
Brian sedang duduk menatap layar laptopnya yang sambil menghisap rokok yang entah sudah berapa batang ia habiskan. Tangan yang lain sibuk memegang mouse dan menyecroll untuk mengecek pesan email yang ia terima dari karyawannya di kantor. Pak Bundi datang membawa secangkir kopi dan menyerahkan berkas kepadanya.
"Ini berkas akhir untuk peluncuran produk baru kita pak..bisa dicek,"
Brian menyeruput kopi yang baru saja dibawakan oleh sekretaris pribadinya yang setia itu. Ia lalu meraih berkas dalam map coklat dan membaca detail lembar per lembar.
"Hanya ini? perusahaan menggaji mereka tinggi hanya untuk strategi promosi seperti ini?" Tanyanya.
Laki-laki paruh baya dengan rambut putih namun rapi dan klemis tersebut hanya diam. Dia sudah hafal dengan sifat bosnya itu. Sudah pasti menolak, karena sejujurnya ia juga menolak proposal itu.
"Hanya 2 hari lakukan perbaikan atau aku ganti posisi mereka," Kata Brian sambil melempar berkas itu di atas meja. Pak Bundi kemudian beranjak pergi dari ruangan itu.
Brian berdiri dan berjalan menuju ruang baca, mencari sebuah buku tentang strategi pemasaran dan membaca dengan serius. Baru selesai membaca beberapa lembar handphone berbunyi.
-Halo ada apa Bro
-Loe mesti bantu gue Yan
-kenapa?
-tim futsal kekurangan personil nih, pokoknya loe ikut latihan lagi
-mau sparing sama siapa?
-besok dikampus gue kasih tau..
Brian menghela nafas panjang. Jika itu Doni ia tak dapat menolak. Sahabatnya itu sudah banyak membantunya selama ini. Ia lalu teringat sesuatu dan mencari kontak Pak Bundi .
"Proposal penawaran kerjasama iklan yang kemarin tolong taruh di meja saya besok. Sekalian kita rapat,"
Tuttt
Ia beranjak keluar ruangan itu. Berjalan perlahan menuju kamarnya dan bersiap tidur. Malam ini akan menjadi malam singkat karena besok pagi ia harus berangkat kuliah.
####
sebuah mobil mewah berwarna hitam Sudah terparkir rapi di sebuah halaman kampus kota S. Cowok dengan perawakan tinggi, putih, ganteng dengan rambut pendek namun tetap stylish keluar dari mobil dan langsung menjadi pusat perhatian disekitarnya. Ia memasang wajah cuek dan dingin karena sudah terlalu terbiasa dengan suasana seperti ini.
Hari ini ia terpaksa ke kampus karena permintaan Doni. Sebenarnya masih banyak kerjaan yang harus ia selesaikan di kantor, tapi ya entahlah ia menyanggupi saja permintaan sahabat karibnya itu.
"Tumben loe pagi-pagi gini udah datang?"Tanya salah seorang kawannya saat ia sudah sampai di Taman.
"Doni ngajak latihan lagi,"
"Itu anak masih ngurusin Maba, dia jadi korlap tahun ini,"
Brian memainkan hapenya sambil menunggu kedatangan Doni yang entah jam berapa ia baru kesana membawa sebotol minuman dan memberikan padanya.
"Kita ada pertandingan persahabatan sama anak Mesin, Loe mau kan?"
"Iya gak masalah,"
belum selesai ia menjawab matanya tertuju pada cewek yang baru saja menghindari bola yang tak sengaja ditendang temannya. Ia melihat cewek itu memaki dan melempar bola dengan sangat keras hingga mengenai perut salah seorang dari mereka. Temannya itu tentu saja tidak siap menghindar dan hanya bisa terkejut.
"Wuih jago juga tuh cewek nglempar bola,"
"Don, cari tau soal dia?"
"Widih...akhirnya teman gue normal juga,"
"Loe tau kan tim futsal cewek kita lagi butuh personil?"
"oh iya.iya gue ngerti maksud loe,"
mereka lalu pergi menuju lapangan futsal untuk latihan. Brian dan Doni memang sahabat yang sangat akrab. Satu-satunya orang yang bisa melunakkan hati Brian hanya Doni. Bahkan untuk bergabung di tim futsal jurusan, jika bukan karena Doni juga tergabung tidak mungkin ia mau menghabiskan waktunya untuk hal ini.
Sebenarnya Brian adalah orang yang suka olahraga apalagi futsal. Namun ia tak ada waktu untuk berolahraga karena pekerjaannya. Yah selain kuliah ia memiliki tanggung jawab atas perusahaan keluarganya. Selama ini hanya Doni yang tau. Brian sosok primadona di kampusnya, selain karena fisik nya yang mumpuni dan idola setiap cewek. ia juga memiliki otak cerdas dan jiwa pemimpin yang tak perlu diragukan lagi.
berlanjut ke cerita, Tahun ini Brian diminta kawan-kawan nya untuk mencalonkan diri menjadi ketua BEM. Mereka yakin Brian pasti akan jadi, tetapi cowok ganteng itu dengan tegas menolak dengan alasan kesibukan.
sedang menikmati istirahat nya ia meneguk minuman dan mengelap keringat hingga dua orang mendekatinya.
