
Rio dan Carmen sudah sampai lapangan futsal di daerah yang tak jauh dari kampus. Mereka masuk dan mencari di beberapa lapangan. Area olahraga itu cukup luas dan semua lapangan penuh. Maka sambil berjalan mereka juga harus teliti mencari sosok Brian. Meski ia pasti mudah ditemukan karena lebih ganteng dan keren dari yang lain, namun menemukan dibanyak orang begini bukanlah perkara mudah. Setelah celingak-celinguk akhirnya Rio menunjuk satu cowok yang sedang mengelap keringat. Mereka mendekat.
"Maaf kak, kami mengganggu lagi," Kata Rio. Carmen masih sedikit agak kaget karena baru sadar bahwa cowok itu adalah orang yang ia maki tadi saat di kampus.
"Ada apalagi?" Tanya Brian tanpa menoleh. Ia tahu betul apa maksud mereka.
" Pliss kak, mau ya Kak Brian jadi mentor kelompok kita," Jawab Rio. Carmen masih diam. Brian menoleh ke arah Rio, lalu dia juga terkejut saat melihat cewek di sebelahnya.
"Gue sih enggak ada minat ya, lagian gue sibuk," Sahut Brian. Carmen masih diam. Rio diam. Brian kembali ke lapangan. Sementara mereka berdua belum kepikiran untuk pulang. Carmen malah mengajak Rio duduk dan menyaksikan pertandingan.
" Gimana nih Car, teman-teman udah nungguin kepastian," Kata Rio.
"Yaudah Yo, kita cari mentor lain aja. Senior kita kan enggak cuma Brian aja,"Jawab Carmen. Rio segera menulis pesan grup. Ia bahkan memfoto ke arah Brian dan mengirimkan ke grup. Setelah perundingan online yang cukup lama akhirnya kelompok sepakat meminta bantuan senior yang lain.
Hari sudah semakin petang, Rio mengajak Carmen pulang. Nanti malam salah satu anggota kelompok yang akan menemui senior lain. Kebetulan ia kenal.
####
Brian sempat memperhatikan Carmen dan Rio berjalan keluar tribun. Ia sempat kecewa karena hanya sebatas itu perjuangan mereka.
"Dasar maba," Gumamnya. Sambil meneguk air di botol, ia masih memikirkan kejadian tadi. Tiba-tiba Doni menepuk pundaknya.
"Ngelamun apaan loe," Tanya Doni.
" Udah selesai ngurusin Maba?" Yang ditanya malah melontarkan pertanyaan. Doni hanya mengangguk.
" Tadi ada yang telfon gue, minta tolong mentorin selama ospek," Kata Doni.
"Gue jawab kalau gue gak bisa soalnya udah jadi korlap, Loe mau enggak gantiin?" lanjutnya. Brian menatap Doni tajam.
"Becanda kali gue, kali loe gak mau juga gapapa," Doni buru-buru menambahkan sebelum Cowok dingin di depannya murka. Tapi justru ekspresi berbeda ia tunjukkan.
" Oke, enggak masalah. Ini karena loe yang minta ya?" Jawabnya singkat. Doni tersenyum senang karena bebannya sedikit berkurang. Untuk kebaikan Brian, Doni sepakat mentraktir makan malam mereka.
####
Hari kedua ospek, masih sama. Carmen masih melihat keriwehan sana-sini dari temannya. Ada yang sibuk menulis tugas yang belum selesai. Ada yang merapikan hasil karya yang tentu saja bagian dari tugas. Bahkan ada yang tertidur karena kelelahan setelah lembur semalaman. Rio datang dan duduk di sebelah Carmen.
" Tumben udah nyampek?" Tanyanya.
"Iya, udah pasang alarm," Jawab Carmen. Ia kemudian memainkan ponselnya.
" Si Reva kemana ya? kemarin negosiasi dia sama kak Doni apa berhasil?"
Carmen hanya mengangkat bahunya. Tidak lama kemudian anggota kelompok lain sudah datang dan duduk bergerombol disekitar Rio dan Carmen. Hingga waktu sudah menunjukkan pukul 8 tepat, korlap datang ke ruangan membawa beberapa barang.
