CARMEN

CARMEN
BRIAN MELAMAR



Mami Nita menemui Brian di ruang kerjanya dengan muka serius. Nampak mimik khawatir masih tergambar jelas di wajah cowok ganteng itu.


"Mama malam-malam gini belum tidur?"


Duduk di sofa yang terletak di sudut ruangan itu. Mengambil laporan bulanan dan membolak-balik halaman.


"Bagus, terus mengalami peningkatan. Gini dong biar mami sering-sering di rumah,"


Brian tersenyum. Jarang-jarang maminya itu memuji kinerjanya.


"Besok kamu luangkan waktu ke makan papimu. Kita berangkat pagi-pagi setelah itu menuju ke suatu tempat,"


"Kemana?"Tanya Brian selidik.


"pokoknya ke suatu tempat,"


"Banyak meeting, kalau enggak penting aku gakikut mi,"


Brian kembali menatap layar komputer. Mami berdiri berjalan menuju pintu keluar.


"Yah terserah aja, besok mami mau ketemu sama calon mantu mami," Ucapnya sambil berlalu.


Brian mendengar dengan sangat jelas. Mantu?? apa mungkin ke rumah Carmen. Apa yang harus dia lakukan, bagaimana jika itu tidak.


"Ahh sudahlah gue gausah ngabari dia. Percuma aja kalo emang enggak. Lagian gue juga udah ngomong mami kalo Carmen belum siap,"


Jam sudah menunjukkan 2 dinihari. Tak ada tanda-tanda Brian menghentikan aktivitasnya. Sudah beberapa batang rokok ia habiskan sambil otaknya berpikir keras. Proyek kali ini maha penting karena menentukan keberhasilan tahunan. Investor besar yang harus segera ia eksekusi. Hampir tenaga dan upaya ia kerahkan untuk proyek ini. Tak lama Pak Bundi datang membawa air hangat ke pada tuan mudanya itu


"Tuan, sudah pagi. Sebaiknya tuan muda istirahat karena besok pagi akan ke malam Tuan besar. Ini silahkan diminum Air hangat untuk menghindari asam lambung,"


Brian tak menjawab, tangannya meraih gelas itu dan meneguknya.


"Pak Bun, kemana agenda setelahnya?"


"Saya belum bisa katakan. Ini perintah Nyonya,"


buru-buru sekretaris pribadinya itu pamit undur diri sebelum mendapat pertanyaan dari tuan mudanya itu. Tadi sebelum tidur nyonya besar memberi perintah untuk menyiapkan kendaraan dan beberapa barang untuk melamar seseorang. Dan pekerjaan itu dikerjakan secara diam-diam tentunya. Rencananya setelah ziarah ke makam tuan besar, rombongan akan segera bertolak menuju Kota M.


Brian tertidur di kursi kerjanya. Mami Nita menutup dokumen di meja dan membangunkan putra semata wayangnya itu.


"Kalo nanti udah punya istri, gak bakal kamu tidur disini," Ucapnya lirih.


"Brian, bangun... siap-siap pergi ke makam," Ucap mami setelah beberapa kali menggoyangkan badan Brian. Yang empunya badan malah meregangkan badannya.


"morning mi,"


"Mami tunggu di bawah, ganti baju langsung berangkat kita,"


Brian berjalan dengan gontai menuju kamarnya, mandi, bersiap berangkat. Sudah setahun ia tak sempat berziarah ke makam papinya. Betapa ia durhaka dengan papinya itu.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang membelah kota S yang masih pagi. Rombongan 2 mobil itu berjalan beriringan menuju sebuah pemakaman mewah pribadi yang menjadi tempat persemayaman terakhir papi Brian. Kelak ia pun akan dimakamkan disini.


Setelah selesai berdoa, rombongan kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan. Tidak ada kecurigaan yang Brian rasakan, sampai ketika ia tahu bahwa ia akan keluar kota.


"Mau kemana kita mi?" Tanyanya pak mami yang duduk disebelahnya.


Brian langsung tertuju pada Carmen.


"Mami nekat ya?? Brian udah bilang kalo dia belum siap,"


"Mami udah ngobrol sama mamanya. Dan dia dengan senang hati menerima kedatangan kita,"


Brian menghempaskan tubuhnya keras pada jok mobil.


"Terus aku ngomong apa sama Carmen nanti mi, ini terlalu mendadak,"


Mami membenarkan duduknya.


