CARMEN

CARMEN
BERTEMU MAMI NITA



Hari masih sangat pagi ketika Carmen sudah bersiap pergi. Hari ini pihak good idea menghubunginya untuk sebuah tugas besar. Yah, sebagai mahasiswi magang di sana carmen memang dituntut untuk selalu siap dalam segala waktu dan kondisi, meski begitu pihak perusahaan tetap memberi waktu Carmen jika waktu bersamaan dengan perkuliahan. Untung saja hari ini kuliah siang, dan masih banyak waktu untuknya.


Carmen sengaja memelankan langkah kakinya takut Brian mendengar. Sebelumnya pelayan rumah sudah menanyainya dan dijawab dengan ada kerjaan. Setelahnya mereka tidak bertanya lagi, sementara Carmen sudah mengggigit sepotong roti untuk mengganjal perutnya, Brian datang dari arah belakang carmen.


"Kamu jam segini udah siap aja," Kata Brian membuat Carmen terkejut.


"ehhh...aduh kak Brian bikin aku kaget aja, aku mau ke good idea. ada kerjaan,"Jawab Carmen.


"Tapi ini kan masih pagi,?" Tanya Brian. Carmen lalu menelan rotinya.


"Enggak papa kak, udah aku berangkat dulu. kayaknya itu taxi online udah datang...see u kak Brian," Kata Carmen.Suara lantang Carmen seketika membuat wanita itu terbangun dari tidurnya. Ia lalu keluar kamar dan melihat Brian sudah mencomot roti di meja makan. Wanita itu masih saja celingak celinguk melihat sekeliling. 'tidak ada suara perempuan?' Gumamnya.


"Mami udah bangun? pulang jam berapa?" Tanyanya. Maminya lantas duduk di depan Brian.


"Tumben kamu jam segini udah bangun? Kemarin malam banget kamu kayaknya udah tidur," Jawab mami Nita yang tak lain adalah mami Brian. Yah, Brian memang belum menceritakan tentang Carmen. Pelayan pun tidak ada yang melaporkan.


"Tadi mami denger suara cewek," Kata mami Nita. Brian kemudian menelan dan meminum air putih sebelum ia mulai menceritakan. Sementara mami Nita masih memandangi anak bujangnya itu.


"Jadi gini mami, Brian punya temen, nah dia baru aja kesusahan, apartemennya kebakaran karena konslet kompor jadi sementara waktu Brian suruh tinggal disini sampai rumahnya selesai di renov," Kata Brian, ia sedikit was-was dengan pertanyaan tak terduga maminya.


"Pacar kamu?" Tanya Mami Nita. Benar saja Brian malah dibuat tekejut.


"BUkan mii, teman aja," Jawab Brian.


"Yah sayang banget dong. Padahal mami pengennya kamu cepet punya pacar biar cepet nikah mami jadi ada teman buat shopping," Kata Mami Nita. Brian malah geleng-geleng.


"Nanti malam aja ya mi aku kenalin sama mami pas makan malam," Kata Brian berharap maminya tidak kepo lagi.


"Mami tunggu di restoran biasa," Jawab Mami Nita singkat. ia lalu beranjak dari tempatnya dan berlalu meninggalkan meja makan. Dalam hatinya ia merasa senang akhirnya putra semata wayangnya itu telah membuka hati baru.


Carmen sudah tiba di kantor good idea sejam yang lalu. Sambil membuka beberapa file yang sudah ia siapkan ia kembali menengok jam di tangannya. 'kebiasaan dari dulu selalu ngaret,' gumamnya melihat jam. Pagi ini Daniel menelponnya untuk ke kantor memberikan hasil dokumentasi saat penandantanganan Mou tempo hari. Carmen sudah mengkonfirmasi ke sekretaris Daniel bahwa ia baru saja terkena musibah dan untungnya pihak good idea memahami.


"Carmen sudah menunggu lama?" Tanya seorang perempuan dewasas yang tak lain adalah sekretaris daniel.


"Iya bu, ini berkasnya," Jawab Carmen sembari memberikan sebuah file di map biru.


"Kamu ikut saya ke kantor Pak Daniel ya," Katanya. Carmen mengangguk dan mengikutinya dai belakang.


