
Cewek dengan dandanan ala kadarnya tanpa make up dan baju yang stylish sedang berjalan tak beraturan menuju sebuah ruang kelas yang sudah diumumkan sehari sebelumnya. Dengan menjinjing sebuah tas Tote dan ransel di punggung ia berjalan cepat kadang berlari diselingi lompat untuk menyeimbangkan langkah agar tidak terjatuh. Barang bawaannya sangat banyak, ada beberapa buku di tas punggungnya. Beberapa pita warna-warni yang ia taruh di Tote bag dan bekal makan siang. Semua barang bawaan itu adalah syarat mengikuti ospek atau orientasi kampus untuk mahasiswa/i baru di kampus putih.
Dengan sedikit peluh, ia akhirnya sampai di ruangan yang ternyata sudah ramai anak-anak lain yang juga sibuk dengan barang bawaannya. Carmen duduk di belakang sendiri, di antara dua orang asing yang kelak akan menjadi teman di jurusan ini. Sambil mengatur nafasnya, ia memperhatikan kawan-kawan yang lain. Sangat riweh dan ramai. Suatu masa dimana Carmen sangat tidak menyukai suasana seperti ini. Ia lebih suka ketenangan dan hening. Sama seperti hidupnya, hening tapi mennenangkan. Tak berselang lama datanglah beberapa orang dari pintu depan kelas, yah ruangan itu memiliki 2 pintu bagian belakang dan depan. Mereka berjumlah 3 orang memakai style baju yang lumayan santai tapi tetap rapi, berjas almamater dan satu diantaranya memakai topi.
"Oke adik-adik baru, selamat datang di jurusan ilmu komunikasi universitas putih. Senang bertemu dengan kalian.....," Bla bla bla ucap cewek salah satu dari tiga orang tersebut yang menyebutkan namanya Nadia (korlap ospek).
"Semua sudah membawa barang yang diumumkan saat daftar ulang kemarin?"Tanya Doni, korlap yang lain. Maba menjawab dengan serentak
"Sudah kak ...,"
Setelah pengecekan barang bawaan, kami digiring menjadi 3 kelompok besar dengan satu penanggung jawab korlap untuk berjalan mengelilingi kampus sekaligus memperkenalkan semua tempat area kampus. Tentu saja tujuannya agar nanti tidak tersesat dan tahu tempat selama 4 tahun kuliah disini. Dengan langkah agak sedikit malas, Carmen mengikuti dan sesekali mencatat tempat dan fungsinya.
"Hai, kenalin gue Rio," Kata seseorang Yang sedari tadi berjalan di belakang Carmen.
"Hai, Carmen," Jawabnya singkat. Mereka kembali memperhatikan korlap. Setelah kurang lebih 2 jam perkenalan sarana dan prasarana kampus dan jurusan. Maba dipersilahkan untuk beristirahat sejenak sambil menunggu instruksi berikutnya. Carmen membuka kotak bekal yang sudah ia persiapkan tadi pagi tiba-tiba Rio mendekat.
"Gue bawa roti lebih nih, mau enggak?" Tanyanya pada Carmen.
"Enggak usah, Gue udah bawa bekal. Lagian ini belum makan siang," Jawabnya. Mereka mengobrol singkat sambil sesekali meneguk minuman masing-masing.
####
Aku masih menikmati makanan dipojokan sambil duduk bersandar dinding. Teman baruku, Rio juga asyik bercerita tentang tujuannya berkuliah disini. Karena suasana sedikit ramai dan masing-masing sibuk berbincang dengan teman baru, maka sedikit aku mendengar cerita Rio. Belum juga selesai bercerita para korlap sudah memanggil kami untuk segera berkumpul.
"Akan ada tugas masing-masing kelompok nanti. Setiap kelompok wajib mencari pendamping dari seniornya. Jika senior tersebut tidak bersedia, maka kalian mencari sampai ada yang bersedia. Senior akan mendampingi kelompok kalian selama masa orientasi berlangsung selama seminggu jadi setiap kelompok usahakan memiliki pendamping yang benar-benar sesuai dan kompak dengan kelompok kalian," Kak Nadia menjelaskan tugas besar sekaligus tugas akhir selama ospek.