"Brian, hidup ini memang tentang pendadakan. Siapa yang menyangka papimu akan secepat itu meninggalkan kita. Mami secara tiba-tiba mengatur perusahaan, lalu kamu yang masih sangat dini harus ikut mengurus. kamu bertemu Carmen juga mendadak bukan.? tak ada rencana dan tak ada permisi kamu suka dia,"


"Bersikaplah dewasa ! Kamu sudah menjadi sosok yang paling bertanggung jawab atas ribuan orang kita,"


Brian diam. Jika sudah menyangkut kehidupannya ia tak banyak bicara. Apa yang dikatakan mami semua benar. Caranya saja yang menurut Brian salah. Ia bahkan tak mempersiapkan apapun untuk melamar pacar tersayangnya itu. Pakaian ia gunakan juga sembarang, bagaimana ia bisa menghadapi calon mertuanya nanti.


"Mi, setidaknya mami berunding sama Brian. Aku bisa mempersiapkan dengan pantas,"


"Kamu tenang aja semua sudah mami atur. Nanti kita ke hotel dulu ganti baju,"


"Bagaimana Carmen? apa dia sudah setuju?"


"Itu menjadi tanggung jawab mamanya, kami sudah sepakat,"


Tiba-tiba perasaan Brian tidak enak. Ia yakin Carmen mungkin mengalami seperti yang dia alami sekarang. Penuh kerahasiaan. Dibukanya hape di saku, ia gugling cara-cara melamar pacar. Dan benar saja, seharusnya dia mempersiapkan dengan matang agar menjadi momen yang selalu dikenang. Mukanya berubah kesal.


"Meski semua sudah mami siapkan. Setidaknya biarkan aku membeli cincin untuknya sendiri mi,"


Mami menoleh ke putranya itu. Ia melihat kesungguhan putranya.


"Baiklah, nanti kita mampir beli cincin,"


Sebenarnya mami Sudah mempersiapkan cincin yang akan dipakai di jari manis Carmen. Ia bahkan memilih perhiasan terbaik dari designer terbaik. Tapi ia tahu bahwa putranya ingin memilihnya sendiri.


Setelah perjalanan kurang lebih 4 jam lewat tol. Mobil berhenti di salah satu gallery perhiasan mewah di kota M. Brian dan mami memasuki gallery melalui layanan VIP. Brian berjalan mencari cincin yang cocok untuk pertunangannya. Ada banyak referensi dan pastinya cocok dengan Carmen. Namun, Brian paham betul bahwa pacarnya tidak suka terlalu mewah dan mencolok. Dibandingkan cincin yang bertahtakan berlian besar Carmen mungkin lebih menyukai cincin sederhana tapi tetap elegan.


Sebuah cincin dengan berlian berwarna putih berbalut emas murni berhasil menarik perhatiannya. Ia lalu mengambil dan mencoba cincin itu, mengingat besar tangan Carmen jika sedang menggenggamnya.


"Yah, kira-kira segini ukurannya mi,"


"Yakin segitu, nanti kekecilan,"


Brian yakin dengan ukurannya. Selesai membayar mereka melanjutkan perjalanan menuju hotel tempat mengganti pakaian. Hotel mewah yang terletak tepat di jantung kota M merupakan hotel yang dimiliki oleh ET Grup. Tak heran jika kedatangan Brian dan Mami Nita langsung menyibukkan staf disana. Mereka pikir itu ada inspeksi pusat, sehingga pelayanan dan keamanan diperketat. Sesampainya di kamar hotel President suit, Brian menuju kamarnya. Setelan jas rapi berwarna Hitam sudah terpajang di kamar. Ia lalu mendekat dan memperhatikan detailnya. Maminya benar-benar mempersiapkan segalanya bahkan baju yang akan dia pakai melamarpun.


Sekitar 30 menit kemudian mereka sudah berada di lobi hotel bersiap berangkat ke rumah Carmen. seluruh staf dibuat heran dengan aktivitas konglomerat tersebut. Mereka menggunakan baju formal layaknya orang akan menghadiri acara maha penting. Banyak spekulasi muncul namun tak berani membicarakan takut dipecat.


Nyonya Wijaya terkenal ketat dan tegas dalam mengurus perusahaannya. Rumor itu sudah beredar dan menjadi rahasia umum Karyawan ET Grup. Perjalanan dari hotel menuju rumah Carmen lumayan jauh sekitar 30 menitan. Brian memperhatikan jalan sambil berpikir yang tidak-tidak.


"Bagaimana jika Carmen menolak lamaranku?" Gumamnya gelisah.