CARMEN

CARMEN
GUGUP



Halaman rumah Carmen sudah terlihat. Menurut mami yang mengajaknya ngobrol sedari tadi rumah Carmen terletak di komplek perumahan dekat dengan kantor pengadilan. Hal itu karena kedua orang tuanya berprofesi sebagai jaksa. Mami bahkan menceritakan singkat perkenalannya dengan mama Sela, tak lain mam Carmem saat SMA dulu.


mendengar mami membanggakan sahabat lama itu, terlihat jelas bahwa mami sangat mengagumi sosok mama Sela.


"Dia orangnya Pinter banget dulu. Selalu dapat rangking 1 di kelas bahkan paralel berturut-turut. Kamu jaga sikap karena dia sangat disiplin dan suka tanya-tanya,"


Mobil mewah terparkir rapi di depan rumah sederhana, meskipun masih dikatakan rumah besar tapi tak sebesar rumah keluarga Wijaya. Entah kenapa Brian tersenyum melihat rumah itu, terasa nyaman dan hangat. Ia lihat mama Sela dan pria paruh baya yang ia simpulkan adalah papa Carmen sudah berdiri di depan pintu rumah dengan senyum sumringah.


Setelah semua barang bawaan dikeluarkan dari mobil satunya, seluruh pelayan berjalan dibelakang Nyonya dan Tuan muda Wijaya. Mama dan papa menyambut dengan hangat, tanpa dikomando para pelayan keluarga Wijaya membawa barang-barang ke dalam rumah. Belum sempat Brian menyapa pacarnya yang sedang dalam mode kaget, dua cowok yang berperawakan tinggi tersenyum langsung merangkul pundaknya mengajak duduk.


Mami mencoba mencairkan suasana, meski Brian tegang bukan main. samar-samar ia lihat carmen yang juga menunduk kepala. Entah apa yang saat ini ia pikirkan. Brian tak mau memikirkan karena ia hafal betul bahwa gadis itu pasti akan berbicara yang diluar pikiran.


"Silahkan diminum Nit, eh maksudku Nyonya Wijaya, " Ucap mama.


"Jangan canggung begitu, kita kan sahabat lama Sel. Gapapa kita saling panggil nama saja."


Mereka kembali berbincang hingga momen itu tiba. Mami mengawali maksud kedatangannya kesini. Semua mendengar dengan seksama. begitu juga papa yang menerima baik silahturahmi itu dengan lapang dada.


"saya perkenalkan keluarga saya Nyonya Wijaya. Paling ujung putra saya yang pertama namanya Tio, sekarang dia sedang membangun karirnya sebagai advokat di kota J"


"Sebelahnya yang mukanya kayak bule Indo itu putra saya kedua namanya Andre, mahasiswa akhir mungkin sepantaran sama Brian, kuliah di Kota Y ambil Hukum,"


"Kalo carmen saya tidak perlu memperkenalkan lagi karena sudah kenal," hahahaha tawa papa.


"salam kenal Nyonya" sahut Tio dan Andre bebarengan.


"Putra-putra tuan Heri memilih jalur sama dengan kedua orangtuanya. Hanya Carmen saja yang beda haluan," Kata mami sambil menatap bangga keluarga bahagia itu.


mereka lalu tertawa, dan menceritakan betapa carmen sangat bandel saat kecil. Sampai pada momen dimana Carmen harus menjawab lamaran itu. Brian sudah deg-degan tak karuan, jika mendengar penuturan carmen gadis itu sepertinya akan menunda. Argh betapa malunya dia nanti.


"Baiklah saya terima tapi ini hanya pertunangan saja ya,"


Hatinya menumpahkan sebuah perasaan aneh kebahagiaan bercampur ketegangan. Tapi ia senang karena gadis itu menerimanya. Pertunangan bisa menjadi awal baik untuk hubungan mereka kelak. Ia lalu berdiri dan menyematkan cincin Yang secara khusus ia pilih. Pas sekali dengan jari Carmen.


"Alhamdulillah pas banget ya" Kata mama bahagia.


Setelah selesai makan malam keluarga Wijaya pamit undur diri. Mami duduk terpisah dalam mobil, memilih untuk langsung pulang ke kota S karena akan ada rapat direksi besok pagi. Sementara Brian membawa mobilnya sendiri menuju hotel dan akan menginap disana. Ia berencana akan pulang bersama Carmen besok.


