
Dengan mata merah dan mata sayu Carmen sudah berada dimeja kerjanya. Ia benar-benar tidak habis pikir pada Brian, meskipun mereka sepakat tidak mempublikasikan hubungan seharusnya Brian bisa menjaga perasaan Carmen. Ia sembunyikan wajahnya dalam lengan tangan, berusaha menyembunyikan amarah di hatinya. Ia tidak menyadari Daniel memperhatikan sedari tadi.
"Carmen,,,kamu kenapa?" Tanya Daniel. Cewek cantik itu terkaget dan memutar kepala ke belakang.
"Pak Daniel, saya pikir siapa? bikin kaget aja," Jawabnya jutek. Daniel menerka sikap Carmen yang sedang tidak baik.
"Tugas kamu sudah di email kan?"Tanyanya. Carmen hanya mengangguk dan tak lama kemudian ia menatap layar monitor di depannya.
"selesai kerja ada pesta kecil-kecilan direstoran grill depan kantor, kamu ikut ya?" Kata Daniel.
"Dalam rangka apa pak?"
"Ulang tahun saya, kamu mungkin sudah lupa," Jawab Daniel. CArmen yang tak enak hati segera membei ucapan selamat kepada bos sekaligus mantan pacarnya itu. Daniel tersenyum bahagia karena keinginannya sedari dulu ingin mendapat ucapan dari Carmen akhirnya terwujud.
Waktu sudah semakin larut, sengaja Carmen pulang malam karena besok ia tidak ada kelas dan sudah memiliki agenda akan hunting foto untuk keperluan pengisian rubrik. Nampaknya hatinya masih kacau, ia masih butuh waktu sendiri. Meski sudah mendapat tawaran tumpangan pulang dengan Daniel, ia memilih jalan kaki sambil menenangkan perasaannya.
"seharusnya gue tahu kalo dia emang cowok idaman semua cewek, kenapa juga gue lebay," kesalnya pada diri sendiri. Ia tau pasti bahwa Brian, pacarnya itu adalah superstar di kampus. Seharusnya dia paham posisi, apalagi atas permintaannya sendiri hubungan tidak perlu dipublikasikan untuk sekarang.
kakinya masih terus berjalan, ia lihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul 11 malam. Kalau dia masih tetap jalan, pukul 1 pagi baru sampai apartemen. ia lalu berdiri mencari taksi. Setelah mendapat taksi, dalam perjalanan ia hidupkan handphone yang sedari siang tadi sengaja ia matikan. ia tahu pasti Brian pasti sudah menerornya. Dan setelah hape hidup, banyak panggilan dan pesan masuk. Carmen masih kesal tapi ia mencoba tetap tenang.
-aku masih di jalan (pesan ke Brian)
-Kenapa dimatikan? sampai mana sekarang?
-di jalan
sebelum Brian memanggil ia langsung mematikan hapenya dan menatap samar-samar jalanan kota sudah agak lengang. Setelah sampai lobi apartemen, Carmen naik ke rumahnya dengan langkah gontai. Ia ingin tidur dan bangun dengan tenang besok.
Sementara itu di dalam apartemen Carmen, duduk cowok ganteng sambil terus memainkan hapenya meski tak ada panggilan dari pacar kesayangannya. ia benar-benar menyesal sudah membuat Carmen menjadi cemburu dan bertekad untuk tidak akan mnegulanginya lagi. Brian memang sosok yang menjadi panutan. Ia tipikal orang yang setia dan sayang pacar. Pikirannya masih was-was kenapa carmen tidak kunjung pulang.
Pintu apartemen terbuka, Brian segera berdiri dan berlari menuju pintu. Dilihatnya Carmen yang baru saja pulang dan menampakkan wajah lusuhnya. Matanya nanar melihat cewek cantik dan imut itu pulang dengan keadaan sangat menyedihkan. terlihat jelas bahwa ia menangis. Brian segera memeluk Carmen dengan erat sampai Carmen tidak bisa bernafas.
"LEpasin !!! kamu itu apa-apaan sih" Ucap Carmen.
"Sayang ,, maafin aku. Aku janji enggak akan bikin kamu salah paham," Jawabnya. Carmen mendorong Brian dengan keras. Ia lalu mempercepat langkahnya menuju kamar. Saat ini ia benar-benar malas bertemu dengan Brian. Namun, ya namanya Brian, ia tetap saja mengejar CArmen lalu menarik lengannya.