Setelah beberapa saat menunggu, ia dipersilahkan masuk ruangan. Daniel masih belum datang, hanya ada kursi kosong dengn meja yang penuh dengan dokumen perusahaan. Good idea memang sedang naik-naiknya pantas saja orang disana nampak sangat sibuk.


"Kamu udah datang?" Tanya Daniel setelah sampai ruangannya dan menemukan Carmen sedang duduk di sofa. Carmen berdiri dan memberi hormat.


"Jangan canggung, kamu gimana keadaaanya setelah kebakaran kemarin?" Tanya Daniel.


"Tidak terllau parah kerusakan dan lukanya pak, hanya sedikit luka bakar di tangan," Jawab Carmen. Daniel memperhatikan tangan Carmen yang masih diperban.


"Sayang banget, padahal aku mau ngajak kamu ikut tim kreatif buat survey tempat malah tangan kamu masih luka," Kata Daniel.


"Enggak papa pak, ini enggak begitu sakit juga. Cuma karena luka bakar biar cepat kering aja," Jawab Carmen. Ia tidak enak jika harus membebankan pekerjaannya pada staf yang lain.


"kamu yakin bisa?" Tanya Daniel. carmen mengangguk. Ia lalu mendengarkan instruksi daniel dan setengah jam kemudian ia bersama tim kreatif sudah keluar kantor untuk menuju lokasi survei. Daniel secara langsung mendampingi timnya. Ia bahkan satu mobil dengan Carmen dan tim.


"Lokasinya cukup jauh dari S, Kamu ada kuliah nanti siang ya?" Kata seorang dari mereka.


"Iya. kak," Jawab Carmen. Mereka lalu fokus pada jalanan karena kendaraan sedikit agak ngebut.Sesampainya disana masing-masing orang langsung melaksanakan tugas masing-masing. Carmen sudah sigap memotret beberapa lokasi yang dianggapnya menarik, sedangkan Daniel berbincang dengan pemilik tempat. Sesekali daniel memperhatikan Carmen takut jika cewek kesayangannya itu kenapa-kenapa.


Sebenarnya Daniel tak ada niatan untuk mengajak Carmen ke lokasi shooting ini. Namun, pikirannya terus saja gelisah setelah mendengar keadaan Carmen setelah kebakaran. Ia sedih karena Carmen tidak mengabarinya secara langsung dan ia mendengar berita itu dari sekretarisnya. Gadis itu masih seperti dulu mandiri dan pekerja keras. Ia bahkan tidak megeluh padahal tangannya jelas-jelas masih terbungkus perban.


"Carmen gmana sudah kamu ambil fotonya semua?" Tanya Daniel.


"Sudah pak," Jawab Carmen.


"Oke kita break sebentar," Kata Daniel mengajak seluruh timnya berhenti. Matahari sudah terik padahal waktu masih menunjukkan pukul 10 pagi. Sambil menyiapkan lokasi untuk beberapa shoot setting tempat mereka berbincang dan mendiskusikan sesuatu. Carmen baru ingat ia harus segera kembali ke kampus. Dipesannya taxi online untuk menuju kampus setelah sebelumnya ia menolak ajakan Daniel untuk mengantarnya.


Carmen benar-benar lelah, matanya terkatup-katup saat kelas ditambah lagi dosennya yang seperti bernyanyi dengan suara merdu sehingga makin menbuatnya mengantuk. Rio yang duduk disebelahnya berulang kali mencubit lengan Carmen agar kembali sadar. Setelah penderitaan selama berjam-jam, kelas akhirnya usai. Carmen keluar kelas menuju taman untuk menghirup udara segar. Ia duduk di bangku taman yang tak begitu ramai karena memang sudah sore.


-halo kak Brian


-Kamu dimana?-


-Taman


-tunggu disitu, bentar lagi aku jemput. (panggilan dimatikan). Lagi-lagi Carmen hanya bisa menghembuskan nafas dan duduk.


Brian sudah memarkir mobilnya dipinggir jalan, ia lalu turun dan mencari Carmen yang duduk sendirian sambil memainkan hapenya.


