akan berubah,"
Carmen mulai terprovokasi, "Entah bagaimana hubungan kalian, aku sama sekali tidak pedul atau ingin tahu. Brian dan aku sudah pacaran. aku harap kamu sadar diri dan tidak menjadi benalu dari hubungan kita,"
"hahaha kamu begitu tegas dan menekan hubungan diantara kalian baik-baik saja. Brian tidak mungkin sepenuhnya melupakanku. Bahkan dia menjemputku di bandara,"
"Dia hanya kasihan melihatmu masih bergantung padanya bahkan saat kamu sudah meninggalkannya,"
Aurel tidak bisa menahan amarahnya. Ia lalu melempar gelas ke wajah Carmen.
"Loe cuma cewek ingusan yang enggak sengaja ketemu Brian !! Gue enggak akan lepasin Brian buat loe !!" Kata Aurel. Carmen masi syok karena wajahnya basah. Ia lalu berdiri dan mengambil bill untuk di bayar.
"Gue enggak pernah datang buat Brian. Dia sendiri yang datang ke gue. Jadi gue bisa kapanpun ngelepasin dia kalo gue mau. Dan satu lagi, loe cewek yang paling enggak tau malu disini.,,,bye !!" Carmen langsung keluar dari restoran dan naik taksi menuju ke apartemennya.
jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Carmen terbangun dari tidurnya dan berjalan lunglai menuju dapur mengambil air. Setelah meneguk air ia lalu mengecek ponselnya yang sedari sore tadi sengaja ia matikan. Dan benar saja, pesan masuk bertubi-tubi dari Brian, Doni dan Rio. Fix kayanya Brian sudah tau.
Carmen menuangkan air panas di cangkir yang sudah ia isi kopi. Setelahnya ia berjalan menuju balkon dan mengcari udara malam yang dingin. Hatinya sedang tidak baik-baik saja. Ia bahkan semakin gelisah setelah pertemuan tadi. bagaimana bisa ia bersaing dengan cewek cantik seperti Aurel. Dari berbagai sisi ia bahkan kalah telak. Hatinya masih bergetar saat ia membayangkan seandainya Brian dan aurel kembali. Mereka memang pasangan yang serasi.
Tak lama kemudian ponselnya berbunyi. Panggilan Brian untuk kesekian kalinya.
-halo
-kamu darimana aja? aku telpon engga aktif?
-aku baru bangun tidur, tadi ponsel aku matikan
-kamu enggak papa kan?
-enggak apa-apa
telpon ditutup.
Carmen masih melihat dengan heran bagaimana bisa ia menutup telpon tanpa mengatakan apapun. Ia kembali menyeruput kopinya dengan tatapan tak tentu arah. pikirannya masih kacau meski ia harus mengatakan baik-baik saja. Apa benar ia memang menyukai Brian begitu dalam. ia Hanya ingin menjadi orang biasa saja dan mengalami hubungan yang biasa. Hari sudah semakin malam, angin malam yang dingin juga mulai menusuk pori-pori kulit. Carmen bangkit dari duduknya berniat untuk masuk ke dalam rumah. Baru saja ia membuka pintu balkon seseorang sudah menangkap lengannya dan memeluk dengan erat.
"Sudah aku bilang semua adalah masa lalu dan kamu tidak perlu terlibat," Ucapnya pelan.
"aku minta maaf Kak," Ucap Carmen. Ia masih sesenggukan saat Brian melepaskan pelukan hangatnya itu. Ia lalu menenangkan Carmen dengan membelai lembut rambutnya. Brian masih nampak nanar melihat Carmen, ia merasa gagal membuat gadisnya itu bahagia. Bahkan ia tak mampu menjelaskan bagaimana perasaannya dan membiarkan Carmen tersakiti. Ia tidak ingin membahas peristiwa tadi sore yang dialami gadis tersayangnya itu. Ia hanya ingin membuatnya lebih tenang dan bahagia.
"Kamu itu pacar aku Carmen, kamu jangan pernah ragu sama perasaan aku ke kamu. Aku sayang kamu,"
"Aku enggak akan ragu lagi kak Brian. Aku minta maaf,"
" Anak kecil, inget ya kamu itu pacar aku. Enggak usah mikir macem-macem lagi,"
Mereka saling berbagi cerita malam itu, entah sampai jam berapa hingga keduanya terlelap di sofa. Carmen sadar dengan siapa ia sekarang melangkah. Ia bahkan sudah tak lagi menutupi bagaimana perasaannya yang sesungguhnya. Ia tahu pasti bahwa Brian memang tulus menyukainya.
Pagi sekali carmen sudah bangun dan menuju dapur. Hari ini ia akan membuat sarapan untuk Brian, Dilihatnya sekali lagi Brian yang masih tertidur pulas di Sofa. Benar-benar beruntung ia bisa melihat pemandangan begitu indah di pagi yang cerah ini. Carmen keluarkan beberapa bahan untuk di masak. Ia akan membuat sandwich spesial pagi ini.
Setelah siap, ia berjalan menuju kamarnya untuk mandi dan bersiap berangkat kuliah. Sementara Brian merentangkan kedua tanggannya sambil mengucek mata. Saat kesadaranya mulai pulih ia memandang sekitar dan tidak menemukan Carmen. Dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi, matahari sudah terik dan masuk melalui sela-sela jendela besar di samping sofa. Ia lalu berdiri menuju dapur dan menemukan sarapan telah siap disana.
"Carmen..." Panggilnya.
"Aku mandi kak, kamu sarapan dulu baru pulang," Kata Carmen dari dalam kamar mandi.
"Aku langsung ke kampus aja, ada kelas pagi,"
"Yaudah tunggu bentar aku siapin keperluan mandinya,"
Brian tersenyum dan mencomot dengan sembarang sandwichnya. Entah kenapa ia tiba-tiba bahagia dan membayangkan yang tidak-tidak.
'apa kayak gini ya kalo nanti kita menikah?' gumamnya. masih dengan lamunannya, Carmen datang membawa handuk dan keperluan mandi.
"Nih kak, kamu mandi di sana ya?"
"iya sayang, cup," Brian tiba-tiba mengecup pipi Carmen yang membuatnya merona.
Setelah semua siap, mereka berangkat ke kampus bersama. Lokasi kampus jika berangkat dari apartemen Carmen memang tidak terlalu jauh. Brian baru saja selesai memarkirkan mobilnya dan melihat Carmen belum juga bergerak keluar,
"Kamu kenapa?"
"ehmm kita jalan barengan aja kak,"
"Yakin kamu udah siap?"
"iya gapapa, aku udah gak mau dengar omongan mereka,"
Brian tersenyum dan membukakan pintu Carmen. Mereka berjalan bergandengan tangan melewati setiap lorong kampus. Meski awalnya Carmen agak sedikit gugup, Brian tetap saja menggenggam tangannya denga erat. Semua mata tertuju pada keduanya.
"Kamu kenapa menunduk?"
"Aku malu kak,"
Lagi-lag Brian membuat Carmen gugup. Ia mengangkat wajah Carmen dan memberikan senyum terbaiknya.
"Selamat belajar sayang, jangan nakal ya," Ucapnya membuat orang yang menyaksikan langsung histeris dibuatnya. Carmen langsung berlari masuk ke kelasnya.