"Kamu dengerin dulu penjelasan aku,"
"penjelasan apalagi kak? semua sudah jelas,"
"Dia itu Aurel, mantan pacar aku yang pernah aku ceritain ke kamu dulu. aku juga enggak tau kalo dia tiba-tiba muncul di lapangan. Tapi aku bisa pastika bahwa tidak ada lagi perasaan lagi di antara kita,"
"Kalo dia masih samperin kamu, berarti dia masih komunikasi sama kamu,"
"aku salah belum cerita ke kamu, Sabtu kemarin dia emang telpon aku minta jemput di bandara. Tapi aku enggak sendirian waktu itu. ada Dony dan kita bertiga. Aku minta maaf karena belum sempat cerita ke kamu. Tapi setelah hari itu aku sama sekali enggak ada komunikasi sama dia,"
Carmen tertunduk. IA harus tetap mengontrol emosinya. Baru seminggu ia pacaran.
"Yaudah, aku capek. mau tidur dulu, Jawabnya. Bukannya melepaskan CArmen, Brian malah makin memegang lengan Carmen makin erat.
"Kamu maafin aku kan? "
"Iya aku maafin," Jawab CArmen. Brian kemudian memluk Carmen lagi.
"Aku janji sama kamu, semua yang aku lakuin aku pasti cerita kamu. Kamu jangan ngilang lagi ya? aku khawatir,"
Brian pulang setelah memastikan Carmen tidur. Tidak lupa ia mengecek semua lampu di rumah pacarnya itu. Mobilnya melaju dengan kecepatan sedang. Meski Carmen sudah memaafkan, tapi ia tau pasti bahwa kepercayaan Carmen goyah. Ia takut hal-hal semacam ini. Ia benar-benar sayang Carmen dan sudah mengubur dalam-dalam masa lalunya.
"Sejak hari dia ninggalin gue sendirian. Gue udah mengubur perasaan gue sama loe Rel," Gumamnya. dia benar-benar tidak siap dengan kemungkinan bahwa hubungan yang baru seminggu ini menjadi bubar.
Carmen masih menguap saat jam sudah menunjukkan pukul 10. Ia benar-benar tertidur dengan pulas. perutnya sudah keroncongan perlu untuk diisi. ia lalu menuju ke dapur menyiapkan sarapan. Belum juga sampai dapur ia terkejut karena Brian sudah berada di rumahnya.
"kamu kenapa disini?" TAnyanya. Brian yang melihat Carmen baru keluar dari kamar dengan rambut yang masih berantakan hanya bisa bengong.
"Kamu baru bangun? laper kan? ayok kita sarapan," JAwabnya.
Carmen lalu duduk di kursi bar depan dapur, ia melihat makanan yang tersedia begitu enak dan membuatnya ingin segera melahap. Ia pandangi Cowok ganteng di depannya yang sedang menyiapkan minuman. sangat sexy saat dia fokus menuangkan susu ke galas.
"KAmu belum jawab pertanyaan aku, kenapa ada disini?"
"hari ini aku gak ada kegiatan apa-apa, bosen sendirian. Masak udah punya pacar masih sendirian aja," sambil tersenyum. Carmen terasa melayang.
"Apa seharusnya aku ganti aja ya password rumah. Makin lama kamu kayak pemilik apartemen ini. Keluar masuk sembarangan,"
"Apa yang salah, yang tau password ini hanya aku kan? pacar sendiri,"
"Kamu aneh banget hari ini?"
"Sayang, aku akan membuat sebuah janji sama kamu. Aku akan memberi kamu kompensasi kalao aku membuat kamu nangis atau marah. Karena kemarin aku udah buat kamu sedih jadi hari ini aku kasih kamu kompensasi dengan membuatkan sarapan,"
Carmen masih heran. Tapi ia juga sudah lahap pada makananya.
"Hari ini kamu ada acara apa?"