"Permisi kak, aku Rio Maba jurusan komunikasi. Maaf ganggu waktu kakak, jadi kita datang kesini mau minta tolong kak Brian untuk jadi mentor kita selama ospek,"
Brian terkejut dengan mereka, ia lalu menoleh ke arah sumber suara tapi kembali menatap lapangan.
"Enggak mau gue, cari yang lain,"
"Tapi kak....,"
"Udah Yo, dia enggak mau," Sahut cewek disebelahnya. Brian kembali menatap ke arah cowok itu dan perlahan mengalihkan pandangan pada cewek di sebelahnya. Betapa terkejutnya saat tahu bahwa cewek itu adalah orang yang memaki temannya tadi di taman. Ia lalu kembali ke lapangan.
Sebenarnya setelah melihat cewek itu, ia mau mengiyakan permintaan kecil itu. Toh ia jadi ada alasan untuk ke kampus selama ospek berlangsung dan mengurangi beban kerjanya. Tapi ia tak ingin gampangan dan ingin tau kesungguhan mereka.
"Kenapa mereka??"Tanya Doni.
"Loe kasih tugas apa sih Maba,"
Doni hanya nyengir tak berdosa dan melanjutkan mengoper bola ke arah depan. Latihan selesai saat petang sudah datang. Brian sudah bersiap pulang saat Doni menghampirinya.
"Yan, loe bantu gue ya? Jadi ada Maba yang kebetulan gue kenal minta gue jadi mentor. Tapi gue kan korlap, gabisa lah jadi mentor. Loe mau kan gantiin gue,"
Brian berpikir sejenak, tiba-tiba bayangan wajah cewek imut tadi sore terlintas di pikirannya. Sesaat ia ingin melihat Maba jurusannya dan mungkin saja ia bisa kenal cewek itu.
"karena loe yang minta, yaudah gue mau,"
Ia lalu bersama-sama pergi ke restoran langganan karena Doni mentraktir nya makan malam.
####
Brian datang ke kampus dengan pakaian santai hanya menggunakan kaos yang ia rangkap dengan sweater warna coklat. Celana jeans warna hitam dan sepatu sneakers menjadi andalannya. Meski begitu ia malah terlihat sangat menawan dan sukses membuat cewek-cewek histeris karenanya.
"Don gue udah di bawah nih, kelas mana?"
Panggilannya dimatikan, sepertinya Doni sedang berada di kelas. Baiklah dia naik ke lantai dua dan sudah ada Nadia di depan pintu.
"Akhirnya loe datang juga, tadi gue udah dikasih tau sama Doni,"
Brian mengikuti langkah Nadia dan masuk ke ruangan yang cukup bersar itu. Seluruh isi ruangan yang semula ramai menjadi terdiam karenanya. Ia tetap memasang wajah cuek dan dingin berjalan santai ke arah Doni. Ia mendekatkan diri pada sahabatnya itu dan berbisik.
"Mana kelompok gue?"
Doni hanya mengangguk paham dan memanggil seseorang.
Satu kelompok tiba-tiba mengangkat tangan dan memperhatikan Doni.
"Karena saya korlap tidak bisa menjadi mentor kalian, jadi akan diganti oleh Brian,"
" Wooowww , beruntung banget kelompok mereka,"
suasana kelas nampak riuh dan heboh. Angel yang merupakan kelompok Rio juga tak kalah heboh. Sementara cewek dengan perawakan imut, cantik berambut panjang berkulit putih dan penampilan agak tomboy itu hanya bisa terbengong keheranan bagaimana bisa jelas-jelas kemarin dia menolak.
Brian memperhatikan satu persatu anggotanya sampai pada cewek yang dari kemarin membuatnya penasaran.
"takdir yang aneh," Gumamnya sambil menatap cewek itu dengan lekat.
"Oke gue perkenalkan dulu nama Brian Wijaya panggil aja Brian, biar gue juga enak panggil kalian jadi kenalkan diri kalian satu persatu,"
Perkenalan berlangsung bergantian hingga giliran cewek yang sudah menjadi perhatiannya itu. cewek itu berdiri dan merapikan bajunya kemudian mengangkat wajahnya yang sedari tadi ia tundukkan.
"perkenalkan nama saya Carmen, salam kenal semuanya..salam kenal kak Brian,"
Entah setan apa yang memasuki Brian, ia lalu terlihat begitu antusias dengan kelompok ini. Sifatnya yang cuek, dingin dan irit bicara tak ia tunjukkan. Ia hanya ingin profesional sebagai mentor. Dan Carmen, entah apa yang membuatnya begitu tertarik dengan gadis di depannya itu. Ia seperti menemukan sesuatu yang menarik padahal mereka baru saja berkenalan.