CARMEN

CARMEN
UNDANGAN TERHORMAT



Carmen masih terus mengawasi sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan mereka. Selesai makan Rio mengajak kembali ke kelas karena waktu istirahat hampir habis. Mereka berjalan beriringan, Carmen sama sekali tidak bisa fokus dan tetap memikirkan sesuatu yang baru saja ia alami.


"Kenapa dia menatapku seperti itu? tapi kalo gue pikir dalam semua ini bukan kebetulan. Pertemuan pertama saat insiden bola, kenyataan bahwa ia dijadikan primadona untuk dan bertemu di lapangan futsal sampai titik ini awalnya dia menolak dan datang menjadi mentor kelompok itu adalah hal yang benar-benar tidak bisa dijelaskan," Ucap Carmen dalam hati.


Rio menepuk pundak Carmen. Ia memperhatikan sedari tadi pikiran Carmen tidak fokus.


"Ada apa?" Tanyanya.


"enggak ada apa-apa," Jawab Carmen singkat.


Mereka duduk paling belakang menyisakan satu kursi di sebelah Carmen. Tak lama Brian sudah datang dan duduk di sebelah Carmen.


"Padahal banyak tempat?"Gumam Carmen. Materi pengenalan dimulai. Jam berganti jam hingga sore dan kelas di akhiri. Carmen sudah bersiap mengepak buku2nya. Brian tiba-tiba memberi pengumuman untuk kelompok bimbingannya.


"Besok semua tugas individu dikumpulkan ke gue, biar setelahnya kita ada waktu untuk ngurus tugas akhir kelompok," Sahutnya. Semua memperhatikan dan paham kemudian beranjak satu persatu keluar kelas. Carmen menunggu Brian untuk berdiri, karena ia tak bisa lewat.


"Tugas kamu yang bikin album itu udah selesai?"Tanya Brian tiba-tiba.


"Belum kak, rencananya hari ini mau nyari kontennya," Jawab Carmen.


"Nanti jam 7 ada sparing di lapangan kemarin itu sama anak teknik. Kalo kamu mau, boleh untuk motret disana. Ini undangan TERHORMAT," Sahutnya. Carmen kaget. Tapi mengiyakan. Brian langsung berdiri dan keluar kelas tanpa ada percakapan lagi. Disusul kemudian Carmen berjalan menuju apartemennya.


####


Aku baru saja selesai menyiapkan dan mengecek lensa yang akan aku pakai nanti. Tidak lupa tripod, dan beberapa kain lap khusus sudah kumasukkan dalam tas masing-masing. Setelah itu aku beranjak ke lemari baju dan memilih outfit yang akan aku pakai. Tidak seperti biasanya yang terkesan cuek dengan penampilan. Entah kenapa aku begitu excited.


Setelah beberes semua perlengkapan, aku menuju dapur mengambil botol air dan kumasukkan ke dalam tas. Setelahnya aku menuju pintu dan ceklek, pintu sudah ku kunci sebelum aku turun melalui lift. Hari ini dengan barang bawaan yang cukup lengkap aku menuju lapangan futsal, tempat dimana pertandingan akan segera berlangsung.


Sesampainya di lapangan, aku duduk di tribun penonton. Untung saja tadi bawa 'tele' jadi tak masalah jika aku harus jauh dari lapangan. Belum juga duduk dg nyaman dan mengambil posisi pas seseorang memanggil ku dari bangku penonton.


"Carmen sini... katanya mau foto, kok di atas?"Teriaknya dari bawah. Kak Doni sudah menggunakan kaos kebanggaan jurusan kami dan menyuruh ku untuk turun di pinggir lapangan. Aku turun dan menenteng barang-barang yang tadi ku bawa.


"Banyak banget barang bawaannya?"Tanyanya dibarengi dengan mengambil tas tripod di tanganku dan membantu membawakan.


"Makasih kak, terlalu prepare sih tadi,"Jawabku sambil tersenyum. Dia menatapku sejenak setelahnya salah tingkah.


"Sendirian aja kesini?"Tanyanya lagi. Aku hanya mengangguk. Setibanya di lokasi yang ditunjukkan. Brian datang menghampiri kami. Dia agak berkeringat karena pemanasan, lalu mengambil minumanku.


