
Singkat cerita Carmen tidak ikut penutupan ospek karena harus merawat papanya di kota M. Penutupan berjalan dengan meriah menampilkan performance art dari maba, mahasiswa senior dan partisipan lainnya. Berakhirnya ospek berakhir pula cerita-cerita dibaliknya.
Carmen duduk di taman setelah kelas jurnalistik usai. Dia sedang menunggu Rio yang kebetulan tidak satu kelas hari ini. Perutnya sudah keroncongan sedari tadi, yang ditunggu tak kunjung muncul. Sedang asyik duduk, Carmen tak sengaja melihat Brian yang sepertinya baru selesai kelas juga. Disampingnya Doni melambaikan tangan ke arah Carmen.
"Hai Carmen," Sapa Doni sambil mendekat ke arah Carmen.
"Selesai kelas kak?" Tanya Carmen. Doni mengangguk.
"Aku mau kefoodcourt. Kamu laper enggak?" Tanya Doni.
"Lumayan sih kak, tapi masih nunggu Rio," Jawab Carmen. Sementara Brian hanya diam. Tanpa ada suara dan keinginan untuk bersuara. 'Benar-benar dingin,' Gumam Carmen.
"Udah bareng kita aja, nanti Rio suruh nyusul," Ajak Doni. Awalnya Carmen terus menolak, tapi karena terus dipaksa Doni akhirnya dia luluh juga.
Sepanjang lorong menuju foodcourt berpuluh mata menatap Mereka bertiga. Ada yang tak percaya Carmen berjalan diantara mereka berdua. Ada yang kagum pada sosok Brian dan banyak ekspresi yang tak dapat dijelaskan. Yang jelas, Carmen ingin segera sampai dan berharap tidak menjadi perhatian lagi.
"Kamu ternyata suka makan mie gitu ya?" Tanya Doni. Carmen tersenyum.
"Kadang-kadang aja sih kak," Jawabnya. Mereka mengobrol sambil menikmati makan siang.
"Oh iya, closing ospek Jumat kemarin kamu enggak Dateng. emang kemana?" Tanya Doni. Kali ini Brian agak tertarik dan memasang telinga agar jelas terdengar.
"Ke kota M kak, papaku sakit. Aku harus merawat,"Jawab Carmen.
"Oh jadi sakit, sekarang keadaan nya gimana? maaf ya gue enggak ada niat apa-apa Lo. cuma tanya aja,".
"Gapapa kak Don. Lagian itu juga mendadak. siapa yang mau ini semua terjadi,". Brian memberi isyarat Doni untuk berhenti menanyai Carmen. Makanan hampir habis tinggal menghabiskan minuman dan Rio belum juga datang.
"Ada film baru rilis, kamu udah nonton belum? " Tanya Doni memancing sesuatu. Carmen seperti berpikir sesuatu.
"Oh maksudnya MI terbaru itu? udah dong kapan hari aku udah nonton di cgv?" Jawab Carmen.
"Sama siapa nonton nya? eh maksud gue kapan nontonnya?" Tanya Doni. Brian masih enggak bersuara.
"Hari Kamis kayaknya. Waktu itu enggak diduga sepupu gue datang berkunjung sebentar aja tapi terus yaudah sekalian aja kita nonton," Jawab Carmen. Entah kenapa Brian lega. Dia sedikit menyunggingkan bibirnya. tersenyum.
Segala bentuk kekepoan terjawab sudah. Brian sedikit tenang, ternyata bukan pacarnya. Pertanyaan yang ada dalam pikirannya tidak lagi menjadi beban dan menjadi alasan dia mendiamkan Carmen.
"Loe mau pesen minum lagi enggak?" Tanya Brian tiba-tiba. Carmen terkejut karena sedari tadi Brian diam tanpa ada suara. Bahkan saking diamnya, Carmen tak pernah menganggap ada. Maklumlah setelah hari itu Brian tak pernah membalas sapaan Carmen. Terakhir kali saat mereka tak sengaja bertabrakan dan buku Carmen terrbawa olehnya.
" Enggak kak, udah mau ada kelas lagi. Kayaknya gue juga mau balik ke kelas," Jawab Carmen. Mereka kembali ke kelas jurusan komunikasi. Sepanjang jalan semua keadaan kembali normal. Brian mulai ada suara, Doni seperti biasa banyak pembahasan dan Carmen selalu menjadi pendengar setia.
