
senja memang selalu indah saat hari memang benar-benar cerah. Entah kenapa sore ini Brian hanya duduk sambil meneguk minuman soda dengan menatap lekat cewek yang sedang sibuk memotret pemandangan disekitarnya. dia begitu fokus dengan aktifitasnya dan menjadikan Brian makin sayang. Carmen berjalan ke arah Brian sambil sesekali memotret cowok yang selalu nampak ganteng dari sudut manapun itu.
"Kamu enggak capek nungguin aku?"
"Enggak," jawab Brian sambil menggelengkan kepalanya. Carmen duduk di samping Brian dan mengambil sepotong roti.
"habis ini kita pulang,"
"Buat edisi apa kamu motret sore-sore gini,"
"Tempat aku kerja mau buat pameran foto sekalian pemasaran untuk project terbaru. Makanya aku mau ngambil tema senja dan kamu, hahahah"
"udah bisa gombal sekarang ya?"
Carmen menyenderkan kepalanya di bahu kanan Brian. Mereka larut dalam nuansa romantis meski hanya berada di pinggir danau kampus.
"Aku besok mau ketemu sama Aurel," Kata Brian membuat Carmen menoleh menatapnya.
"Untuk nyelesein semuanya. Aku enggak mau kamu terlibat sama masa laluku yang udah aku kubur,"
"Aurel itu beneran masih mengharap ke kamu?" Tanya Carmen.
"Kita memulai hubungan dengan baik, dan berpisah dengan tidak baik. Mungkin itu alasan dia enggak mau pisah. Makanya besok aku mau akhiri semua. Aku udah yakin banget sama kamu sama masa depan kita juga ,"
Carmen menepuk dada Brian dengan manja. Ia nampak malu-malu dengan ucapan Brian yang terkesan sangat intim tersebut. Tak lama mereka pulang. Brian langsung meninggalkan apartemen carmen karena ada yang harus di urus di kantornya. Sementara Carmen langsung memilah hasil jepretannya sore ini.
Brian sudah meneguk minuman yang mana merupakan tegukan terakhirnya. Ia harus segera menyelesaikan semuanya dengan Aurel. Sementara cewek dengan rambut panjang di depannya masih asik menikmati makan malamnya sambil sesekali tersenyum ke arah Brian.
"Rel, gue rasa kita perlu menyelesaikan semuanya sekarang," Ucap Brian mengawali.
"apa yang perlu diselesaikan?" Tanya Aurel.
"Tentang hubungan kita, gue dan loe udah putus lama dan tu udah berakhir bahkan hingga sekarang. gue minta maaf karena gue selalu bikin loe bingung. Gue cuma belum yakin aja, tapi sekarang semua sudah berbeda Rel. udah ada cewek lain yang mengisi kekosongan hati gue selama ini,"
"Gue gak mau denger penjelasan gak masuk akal loe itu," Jwab Aurel,
"Dari segi mananya yang gak masuk akal Rel? loe tibatiba nge-ghosting gue sejak kita LDR an. Gue yang selalu berharap hubungan kita bisa diperbaiki tapi loe gak ada kejelasan. Sekrang saat gue mau menjalin kehidupan baru dengan orang baru loe datang lagi. Gue cuma enggak mau salah langkah,"
"Loe cantik, baik dan gue yakin loe bisa dapetin cowok yang baik juga sama loe. Gue enggak baik dan gue udah sayang Carmen. Aurel maaf, gue harap ini terakhir kita ketemu dengan suasana kayak gini. Jangan ganggu hubungan gue lagi sama carmen,"
Brian berdiri dan meninggalkan Aurel yng masih mematung. ia benar-benar tidak menyangka bahwa Carmen benar-benar berhasil merebut Brian darinya. Brian memang telah berubah dan aurel menyadarinya. Tiba-tiba aurel menangis karena penyesalan yang ada. Dia menyalahkan keputusannya yang tiba-tiba menghilang dan datang dengan semaunya sendiri. Ia begitu egois memikirkan bahwa Brian akan selalu menerimanya. Malam itu juga ia mengambil penerbangan kembali melanjutkan sekolah dan hidupnya.
Sepulang dari menemui Aurel yang merupakan pertemuan terakhirnya, Brian menjemput Carmen di kantornya. Ia sengaja menunggu di depan sesuai permintaan pacar yang sangat ia sayangi itu. Tak lama kemudian Carmen datang dan membuka pintu mobilnya. Senyuman manis dan tulus gadis itu membuat Brian lega. Meskipun ia baru saja bersedih karena menyakiti Aurel tapi dia bahagia bisa membuktikan bahwa ia memang bersungguh-sungguh pada Carmen.
"Kamu udah makan kan?" Tanya Carmen. Brian mengangguk.
"Aku baik-baik saja. Kita pulang yuk," . carmen menatap lekat mata Brian lalu mendaratkan ciuman manis di pipi pacar gantengnya itu. Brian yang mendapat kecupan dari Carmen hanya bisa kaaget dan menggenggam erat jemari Carmen.
"Jadi gimana kisah kamu sama sang mantan itu?"