"Kamu boleh motret dimanapun. Tapi jangan melewati line pembatas ini,"Katanya. Aku mengangguk paham. Pertandingan dimulai, aku fokus memotret momen demi momen. Sesekali Brian menoleh ke arahku. Aku tahu karena sering tak sengaja tatapan kami beradu.


Setelah kurasa cukup, aku duduk istirahat dan meneguk minuman yang tadi kubawa. Sebelum aku bersiap-siap memutuskan pulang karena sudah sangat lelah, Brian mendekatiku dan meminta botol minuman yang ku pegang.


"Loe haus banget ya? padahal dipinggir lapangan juga ada minuman,"Kataku terheran-heran melihat tingkahnya.


"enggak biasa minum satu tempat buat bareng-bareng," Jawabnya dengan nafas terengah-engah.


"La sekarang apa enggak lagi minum botol yang gue pakek kak?" Jawabku. Dia hanya melihatku dan bersiap kembali ke lapangan.


"Dipakai 2 orang aja bisa gue pastiin masih aman," Katanya singkat. Aku masih tertegun dengan jawabannya. Karena mataku sudah panas, aku tinggalkan saja botol itu. Biarin mungkin dia memang haus banget.


Aku melangkah pulang dan bersiap menyelesaikan tugas ini untuk besok. Pasti riweh, belum lagi harus mencetak. Jam berapa aku selesai dan tidur? Besok lumayan padat jadwal ospeknya.


Layar laptop masih bersinar, di tengah mataku yang mulai agak sayu dan bibirku yang sudah kering karena hanya kopi yang ku minum agar hilang rasa kantuk ku selesaikan tugas individu untuk besok.


"Akhirnya selesai juga kau tugas, dasar bandel,"Kataku sambil memeluk lembaran hardcopy yang selesai ku cetak. Aku beruntung meski tinggal sendirian di kota ini, tapi semua kebutuhan dan fasilitas yang kuperlukan terpenuhi. Semua bisa diselesaikan di rumah sambil sesekali aku belajar mengatur apartemen ini.


Undangan terhormat yang diucapkan Brian benar-benar terngiang di pikiranku. Apa maksudnya dia bilang begitu? Apa begitu pentingnya dia atau sebaliknya? argghh kamu ini mikir macem-macem car, mana mungkin seorang cuek, dingin dan angkuh begitu menaruh perhatian lebih ke loe. Tapi tetap saja aku tak bisa tidur malam ini.


####


Carmen masih mondar-mandir dari kamar menuju dapur, dari dapur duduk di ruang tengah. Kadang dia kembali ke kamar dan merapikan hasil tugasnya. Ia ingin tidur, tapi matanya yang tadi sudah sayu, kini berubah terang lagi.


"uuhhh dasar, kenapa tadi gue mikir macem-macem. Sekarang jadi gelisah sendiri kan?"Ucapnya mengutuk dirinya. Ia letakkan tugasnya di meja belajar, kemudian menuju kasurnya. Berguling kekanan-kiri sambil sesekali memainkan ponselnya. Masih tetap, tak ada tanda-tanda ia memejamkan matanya.


Carmen adalah tipikal orang yang terlampau peka. Entah itu anugerah atau justru malapetaka. Ia lebih peka dari dugaannya sendiri. Ia tahu Brian sedang mengawasinya. Ia juga masih belum menemukan jawaban kenapa dia diawasi. Kejadian demi kejadian bukan terjadi kebetulan. Sebenarnya semua ini sudah sangat tergambar, masalah utamanya apakah ini kehendak semesta atau semata-mata setingan dari si empunya kepentingan.


"Gue rasa selama ini gue mencoba untuk menjadi mahasiswi baru pay umumnya,"Katanya. Bahkan sikap Brian saat di lapangan tadi tak luput dari perhatian Carmen. Dia bahkan terkenal dengan sifat dingin dengan siapapun. Tadi kenapa dia begitu hangat pada Carmen. Gadis itu menggelengkan kepalanya. Berusaha sekuat tenaga tidak lagi memikirkan apapun yang tidak masuk akal. Saat ini ia tidak ingin berhubungan dengan siapapun dan kondisi apapun.


"Pokoknya gue fokus fokus fokus,"Katanya. Hening, semakin malam. Carmen sudah terlelap dalam mimpinya malam ini. Gadis itu sudah bersiap atas apa yang terjadi esok.


"Semoga ini semua hanyalah kebetulan,"Katanya sebelum terlelap.


####