"aku cariin ternyata kamu disini," Kata Brian sesampainya di lokasi. Carmen hanya nyengir. Mereka lalu menuju mobil dan pergi meninggalkan kampus.


"kak, emang kita mau kemana? kayaknya ini bukan arah pulang," Tanya Carmen. Brian menoleh Carmen sebentar.


"Kita makan dulu sebelum pulang," Jawabnya singkat. Mobil berhenti disebuah restoran terkenal di kota S. carmen turun dari mobil dan merapikan rambutnya sebentar sebelum akhirnya Brian meraih tangannya dan menggandengnya ke dalam. Ia yang speechless tidak bisa berkata apa-apa lagi selain kaget.


"Emang makan perlu benget ditempat mewah begini?" Tanya carmen. brian hanya diam.


"ada yang pengen aku kenalin ke kamu," Jawabnya. Carmen makin bingung dibuatnya.


"Siapa kak?" Tanya Carmen. Brian hanya diam. Mereka memilih tempat paling bagus di restoran itu. Langsung menghadap ke jalan raya dan makin malam gemerlap lampu jalanan makin terlihat. Tak lama kemudian wanita paruh baya seumuran mama Carmen datang menghampiri mereka. beliau begitu elegan dan tatapannya lembut, Rambutnya ia ikat rapi dan perawakannya ramping. sangat terawat di usia yang tak lagi muda. Brian lalu memberi isyarat agar carmen memberi sapaan.


"selamat malam Tante," Kata Carmen sesopan mungkin. Ia bahkan setengah membungkuk dan tersenyum manis. Wanita itu melihat Carmen sebentar sebelum akhirnya tersenyum.


"malam nak. nama kamu siapa?" Tanyanya setelah duduk.


"Saya Carmen tante," Jawab Carmen. kali ini ia agak sedikit canggung.


"Nama yang bagus, wajahmu familiar, kayak pernah ketemu tapi dimana ya?" Katanya. Mami Nita lalu memesan makanan favoritnya. Sembari menunggu makanan datang mereka mengobrol dengan santai dan akrab. Brian yang melihat pemandangan itu ikut senang pasalnya jarang sekali maminya cocok dengan teman Brian.


"Jadi kamu tinggal di Kota S sendiri, sementara orang tua dan kakak kamu di luar kota?" Tanya Mami Nita. Carmen mengangguk.


" Kalo boleh tahu, kerja apa orang tua kamu?" Tanya Mami Nita.


"Jaksa tante," Jawab Carmen. Mami Nita seperti mengingat sesuatu.


"Papa mama kamu jaksa ?" Tanyanya. Carmen mengangguk. mami Nita makin penasaran dengan carmen. Ia seperti sangat kenal dengan wajah carmen. Tapi siapa ya?


Makanan sampai, Carmen memesan mie goreng udang, meski sebenarnya ia tak bisa makan udang sehingga ia seibuk menyisihkan udangnya. Mami Nita yang melihat aksi Carmen langsung teringat sesuatu.


"mama kamu namanya Sela? Iya Jaksa Sela?" Tanya Mami Nita. Carmen makin terkejut.


"Bagaimana Tante bisa tahu?" Tanya Carmen.


"hahahahhaa bagaimana aku tidak tahu, ya ampun putri Sela sudah sebesar ini...pantas saja muka kamu itu mengingatkanku seseorang. Dia juga tidak makan udang dulu," Jawab Mami Nita. Kali ini malah Brian dan Carmen yang dibuatnya bengong. Mami Nita lalu memainkan ponselnya dan menelpon seseorang.


-halo ada apa Nit?


Carmen seperti familiar dengan suara telpon itu.


-loe tebak gue lagi makan sama siapa?


Mami Nita mengarahkan kamera ponselnya ke arah carmen.


-Carmen???? kok bisa ??


Mami Nita malah ketawa melihat ekspresi sahabatnya itu kaget. Ternyata mami Nita adalah sahabat dekat mama Sela (mamanya carmen) sejak SMA. Carmen makin dibuat kaget atas pertemuan ini. Apalagi mami Nita menceritakan bahwa saat ini ia tinggal di rumahnya. Sungguh kebetulan yang tak terduga.