Saat asyik mengendarai mobilnya, Brian ingat janjinya pada kak Tio tadi sebelum pulang. Ia lalu memarkirkan mobil mewah di sebuah kafe yang cukup lengang di daerah itu lalu menunggu kedatangan calon kakak iparnya itu. Sebelum pulang, Brian melakukan percakapan pribadi dengan Tio, mereka sudah janji ketemu setelah acara dirumahnya sebelum dia terbang ke kota J nanti dini hari.


Kira-kira sejam lebih Brian menunggu kedatangan kak Tio, belum ada tanda-tanda ia akan kesana. Padahal tempat ini persis seperti yang ia ucapkan tadi.


"Lama ya?"Tanya seseorang yang baru sampai tanpa Brian sadari. Ia datang tak sendiri bersama Andre adiknya.


Setelah memesan minuman, Andre memulai perbincangan itu.


"Jadi loe sama gue selisih cuma 4 bulan aja nih...tuaan gue dikit?" Kata Andre.


"Kita kaget Yan, adek kecil kami enggak pernah ngenalin cowoknya. eh malah tiba-tiba dilamar," Lanjut nya.


"Aku paham banget kak Andre dan Kak Tio pasti kaget dengan acara tadi. Jujur aku juga kaget awalnya,"


"Santai aja Yan ama kita. Sebagai kakak kita ada tanggung jawab atas Carmen. Sebelum kita menyerahkan dia ke loe. Kita mesti saling kenal kan?" tambah Tio.


"gue yakin kalo Loe cowok baik dan tepat buat Carmen. Meski berat, jagain dia ya?" lanjutnya.


"Itu pasti kak, Aku serius dan sayang banget sama dia,"


Pembicaraan mereka ngalor ngidul dari seputar pengalaman pacaran masing-masing, rutinitas, hobi, kerjaan. bahkan Carmen tak lepas dari bahan pembicaraan mereka, tentang betapa manjanya gadis itu pada kakak-kakak nya sampai hal-hal sepele yang menjadi kebiasaan Carmen.


"Inget, biarpun kalian udah tunangan tapi kalian belum boleh macem-macem. apalagi disana Carmen tinggal sendirian,"


"Iya Yan, berani loe menodai adek gue...Bukan lagi kak Tio yang ngurus tapi gue langsung,"


Brian tertegun. Ia lalu tersenyum. Ia merasakan betapa kedua kakak itu sangat menyayangi adek mereka lebih dari apapun. Mereka bahkan menjaga Carmen melebihi diri mereka sendiri.


"Jadi Kak Tio langsung ke kota J setelah ini?"


"iya, sebenarnya gue juga enggak ada libur. Karena mama yang maksa pulang akhirnya gue terpaksa pulang. Ada beberapa kasus yang sekarang gue tangani, jadi jarang ada waktu libur,"


Brian mengangguk paham. Ia lalu menceritakan kesibukan nya dan harapan terbesarnya.


"Loe juga masih muda, jangan ngerusak badan loe dengan jarang tidur. Meskipun tanggung jawab kita banyak, istirahat juga penting," Sahut Andre.


"Kak Andre setelah Selesai S2 ini mau kemana?"


"Gue udah ada planing di kehakiman. Mungkin akan jadi hakim muda. doakan saja,"


Sekali lagi Brian salut dengan keluarga ini. mereka saling mendukung satu sama lain. Saling mengasihi, saling memberi masukan dan saling menjaga kerukunan. waktu terus berputar, Kak Tio harus segera ke bandara diantar Andre. Penerbangan paling awal dini hari ini. Brian menyetir mobilnya menuju hotel.


Setelah mandi dan menyegarkan badannya yang seharian ia forsir. Brian duduk menyalakan TV dan mengambil cemilan yang sudah disiapkan staff hotel. Ia lalu membuka handphone nya, mengetik sebuah nama lalu memanggilnya.


"Don, acaranya berjalan lancar,"


"Syukurlah, semua lancar. wah bentar lagi gue bakal sibuk nyiapin pesta super megah dan mewah nih,"


"Jangan bercanda,,,,gue lelah besok aja gue ceritain detailnya,"


Ia matikan TV dan berjalan menuju kamarnya. Mematikan lampu kamar bersiap tidur.


"Malam ini akhirnya bisa tidur lebih awal" Katanya sendiri. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 1 pagi.