CARMEN

CARMEN
SEBUAH FAKTA TERKUAK



Tanpa sepengatahuan Brian, Carmen pergi menemui Daniel. Sejujurnya Carmen masih penasaran alasan sebenarnya Daniel meninggalkan nya dulu, karena itu Carmen sampai trauma untuk pacaran dan memilih menjomblo untuk waktu lama. Dilihatnya hape untuk mengecek alamat yang ia terima dari Daniel. setelah cukup yakin dengan kebenarannya, ia melangkah perlahan, membuka pintu sebuah kafe yang terletak tak jauh dari kantor good idea. Tak lama pelayan datang dan mengantarkan ke tempat yang sudah direservasi oleh Daniel.


"Silahkan kak, atas nama Daniel. Tempat ini sudah di reservasi,"


Carmen duduk, menunggu kedatangan Daniel yang agak terlambat. Ia memberi toleransi 15 menit, jika ya kunjung muncul ia akan pulang. Sebenarnya Carmen hanya takut ketahuan Brian karena ia belum izin pacar nya itu. Tak sampai 10 menit sesosok laki-laki tinggi, putih, dengan rahang tegas dan wajah seganteng tim Cruise itu berjalan mendekati nya.


"Kamu udah lama nunggu?"


"Lumayan,"


Setelah pesana datang, Daniel memulai pembicaraan penting itu.


"Aku tahu mungkin ini terlambat. Tapi semakin aku tak mengakuinya, semakin aku ngerasa bersalah dan menimbulkan kesalahpahaman diantara kita,


"Apa sebenarnya? oh ya kamu juga udah tau kan kalo aku udah pacaran sama Brian. apapun itu pengakuan kamu, tidak akan merubah apapaun,"


"iya aku tahu Carmen,"


"Sebenarnya dulu waktu aku tiba-tiba menghilang dari kamu, aku pergi ke Singapura merawat kakek yang sakit disana. Aku enggak sempat ngomong sama kamu karena saat itu mendadak. Aku sangat sedih karena kondisi kakek yang ngedrop. Kamu tahu bahwa Kakek adalah satu-satunya keluarga yang aku punya saat itu,"


"Aku selalu mengikuti perkembangan kamu, meski dari jauh. Aku sedih karena kamu sering jalan berdua sama cowok lain. Saat itu pikiranku kalut dan aku enggak bisa berpikir jernih. Beban berat yang aku tanggung ngebuat aku benar-benar tertekan. Kakek sakit, mengrus perusahaan kakek, belum lagi kuliahku dan ditambah lagi kamu yang bersenang-senang dengan cowok lain,"


"mereka hanya temanku," Bela Carmen. Ia tidak terima dianggap berkhianat.


"Yah, aku tau mereka hanya temanmu. Tapi saat itu yang ada dipikiranku hanya rasa cemburu dan amarah. Jadilah aku membuat rencana untuk membuatmu sakit hati. Aku menerima cewek yang selama ini mengejar ku untuk turut dalam rencana jahat itu, membuatmu sakit hati dan aku terlihat brengsek,"


Carmen mengingat momen itu.


"Sebenarnya hatiku teriris melihatmu sedih Carmen. Melihat air mata yang sudah jatuh di pipimu. Rasanya aku ingin memelukmu erat dan meminta maaf atas perlakuan ku itu. Tapi apalah daya, saat itu aku terlanjur emosi. aku pikir dengan melakukan itu aku bisa mendapatkan kamu lagi. Ternyata aku salah. Justru aku telah membuatmu membenciku dan akhirnya menjauh dari ku,"


"Semua sudah berlalu. Berkatmu aku menjadi lebih hati-hati," Balas Carmen. Brian menatap Carmen setelah meneguk minumannya.


"Kamu tau setelah hari itu? aku bekerja gila-gilaan. aku jadi tak bisa mengontrol diriku sendiri. Sebulan kemudian kakek meninggal. Aku melanjutkan studiku ke Amerika, dan disana aku mulai membangun bisnismu sendiri. Good Idea"


"Perusahaan yang diwariskan kakek tetap kujalankan, tapi aku lebih fokus pada perusahaanku, dulu aku pernah janji sama kamu bahwa aku akan membangun namaku sendiri,"


Carmen diam. Kali ini hatinya goyah.


"Aku benar-benar menyesal, aku berusaha menemui mu. Tapi hatiku belum siap, aku takut kamu sedih dan marah padaku,"


"Daniel, terimakasih telah jujur. Terimakasih telah menceritakan semua. Selama ini aku juga memikirkan kesalahan apa yang aku perbuat sampai kamu menyakitiku dengan kejam. Dan akhirnya semua terjawab,"


Daniel mendekatkan tangannya pada Carmen. Sebelum bisa ia raih Carmen cepat-cepat menyingkirkan tangannya dari meja.