"Aku udah selesaikan semua dari awal," Jawab Carmen. Mereka hanyut dalam cerita panjang selama perjalanan.
####
kisah Carmen dan Daniel memang sangat romantis dan meninggalkan bekas yang mendalam. keduanya bertemu saat Carmen masih sekolah menengah atas dan Daniel adalah mahasiswa magang yang sedang menyelesaikan penelitiannya di sekolah Carmen. Di sekolah carmen merupakan gadis pendiam namun pintar sehingga guru dan teman-temannya sangat mengagumi pribadinya yang rendah hati. Terlahir dari pasangan seorang jaksa membuat Carmen terbiasa hidup disiplin dan teratur. Ia tidak pernah dituntut tapi secara alamiah saja Carmen manganggap harus menjadi baik seperti orang tuanya.
Carmen anak bungsu dari 3 bersaudara selalu dimanjakan oleh orang tuanya. Berbeda jauh dengan Daniel yang selalu mendapat tekanan dari kakeknya terlebih ia sudah tidak memiliki orang tua lagi karena sebuah kecelakaan. Meski hidup dengan kakeknya saja, namun keluarganya berkecukupan berkat bisnis properti yang dimiliki sang kakek. Kelak perusahaan itu akan diwariskan kepada Daniel.
Daniel merupakan pribadi yang mudah bergaul dan memiliki teman banyak, ia suka bertemu dan berpesta dengan temannya. gonta-ganti pacar dan menjadi idola bukan hal baru baginya. Bahkan saat ia melakukan observasi di sekolah Carmen selama 4 bulan, ia sudah terbiasa menerima bunga dan coklat dari siswi disana. Sekali lagi ia hanya menganggapnya sebagai angin lalu. Hingga hari itu, seorng guru mengajak muridnya untuk membantu menemani mahasiswa magang selama di sekolah itu.
"Nak Daniel, ini namanya Carmen yang akan menemani kalian selama di sekolah,' Kata guru itu. Carmen ketika itu memakai sweater karena sedikit flu. Ia lalu mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Saya Carmen kak, salam kenal," Katanya. Untuk pertama kalinya Daniel melihat cewek sama sekali tidak tertarik dengannya. Gadis itu bahkan sangat cuek dan akan berbicara saat di tanya.
"Jadi ini adlah ruang arsip yang bisa digunakan sementara waktu jika ingin melihat arsipnya. Nanti kakak-kakak tulis aja arsip dan kodenya. Biar sisanya aku yang urus," Kata Carmen menjelaskan.
Waktu terus berganti, Carmen masih setia menemani mahasiswa itu mencari data yang diperlukan. Daniel juga semakin dekat dengan Carmen dan sering mengantarnya pulang. Bahkan secara terang-terangan teman satu kelompok daniel mengikrarkan diri bahwa dia menyukai Carmen. Gadis itu memang mempesona.
"semua orang suka sama kamu, tapi kenapa kamu seperti menutup diri?" Tanya Danie suatu hari kepada Carmen.
"Aku enggak pede kak, bukan salahku kalo aku cantik karena papa mamaku juga ganteng dan cantik hahaha mereka juga pinter, kalo aku enggak pinter kan aneh," Jawab Carmen sekenanya diselingi bercanda.
"Kamu enggak ada kepikiran tertarik sama aku?"
"hahah narsis banget kamu kak, sampai sekarang belum ada kepikiran,"
"Kamu itu aneh, disaat cewek-cewek selalu naksir sama aku, kamu malah sama sekali gak tertarik?"
"aku pengen kak Daniel fokus aja sama penelitiannya sampai selesai biar cepat lulus dan buat perusahaan sendiri,"
"apa dengan itu kamu akan suka sama aku?"
"Yah bisa dipertimbangkan," Kata Carmen mengakhiri obrilan mereka dengan tertawa terbahak-bahak. Sangat tidak masuk akal bagi Carmen jika tak tertarik sama sekali dnegan Daneil. Ia hanya pintar menyembunyikan perasaannya dan itu memang adalah keahliannya.
kegiatan Daniel dan teman-temannya sudah selesi Carmen juga telah menelesaikan tugasnya untuk menemani daniel dengan baik. Ia kembali menjadi siswi normal yang jam senggang dan istirahatnya bisa berkumpul dengan teman-temannya. Kabar kedekatannya dengan Daniel makin menyebar ke seantero sekolah. Ia memang dekat dengan Daniel dan suka dengannya. Tapi Daniel belum secara aklamasi menembaknya.
"aku tau ini norak banget tapi aku mau jadi pacarku...apakah kamu bersedia Carmen," Kata Daniel saat mereka baru saja menyelesaikan makan malamnya.
Carmen yang dengan malu-malu menganggukkan kepalanya dan fix mereka pacaran. Kabar itu dengan cepat menyebar dan menjadikan mereka pasangan serasi yang sangat diirikan oleh banyak pasang mata. Carmen menikmati setiap momen kebersamaan dengan daniel. Kakek Danielpun sudah sangat dekat dengan Carmen. Keluarga Carmen menyambut baik Daniel. Mereka seperti sudah ditakdirkan untuk bersatu saat itu.