CARMEN

CARMEN
CARMEN DAN RAHASIANYA



Setelah menikmati santapan lezat, Brian berinisiatif mencuci piring, sementara Carmen membereskan meja. Ia berjalan menuju ruang loundry pakaian dan memasukkan beberapa pakaiannya kedalam mesin cuci. Tak lama, Brian sudah menyelesaikan pekerjaannya dan berjalan mencari keberadaan Carmen.


"Kamu disini rupanya?" Tanya Brian sambil melihat Carmen yang masih sibuk memilah baju ke dalam mesin cuci.


"Jangan kesini kak, aku mau nyuci baju. Kamu tunggu aja disana,"


Brian berjalan menuju kamar Carmen. Setelah mereka pacaran, rumah ini memang serasa sangat familiar bagi Brian. Bahkan Apartemen ini serasa apartemennya. Kamar Carmen memang selalu nyaman menurut Brian. selain tata letak yang menurut Brian sangat menghangatkan mata, kondisi kamar Carmen termasuk bersih, rapi dan wangi. Brian akan berlama-lama tiduran di kamar ini setiap kali ke apartemen pacarnya itu.


Matanya berkeliling melihat lemari kecil yang berjajar di sekitar meja belajar Carmen. Ia tertarik dengan lemari kaca yang terdapat beberapa koleksi kamera Carmen. Ia ingat beberapa saat lalu ia meminjam satu unit untuk menemani Carmen hunting foto. Diambilnya kamera yang paling sering dipakai Carmen.


"Wah,,,, cewek ini memang berbakat. foto-foto keren gini sayang kalo enggak dipamerkan,"


ia terus mengotak-atik kamera milik pacarnya. hingga tangannya terhenti saat melihat hasil jepretan Carmen yang menurutnya sangat aneh. Hanya ada gambar punggung, tak satupun foto itu memperlihatkan wajahnya. Siapakah itu? Brian mulai bertanya dalam diam.


Tanpa disadari, Carmen sudah merebut paksa kamera di tangan Brian. Ia membuka penyimpanan kartu memori dan menyembunyikan. Brian yang melihat tingkah laku Carmen malah dibuat curiga. Ada perasaan yang tak jelas dan ingin mengungkit pertanyaan siapa yang ada dalam foto itu. Mata Brian memerah menahan sesuatu. ada sedikit amarah karena Carmen memiliki rahasia.


"Harus ya rahasia gitu sama aku?"Tanya Brian.


"Jangan, aku butuh rahasia juga dong, "


"enggak mau nih ngasih tahu aku?"


Carmen meletakkan kameranya ke dalam lemari kaca, dan membawa memori cardnya meninggalkan Brian yang masih kesal dibuatnya. dia merasakan sikap Carmen agak berbeda setelah insiden foto itu. Setelah mencuci bajunya, Carmen duduk di sofa sambil membaca sebuah tabloit. Brian masih tiduran di kamar sambil nge game.


Tak lama suara telpon di hape Carmen berbunyi. Brian masih dengan posisinya. Carmen berdiri menuju balkon sambil mengangkat telponnya. Suaranya terdengar samar-samar karena pintu kamar yang tak ditutup. Firasat Brian tidak enak, ia bangkit dan berjalan menuju Carmen.


"Okay kak, jadi udah fix ya besok kita ketemuan,"


Ucapan Carmen membuat Brian tanpa ragu merebut paksa ponsel dan melihat layar yang masih menyala karena panggilan belum ditutup .


"Apaan sih, kembalikan !" pinta Carmen yang merasa terusik karena tingkah Brian. Telpon dimatikan, tangan Brian mengangkat ke atas menahan tubuh Carmen yang terus mendesaknya untuk mengembalikan ponsel.


"Siapa barusan yang telpon kamu?"Tanya Brian.


Carmen tak kunjung menjawab.


"Kalo kamu enggak mau jawab, telpon ini aku sita sementara waktu,"


"ihhh apaan sih kamu pake sita-sita hape aku...sini balikin"


"Siapa dia?"


"Kak, balikin enggak,"


Carmen nampaknya sudah tidak bisa menahannya lagi. Ia ngambek dan masuk kekamarnya. Dikunci kamar itu dari dalam membuat Brian tak bisa membukanya.


