CARMEN

CARMEN
KEDATANGAN MAMA



Carmen sudah duduk manis di mobil Brian sementara siempunya masih menelpon Sekretarisnya mengabarkan bahwa rapat malam ini ditunda. Setelah selesai ia menyusul Carmen masuk mobil.


"Apa enggak papa kalo harus ditunda? itukan kerjaan penting," Tanya Carmen.


"Enggak papa, tiap Minggu kita adakan rapat evaluasi singkat. Jadi bukan rapat darurat atau rapat maha penting, hanya cek ricek aja,"


"Aku beneran gapapa kok,"


"Gak papa gimana wong kamu dari kemarin pendiem gitu. Kepikiran omongan mami ya?"


Carmen hanya diam. Ia tak mampu menjawab karena akan menimbulkan perdebatan sengit dengan Brian. Sudah berkali-kali Brian mengatakan bahwa itu tidak akan terjadi mengingat Carmen masih keberatan. Dan berulang kali Carmen tak begitu percaya mengingat bagaimana karakter mami Nita.


"Udah ah..gausah dibahas lagi. Mau aku antar langsung atau kita mampir makan dulu?" Tanya Brian.


"Langsung pulang aja deh kak, nanti kita bungkus makanan aja. Makan di apartemen,"


mobil melaju dengan kecepatan sedang. Setelah mampir di warung Padang langganan, Carmen masuk mobil sambil menenteng plastik berisi makanan bungkus dan krupuk. Brian yang melihat pacarnya itu hanya bisa geleng-geleng.


"Kamu pasti belum pernah makan beginian kan?"


Brian menggelengkan kepalanya.


"Sudah kuduga, kamu coba nanti ya..pasti ketagihan,"


Tak sampai 5 menit mobil sudah sampai di apartemen kelas menengah milik Carmen. Tempat tinggal Carmen memang tak semegah dan semewah rumah Brian, apartemen ini merupakan tempat tinggal papanya saat masih kerja di kota S sebagai jaksa. Sebagai pegawai Negeri yang mengabdikan diri untuk negara tentu tak mungkin memiliki tempat tinggal dengan spesifikasi bagus. dan apartemen dengan 2 kamar inilah solusinya. Meski begitu, Brian sangat nyaman berada lama-lama disini. Rumahnya terasa hidup dan menyenangkan tak seperti rumahnya yang sepi dan sunyi.


Pintu apartemen baru saja dibuka saat Carmen kaget bukan kepalang melihat mamanya sudah berlari ke arah Carmen dan memeluk. Brian yang berdiri di belakang gadis itu tak kalah tercengang. Mama sela mengalihkan pandangannya pada Brian. Menyingkirkan Carmen sesaat dan berjalan maju ke arah Brian dengan tatapan menebak-nebak.


"Siapa kamu?" Tanya mama


"Dia Brian ma, teman aku," Buru-buru Carmen menyambar pertanyaan menyelidik mama. Kedua bola mata wanita paruh baya yang masih terlihat awet muda itu tetap menjelajah setiap jengkal Brian dari ujung rambut sampai kaki. Disilangkannya kedua tangan untuk lebih menekan.


"Saya tanya siapa kamu?"


"Saya Brian Tante, temen kuliah Carmen," Jawab Brian sedikit gugup dibarengi dengan menyalami mama dengan mencium punggung tangannya.


"Terus ngapain kesini?"


"Saya nganterin Carmen pulang Tante,"


"Itu yang kamu bawa apaan?"


Brian melihat tas plastik berisi 2 bungkus nasi Padang. 'Mati gue,masak mau ngomong mampir sih,' gumamnya.


"Oh ini makanan buat santap malam Tante, kamu bawa 2 bungkus aja. Karena ada Tante disini saya pulang dulu ya Tante,"


Brian makin gugup saja. Mama masih diam. Belum menyahut dan menatap Carmen dengan tatapan sulit diprediksi.


hahaha "Jadi ini anaknya Nita? cakep juga. Udah gausah malu, ayo masuk,"


Semua kaget dibuatnya. Brian masih terpaku dengan pikirannya. Tak ada tanda-tanda beranjak.


"Eh malah bengong, udah sini masuk. Kita makan malam, kalian pasti belum makan kan?"