"Kak Brian kapan hari sewotin gue kenapa?" Tanya Carmen sebelum mereka berpisah.
"Kapan gue sewot ke loe?"yang ditanya malah tanya balik.
"Buktinya loe enggak balikin buku gue yang gak sengaja kebawa, trus ngatain aku waktu ketabrak," Kata Carmen. Brian menoleh dan menatap mata gadis cantik itu.
####
Jawaban Brian tadi benar-benar menjadi pukulan telak bagi Carmen. Bagaimana tidak ia merasa seakan-akan Brian ingin mengatakan bahwa Carmen adalah orang yang teledor. Biarpun begitu bukan urusan Brian untuk tahu bagaimana Carmen. Alhasil, sepanjang kelas ia sama sekali tidak fokus. Semua selalu mudah menjadi pikirannya.
"Loe ngelamun aja dari tadi? ada masalah? gimana keadaan papa loe? " Tanya Rio bertubi-tubi.
"Loe kemana tadi? gue tunggu enggak nongol," Kata Carmen. Rio nyengir dan mengusik rambut Carmen.
"Udah hampir petang, kayaknya gue mau langsung pulang aja. Capek banget," Kata Carmen. Ia melangkah keluar kelas.
Carmen berjalan menyusuri trotoar kampus. Tempatnya berada di tengah-tengah kampus sehingga untuk menuju gerbang lumayan jauh. Sedang fokus berjalan kaki, sebuah mobil berwarna hitam metalik berhenti tepat di sampingnya. Carmen menoleh ke arah mobil. Kaca diturunkan dan Ternyata Brian lah di dalam mobil itu.
"Mau pulang? Ayo sekalian aku antar," Tanya Brian.
"Enggak usah kak, rumah aku Deket sini kok," Jawab Carmen. Brian turun dari mobil dan membuka pintu mobil bagian depan. Sedikit paksaan membuat Carmen akhirnya sudah duduk di dalam mobil itu. Brian menyetir perlahan duduk disampingnya. Carmen curi-curi pandang ke arah siempunya wajah ganteng itu.
"Ada apa lihat-lihat? Naksir gue ya?" Tanya Brian menggoda.
" Idih siapa yang naksir kak Brian. Aku itu cuma heran aja, tumben," Jawab Carmey sekenanya. Brian tersenyum.
"Kalo kamu mau, boleh kok pulang bareng tiap hari," Jawab Brian membuat Carmen makin heran. Mobil melaju sampai tiba di komplek apartemen yang memang tak jauh dari kampus mereka.
"Jadi kamu tinggal disini? enggak seberapa jauh juga sih?" Kata Brian.
"Iya itu kak, makanya aku jalan kaki aja tadi," Jawab Carmen. Brian diam tak ada ekspresi. Dia keluar dari mobilnya.
"Makasih ya kak Brian. Maaf gue belum bisa ngajak masuk. Soalnya udah malam juga enggak enak," Kata Carmen.
" Iya gapapa Carmen, Udah tahu tempat tinggal loe aja udah lega kok," Jawab Brian keceplosan.
"Maksudnya kak?" Seperti biasa lemotnya Carmen tak bisa diajak kompromi. Buru-buru Brian menarik ucapannya.
"Maksudnya kan gimanapun gue mentor loe waktu ospek. Wajar dong kalo pengen tahu anggotanya tinggal dimana?" Jawab Brian ngeles. Setelahnya ia pamit dan melajukan mobilnya pulang.
" Jadi selama ini gue salah paham aja sama dia. heheheh," Kata Brian sendiri di mobil.
"cowok itu bukan pacarnya, izin itu ke kota M pulang,"
"arrgghh aku terlalu mengkhawatirkan hal-hal yang tidak penting," Ucapnya lagi. Dia senyam-senyum sendiri mengingat betapa dia sudah salah paham dan terlalu banyak berpikir yang belum pasti. "Untung aja anak itu peka dan langsung mewakili gue buat mengkonfirmasi ke Carmen," Lanjutnya.
ia begitu bahagia dan lega. Ternyata apa yang selama ini dia pikirkan hanya kesimpulan yang dia buat saja. Kali ini, dia benar-benar bisa tidur dengan nyenyak.
"Syukurlah gue masih ada kesempatan," Gumamnya ketika mobil sudah terparkir di garasi rumahnya.
####