Kelompok Carmen masih bingung, Akbar salah satu anggota kelompok yang bertugas mencari pendamping kemarin belum juga kembali. Kami jadi agak was-was takut kena omel korlap. Tak lama kemudian Akbar kembali sendirian.
"Kakak mentornya mana Bar?," Tanya Carmen. Akbar nampak kecewa.
"Tadi gue udah ke Kak Doni, trus dia bilang tetap enggak bisa," Jawabnya dengan raut muka kecewa. Kami semakin tidak tenang. Suasana juga tidak bisa dikatakan terkendali. Jantung semakin berdebar, Carmen berusaha memilih kata jika nanti akan ditanyai alasan belum ada mentor.
Pintu ruangan dibuka dengan tiba-tiba. Semua nampak kaget dan terdiam menoleh ke arah pintu. Sesosok manusia yang sempurna menggunakan sweater coklat membuat seisi ruangan histeris. Brian. Berjalan perlahan menuju arah Doni dan membisikkan sesuatu.
"Kelompoknya Akbar mana angkat tangan!!" Kata Doni lantang. Akbar angkat tangan.
"Baik sesuai janji saya kemarin karena saya belum bisa menjadi mentor kalian. Penggantinya adalah teman saya. Brian," Lanjut Doni. Sontak saja semua anggota kelompok histeris dibuatnya. Bahkan kelompok yang sempat menemui Brian tak kalah heboh dan kecewa.
Brian berjalan menuju kelompok yang seminggu ke depan akan ia mentori. Ia tidak sempat memperhatikan di awal, ketika sampai di Tempat ada suatu hal yang membuatnya terkejut.
"Takdir memang misterius," Gumamnya dalam hati setelah mengucapkan salam perkenalan dan menatap Carmen dengan dalam.
***
Karena mentor, intensitas pertemuan Maba dengan korlap semakin berkurang. Itu berarti keadaan juga lebih santai dari biasanya. Tiap kelompok sibuk dengan mentor masing-masing dimana tugas seorang mentor adalah mengarahkan Maba untuk menyelesaikan beberapa misi selama ospek.
Carmen masih asyik membaca buku panduan sebelum akhirnya Brian melontarkan pertanyaan kepadanya.
"Tugas individu apa yang sudah kamu jalankan?" Tanya Brian. Carmen menjawab dengan singkat.
"Karena saya hobi fotografi, jadi saya berniat untuk membuat galeri album foto human interest kak," jawabnya. Brian mengangguk.
"Tema apa yang kamu ambil?"
"Kemungkinan olahraga," Jawab Carmen. Satu persatu Brian memberi pertanyaan serupa kepada anggota yang lain. Sesi pendampingan selesai. Jam menunjukkan pukul 12 siang. Itu berarti waktunya istirahat. Maba berpencar melakukan aktivitas nya masing-masing. Ada yang langsung menuju foodcourt untuk makan, ada yang ke masjid untuk sholat ada yang masih di tempat meluruskan badan.
Carmen bersiap beranjak dari tempat duduknya menuju foodcourt. Perutnya sudah memberontak ingin cepat terisi. Rio juga mengikuti langkah Carmen. Setelah mendapat meja, Rio memesan makanan sedangkan Carmen masih tenggelam dalam aktivitas nya yakni ponsel. Sedari tadi teman-temannya sudah saling follow media sosial. Ia mengscroll kepo dengan teman barunya. Tak lama Rio datang membawa makanan mereka.
"Seru banget ngepoin medsos temen-temennya," Celoteh Rio. Carmen hanya tersenyum.
" Car, gue suka deh teman kayak loe, enggak banyak omong tapi jelas aksinya. hahah," Sahutnya lagi.
"Loe itu mirip Brian, versi ceweknya. Sama-sama irit suara," Tambahnya semakin memperjelas. Aku hanya tertawa membayangkan kalo aku emang mirip monster berdarah dingin itu. Makanan kami tinggal separuh piring. Rio masih asyik menikmati makanannya. sedangkan Carmen merasakan ada yang mengawasinya dari jauh. Dia menoleh ke berbagai arah hingga tak sengaja sepasang mata tertangkap basah oleh Carmen.
"Kenapa dia mengawasiku seperti itu?"Tanya Carmen dalam hati.
####