Cowok tinggi itu masuk ke dalam rumah dengan mode canggung. Ia menaruh makanan yang dibawanya di atas meja dapur dan duduk di sofa. sementara Carmen menyiapkan piring dan memasang lebar-lebar telinganya agar tak ketinggalan satu kata pun yang akan keluar dari mulut mamanya.


"Jadi kamu yang namanya Brian itu. hemmm kalo dilihat memang sesuai dg yang diceritakan Nita,"


Brian hanya tersenyum.


"Carmen cepat sini duduk,"


"Pertama, mama mau ngomong dulu sama Carmen. Brian kamu jangan jawab"


Brian hanya mengangguk.


" Jadi alasan terselubung kamu kekeh mau pindah tinggal sendiri biar gampang bawa cowok masuk, iya?"


"Enggak ma, bukan gitu. Aku gak pernah bawa banyak cowok masuk. Cuma Kak Brian aja yang pernah kesini, dan sama Atasan aku di kantor tempat aku part time,"


"Itupun karena aku waktu itu lagi sakit dan ada barangnya yang ketinggalan di kantor ma,"


mama masih diam.


"Carmen serius ma, jujur juga ma,"


"Kedua, dari kapan mama kasih izin kamu kerja ? kamu harus fokus dulu sama kuliahmu Carmen. Ikut kegiatan yang bermanfaat untuk menambah pengalaman. Bagaimana kalo papamu tau kamu enggak fokus kuliah? mama mau ngomong apa?"


"Ma, itu penawaran khusus dari dosen Carmen. Aku gabisa nolak dan lagi perusahaan nya juga bagus. Carmen juga mau berkembang. kerjanya gak padat kok ma, bisa dikerjakan flexibel juga,"


"Mama kasih waktu seminggu kamu selesaikan masalah itu,"


Setelah selesai menginterogasi Carmen, mama berpindah ke Brian. Cowok itu nampak tenang meski hatinya cemas.


"Hubungan kalian hanya sebatas teman aja kan?"


"Anu..Tante.. kita sudah pacaran, Sudah 3 bulan,"


mama menggeleng kepalanya tanda bahwa ia benar-benar kesal pasalnya Carmen tak pernah cerita apapun.


"Trus kamu gimana sama Carmen?"


"Saya serius Tante sama Carmen. Saya enggak main-main sama hubungan ini. Carmen juga sudah kenal dengan mami saya, Dan beliau cocok dengan Carmen,"


"Sering kamu main ke apartemen ini?"


"Cukup sering Tante, Tapi saya bisa pastikan saya enggak macem-macem sama Carmen. Kita hanya sekedar ngobrol kadang juga belajar bareng,"


Semua yang dikatakan Brian memang sebenarnya. Ia ingin berkata sejujur mungkin.


"Jadi Tante, saya bolehkan pacaran sama anak Tante?" Pertanyaan Brian yang konyol.


Mama diam menatap keduanya bergantian. Carmen sudah keringat dingin sedari tadi. sementara Brian masih terlihat tenang, ia memang pandai menutupi kegugupannya.


hahahaha,"benar yang Nita katakan kalo kalian emang lucu banget. Carmen, mama percaya sama kamu kalo kamu pasti bisa jaga diri dan menjaga nama baik keluarga. Dan Brian, Tante percaya sama kamu bisa jaga Carmen. ingat kalian berdua ! tetap jaga satu sama lain, jangan macem-macem sebelum waktunya. Paham ya,"


keduanya mengangguk.


"Makanan udah siap, tadi mama udah masakin buat kalian. Sekalian nasi Padang nya dimakan," ucap mama berdiri menuju dapur dan membawa makanan yang sudah ia masak ke meja ruang tamu. Carmen berdiri membantu mamanya dan berjalan ke arah kulkas mengambil minuman.


mereka bertiga makan malam sambil ngobrol menciptakan keakraban yang sempat dibuat canggung karena interogasi mama. Sebenarnya Brian masih ingin berduaan dengan Carmen, tapi tak mungkin ia lakukan saat ini. Setelah makan malam Brian pamit pulang ke mama Sela dan Carmen.


"Salam ya buat Mami Nita, Hati-hati dijalan,"


"Iya Tante, pasti saya sampaikan. Saya pamit dulu Tante," Ucapnya.


Carmen hanya memberi lambaian tangan perpisahan. Setelah Brian memasuki lift, pintu ditutup dan jreng jreng jreng..... kekepoan mama Sela membuat Carmen begadang malam ini.


"Huffttt sabar..." katanya pelan.