Rio memegang tanganku tanda ia ingin satu kelompok dengan ku. Kami berdua kemudian bergabung dengan teman lainnya dan membentuk kelompok. Kini tinggal satu syaratnya, harus mencari pendamping dari senior. Reva, salah satu anggota kelompok menyarankan untuk meminta bantuan Kak Brian. Ia terkenal sebagai pendamping yang paling banyak diminati Maba. Selain karena dia ganteng parah, dia juga pintar. Dengan berbagai pertimbangan, Rio dan Reva menemui Kak Brian seusai ospek hari ini untuk meminta bantuan sebagai pendamping.
**
Aku berjalan keluar kelas setelah ospek berakhir. Tidak seperti pagi tadi, aku mencoba melewati jalur yang berbeda untuk mengeksplorasi area kampus. Tiba-tiba sebuah bola hampir saja mengenai kepalaku, secara refleks tanganku menangkap bola dan aku menatap tajam arah bola disepak. Dengan amarah memuncak aku mengembalikan bola itu dengan cara melempar keras mirip pemain basket. meski aku tahu itu bukan bola basket.
" Kalian enggak tahu aturan kalo ini area orang banyak berseliweran? lagian mau main bola itu di lapangan sana, jangan disini," Ucapku sedikit keras. Bukannya minta maaf, mereka malah meledek dan mengataiku balik. Karena aku sedang capek dan ingin segera pulang. Tak kuhiraukan tingkah mereka dan aku beranjak pergi.
***
"Yan, kita jadi sparing lawan anak hukum kan? " Tanya temannya membuyarkan aktivitas nya.
"Sore ini kan? oke, enggak masalah," Jawabnya singkat.
"Oh iya tadi gue liat loe ngobrol sama Maba, dimintai jadi pendamping?"Tanyanya. Brian hanya mengangguk. "Trus?? loe mau?" Tanyanya lagi.
"Belum tertarik," Jawab Brian singkat. Sambil menunggu temannya yang lain, mereka memainkan bola futsal di taman hingga sebuah tendangan agak keras melesat jauh ke arah lorong dan hampir mengenai seorang cewek yang sedang berjalan pelan disana. Brian terkejut melihat refleks dari cewek itu, untunglah dia punya refleks bagus. Sementara cewek tadi masih marah-marah karena terkejut. Temannya malah bengong melihat serangan balik dari ujung sana.
"Gila tuh cewek, lemparannya keras juga,"Sahut teman Brian. Dia lalu mengelus bagian dadanya yang agak sedikit panas setelah dikenai lemparan cewek tadi. Brian tanpa sadar menyunggingkan bibirnya tanda ia tertarik dengan cewek tadi.
"Cari tahu soal cewek tadi, " Sahut Brian mengejutkan temannya.
"Siap komandan, jarang-jarang loe kepo sama cewek,, syukurlah temen gue masih normal," jawabnya sambil menengadahkan tangan. Brian hanya melirik dan mengepalkan tangannya sambil tersenyum.
"Loe tau ada kekosongan pemain di futsal cewek kan?" katanya. temannya spontan paham maksud Brian. Mereka lalu kembali menunggu beberapa pemain untuk sparing nanti sore.
**
Baru juga sampai di depan gerbang kampus, hape Carmen berbunyi. Rio menelpon.
-halo,
-Halo Carmen. Kayaknya kita gagal sama Brian. Gue baru dapat info kalo dia mau ada sparing persahabatan di lapangan tugu. Loe mau ikut enggak? yah anggep aja untuk kembali bernegosiasi.
-harus dia yang jadi pendamping kelompok kita?
-Gue denger ada 3 kelompok lain yang juga negosiasi sama dia. Gimana? tertantang enggak?
- Yaudah, loe dimana?
perbincangan singkat dan akhirnya Rio sudah menjemput di depan gerbang. Mereka pergi ke lokasi dimana Brian berada untuk kembali bernegosiasi.
######