"Carmen buka dong pintunya, kita harus selesaikan ini, jangan berlarut-larut,"


"enggak, kamu posesif sama aku,"


"Sayang, ayolah, kita bisa bicarakan baik-baik. Kamu buka dulu pintunya,"


"Kamu pulang saja sana ..udah malam juga,"


"Carmen....kamu ngusir aku?"


tidak ada jawaban. Hanya suara musik yang semakin keras. Brian masih menatap pintu kamar itu. Ponsel Carmen masih ditangannya. Tanpa sadar ia merasa bersalah pada Carmen. Seharusnya dia bisa jauh lebih dewasa.


"Ngapain juga gue curiga sama pacar sendiri,"


Brian merapikan tasnya. Ia berjalan menuju depan pintu kamar Carmen.


"Carmen aku pulang ya, see you tomorrow," Katanya.


####


Dering telpon terus menggema kala Carmen selesai mandi pagi dan bersiap berangkat kampus. Ia melihat Brian beberapa kali menelponnya bahkan mengirim chat spam. Carmen mengulur waktu untuk memberi pelajaran pada Brian. Ia sengaja mematikan mode data dan memasukkan hapenya dalam tas.


Matanya terbuat terkejut saat melihat Brian berjalan beriringan dengan cewek lain di kampus sambil bersenda gurau. Gadis itu berjalan agak pelan agar Brian tidak menyadari keberadaannya. Ia memperhatikan gerak-gerik Brian yang masih belum menyadari keberadaannya.


"Hoeee...ngapain loe jalan kayak katak gitu," Tanya Rio.


"Noh liat, si playboy lagi tebar pesona,"


"Lah, itu playboy kan pacarlo juga,"


Carmen diam. Ia lalu menarik tangan Rio mengajaknya berjalan beriringan. Sebelum naik ke tangga, Brian datang.


"wuih adegan apa ini? ketika teman pacar kebaperan," Katanya dengan nada kesal.


"apa sih kak, gausah mulai,"


"Ini salah paham Bro, kita cuma mau ke kelas,"


Carmen menatap Brian dingin. Begitupun Brian menatap Carmen kesal. Mereka berdua sedang tidak baik-baik saja.


Carmen segera berjalan naik menuju kelas diikuti Rio. Brian berjalan menuju taman menemui Doni. Saat ini hanya Doni yang bisa ia ajak berbicara.


"hahaha jadi Loe cemburu liat dia motret cowok lain dan itu banyak banget fotonya??"


Brian masih diam.


"Loe mau marah pun percuma, Carmen juga udah jadi pacar loe,"


"apa gue ajak nikah aja ya sekarang?"


"Hem takut banget bakal ditinggal Carmen, gue yakin yan, Carmen bukan cewek kayak gitu loe aja yang kebaperan,"


Brian diam. saat ini pikirannya tak menentu, Carmen memang cewek berbeda. Ketika cewek lain berebut perhatiannya, berharap jadi pacarnya, Carmen malah susah ia dapatkan. Sebenarnya di dalam lubuk hati Brian yang paling dalam ada kekhawatiran jika mungkin Carmen akan bosan dengan hubungan ini atau bahkan Carmen belum ada perasaan apapun kepadanya. selama ini Carmen tidak pernah mengatakan bahwa dia sayang, atau suka padanya. kekhawatiran ini terus menerus menghantui bahkan setelah ia melamar sang gadis tercinta.


"Kamu kenapa?"Tanya suara cewek yang langsung membuat jantung Brian bergetar.


Ia dongakkan kepala dan menatap kedua mata yang selalu membuatnya tenang. Carmen sudah berdiri di depannya membawa dua botol minuman.


"Kamu kenapa ngelamun disini sendirian?"


Carmen duduk di sebelahnya. kembali menatap Brian dengan perasaan yang aneh. Ia harus memulai darimana?


"Nih....,"sodornya memberi minuman pada Brian. Seperti terhipnotis, Brian langsung meneguk minuman dengan segera.


"Kamu udah lebih baik?"tanya Brian.


"Iya...maaf ya kak, aku sempet marah sama kamu,"


"aku juga minta maaf ya Carmen, aku terlalu curigaan sama kamu, aku juga enggak tau kenapa? aku ngerasa gak mau aja kamu tinggalin,"


Carmen menggenggam jemari Brian.


"emang ada alasan aku ninggalin kak Brian?"


Brian hanya diam.


"Kak, plis kamu percaya sama aku...okay,"


Gadis itu lalu menarik lengan Brian dan memeluk samping.