"Hunting foto di daerah Masjid besar,"
"Okee aku ikut"
"Tapi aku enggak ngajak kamu,"
"Pokoknya aku ikut," Jawab Brian. Setelah sarapan selesai, Carmen menuju kamar mandi untuk mandi. Sementara Brian berdiri di balkon sambil menikmati kopi dan melihat pemandangan. Setelah cukup ,enikmati kopinya, Brian masuk ke kamar carmen dan mencari lemari kaca sesuai permintaan Carmen tadi untuk menyiapkan kamera. Kamar Carmen tidak terlalu besar tapi tertata rapi dan wangi aroma buah lemon efek dari lilin pengharum yang masih belum Carmen matikan. Di Dalam kamar itu terdapat sebuah meja rias kecil disudut dekat jendela disampingnya terdapat gantungan topi dan syal dan beberapa koleksi buku yang tertata begitu rapi. Sementara meja belajar ia letakkan di depan kasur, Brian melihat sebuah tulisan catatan kecil yang ditempel sembarang tempat di tembok berisi jadwal-jadwal dan tugas-tugas yang belum rampung.
Tepat sebelum walking closet (ruangan baju) terdapat laci kaca dengan lampu di dalamnya yang sudah pasti adalah tempat menyimpan kamera-kamera.Carmen memang unik, disaat cewek lain hobi belanja, ke salon atau sekedar nongkrong menghabiskan waktu ia malah hobi fotografi dan menulis. Sungguh sangat menyentuh hati Brian. Meski tidak begitu mahir, tapi Brian memang masih paham tentang kamera dan segala perlengkapannya. Ia lalu mengambil dua unit dan memasukkan ke tas. Setelah selesai ia duduk di tepi ranjang kamar Carmen. Pikirannya sedikit liar membayangkan betapa imut dan cantiknya Carmen saat tidur.
Sedang asik dengan pikirannya, Carmen datang dengan ekspresi kaget. Ia masih baru saja selesai mengeringan rambut dan menuju meja rias untuk mengatur wajahnya. Sambil memasang wajah cuek, ia mondar-mandir mencari barang-barang yang di perlukan. Brian hanya menatapnya dan tersenyum dibuatnya.
"Kenapa sih? salting ya?" Tanya Brian.
"Ihh apaan? udah sana keluar aku mau beres-beres dulu,"
Brian berdiri dan meninggalkan kamar. Setelah itu pintu ia tutup, Carmen mengelus dada dan merasakan denyut jantungnya sudah sangat cepat. Baru pertama kali ini Brian berada di kamarnya. Meski ia sudah pernah berdua dalam ruangan Brian saat ia pindah ke rumah cowok itu. Tapi tetap saja ia masih sangat degdegan. Tak lama aktifitasnya selesai. Mereka sudah berada dalam mobil, Brian bersiap untuk berangkat. Carmen juga mengecek barang-barang memastikan tidak ada yang ketinggalan.
Jalanan menuju lokasi tidak begitu ramai karena hari sudah siang. Sambil menunggu matahari agak turun, mereka berdua asik menikmati makanan pinggir jalan yang makin sore makin ramai saja. ini mungkin hal biasa bagi Carmen tapi tidak demikian dengan Brian. Baginya makan di pinggir jalan seperti ini adalah hal baru. Terlepas dari ke higienisan makanan yang saat ini lahap ia makan, ia merasa senang karena satu hal terwujud dalam angannya yaitu menikmati suasana berbeda dengan orang yang paling ia sayang saat ini.
"Kamu suka makan beginian?"
"Enak."
"Kamu tau enggak, sebenarnya makan di pedagang pinggir jalan gini itu standart banget kan, bukan karena makanannya yang enak. Tapi karena suasannya, bayangin disini kamu enggak perlu pakai barang mahal, dompet tebel atau kendaraan mewah. Cukup pesan, duduk terus makan deh,"
"Iya sayang. Aku juga baru pertama kali makan di pinggir jalan gini,"
"wah, aman enggak tuh perut?"
Brian hanya tersenyum sambil menikmati minuman dingin yang baru saja datang. Carmen udah mulai mengambil foto-foto kegiatan orang berlalu lalang. Semakin dilihat semakin sayang Brian pada Carmen. Cewek itu sekali lagi memberi pengalaman baru dalam hidupnya. Carmen begitu sederhana dibalik penampilannya yang elegan. Jika ia mau menjadi seperti cewek lain, ia juga mampu. Tapi bukan itu yang carmen mau, Ia hanya ingin menjadi diri sendiri dan memberi sedikit kebahagiaan kepada orang lain dengan caranya sendiri.