"Maafin aku Carmen, aku masih sayang sama kamu,"


"Maaf Daniel, sejak hari dimana kamu mutusin aku. Hati aku sudah berubah. Semua cerita itu hanya kenaangan masa lalu kita. Aku harap kamu jangan mengharap lebih. ada Brian disisiku saat ini,"


"Aku bahkan bersedia menunggu mu Carmen,"


Carmen menunjukkan cincin di jemarinya.


"cincin ini pemberian Brian. Ia menyematkan di depan orang tuaku seminggu yang lalu. Kamu bisa simpulkan sedekat apa hubungan kami bukan?"


Brian terkejut dengan jawaban Carmen. Ia menatap lekat cincin itu. Hatinya sakit, teriris. Cintanya benar-benar telah hilang.


"Jangan lagi mengusikku. Carilah kekasih baru yang menerima mu. Aku bukanlah cewek yang baik buat kamu Daniel,"


Carmen berdiri melangkah meninggalkan Brian yang menatap kepergian Carmen dengan mata nanar penuh penyesalan.


"Dan akhirnya, sakit hati itu nyata Carmen,"


####


Brian berdiri cukup lama di depan pintu apartemen Carmen. password rumahnya sudah diganti, Brian nampak kesal apalagi pacarnya itu tak dapat dihubungi. 'kemana dia jam segini udah ilang?' gumamnya.


"aku tungguin di lobi aja deh,"


Setengah jam kemudian Carmen datang namun tak melihat keberadaan Brian di lobi apartemen. Brian heran dengan pacarnya itu bagaimana bisa ia tak terlihat. Jelas-jelas semua orang sedari tadi meliriknya. Ia lalu menyusul Carmen yang sudah menuju Lift.


Gadis itu memencet passwordnya tanpa menyadari Brian berada di belakangnya.


"Oh jadi gitu ... kamu ubah password kamu biar aku gabisa masuk?" Kata Brian dengan nada kesal. Carmen yang mendengar suara tak asing itu kaget sekaligus bergidik merinding.


"Kak Brian??"


pintu telah terbuka. Brian masuk lebih dulu disusul Carmen kemudian.


"Tadi aku pikir kamu masih dijalan,"


"Hemmm seberapa gak penting pacarmu ini sampai tak mengangkat satu telponpun. Bahkan tak melihatku di lobi," Jawab Brian dengan muka ngambek.


Carmen Tersenyum sambil mencubit pipi Brian.


"ihhh lucu banget sih sayang aku kalo lagi ngambek,"


Brian menyilang kan tangannya dan duduk di sofa. Melihat Carmen berjalan ke dapur mengambil minuman.


"Kamu darimana aja?" Tanya Brian selidik.


Carmen berusaha tetap tenang. bagaimanapun ia tak minta izin pada Brian.


"Dari ketemu sama temanku. Cukup lama enggak pernah ketemu,"


"bohong kan?? kamu terlihat gugup," Brian makin curiga.


Carmen berusaha mengalihkan pembicaraan. Ia membawa kue yang baru saja ia beli.


"Kamu enggak ada kelas?"


"Udah selesai. Jangan mengalihkan pembicaraan kita. Cepat jawab kamu darimana,"


giliran carmen yang mulai kesal.


"Apa aku enggak diperbolehkan punya ruang privasi?? Apa semua aktivitas aku harus laporan sama kamu??" bertanya dengan muka jutek. Sukses membuat Brian merinding.


"Sayang, kamu terlihat aneh aja. Aku telpon gabisa, password rumah diganti juga,"


"Kak, Kemana aku pagi ini biar menjadi urusanku. Masalah password itu ide mama biar aku bisa lebih hati-hati menerima tamu apalagi kamu,"


"Kenapa mama menyuruhmu waspada sama aku??? aku kan tunangan kamu"


"justru itu, Karena kamu tunangan aku mama lebih khawatir kamu macem-macem,"


Brian melihat Carmen dengan senyum sulit diartikan.


"Oh jadi kamu mau aku macem-macem in??"


Carmen menelan salivanya.


"Brian Wijaya jangan macam-macam ya!! "


Brian mendekat ke Carmen. Carmen berusaha menghindar. Namun telat, lengannya sudah ditarik Brian. Kini mereka berdua sangat dekat.


"Brian aku beri peringatan, jangan macam-macam!!"


"Sayang, mana berani aku macam-macam sama kamu," Jawabnya dengan mimik sulit diartikan.